Imperfect Love

Imperfect Love
Chapter 11



Angin sore berhembus hangat menyapu dedaunan yang berserakan disepanjang jalan kecil yang begitu lengang tanpa banyak kendaraan berlalu-lalang. Sena baru saja pergi kesebuah toko sembako untuk membeli beberapa kebutuhan pokok yang ternyata sudah habis tanpa ia sadari. Ia lupa jika saat ini ia hanya tinggal seorang diri tanpa ada asisten rumah tangga yang biasanya selalu siaga untuk memastikan segala kebutuhan di rumahnya. Dengan langkah lunglai ia berjalan dan sesekali berhenti untuk mengatur nafasnya yang mulai tersengal-sengal. Bukan karena jarak antara toko dan rumahnya yang terlalu jauh atau barang belanjaan yang dibawa terlalu berat. Tapi karena saat ini dirinya dalam kondisi tubuh yang kurang baik.


Kesibukannya bekerja diawal-awal minggu ternyata cukup menguras tenaganya. Terlebih pola makan dan waku tidurnya yang kacau membuat seluruh pertahanan tubuhnya tumbang. Ia merasa seluruh badannya terasa sakit dan demam. Dengan menahan rasa pusing Sena terus berjalan. Dalam situasi seperti ini ia rasanya sangat merindukan ibunya di rumah. Di sini ia tidak dapat mengeluh dengan siapapun, semua harus ia atasi seorang diri. Bahkan disaat sakit seperti ini, ia tetap harus berjuang mengurusi dirinya sendiri. Sena rasanya ingin menangis meratapi dirinya saat ini.


Langkahnya sudah sangat berat. Kepalanya terasa pening tak tertahankan. Pandangannya sedikit mengabur dan perlahan terasa menggelap. Keringat dingin mulai bercucuran. Sena sadar jika dirinya hampir kehilangan kesadaran. Ia sebisa mungkin menahannya agar tidak pingsan di jalanan seperti ini. Akan sangat menghebohkan jika hal itu terjadi. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia berjalan menepi mencari tempat untuknya duduk sebentar. Sena kini hanya berjongkok di pinggir jalan karena ia tidak menemukan tempat untuk duduk. Gadis itu menundukkan kepalanya sembari memijat pelipisnya, ia berharap hal itu bisa sedikit membuatnya membaik.


“Sena?!”


Sena mendengar suara seseorang menyeru namanya. Gadis itu segera menengadahkan kepalanya. Ia sangat mengenal suara itu.


Artha, ya, pria itu kini tengah menghampiri Sena sesaat setelah ia menepikan sepeda motornya. Wajah Artha terlihat cemas saat melihat Sena yang begitu pucat.


“Ta….” Lirih Sena yang berusaha untuk bangun tapi seketika tubuhnya hampir ambruk karena kepalanya terlalu pusing. Untung saja Artha sigap meraih tubuh Sena yang hampir limbung.


Gadis itu terlihat begitu lemah. Demam yang Sena alami semakin tinggi. Artha bahkan dapat merasakannya saat tangannya menyentuh lengan gadis itu. Beruntunglah Sena tidak kehilangan kesadaran, ia masih dapat berdiri dan berjalan tertatih dibantu oleh Artha menuju sepeda motor milik pria itu.


“Lo pegangan ya?” Perintah Artha setelah Sena naik ke sepeda motor miliknya.


Awalnya Artha akan membawa Sena ke rumah sakit tempat mereka bekerja, tapi Sena menolak. Ia merasa bahwa sakitnya hanyalah demam biasa karena terlalu lelah, ia tidak memerlukan perawatan rumah sakit. Sena hanya membutuhkan istirahat dan obat penurun panas saat ini. Artha tidak memaksa, ia menuruti kemauan gadis itu. Artha membawa Sena pulang ke rumah.


Keduanya telah sampai di rumah Sena, Artha segera membantu gadis itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Sena membiarkan Artha memapahnya hingga ke dalam kamarnya. Artha membantu Sena untuk merebahkan tubuh gadis itu.


“Lo udah makan? Lo punya obat penurun panasnya?”


Sena mengangguk, “di laci kedua meja itu ada kotak obat,” ucapnya lirih sembari menunjuk sebuah meja rias yang terdapat beberapa laci di bawahnya. Artha segera bangkit dari tempat tidur Sena menuju tempat obat yang Sena tunjuk.


“Gue ambilin minum sebentar,” setelah Artha mendapatkan obat yang dicari, ia pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


Sena masih terbaring tidak berdaya. Entah bagaimana nasibnya jika tadi ia tidak bertemu dengan Artha, mungkin kini ia akan terkapar pingsan di tepi jalan. Mengenaskan. Artha kembali ke kamar Sena dengan segelas air mineral. Sena segera bangit dan meraih gelas tersebut, diminumnya obat yang sudah disiapkan oleh Artha. Setelah selesai ia kembali membaringkan tubuhnya.


“Lo yakin gak mau dibawa ke rumah sakit aja?” Tanya Artha memastikan. Sejujurnya Artha merasa khawatir akan kondisi gadis itu. Sena hanya tinggal seorang diri di rumah, tidak ada siapapun yang dapat menjaganya di kala gadis itu sakit seperti sekarang.


Sena menggeleng, “gak usah gue gak apa-apa, gue cuma kecapean,” jelas Sena.


Artha kembali mengecek suhu tubuh gadis itu yang masih sangat panas. Ia bangkit dari tepi ranjang tempat tidur Sena dan kembali mengambil kotak obat yang masih dibiarkan tergeketak di atas meja rias. Artha mencari plester penurun demam yang sempat ia lihat tadi saat tengah mencari obat penuruan panas. Dengan lembut Artha menempelkan plester tersebut ke kening Sena.


Ada desir aneh yang tiba-tiba menjalar di hati gadis itu melihat Artha yang sejak tadi begitu sigap membantunya. Perasaan aneh yang tiba-tiba bergelayut di hatinya membuat ia merasa canggung seketika. Terlebih saat jarak antara Artha dan dirinya kini begitu dekat. Artha duduk di tepi tempat tidurnya dengan tubuh yang kini sedikit membungkuk untuk memasang plester dikening Sena. Ia sempat salah tingkah saat melihat wajah Artha yang terasa dekat di atas wajahnya. Artha memang tampan, bahkan sejak dahulu wajahnya memang sudah sangat mempesona. Sesaat Sena justru mengagumi wajah pria itu tanpa sadar.


“Lo istirahat aja, besok gue akan bilang kalau lo izin sakit,” ucap Artha memecah kesunyian.


Sena seolah dibawa kembali pada tingkat kesadaran dan kewarasan fikirannya. Ia tidak menjawab hanya mengangguk. Jantungnya masih berdetak tak karuan.


Artha memandang lekat Sena yang kini juga tengah menatap Artha dengan tatapan bingung, “lo lagi ngapain sih udah tahu lagi sakit malah jalan-jalan ke luar, untung tadi lo gak pingsan di jalan,” terdengar nada omelan Artha kepada gadis itu.


“Tolong ya bukan jalan-jalan, gue baru dari warung beli beras, minyak, telor, dan segala macam kebutuhan hidup gue. Gue gak punya pilihan, lagian gue pikir gue akan kuat cuma jalan ke warung yang jaraknya gak begitu jauh. Gak taunya gue hampir semaput di jalan,” jelas Sena yang merasa tidak terima dengan tuduhan Artha tadi.


“Oh ya, makasih ya Ta, lo udah tolongin gue, gak tahu deh nasib gue bakal kayak gimana kalau gak ketemu lo,” lanjut Sena teringat jika dirinya belum sempat mengucapkan terimakasih kepada Artha yang telah menolongnya.


Artha mengangguk, “ lain kali kalau lo butuh bantuan apapun atau kalau lo sakit, bilang aja ke gue, jangan sok-sokan jadi cewek strong,” ucap Artha yang lebih terdengar seperti mencerca bagi Sena.


“Eh denger ya, gue bukan sok-sokan jadi cewek strong, gue emang strong,” bela Sena yang tidak terima dirinya dipojokkan dengan ucapan Artha.


“Dari dulu gue kenal lo, cewek yang hobinya sok-sokan kuat padahal suka nangis diem-diem,” Artha masih melanjutkan ucapannya. Ia tidak perduli meski Sena sudah memasang wajah murka seperti sekarang ini.


Artha hanya ingin gadis itu tahu kapan ia harus menjadi tangguh dan kapan ia harus meminta bantuan kepada orang lain.


“Rese banget sih lo!!!” Teriak Sena mendengar cercaan Artha yang masih belum juga berhenti.


“Udah gak usah teriak-teriak. Lagi sakit itu harus banyak istirahat. Lagian gue bukannya rese, tapi manusia itu memang kadang perlu meminta bantuan orang lain saat dirasa dirinya gak mampu melakukan itu sendiri,” terang Artha mencoba untuk memberikan penjelasan kepada gadis itu yang sudah tersulut emosi.


Sena tidak membalas ucapan Artha. Ia justru memalingkan wajahnya. Hatinya membenarkan akan kata-kata itu. Selama ini ia memang selalu bersikap keras kepada dirinya sendiri, merasa bahwa ia selalu sanggup menghadapi apapun seorang diri tanpa pernah mau meminta pertolongan atau melibatkan orang lain. Semua itu hanya karena ia tidak menyukai orang lain memandangnya lemah. Ia tidak menyukai jika ada orang yang mengasihaninya.


“Ya udah gue balik dulu ya. Besok pagi gue ke sini bawain lo sarapan. Kalau ada apa-apa telfon gue aja,” ucap Artha seraya mengelus kepala Sena dengan lembut. Artha bangkit dari samping tempat tidur Sena. Gadis itu tidak mengatakan apa-apa selain mengangguk.


Sena kini hanya diam melamun di atas ranjang. Tangannya tengah meraba detak jantungnya yang terasa bertalu-talu. Perlakuan Artha tadi sungguh membuat kesehatan jantungnya ikut bermasalah sepertinya. Debaran aneh itu benar-benar membuatnya tidak nyaman.


...*** ...


Rumah Vandi dan Davina tengah kehadiran tamu yang tak diduga. Tampak sekali suasana yang begitu penuh dengan suara canda dan tawa. Ruang tamu yang biasanya sepi itu kini terasa begitu hangat dengan obrolan penuh kerinduan.


Malam itu wajah Davina tidak berhenti untuk tersenyum dan tertawa lepas mengenang kembali akan kenangan-kenangan dahulu bersama sahabat baiknya, Intan. Kedua wanita paruh baya itu kini tengah bernostalgia. Sudah begitu lama sekali Davina tidak bertemu dengan Intan, semenjak Intan memilih mengikuti suaminya yang harus ditugaskan bekerja di luar negeri selama puluhan tahun. Sejak saat itu, komunikasi keduanya hanya sebatas melalui sosial media.


“Aku beneran seneng banget ketemu kamu lagi, Tan. Kangen banget loh,” Davina tidak pernah berhenti mengucapkan hal itu dengan wajah yang berseri. Begitu pula Intan. Kedua wanita itu sejak tadi asik mengobrol sendiri, menumpahkan seluruh kerinduannya.


Sedangkan Vandi dan Dimas memilih membangun obrolan mereka sendiri sambil sesekali melihat interaksi istri mereka yang tampak begitu asik dan tidak ingin diganggu oleh siapapun.


“Ma…. Ingat ada hal penting lain yang harus kita bicarakan loh, jangan sampai kita lupa karena kamu keasikan reuni,” ucap Dimas mengingatkan dengan tatapan penuh arti kepada Intan.


Mendengar ucapan suaminya itu Intan seolah disadarkan. Ya, kedatangan mereka memang tidak hanya untuk bersilaturahmi biasa. Ada misi penting yang mereka bawa. Intan menepuk keningnya, ia sepertinya terlalu terhanyut dengan nostalgianya bersama Davina.


“Ada hal penting apa ini ngomong-ngomong?” Tanya Vandi yang penasaran mendengar percakapan tersebut.


“Jadi begini mas Vandi, Vin, kami datang kesini selain untuk bersilaturahmi ada hal yang ingin kami bicarakan juga, ini mengenai putra kedua kami, Galih dan putri kalian, Sena,” Intan membuka percakapan tersebut.


Vandi dan Davina yang mendengar hal itu masih menerka-nerka maksud dari pembicaraan tersebut.


“Memang ada apa?” Kali ini Davina yang angkat bicara dengan mimik wajah yang sangat kentara menunjukkan rasa penasaran.


Intan dan Dimas saling beradu pandang dengan senyum yang mengembang di wajah mereka, seolah saling memberikan kode.


“Kami bermaksud untuk menjodohkan Galih dengan Sena,” ucap Dimas menegaskan maksud dan tujuan mereka.


Vandi dan Davina terlihat sangat terkejut mendengar ucapan tersebut. Sungguh, ini adalah hal yang tak terduga yang mereka dengar, terlebih bagi Davina. Tentu saja ada perasaan bahagia mendengar niatan baik dari sahabatnya untuk menjodohkan anak mereka. Terlebih selama ini memang Davina sangat ingin melihat putri sematawayangnya itu untuk segera menikah. Dan putra dari sahabatnya adalah pilihan yang sangat tepat untuk putrinya.


“Jadi bagaimana? Apakah mas Vandi dan Davina setuju dengan niatan kami? Karena jujur saja, Galih sangat serius untuk menjalin hubungan dengan Sena. Dan kami sebagai orang tua juga sangat mendukung karena kami tahu wanita pilihan putra kami adalah Sena, seorang gadis yang baik,” lanjut Dimas antusias untuk meyakinkan kedua orang tua Sena bahwa niat putranya itu sangatlah serius.


“Jujur saja ini benar-benar mengejutkan bagi kami. Tapi sejujurnya kami juga sangat senang mendengar niatan baik ini. Hanya saja, kami perlu membicarakannya terlebih dahulu dengan Sena, karena hal ini tentu saja menyangkut masa depannya. Jadi mungkin mas Dimas dan Intan bisa bersabar menunggu jawabannya,” akhirnya Vandi yang angkat bicara untuk menjelaskan semua itu. Davina mengangguk menyetujui ucapan suaminya.


Intan dan Dimas tidak keberatan dengan hal tersebut, tentu saja semua itu harus dibicarakan dengan Sena terlebih dahulu. Mereka hanya berharap bahwa Sena dapat menyetujuinya, terlebih saat Intan tahu jika Galih akhir-akhir ini terlihat semakin dekat dengan Sena. Ada harapan besar yang terselip di sana, dan hal itu pula yang diharapkan oleh Davina.


...***...