
Sena baru saja tiba di stasiun pukul 04.45 pagi. Setelah tujuh jam perjalanan yang melelahkan itu kini ia bisa tersenyum bahagia karena kembali menjejakkan kakinya di kota kelahirannya. Ia menarik kopernya keluar dari stasiun yang pagi itu tidak terlalu ramai.
Langkahnya terhenti tatkala matanya menangkap sosok pria yang tengah berdiri tidak jauh dari pintu keluar stasiun.
Senyuman teduh itu mengembang dari wajah seorang pria yang kini tengah berjalan mendekat ke arah Sena. Tangannya dengan sigap meraih koper milik gadis itu yang kini masih diam mematung.
“Biar papa yang bawa, ayo kita pulang?” Ucap Vandi seraya menarik pelan koper putrinya dan berjalan menuju parkiran yang diikuti oleh langkah kecil Sena di belakangnya.
Pagi itu seharusnya Davina yang menjemput, ibunya telah berjanji di telfon saat Sena memberi kabar bahwa ia akan sampai pukul lima pagi. Tapi sepertinya Davina memang sengaja meminta Vandi yang akhirnya menjemput dirinya.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam membisu tak banyak kata yang mereka ucapkan. Sena lebih menikmati mengamati lalu lintas yang pagi itu belum begitu padat. Wajar saja, jarum jam masih menunjukkan pukul 05.00 pagi, bahkan langit masih terlihat gelap.
“Bagaimana di sana? Sena betah?” Setelah dirasa cukup lama keduanya saling terdiam, akhirnya Vandi mulai membuka percakapan, meski ia tidak akan berharap banyak jika Sena akan menanggapi obrolannya.
“Biasa saja,” jawab Sena tidak antusias.
Vandi hanya tersenyum kecil mendengar jawaban putri sematawayangnya itu. Tangan kirinya dengan perlahan membelai kepala Sena yang saat ini tengah melihat ke arah jalanan, seolah tidak ingin memperdulikan obrolan Vandi.
“Papa dan mama rindu sekali sama Sena,” lanjut Vandi seraya membelai penuh kasih putri kecilnya itu.
Sena terdiam mendengar kata-kata itu, “rindu” sebuah kata yang seolah telah lama kehilangan maknanya bagi Sena untuk pria yang kini duduk di sebelahnya. Untuk apa rindu, jika seseorang yang seharusnya selalu ia rindukan itu nyatanya adalah orang yang telah menghancurkan hatinya. Masih layakkah pria itu mendapatkan rasa rindu darinya? Sena rasa tidak.
Gadis itu tidak menanggapi lagi ucapan ayahnya, ia memilih memejamkan matanya untuk membunuh waktu, hingga akhirnya mereka sampai di rumah. Dengan kepala yang masih sedikit pusing karena semalaman terjaga, Sena segera turun dari mobil dan mengambil kopernya di bagasi. Setelahnya dengan langkah yang sedikit berlari kecil ia menghampiri ibunya yang kini telah menunggu kedatangannya di teras depan rumah.
“Ma….” Seru Sena seraya mencium tangan ibunya dan segera berhambur ke dalam pelukan ibunya.
Davina begitu bahagia melihat kedatangan putrinya. Rasa rindu itu seolah telah terobati. Keduanya berpelukan dengan begitu erat seolah telah lama keduanya tidak saling berjumpa. Padahal jika difikir-fikir mereka hanya baru terpisah selama beberapa bulan. Bahkan hampir setiap akhir pekan keduanya selalu rutin mengobrol melalui sambungan video call atau telfon.
“Kangen,” rengek Sena sambil melonggarkan pelukannya.
Davina mengusap lembut wajah putrinya itu, “mama juga kangen banget,” ucap Davina tidak kalah rindunya.
Vandi hanya tersenyum kelu melihat pemandangan yang begitu membahagiakan tersebut. Seharusnya ia juga dapat bergabung dalam momen yang terasa mengharukan itu. Sayangnya kini ia sadar bahwa dirinya sudah tidak dapat lagi menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarganya itu, terutama dalam kehidupan Sena. Vandi tahu jika putrinya telah sangat membenci dirinya. Ia tidak akan menyalahkan Sena. Ia sadar bahwa dirinyalah yang bersalah karena telah melakukan pengkhianatan yang tak termaafkan, terutama bagi putrinya.
“Udah yuk masuk, kita sarapan terus Sena istirahat. Oh iya mama udah buatin nasi uduk kesukaan Sena,” keduanya melangkah masuk, begitu pula dengan Vandi yang mengikutinya di belakang.
Untuk pertama kalinya Sena merasakan makna pulang bisa semembahagiakan itu. Ia tidak pernah menyangka jika hal yang dahulu kerap terasa biasa saja, seperti makan nasi uduk buatan ibunya, kini rasanya begitu spesial. Mungkin benar, kadang kita butuh jarak untuk dapat merasakan betapa indahnya setiap momen yang dahulu terasa membosankan dan bahkan menjengkelkan.
...*** ...
Sena tengah mencoba baju kebayanya yang nanti akan ia dan kedua sahabatnya kenakan dihari pernikahan Una dua hari lagi. Kebaya berwarna navy dengan kain jarik batik bermotive gold tampak sangat pas dipakai di badan Sena.
“Punya gue roknya kegedean dikit deh,” seru Resta sembari membenahi kain roknya yang sedikit merosot.
“Ya udah lo minta tolong sama mba nya buat dikecilin sana,” ucap Tifani kepada Resta yang kini sudah bergegas ke luar dari ruang pas untuk menemui seseorang di butik tersebut.
Sena masih tampak serius menatap pantulan dirinya di cermin dengan kebayanya. Ia memastikan jika kebaya yang akan ia pakai itu terasa nyaman dibadannya untuk dipakai dalam waktu beberapa jam selama proses resepsi pernikahan sahabatnya itu.
Tifani mendekati Sena, keduanya kini saling menatap pantulan mereka di cermin besar yang terpasang di ruang pas butik tersebut.
“One day I wanna see you with your kebaya in your special day.”
Kata-kata Tifani berhasil membuat Sena terdiam untuk sesaat. Tatapan matanya kini beralih menatap sahabatnya yang masih terfokus menatap ke arah pantulan cermin dengan sebuah senyuman lebar.
“Lo lagi nyindir gue apa gimana nih?” Tanya Sena menyelidik.
“Gue lagi berdoa buat kebahagiaan sahabat gue,” ucap Tifani sembari menatap ke arah Sena. Kata-kata itu begitu tulus ia ucapkan dari dalam hatinya.
Tifani meraih kedua tangan Sena, digenggamnya tangan tersebut dengan begitu lembut.
“You deserve to be happy, you deseve to find your true love. Open your heart and you’ll find it.”
Setelah mengatakan hal itu Tifani ke luar dan meninggalkan Sena yang kini masih terdiam mendengar ucapan sahabatnya barusan. Cinta sejati? Mungkinkah ia akan mempercayainya? Mungkinkah ia akan menemukannya? Bahkan sampai saat ini hatinya saja masih belum mampu merasakan jatuh cinta. Tidak, bukan ia tidak mampu tapi ia hanya masih belum mampu memberanikan hatinya untuk menerima dan merasakan itu semua. Ya, hatinya memang masih sepengecut itu.
“Sen? Ayo cepet ke luar kita foto-foto dulu.”
Tifani yang kembali masuk ke dalam ruang pas tersebut sontak membuyarkan lamunan Sena. Tanpa protes Sena mengikuti langkah Tifani ke luar. Kegalauan hatinya barusan sesegera mungkin ia singkirkan.
...***...