
Jika tak ingin, Katakan
Jika tak suka, Katakan
Jika tak Mau, Katakan
Jika dari ketiga itu tak kau inginkan maka Katakan
seseorang tak bisa mengertimu jika kau membisu tanpa ada isyarat apapun
----
"Aska, ayah tau ayah yang sudah membuat kamu meninggalkan Maya dengan terpaksa. jika Aeera pergi kembalilah dengan Maya"
"Ayah bercanda ya?" tersulut amarah Aska dengan perkataan Ayahnya itu raut wajah Aska seperti tak menyangka Ayahnya akan sepicik itu
"Aska dengar Ayah kalo kamu merindukan Maya, ayah tidak apa apa pergiah temui Maya"jelas Rivan dengan santai, dengan bertolak belakang sekali dengan Aska yang langsung berdiri menatap Ayahnya
"Ayah aku nikahin Aeera diusia 20 tahunnya, dia sudah jadi istri aku yah. dan pernikahan itu bukan main main, terlebih pria brengsek itu tak mau melepaskan Aeera" panjang lebar aska menjelaskan dengan nada yang terbilang cukup tinggi
"Aska ayah tau usia Aeera masih 20 tahun, lantas kenapa jika memang begitu, justru bagus kan dia masih muda dan bisa mencari suami baru"
Aska benar benar kesal mendengar perkataan ayahnya yang dia rasa sungguh tak tahu malu, mengorbankan puteri sahabatnya sendiri hanya untuk merger perusahaan
"Aku ga mau di usia 20 tahun Aeera mengemban status janda ayah" Tegas Aska yang disambut oleh tatapan heran dari ayahnya
"Baik kalau begitu, kamu tidak mau Aeera mengemban status janda di usia 20 tahun tapi kamu masih mengingat maya, hmmmm...baik ayah punya solusi untukmu. Bagaimana jika kamu masih berstatus sebagai suami Aeera namun kamu menikahi Maya juga bagaimana? ...tenang nak ayah akan ijinkan"
Entah kenapa Aska benar benar muak dengan ucapan ayahnya itu sambil memegangi pelipisnya merasakan betapa pusingnya ia yang saat ini belum bisa menemukan Aeera dan berharap jika ia ceritakan masalahnya itu kepada ayahnya ia akan mendapat bantuan untuk menemukan Aeera namun ternyata nihil
"Cukup ayah, Aska salah udah ngikutin maunya ayah" ungkap Aska lemas
"Dimana salah ayah nak?" tanya Rivan dengan tak tahu malu
"Kenapa kamu begitu marah Aska, jika dari awal kamu tidak menyukai Aeera, seharusnya saat Aeera pergi kamu bisa menarik nafas lega"
"Siapa yang bilang aku tidak menyukai Aeera!"
hening mendera mereka berdua yang sat ini saling bicara dengan nada tinggi, untung saja ruangan VIP Tuan Rivan sangat eksklusif sekeras apapun suara di ruangan itu tak akan terdengar sama sekali diluar ruangan
"Jadi?"tanya Rivan menantikan penjelasan atas pernyataan puteranya itu
"Ayah awalnya aku juga berfikir sama sepertimu, namun seiring berjalannya waktu melihat Aeera dan Arion, aku begiru kesal entah ini kesal apa namun yang aku rasa aku tak menyukai Aeera dekat dengan pria lain terlebih itu Arion. dan entah mengapa aku menyukai wajah polos gadis itu ayah dia memang tak pernah ingin dekat denganku mungkin hanya sekedar menatapku saja dia enggan, tapi akulah yang ingin terus menatapnya. Aku tak bisa yah meskipun cuma sebentar aku sering melihat photonya tanpa sepengetahuan siapapun. entah ini perasaan apa namun yang aku rasakan aku hanya merindukannya"
"Aku merindukan dia ayah" ulangi Aska dengan wajah muram terlihat bahwa putera Rivan Elvano itu begitu terpukul
"Menantu, aku rasa kmu sudah cukup mengetahuinya sekarang" Panggil Rivan sambil menatap puteranya dengan senyum tanggung, Aska benar benar terkejut saat melihat sosok wanita yang dicarinya berada di balik tirai tempat ayahnya biasa bersantai menikmati pemandangan gedung gedung tinggi yang dilengkapi dengan kasur sehingga Aska tak ada seorangpun yang bisa mendeteksi apa yang ada didalamnya jika tirai itu tidak dibuka
"Aeera?" Terkejut Aska dengan kehadiran Aeera secara tiba tiba saat dia terlihat bagai budak cinta yang lemah, wajah Aska mulai memerah karena malu bahkan untuk menatap Aeerapun rasanya tak sanggup
"Ada apa nak? Kamu bilang kamu tidak bisa jika tidak enatapnya sekarang kamu bisa menatapnya" ledek Rivan tertawa puas melihat putera angkuhnya itu ternyata lunak juga
"Sejak kapan Aeera disini?" tanya Aska penasaran
"Tadi pagi, sebelum kamu ceritakan maslahmu Aeera sudah klarifikasi lebih dahulu dengan ayah,namun ayah sepertinya belum cukup membuatnya yakin dan kebetulan sekali putera ayah ini datang dengan marah marah mengakui bahwa kamu rindu menantuku" tawa Rivan membuat Aska kehabisan kata, sungguh ayahnya benar benar seperti melucuti karakternya yang dingin dan keren
"Aeera, bagaimana menurutmu. sekarang keputusan aku serahkan kepada kamu, kamu sudah mendengar langsung betapa puteraku telah menjadi bucin saat ini" ledek Rivan tak henti henti tak menyangka bahwa puteranya bisa seperti ini karena seorang gadis yang bahkan belum lama ia kenal
"Hei" panggil Aeera yang tak digubris oleh Aska karena rasa malunya itu
"Hei" panggilan kedua masih belum digubris juga oleh Aska yangmasih tertunduk dengan wajah merah padamnya, terlihat Aeera menahan senyum indahnya saat melihat kelakuan Aska yang seperti anak kecil
"Ayo pulang,...... Suamiku"