
Sena baru sampai rumah pukul lima sore setelah seharian tadi ia dan kedua sahabatnya melakukan fitting baju dan pergi ke rumah Una untuk ikut mempersiapkan acara pengajian dan siraman besok pagi. Ia merebahkan badannya pada kasur miliknya, rasanya memang sangat melelahkan karena sejak kedatangannya kemarin hingga hari ini ia belum beristrirahat dengan layak.
Sejenak ia pejamkan matanya yang terasa berat. Namun, belum juga sampai pada alam bawah sadarnya, suara Davina yang seketika masuk ke dalam kamar membuat gadis itu terpaksa mengurungkan niatnya. Davina dengan tanpa berdosa menerobos masuk ke dalam kamar dan memaksa Sena untuk segera bangun dan membantunya di dapur menyiapkan makan malam. Meski dengan uring-uringan Sena akhirnya beranjak dari tempat tidur dan mengikuti ibunya ke dapur.
“Kita mau pesta apa gimana sih, ini masaknya banyak banget. Gak biasa-biasanya deh, ma,” celoteh Sena saat ia melihat masakan ibunya yang tidak seperti biasanya, bahkan kini Davina juga tengah membuat adonan kueh.
“Kita akan kedatangan tamu spesial malam ini, makannya kamu cepetan jangan ngomong terus tapi diem aja gak bantuin. Cepetan bantuin mama biar cepet selesai nih. Mba Tini mana lagi cuti lagi,” Davina masih mengomel sedari tadi dengan tangan yang tidak diam untuk melakukan ini dan itu. Sedangkan Sena merasa bingung apa yang harus ia kerjakan. Dengan segala kebingungan akhirnya ia memutuskan untuk menata meja makan.
“Siapa sih ma tamunya?” Tanya Sena saat ia kembali lagi ke dapur untuk mengambil beberapa makanan yang sudah siap.
“Nanti juga kamu tahu,” Sena memanyunkan bibirnya mendengar jawaban ibunya itu.
Nyatanya menata makanan di meja makanpun bukanlah pekerjaan ringan. Sedari tadi ia harus bolak-balik mengambil makanan ke dapur untuk ditata. Meja makan yang biasanya hanya terisi beberapa makanan kali ini terlihat penuh.
“Wah, ini sih makan besar namanya,” celetuk Sena kepada dirinya sendiri kala melihat meja makannya sudah begitu penuh dengan berbagai macam makanan. Belum lagi kueh yang masih dibuat oleh ibunya. Ia semakin penasaran siapa tamu istimewa yang ibunya katakana itu, sampai dijamu dengan begitu spesialnya.
“Kalau udah selesai cepet mandi dan bersiap-siap, katanya mereka mau datang jam tujuh,” ucap Davina yang muncul dari arah dapur dengan membawa gelas di nampan yang tadi lupa Sena bawa.
Sena dengan spontan melihat jarum jam di dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul enam sore, “ma, ini siapa sih yang mau dateng gak usah main rahasa-rahasiaan deh, gak suka nih,” kesal Sena karena sejak tadi ibunya tidak juga kunjung menjawab rasa penasarannya.
“Nanti juga kamu tahu, udah cepet sana mandi, ini malah duduk sambil nyemilin makanannya lagi,” Davina tetap tidak mau menjawab pertanyaan putrinya. Dan kini ia malah semaki mengomel karena Sena dengan santainya mencomot berbagai makanan di meja makan tersebut.
“Gak mau sebelum mama jawab,” bukan Sena namanya jika ia dengan mudahnya dikalahkan.
Davina berkacak pinggang melihat putrinya, “ya udah terserah kalau gitu, lagian yang malu nanti Sena sendiri kok bukan mama, kan tamunya juga Sena kenal,” jelas Davina dengan senyuman jahilnya yang membuat Sena semakin terpancing.
“Mama!!! Ngeselin sih, siapa dong?” Teriak Sena kesal dan Davina tertawa geli karena telah berhasil menjahili putrinya itu.
Sena hanya memberengutkan wajah melihat ibunya yang kini telah berlalu meninggalkannya ke kamar. Mau tidak mau ia pun akhirnya pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan bersiap-siap.
Tepat pukul tujuh malam suara bell rumah terdengar menggema. Tidak berapa lama sayup-sayup suara ramai terdengar dari ruang tamu. Sena sudah dapat menduga jika kini kedua orang tuanya tengah menyambut kedatangan tamu tersebut. Dari kamarnya ia dapat mendengar suara canda dan tawa beberapa orang.
Sena masih berdiam di dalam kamar, sejujurnya ia enggan untuk ikut bergabung dengan orang tuanya menemui tamu tersebut. Ia malas terlibat dalam obrolan orang tua yang dirasanya sangat membosankan. Tapi ia tidak punya pilihan tentu saja, ia harus tetap ikut menjamu. Toh, ia juga merasa penasaran siapa tamu spesial yang ibunya katakan itu. Dengan langkah sedikit malas Sena ke luar dari dalam kamar dan berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu.
Langkahnya terhenti saat ia sudah berada di ruang tamu. Semua orang yang tadi tengah berbincang-bincang pun seketika menghentikan pembicaraan mereka saat melihat kehadiran Sena. Mata Sena hampir dibuat tidak percaya, tamu yang datang adalah Galih dan kedua orang tuanya, yang tentu saja Sena memang mengenalnya.
Dengan sedikit kikuk Sena berjalan ke arah kedua orang tua Galih dan menyalami keduanya bergantian.
“Hi, apa kabar?” Tanya Galih saat Sena telah duduk di sebelahnya.
“Baik,” jawab Sena singkat dengan senyum yang dipaksakan.
“Senang sekali tante bisa ketemu Sena lagi, makin cantik saja ya anak gadis satu ini?” Kali ini Intan yang angkat bicara.
Sena hanya tersenyum membalas ucapan tersebut, enthalah ia benar-benar dibuat blank dengan situasi malam ini.
“Sena betah bekerja jauh dari rumah, nak?” Tanya Dimas.
“Alhamdulillah betah om,” jawab Sena.
“Anak kami juga ada yang tinggal dan bekerja di luar kota. Kakaknya Galih setelah menikah memilih tinggal mengikuti suaminya di Kalimantan dan adeknya Galih lebih menyukai bekerja di daerah pedalaman. Kadang namanya orang tua pasti kangen dan gak jarang merasa khawatir kalau berjauhan sama anak,” Intan mulai membuka percakapan.
“Begitulah orang tua ya, jauhan kangen dan khawatir, kalau deket ya gak jarang suka berantem-berantem kecil sama anak, haha….” Timpal Davina dan disambut tawa oleh orang-orang di sana kecuali Sena yang hanya bisa tersenyum kecil mendengar obrolan mereka. Memangnya apa yang lucu? Begitulah fikirnya.
“Kalau begitu gimana kalau kita langsung makan malam saja, nanti keburu dingin makanannya,” Vandi mengambil inisiatif untuk mengajak tamunya makan malam.
Kini mereka semua berjalanan menuju ruang makan yang tadi sudah disiapkan oleh Sena dan Davina. Acara makan malam berjalan dengan menyenangkan, tidak ada obrolan yang berat selama makan malam berlangsung. Hanya obrolan ringan disertai candaan.
Sejak makan malam berlangsung Sena tetap membisu, bahkan ia tidak ada niatan untuk mengajak Galih mengobrol. Meskipun tampak beberapa kali Galih memancingnya untuk membangun sebuah orbolan, tapi Sena hanya membalasnya singkat. Sejak ia tahu jika tamu yang datang adalah Galih dan kedua orang tuanya, Sena seolah memiliki firasat yang tidak mengenakan.
“Ehem, jadi apa kita harus membicarakannya sekarang?” Ucap Dimas di sela-sela obrolan ringan yang sejak tadi berlangsung setelah makan malam usai.
Kedua orang tua Sena tampak saling beradu pandang dengan senyuman yang penuh arti. Sedangkan Intan sejak tadi sudah terlihat melemparkan pandangannya secara bergantian kepada Sena dan Galih. Sena dapat melihat Galih yang tampak tersenyum malu-malu saat mendapati pandangan dari kedua orang tuanya. Hanya Sena yang masih bertanya-tanya bingung dalam hati.
“Sebetulnya kami belum membicarakan masalah ini dengan Sena, kami memutuskan untuk membicarakannya malam ini saja, sekalian kita bertemu,” Ucap Davina yang semakin mebuat Sena tidak mengerti arah pembicaraan mereka.
“Ini maksudnya gimana ya, ma? Ada apa sebetulnya?” Dengan hati yang diliputi rasa penasaran akhirnya Sena membuka suara.
“Sena sudah lama kan mengenal Galih? Dan kalian sudah saling dekat selama ini, betulkan?” Tanya Davina kepada Sena yang dijawab dengan sebuah anggukan.
“Nah, beberapa waktu yang lalu tante Intan dan om Dimas datang kemari untuk membicarakan hubungan kalian berdua,” kata-kata ibunya membuat Sena merasa bingung. “Hubungan?” Kata-kata itu terdengar terlalu ambigu bagi dirinya. Selama ini ia hanya merasa hubungan anatara dirinya dan Galih hanya sebuah hubungan pertemanan biasa.
“Kedua orang tua Galih bermaksud melamar Sena untuk Galih,” penejelasan Davina seketika terasa seperti sebuah sambaran petir. Ternyata firasat buruknya itu benar. Kedatangan Galih dan kedua orang tuanya pasti memiliki maksud khusus sehingga orang tuanya begitu spesial dalam menjamu mereka.
Sena seolah kehabisan kata mendengar ucapan tersebut. Ia sama sekali belum mepersiapkan mentalnya untuk menghadapi situasi seperti ini. Wajahnya kini terlihat pucat pasi dan tampak terlihat bingung.
“Tapi Sena jangan khawatir sayang, kami tidak akan terburu-buru, Sena bisa saling mengenal terlebih dahulu dengan Galih,” Intan yang angkat bicara.
“Maaf Sena harus pamit duluan, tiba-tiba kepala Sena pusing. Permisi semuanya,” Sena tidak tahu harus bersikap bagaimana mendengar semua itu, semuanya terasa mendadak untuknya.
Semua orang yang tadi tengah tersenyum bahagia seketika terdiam kala Sena berjalan meninggalkan ruang makan.
“Dia butuh waktu,” ucap Vandi kepada semua orang di meja makan tersebut.
“Ini pasti gak mudah buat Sena, selama ini kami hanya dekat seperti seorang teman, dan sekarang saya tiba-tiba datang malah untuk melamar,” Galih angkat suara. Sebetulnya ia memang sudah dapat memprediksi bahwa tidak akan mudah mendapatkan hati seorang Sena. Ia perlu bekerja lebih keras agar hati gadis itu mau terbuka untuknya. Meminta kedua orang tuanya untuk melamar hanyalah salah satu cara untuk menunjukkan kepada Sena keseriusannya. Dan selebihnya ia akan berjuang untuk benar-benar memenangkan hati gadis itu tanpa paksaan dari siapapun. Ia ingin Sena benar-benar menerimanya dengan tulus bukan karena paksaan kedua orang tuanya atau siapapun.
“Kami akan mencoba membicarakannya pelan-pelan pada Sena,” Davina berusaha untuk memberikan dukungan kepada Galih.
...*** ...
Sena mengunci dirinya di dalam kamar. Hal itu terasa begitu mengusik hatinya. Bukankah seharusnya ia bahagia saat ada seseorang yang datang melamarnya, terlebih ia tahu Galih adalah pria yang baik dan kedua orang tuanya sangat mengenal orang tua Galih. Seharusnya tidak ada masalah, bukan? Tapi rasanya hati Sena masih belum siap menerimanya. Atau mungkin karena memang hatinya juga tidak memiliki perasaan apapun kepada pria itu.
Cukup lama ia merenungi hal itu hingga kata-kata Tifani pagi tadi kembali terngiang di kepalanya.
“You deserve to be happy, you deseve to find your true love, open your heart and you’ll find it.”
Apa ia memang harus mencoba membuka hatinya untuk seseorang? Apakah Galih orang yang tepat untuknya? Apakah Galih orang yang bisa Sena percayai untuk mengisi hatinya? Kini semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Kepala Sena rasanya terasa seperti akan pecah. Dengan frustasi ia tenggelamka dirinya di balik selimut tebalnya.
Suara ketukan pintu kamar membuat Sena bangkit. Terdengar suara ibunya meminta ia membukakan pintu. Sena tahu pasti ibunya akan membahas masalah tadi. Jangan salahkan dirinya jika ia terpaksa pergi begitu saja setelah pembicaraan itu. Bukan maksud hati mempermalukan keluarganya di depan keluarga Galih dengan sikapnya yang terlihat tidak sopan. Sena hanya merasa sangat terkejut dengan hal tersebut.
Dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu kamar. Jikapun ibunya marah karena sikapnya tadi ia sudah siap mendengar semprotan ibunya. Dan ia pun sudah menyiapkan pembelaan untuk dirinya.
“Mama boleh bicara?” Tanya Davina saat melihat putrinya membukakan pintu. Sena menggangguk dan keduanya berjalan ke arah tempat tidur.
“Kalau mama mau marahin Sena karena sikap Sena tadi, Sena gak keberatan kok,” ucap Sena pasrah.
Davina tersenyum mendengar kata-kata putrinya, dengan lembut ia membelai rambut panjang putrinya, “mama gak akan marah sama Sena, kami sangat mengerti. Justru mama mau menjelaskan mengenai apa yang tadi kita bicarakan di meja makan,” jelas Davina tanpa ada sedikitpun amarah dalam hatinya.
“Galih pria yang baik dan keluarganya pun keluarga baik-baik. Mama dan papa sudah mengenal keluarga mereka sejak dahulu. Dan mama bisa melihat keseriusan itu dari Galih. Jadi mama berharap Sena juga belajar untuk bisa membuka hati. Apa salahnya?” Jelas Davina seraya merapatkan jarak antara dirinya dan putrinya.
Davina menggenggam kedua tangan putrinya dengan lembut, “mama sudah semakin tua, begitupun dengan papa. Kami mungkin tidak akan bisa selamanya ada untuk Sena. Jika suatu hari nanti mama dan papa meninggal, kami berharap Sena sudah memiliki seseorang yang bisa menjaga putri mama ini dengan baik.” Ucapan Davina seketika membuat hati Sena merasa sesak. Air mata keduanya sudah luruh seketika.
“Mama jangan ngomong kayak gitu, jangan hanya karena ingin mempengaruhi Sena supaya mau menikah, mama sampe bilang kayak gitu. Sena gak suka,” Sena tahu sejak dahulu ibunya selalu berusaha mempengaruhi dirinya untuk segera menikah.
Tapi kali ini caranya sungguh tidak ia sukai.
“Itu memang kenyataannya. Dan setiap orang tua pasti ingin melihat kehidupan anaknya bahagia dan baik-baik saja saat mereka sudah tidak bisa lagi untuk membersamai anak-anak mereka,” Davina membelai wajah putrinya dengan penuh kasih.
“Sena akan baik-baik saja, ma. Sena akan tetap bahagia. Pernikahan bukan satu-satunya hal yang bisa membahagiakan, bukan? Bahkan mama terluka karena itu, mama terluka karena orang yang mama cintai dan katanya mencintai mama,” terang Sena yang membuat Davina terdiam sejenak.
“Apa yang menimpa mamah dan papah, itu adalah bagian ujian di pernikahan kami.
Setiap hubungan, apapun itu bentuknya pasti akan selalu ada ujiannya, kan? Tapi apapun yang terjadi, jika mamah ditanya apakah mamah menyesal untuk memutuskan menikah dengan papah? Maka jawaban mamah, tidak, mamah tidak pernah menyesal dengan keputusan mamah untuk menikah dengan papah—“ Davina menjeda, tatapannya semakin lekat menatap putrinya.
“Sejak awal, saat mamah menerima lamara papah, mamah tahu, cinta dan pernikahan bukan hanya tentang bahagia, sayang. Ada perjuang di dalamnya. Ada pengorbanan dan kompromi yang harus kita lakukan. Ada sedih dan luka yang harus kita hadapi dan sembuhkan. Tapi kamu tahu, ada kebahagiaan yang bahkan kadarnya jauh lebih besar dari semua itu selama perjalanan pernikahan mamah dan papah, salah satu kebahagiaan kami adalah lahirnya kamu ke dunia ini,” Tangan Davina dengan lembut mengusap pipi Sena.
“Apa mama berfikir jika papa adalah cinta sejati mama, meskipun papa sudah menghianati kita?” Tanya Sena kembali.
Davina mengangguk, “papa gak pernah menghianati kita, apapun yang terjadi dimasa lalu, itu bukan karena papa bermaksud menghianati mama atau menghianati kita,” jawab Davina dengan penuh keyakinan.
Jawaban yang sama seperti dahulu saat untuk pertama kalinya Sena tahu jika ayahnya akan menikah kembali.
Sena seketika terdiam menatap wajah ibunya, “Sena mungkin gak sekuat mama. Sena gak bisa. Sena minta maaf,” Sena menundukkan wajahnya dan Davina mendekap lembut tubuh putrinya itu dan membiarkan Sena menangis dalam dekapannya.
“Mama percaya suatu hari nanti Sena pasti akan menemukan seseorang yang tepat, mama akan terus berdoa untuk itu, akan selalu,” Davina tak kuasa lagi untuk memaksakan putrinya agar mampu membuka hati. Kini ia hanya berserah kepada Tuhan, biar Tuhan yang bekerja untuk menuntun hati putrinya, menyembuhkan setiap luka yang putrinya rasakan.
Dari balik pintu kamar Sena, Vandi sejak tadi mendengarkan semua pembicaraan ibu dan anak tersebut. Hatinya hancur mengetahui jika putrinya ternyata begitu terluka karena ulahnya. Sesal adalah bagian dari hidupnya sejak saat ia tahu bahwa dirinya telah merusak semua kepercayaan istri dan anaknya. Air mata pria yang kini telah berusia lebih dari setengah abad itu tidak dapat lagi ia tahan. Jika bukan karena dirinya, mungkin saat ini Sena tidak perlu mengalami semua rasa sakit itu. Ia lah penyebab semuanya. Penyebab semua penderitaan putrinya.
...*** ...