
Sena tengah menelungkupkan kepalanya diatas meja kerjanya. Hari ini rasanya ia tidak begitu bersemangat setelah pagi tadi ia dengan tidak sengaja melihat Artha dan Sania datang berboncengan. Sial fikirnya, hanya karena sebuah adegan itu seharian ini moodnya menjadi tidak karuan.
Tok tok tok
Bukan suara ketukan pintu, tapi suara itu berasal dari ketukan meja yang sengaja di ketuk oleh seseorang. Sena segera mendongakkan kepalanya melihat siapa orang yang dengan iseng mengganggunya.
“Mba Rania….” Rengek Sena dengan wajah lusuh dan rambut yang berantakan.
“Kamu tidur? Itu muka berantakan amat,” tanya Rania yang merupakan salah seorang rekan kerja dan satu ruangannya itu.
Sena menggeleng, ia memang tidak tidur hanya sedang memejamkan mata sembari merenung dan menggalau persisi seperti seorang remaja labil yang tengah patah hati. Rutuk Sena pada dirinya sendiri.
“Cuma tidur-tidur ayam,” jawab Sena seraya mengambil cermin di laci mejanya untuk melihat bagaimana kondisi wajahnya. Dan oh Tuhan, lihatlah wajahnya memang sudah tidak karuan. Apalagi rambutnya yang kini kuncirannya sudah mulai merosot dan membuat rambutnya berantakan. Sena segera mengambil sisir dari dalam laci dan membenahi kunciran rambutnya.
“Udah waktunya pulang, kan? Kok belum pulang?” Tanya Rania yang sudah duduk di kursi meja kerjanya.
“Iya tadi mau pulang terus gerimis jadi ya udah aku tunggu sampe reda sambil tidur-tiduran,” sebetulnya ia hanya sedang enggan pulang ke rumah cepat karena rasanya di rumah begitu sepi. Dan hatinya yang sedang galau seperti sekarang, membuat ia malas jika harus berurusan dengan kesepian, itu hanya akan memperburuk suasana hatinya.
Rania tersenyum sembari mengambil beberapa file di mejanya, “kamu sama Artha gimana?” Tiba-tiba Rania teringat dengan kejadian tempo hari saat dirinya tanpa sengaja memergoki Artha yang tengah serius memperhatikan foto Sena.
“Hah? Gimana apanya?” Tanya Sena bingung.
“Ya hubungan kalian gimana?” Rania mencoba memancing Sena dengan obrolan tersebut.
Sena mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Rania yang semakin membuatnya bingung dengan keambiguannya, “hubungan pertemanan kami baik-baik aja mba,” jawab Sena sekenanya.
Rania tertawa kecil, “yakin cuma temen? Gak ada perasaan lebih?” Pancing Rania kembali.
Sena mulai paham arah pembicaraan Rania kemana, “kita dari dulu emang temenan aja, mba. Lagian sekarang keliatannya Artha udah sama Sania deh. Masa sih mba Rania gak tau kabarnya. Aku rasa seluruh rumah sakit ini tahu deh,” jelas Sena malas.
“Kabar itu kan belum tentu bener, Sen. Gimana kalau faktanya lain? Apa yang terlihat ternyata tidak sama dengan apa yang terjadi?” Rania sudah bersiap berdiri dari kursinya dengan membawa beberapa file.
“Maksudnya?” Sena mulai dibuat tidak paham kembali dengan ucapan Rania yang menurutnya penuh teka-teki dan membuat Sena pusing menguraikan maksudnya.
Maklumlah hari ini fikiran Sena memang sedang tidak pada tempatnya. Otak cantiknya itu terasa keruh akhir-akhir ini.
“Siapa yang tahu kalau ternyata Artha punya perasaan sama kamu, secara kalian udah berteman lama banget dan kalian kelihatannya sangat dekat, iya kan? Sekarang tinggal gimana kamunya? Yakin cuma anggap dia sebagai teman? Coba difikirkan dulu. Aku duluan ya,” ucap Rania seraya berlalu ke luar dari ruangan tersebut, meninggalkan Sena yang semakin termenung mendengar perkataan Rania tadi.
Apa mungkin yang Rania katakana itu benar, jika selama ini Artha mungkin saja menyukainya hanya ia yang tidak menyadarinya. Jika Sena fikir-fikir Artha memang sangat perhatian padanya. Tapi Sena segera mengenyahkan fikiran itu, tentu saja Artha sangat baik, sejak sekolah dahulu pria itu memang selalu baik padanya. Sena tidak boleh merasaa terlalu percaya diri. Toh jika memang Artha benar menyukainya seharusnya pria itu sudah mengatakannya sejak dahulu, bukan? Tapi nyatanya sampai sekarang hubungan mereka masih sama saja, hubungan mereka hanya sebatas teman. Bahkan sekarang Artha tampak lebih dekat dengan Sania. Itu berarti apa yang dibilang Rania hanyalah sebuah asumsi.
Sena segera menghela nafas beratnya. Mungkin ia harus berhenti memikirkan hal itu, memikirkan tentang perasaannya pada Artha. Ia rasa saat ini lebih baik ia fokus untuk membuka hatinya pada Galih. Ia kembali teringat jika saat ini ia sedang berusaha membuka hatinya untuk seorang Galih, dan tidak seharusnya ia malah memikirkan pria lain yang jelas-jelas tidak memiliki perasaan apa-apa pada dirinya.
...*** ...
Sena berjalan seorang diri menuju arah tempat tinggalnya. Langit sore setelah gerimis ternyata masih cukup sendu menurutnya. Langkah kaki Sena tampak gontai menyusuri pinggiran jalan raya sore itu. Sebuah truk dengan kecepatan penuh tiba-tiba melintas dan mencipratkan genangan sisa air hujan hingga cipratan itu tepat mengenai rok cream dan kemeja hitam bermotif bunga milik Sena. Sontak saja ia berteriak kesal. Saat itu rasanya ia ingin mengumpat sejadi-jadinya. Hanya saja Sena masih cukup tahu tempat untuk tidak melolong kurang ajar ditempat umum. Moodnya yang saat ini sedang buruk, semakin diperparah dengan guyuran genangan air hujan di tubuhnya. Hari ini seolah semesta sedang berkonspirasi mempermainkan perasaannya. Rasanya ia ingin sekali menangisi kemalangan dirinya itu. Dengan perasaan kesal Sena kembali melanjutkan langkahnya, kali ini ia berjalan dengan tempo yang cepat agar ia bisa segera sampai rumah.
“Sena!” Suara seseorang yang sangat ia hapal itu memanggilnya.
Sena menengok pada seseorang yang sedang melajukan pelan sepeda motornya. Siapa lagi kalau bukan Artha, seseorang yang sedang Sena hindari kehadirannya.
“Kamu kenapa?” Tanya Artha yang hendak menghentikan laju sepeda motornya. Tapi sayangnya Sena tidak tampak akan menghentikan langkahnya.
“Awww!!!” Sena terkejut sekaligus merasakan sakit. Kini ia terpaksa menepikan tubuhnya dan berjongkok untuk memegangi kaki kanannya yang terasa sangat nyeri. Sena meringis kesakitan. Artha yang juga melihat itu segera menepikan sepeda motornya dan menghampiri Sena.
“Jangan pegang!” hardik Sena, seraya menepis tangan pria itu yang hendak melihat kondisi kakinya.
Sena kembali berdiri dengan susah payah, menahan rasa nyeri di kaki kanannya. Ia sudah bersusah payah menahan air matanya yang kini sudah hampir lolos dari pelupuk matanya. Tanpa bicara apa-apa pada Artha, ia kembali berjalan dengan langkah yang tertatih-tatih.
“Hei, mau kemana?” Hanya dalam sekali tarikan, Artha mampu membuat tubuh Sena berbalik lagi ke hadapannya. Tanpa disengaja, tubuh Sena jatuh ke dalam dekapan pria itu walau hanya dalam sebatas jarak setengah lengan pria dewasa.
Sena tersentak, saat ini posisi mereka begitu sangat dekat. Dengan cepat Sena mendorong tubuh Artha dan dengan susah payah menahan rasa sakit di kakinya ia pun memundurkan tubuhnya.
Artha menghembuskan nafasnya kasar, pria itu meraih pergelangan tangan Sena pelan, “kaki kamu lagi sakit, ayo aku antar pulang.”
Tapi Sena dengan cepat melepaskan genggaman tangan Artha pada pergelangan tangannya, “gue bisa pulang sendiri,” cetus Sena seraya kembali berlalu dengan wajah yang terlihat sangat kesakitan.
Artha kembali menghentikan langkah Sena, “berhenti atau aku gendong kamu?!” Perintah Artha yang membuat Sena spontan menghentikan langkahnya dan kini tubuh gadis itu membeku ditempat dengan debaran jantung yang tidak menentu.
“Pria sialan ini entah apa maunya?!” geram Sena dalam hati
“Apa sebegitu keras kepalanya kamu? Ayo aku antar pulang.”
Sena tidak lagi melakukan penolakan. Kini ia sudah berada di atas motor Artha. Pria itu segera mengantarkannya pulang.
Motor Artha sudah terparkir di halaman rumah Sena. Gadis itu turun secara perlahan. Setelah mengucapkan terimakasih Sena segera berlalu meninggalkan Artha dan berjalan memasuki teras rumahnya dengan terpincang-pincang.
Artha turun dari motornya dan berjalan menghampiri Sena. Meski ia tahu saat ini sepertinya mood Sena sedang buruk. Tapi pria itu tidak tega jika harus meninggalkan begitu saja gadis itu dalam kondisi kakinya yang tengah mengalami cidera.
“Kamu mau ngapain masih di sini?” Tanya Sena ketus melihat pria itu masih berada di rumahnya bahkan kini sudah berdiri di belakangnya.
“Kaki kamu gimana?” Artha tidak memperdulikan pertanyaan Sena, ia malah balik bertanya mengenai kondisi kaki Sena.
“Aku baik-baik aja, kamu mending pulang,” ucap Sena seraya membuka pintunya dan masuk ke dalam rumah. Saat tangannya hendak menutup pintu kayu tersebut, tangan Artha segera menahannya.
“Kamu kenapa sih?” Tanya Artha akhirnya.
Sena terpaksa membuka kembali pintu rumahnya, “aku gak apa-apa. Aku cuma capek dan mau istirahat. Kamu mending pulang,” balas Sena sinis.
Artha masih bergeming, ia pandangi gadis yang kini tengah berdiri menahan rasa sakit di kakinya..
“Aku bisa bantu—“
“Gak usah aku bisa urus diri aku sendiri,” tukas Sena memotong ucapan Artha.
Artha mengangguk paham, “baiklah kalau gitu, aku pulang.”
Sena segera menutup pintu rumahnya dan menguncinya. Kini air mata yang sudah sejak tadi ditahan akhirnya lolos. Hatinya terasa nyeri saat harus bersikap kasar tanpa alasan pada Artha. Sena sendiri tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini hatinya semakin kacau hanya karena seorang pria. Kenapa hatinya selemah itu? Sena duduk tersungkur di lantai dengan menangis. Apakah begini rasanya mencintai seseorang? Kenapa harus sepilu ini? Apakah lebih baik ia memang tidak perlu membuka hatinya untuk sesuatu bernama cinta, jika akhirnya ia harus merasakan rasa sakit tak logis seperti ini? Hatinya sakit bahkan hanya karena melihat pria itu bersama dengan wanita lain. Padahal jelas-jelas pria itu memang bukan siapa-siapa dalam hidupnya. Itu sungguh tidak masuk akal bagi Sena. Dan sekarang ia menangis entah karena apa, tapi yang jelas hatinya terasa sakit dan sesak hanya karena memikirkan pria itu. Cinta, apakah memang segila ini rasanya. Tangis Sena semakin terasa menyayat.
Tanpa Sena tahu, tangisan itu terdengar oleh Artha yang kini masih berdiri terdiam di teras rumah gadis itu. Pria itu hanya bisa menatap pedih pintu kayu yang tertutup tersebut. Tidak ada yang bisa ia perbuat selain membiarkan gadis itu menangis seorang diri, dan menenangkan dirinya.
...*** ...