Imperfect Love

Imperfect Love
Chapter 6



“Kamu sudah yakin dengan keputusan kamu?” Tanya seseorang yang kini tengah menatap seirus kepada Sena.


“Iya dok, saya yakin dengan keputusan saya,” gadis itu mengangguk mantap dengan jawabannya.


Pria tersebut menghembuskan nafas beratnya, ada perasaan sedikit tidak rela dokter muda potensial itu pindah dari rumah sakit yang ia pimpin ini. Hanya saja keputusan gadis itu sudah bulat. Sena mengajukan kepindahannya ke salah satu rumah sakit cabang yang teletak di sebuah kota kecil yang tengah membutuhkan tenaga medis untuk membantu di sana. Dr. Ridwan tidak menyangka jika Sena akan mengajukan diri untuk ditugaskan di sana. Pengumuman itu sudah diedarkan sejak dua minggu yang lalu dan hingga detik ini belum ada seorang pun yang mengajukan diri. Dan Sena menjadi orang pertama dan mungkin satu-satunya yang dengan sukarela untuk pindah.


“Baiklah kalau begitu, kalau memang kamu sudah yakin. Saya akan buat surat kepindahan kamu dan mungkin dua minggu lagi kamu sudah bisa mulai bekerja di sana,” jelas dr. Ridwan akhirnya menyetujui pengajuan kepindahan Sena.


Gadis itu tersenyum senang. Meski ia tahu jarak kota tersebut cukup jauh dari kota tempat tinggalnya ini. Sebuah kota kecil yang terletak di bawah kaki gunung. Entahlah akan seperti apa rasanya bekerja di sana. Saat ini yang ia inginkan hanyalah pergi ketempat baru, menenangkan diri, dan mungkin ia dapat menemukan kedamaian hati. Meski ada beberapa hati yang sedih mendengar keputusannya untuk pindah ke luar kota. Siapa lagi kalau bukan ibunya dan ketiga sahabatnya itu.


Setelah bertemu dengan dr. Ridwan, Sena kembali lagi pada pekerjaannya. Ini akan menjadi dua minggu terakhirnya bekerja di rumah sakit ini sebelum ia pindah. Oleh karena itu ia merasa harus lebih bersemangat menyelesaikan semua tugas-tugasnya di sini.


Langkahnya kini menuju sebuah kamar perawatan untuk memeriksa pasien bersama dengan seorang perawat yang menemaninya.


“Selamat siang,” ucap Sena yang kini telah masuk ke dalam kamar perawatan seorang pasien.


“Selamat siang.”


Sena berjalan mendekat ke arah pasien yang tengah terbaring lemah tersebut, “bagaimana ibu Intan kondisinya hari ini? Sudah jauh lebih baik?” Tanya Sena dengan begitu ramah kepada pasiennya.


“Lumayan dok, tidak terlalu pusing seperti kemarin,” jawab pasien bernama Intan itu dengan tersenyum kecil sambil terus memperhatikan wajah dokter di hadapannya yang tampak terlihat tidak asing.


“Syukurlah, kalau begitu saya periksa dulu ya bu,” ucap Sena kemudian.


“dr. Sena Zaahirah,” eja Intan saat melihat name tag dokter tersebut.


Sena yang sedang memeriksa hanya tersenyum saat namanya dirapalkan oleh pasiennya. Ia masih fokus memeriksa kondisi pasiennya.


“Sus, silahkan di cek tekanan darahnya ya,” perintah Sena setelah selesai memeriksa.


“Boleh saya tanya dok?” Ucap Intan kembali kepada Sena.


“Boleh, ibu mau tanya apa?” Jawab Sena.


“Apakah dokter ini, dokter Sena Zaahirah putrinya Davina dan Vandi Eka Setya?” Tanya Intan penasaran dengan dokter muda nan cantik di hadapannya itu.


Senna sedikit terkejut mendengar pasiennya itu mengetahui nama kedua orang tuanya. Tapi ia sendiri tidak tahu dan tidak mengenal wanita di hadapannya itu.


“Iya betul, apa anda mengenal kedua orang tua saya?” Jawab Sena sembari bertanya penasaran.


Intan dan suaminya yang berdiri tepat di samping Sena kemudian tersenyum lebar mendengar jawaban Sena.


“Tentu saja tante dan om sangat mengenal orang tua Sena, tante ini sahabat mama mu dari SMA sampai kita kuliah bareng,” jelas Intan dengan wajah sumringah.


“Oh…. Saya minta maaf, saya sungguh tidak tahu. Senang bisa bertemu dengan anda,” ucap Sena yang juga tersenyum senang dapat bertemu dengan sahabat ibunya.


“Tante juga senang bisa bertemu Sena. Jangan terlalu formal ya sayang, panggil saja tante. Kamu cantik sekali persis mamu. Tante cuma pernah lihat di sosial media mamamu, ternyata aslinya lebih cantik,” perasaan Intan sangat bahagia siang itu dapat bertemu dengan putri dari sahabat lamanya.


“Terimakasih tante. Oh iya sus, berapa tekanan darahnya?” Sena kembali teringat.


“150/110 mmHG dok,” jawab perawat tersebut.


“Tekanan darahnya masih tinggi loh tante. Tapi syukurlah sudah turun dibandingkan kemarin. Harus lebih banyak istirahat dan jangan lupa makanannya dimakan. Saya lihat itu makanannya masih utuh,” jelas Sena seraya menunjuk tempat makananan yang masih tampak belum disentuh. Intan mengangguk paham.


“Kalau begitu saya permisi dulu, mari tante, om,” lanjut Sena seraya akan pergi dari ruangan tersebut.


Tapi sebelum langkahnya beranjak meninggalkan kamar perawatan tersebut, derit pintu terbuka membuat langkah Sena terhenti sejenak. Seorang pria muda masuk ke dalam kamar perawatan itu, pandangan matanya spontan melihat ke arah Sena yang masih berdiri tepat di samping ranjang pasien.


“Oh iya Sena, kebetulan sekali. Kenalkan itu anak tante,” ucap Intan kepada Sena.


“Galih, kenalkan ini Sena, dia anak sahabat mama mu. Dia dokter yang merawat mama juga,” kali ini Dimas yang bersuara untuk memperkenalkan putranya dengan Sena.


Galih masih menatap Sena dengan intens. Sorot mata tajam pria itu membuat Sena sedikit salah tingkah. Cara Galih menatapnya membuat ia tidak nyaman. Seandainya pria itu bukan anak dari sahabat orang tuanya, dan jika saja ini bukan di rumah sakit tempatnya bekerja, mungkin saat ini Sena akan mencolok mata pria itu. Hanya saja ia harus menjaga image-nya, jangan sampai sahabat orang tuanya itu mengetahui kelakuan bar-barnya dan membuat orang tuanya malu.


Galih mendekat ke arah Sena, pria itu mengulurkan tangannya, “Galih.”


“Senang berkenalan dengan kamu,” lanjut Galih yang hanya dibalas dengan sebuah senyuman kecil oleh Sena.


“Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Sena sekali lagi dan kali ini ia benar-benar melangkah ke luar. Gadis itu tidak suka berbasa-basi lebih lama.


...*** ...


Hari semakin beranjak malam. Lorong-lorong rumah sakit sudah mulai sepi untuk para pengunjung karena jam kunjungan sudah hampir usai. Hanya ada beberapa perawat yang lalu-lalang sedang bertugas melakukan shift kerja mereka. Obrolan ringan terdengar sesekali memenuhi lorong rumah sakit yang panjang dan dingin. Sena menghentikan langkahnya di sebuah taman yang letaknya di tengah-tengah bangunan rumah sakit itu.


Taman rumah sakit begitu sepi. Hanya ada cahaya redup dari lampu taman yang menerangi. Sisanya taman terlihat terang karena terpantul dari sinar lampu lorong rumah sakit.


Sena seharusnya sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu, namun ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan hingga tidak terasa waktu telah beranjak malam. Kini gadis itu memilih duduk-duduk sebentar di bangku taman rumah sakit. Menikmati angin malam dan suasa rumah sakit yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Baru tiga tahun memang ia bekerja di rumah sakit ini, tapi banyak kenangan yang berharga yang tercipta di sini. Ia pasti akan sangat merindukan tempat kerjanya ini, dan tentu saja orang-orang di dalamnya.


Senyumnya tergambar jelas diwajahnya. Temaram lampu taman tidak dapat menutupi senyum indahnya malam itu, bahkan dari seseorang yang sudah sejak tadi memperhatikannya tanpa Sena sadari.


“Malem-malem gak boleh ngelamun, nanti kesambet.”


Sebuah suara tiba-tiba menegurnya. Sena terperanjat saat melihat seseorang kini tengah berjalan menghampirinya.


“Kamu?” Seru Sena saat melihat Galih kini sudah ikut duduk di sampingnya.


“Lagi ngapain duduk sendirian?” Tanya Galih.


“Gak lagi ngapa-ngapain, cuma lagi cari angin aja. Kamu sendiri masih di sini?” Jawab Sena mecoba untuk bersikap bersahabat. Lagipula Sena tahu jika pria disampingnya itu adalah anak dari sahabat orang tuanya dan ia merasa Galih adalah pria yang baik. Jadi sepertinya ia tidak memiliki alasan untuk bersikap jutek pada pria itu. Meski terkadang ia merasa tidak nyaman dengan tatapan mata Galih padanya yang entah kenapa membuat jantungnya berdetak cepat. Seperti saat ini, saat Galih mulai melihat ke arahnya dengan sorot matanya yang tak terbaca.


“Aku baru mau pulang dan gak sengaja ngeliat kamu. Anyways, aku rasa kita pernah ketemu sebelumnya, apa kamu ingat?” Pertanyaan Galih membuat Sena terkejut.


“Oh ya? Aku rasa gak pernah,” jawabnya sambil mengingat-ingat tentang apa yang Galih katakana tadi.


Galih tersenyum, “aku yakin kita pernah ketemu sebelumnya, di taman beberapa tahun yang lalu, sudah cukup lama. Tapi aku masih mengingatnya,” ia masih mencoba membuka kembali ingatan Sena tentang kejadian beberapa tahun yang lalu, meski Galih sendiri sanksi jika gadis itu akan ingat.


Sena kini mulai mengerutkan keningnya tanda ia sedang berfikir keras. Mengingat-ingat kembali kejadian di taman bertahun-tahun lalu. Tapi sekeras apapun ia mencoba, ia masih tidak mengingatnya.


“Aku…. Beneran lupa, atau mungkin kamu salah orang,” kini Sena membuat asumsi. Bisa jadi bukan dirinya yang lupa, tapi Galih lah yang salah orang.


“Aku yakin, aku gak salah orang. Aku masih mengingat wajah kamu. Biarpun udah berlalu bertahun-tahun lamanya tapi wajah kamu gak berubah. Kamu ingat kejadian di taman dimana kamu waktu itu duduk di taman sendirian sambil nangis dan ada seseorang yang menawarkan sapu tangan ke kamu, tapi setelah itu kamu malah lari ketakutan?”


Penjelasan Galih itu seolah membuka kembali memori lama Sena yang sejujurnya sampai detik ini tidak akan pernah ia lupakan, kecuali bagian saat ia bertemu dengan seorang pria aneh yang menawarkan sapu tangan untuknya. Ya, akhirnya Sena mengingat kejadian itu.


“Jadi…. Cowok aneh yang tiba-tiba ganggu aku di taman itu kamu?” Ucap Sena dengan wajah takjub akan ingatan Galih.


Galih tertawa kecil, ada perasaan lega dalam hatinya karena ternyata gadis itu juga masih mengingat peristiwa tersebut. Meski Sena tidak ingat dengan wajah Galih.


“Kok kamu bisa sih masih inget sama aku?” Tanya Sena yang kini sudah mulai mencair untuk berbicara dengan Galih.


“Karena dari awal kamu jalan ke taman aku udah liat kamu. Aku tadinya mau ngajakin kenalan. Eh ternyata kamu ke taman malah nangis. Makannya aku coba deketin dengan kasih kamu sapu tangan. Tapi kamu malah lari ketakutan.” Jelas Galih mengingat kembali momen lucu tersebut.


Sena tertawa mendengar penjelasan Galih. Sungguh semesta memang selalu menyimpan banyak keajaiban. Siapa yang menyangka jika seseorang yang pernah ia temui secara random beberapa tahun yang lalu itu ternyata mereka dipertemukan kembali. Dan yang lebih mengejutkannya, dia adalah anak dari sahabat orang tuanya. Lucu memang.


“Lagian kamu sok kenal banget, orang pasti mikir yang enggak-enggak kalau ada orang gak dikenal tiba-tiba nyamperin orang lagi nangis dan sok baik gitu,” ejek Sena disela tawa kecilnya.


“Namanya juga usaha deketin cewek cantik siapa tahu kan bisa kenalan,” jawab Galih yang ternyata membuat hati Sena berdegup tidak karuan saat mendengar pria itu memujinya cantik.


Sena menghentikan tawanya, ia melirik jarum jam di tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia harus pulang.


“Well, sekali lagi senang akhirnya bisa ketemu lagi sama kamu dan kali ini aku gak kabur. Kalau gitu aku pulang duluan ya,” pamit Sena yang sudah bersiap untuk bangkit dari tempat duduknya.


“Senang juga ahirnya bisa ketemu lagi sama kamu. Oh iya ini kartu nama aku, nanti kamu chat nomor kamu ke nomer itu ya,” Galih memberikan sebuah kartu nama pada Sena. Gadis itu menerimanya dan ia menyetujui untuk menghubungi Galih nanti.


Sepeninggal Sena, kini Galih kembali duduk di bangku taman tersebut. Wajahnya tak henti menampakkan senyum bahagianya. Semesta memang selalu memiliki cara yang indah untuk dapat mempertemukan orang-orang yang saling ditakdirkan.


...***...