
Sena baru saja selesai melakukan visit. Meski lelah dan penat tapi wajah gadis itu tidak pernah berhenti tersenyum dan ramah kepada setiap pasien dan keluarga pasien yang ia temui atau menyapanya. Seperti saat ini, meski perutnya tengah keroncongan meronta meminta untuk segera diisi, tapi saat seseorang menginterupsi langkahnya untuk bertanya tentang kondisi anaknya yang menjadi pasien Sena, gadis itu tetap menanggapinya dengan sabar.
Dari arah kejauhan seseorang tengah memperhatikan gadis itu, menunggu saat gadis itu sendirian. Beberapa menit berlalu, hingga gadis itu kembali melanjutkan langkahnya.
“Sena!”
Sebuah suara setengah berteriak berhasil menghentikan langkah gadis itu kembali. Sena menoleh ke belakang mencari sumber suara yang tadi memanggil namanya. Tampak seseorang yang ia kenal tengah berlari kecil mendekat ke arahnya.
“Hai….” Sapa Sena saat seseorang yang tadi memanggilnya kini sudah berada di hadapannya.
“Kamu mau kemana?” Tanya Galih.
“Mau ke kantin, laper banget nih,” ucap Sena seraya memegang perutnya yang kembali keroncongan.
Galih tertawa lepas mendengar suara perut Sena yang tiba-tiba berbunyi. Sena mendelik kesal melihat bagaimana reaksi Galih mentertawakannya.
“Puas banget ya ketawanya!” Cetus Sena sembari berlalu meninggalkan pria itu yang masih tertawa. Rasa laparnya sudah tidak dapat lagi ia tahan. Dengan langkah cepat gadis itu meluncur ke kantin tanpa memperdulikan Galih yang kini juga ikut berjalan dibelakangnya sambil masih asik dengan tawa ejekannya.
Sena memesan nasi padang dan air mineral sedangkan Galih memesan seporsi ketoprak dengan teh tawar hangat. Keduanya kini mengambil duduk di meja paling pojok yang merupakan satu-satunya meja yang kosong di kantin tersebut.
“Kamu beneran kelaperan ya?” Ucap Galih melihat bagaimana porsi nasi padang yang Sena pesan. Sepotong rendang berukuran lumayan besar dengan ayam pop bagian paha, jangan lupakan sayuran dan nasi yang porsinya tidak dapat dikatakan kecil.
“Aku belum makan apa-apa dari tadi pagi,” jelas Sena sambil mulai menyuap nasi padang tanpa memperdulikan tatapan Galih.
Galih hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat bagaimana seseorang di hadapannya begitu lahap. Sampai-sampai rasa lapar Galih sudah lenyap seketika saat melihat lahapnya Sena menyantap makanan itu. Ketoprak yang Galih pesan baru ia suap tiga suapan dan selebihnya hanya melihat bagaimana Sena menghabiskan makanannya tanpa tersisa.
“Kamu ngapain ngeliatin aku terus? Gak usah terpesona gitu deh,” seloroh Sena saat akhirnya menyadari tatapan intens Galih kepadanya.
“Kamu lagi mukbang?” Bukannya membalas pertanyaan jail Sena. Galih malah bertanya pertanyaan random pada gadis itu.
“Hah? Maksudnya?” Tanya Sena bingung mendapati pertanyaan itu.
“Aku ngeliat kamu makan porsi gede kayak gini dan langsung abis dalam hitungan menit rasanya kayak lagi ngeliat vloger-vloger mukbang tau gak,” jelas Galih sambil menunjuk piring Sena yang kini telah bersih tak bersisa.
Sena tersenyum malu menyadari betapa rakusnya ia tadi. Tapi sungguh, ia memang sangat lapar karena bukan hanya sejak pagi tak makan apa-apa. Semalam ia pun tidak makan malam dan akhirnya siang ini perutnya seolah tidak dapat lagi berkompromi.
“Oh iya kok kamu masih berkeliaran di sini? Tante Intan kan udah pulang dari seminggu yang lalu?” Tanya Sena yang baru tersadar dengan kehadiran Galih di rumah sakit kembali.
“Iya sengaja mau ketemu yang minggu ini udah mau pergi, sama sekalian tadi ada ketemuan sama orang di kantor dekat sini,” jawab Galih.
Sena terdiam sesaat mendengar jawaban Galih yang dirasanya terlalu blak-blakan. Sejak perkenalannya dengan Galih beberapa waktu yang lalu. Hubungan mereka memang jadi semakin dekat, lebih tepatnya Galih yang begitu intens mendekati Sena.
“Iya nih, sedih juga ternyata,” lirih Sena yang sudah mulai merasa mellow karena akan berpisah dengan kota kelahirannya, ibunya, dan juga sahabat-sahabatnya.
“Semangat dokter Sena, semangat untuk mengabdi,” ucap Galih menghibur.
Sena tertawa hambar. Mengabdi? Mungkin bukan itu tujuan utama Sena pindah. Sepertinya kata yang lebih tepat untuknya adalah “melarikan diri.” Sena memang pengecut, ia tidak seberani dan setegar yang orang lain fikirkan tentangnya.
...*** ...
Beberapa jam sebelumnya
Mobil Galih memasuki parkiran halaman gedung sebuah kantor. Seorang gadis yang sudah sejak tadi menunggu di lobi bergegas menghampiri mobil yang baru saja masuk area parkiran. Saat pintu mobil dibuka, gadis itu tersenyum bahagia melihat Galih kembali setelah satu minggu pria itu tidak dapat ditemui karena ibunya yang baru saja masuk rumah sakit. Sebuah senyuman penuh kebahagiaan terlukis diwajah gadis bermata coklat itu.
“I miss you, honey,” peluk Rena saat keduanya telah berada di dalam mobil.
“So, kamu mau kita makan dimana?” Tanya Rena kemudian seolah tidak perduli dengan sikap dingin Galih.
“Kita pergi ke café biasa aja,” jawab Galih cepat.
Akhirnya Galih memutuskan pergi ke sebuah café bergaya classic minimalis yang menjadi tempat favoritnya dan juga Rena selama mereka berpacaran. Keduanya memilih untuk duduk di sebuah meja yang menghadap langsung pada sebuah jendela kaca besar yang pemandangannya mengarah ke sisi samping halaman kecil café tersebut.
Lampu-lampu kuno menajadi aksen pemanis yang berderet di atas jendela tersebut. Seolah sang pemilik tengah menyuguhkan nuansa abad 18 di Eropa.
Seorang waitress datang membawakan buku menu ke meja mereka. Rena hanya memilih sebuah minuman matcha latte dan sepotong kecil red velvet kesukaannya. Sedangkan Galih hanya memesan mango juice.
“Kamu cuma minum itu aja?” Tanya Rena setelah waitress itu pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.
Galih mengangguk, “aku buru-buru,” jawabnya.
Menit dibiarkan membisu sesaat, keduanya masih terdiam. Galih tidak tahu harus mengatakan apa kepada Rena tentang keputusan yang ia ambil mengenai hubungan mereka. Ia sadar bahwa keputusannya akan sangat melukai perasaan gadis itu. Tapi Galih seolah tidak memiliki pilihan lain, selain berterus terang pada Rena.
“Kok diem aja sih, katanya mau ngomong sesuatu? Oh iya mamamu gimana keadaannya?” Rena akhirnya angkat bicara setelah dirasanya Galih belum juga ada tanda-tanda akan memulai percakapan dengannya.
“Mama udah membaik, dia udah pulang ke rumah,” jawab Galih seraya menggenggam tangan Rena erat.
Melihat bagaimana sikap Galih, Rena yakin jika pria itu tengah menyembunyikan sesuatu.
“Kamu kenapa? Ada apa?” Tanya Rena.
“Rena, aku minta maaf, aku tahu keputusan yang aku ambil ini akan sangat melukai perasaan kamu, tapi─” Belum sempat Galih menyelesaikan penjelasannya tapi Rena telah lebih dahulu memotong kata-kata itu.
“Tunggu, jangan bilang kalau kamu mau kita putus?” Rena sudah dapat menebak arah pembicaraan Galih.
“Aku minta maaf, sekali lagi aku minta maaf,” ucapan Galih seolah menegaskan semuanya.
Rena segera melepaskan genggaman tangan Galih, hatinya terasa sakit tercabik-cabik mendengar kata-kata tersebut. Rasanya terlalu menyakitkan, sangat menyakitkan. Tanpa alasan yang jelas, pria itu tiba-tiba memutuskan hubungannya secara sepihak. Padahal selama ini hubungan mereka tidak pernah ada masalah yang berarti.
“Apa alasannya? Jujur sama aku. Kenapa tiba-tiba kamu jadi begini?” Sekuat tenaga Rena menahan air matanya agar tidak luruh saat menanyakan hal itu.
Galih terdiam, ia mungkin akan di cap sebagai seorang pria brengsek setelah ini, tapi ia sudah siap dengan segala konsekuensinya. Bahkan jika setelah ia berkata jujur Rena akan mencaci makinya atau bahkan menamparnya, Galih sudah siap. Ia memang pantas menerima semua itu.
“Aku…. Aku jatuh cinta sama perempuan lain,” jawabnya jujur.
Air mata Rena luruh tak mampu lagi ia tahan, isak tangisnya pecah seketika. Tidak ada yang dapat gadis itu katakana saat ini.
Tangisnya adalah gambaran betapa terluka hatinya.
Galih bergeming melihat gadis yang pernah ia cintai itu menangis. Ia tahu itu sangat menyakitkan bagi Rena. Betapa brengsek dirinya, mengakhiri hubungan yang telah dibangun selama dua tahun dengan semena-mena. Egois memang. Tapi Galih tidak dapat membohongi hatinya yang kini sudah terisi oleh wanita lain. Sudah tidak ada lagi Rena di sana. Sejak pertemuannya dengan Sena, hati dan fikirannya selalu tertuju pada gadis itu. Seorang gadis lugu yang memiliki senyuman manis itu telah berhasil merebut semua perhatian Galih untuk hanya tertuju pada sosoknya.
“Maafin aku Ren, aku minta maaf,” ucapnya lirih.
Rena berusaha mengendalikan dirinya. Ia seka air matanya. Kini tatapannya ia arahkan apada sosok pria di hadapannya itu. Ia pandangi lekat sorot mata pria itu. Dan di sanalah Rena menemukan jawabannya. Galihnya kini memang sudah berubah. Sudah tidak ada lagi tempat untuk dirinya di hati pria itu.
“Kamu tahu kalau kamu itu pria brengsek dan jahat. Dengan sesuka hati kamu, kamu memutuskan hubungan kita. Tapi aku mengapresiasi kejujuran kamu. Kamu mau kita putus, kan? Baik, kita putus. Kamu mendapatkan itu. Dan kamu harus ingat karma does exis,” tandas Rena dengan suara yang bergetar. Gadis itu bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan Galih seorang diri yang kini tercenung dengan ucapan Rena tadi.
...***...