I'm Not A Celebrity.

I'm Not A Celebrity.
Gara-Gara Kamu.



Henry Cold melangkahkan kakinya meninggalkan bar tempat dia berfoya-foya orang-orang di sana yang sibuk bekerja tidak membaca berita bahwa kelurga Cold telah bangkrut. Mereka percaya begitu saja untuk mengirim tagihan ke perusahaan Cold, menurut mereka terlalu kecil bagi keluarga Cold untuk sekedar mengeluarkan uang se kecil itu.


Henry bergegas kembali ke rumah, dia melihat barang-barang di rumahnya sudah sebagian di keluarkan begitu juga dengan barang-barangnya.


"Ada apa ini ma? Kenapa barang-barang kita di keluar-keluarkan?" tanya Henry saat dia berjumpa dengan nyonya Cold.


"Papamu bangkrut, semua aset kita di sita oleh pihak bank, kita miskin sekarang Henry." ucap Nyonya Cold dengan mata berkaca-kaca.


"Jadi kita miskin? Tidak mungkin. Bagaimana dengan paman Keith dan Kelvin Louis apakah mereka tidak membantu kita."


"Bagaimana kamu selalu mengharapkan pamanmu, kamu tau beberapa tahun yang lalu bagaimana sikap papamu kepadanya. Dia tidak membenci kita saja sudah cukup." nyonya Cold memegang bahu putranya dengan mata berair kemudian dia memeluk Henry yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi kepadanya dan keluarganya.


Henry memegangi kepalanya tidak percaya apa yang terjadi hari ini. Sementara itu tuan Cold datang dengan langkah kaki yang sudah tidak setabil menghampiri mereka yang tengah merenungkan nasib.


"Ini semua gara-gara kamu, kamu yang terlalu di manjakan dengan kekayaan hingga berani menipu dan memprovokasi tiga keluarga besar. Hingga orang-orang menarik modal atau investasi di perusahaan kita karena takut terlibat yang membuat kita gulung tikar. Dan untuk dua pamanmu yang baik, dia tidak memikirkan keluarga." ucap Tuan besar Cold dengan nada tinggi.


"Aku bukan tidak memikirkan keluarga paman, aku juga seorang pebisnis yang tidak ingin mengambil resiko ikut di blacklist oleh tiga keluarga besar. Kecuali kamu menjual perusahaan mu dan menggantinya atas namaku." Keith Louis keponakan dari nyonya besar Cold mengatakan itu dengan antusias dia bukan ingin menguasai perusahaan Cold namun dia tidak ingin melihat orang sombong di depan matanya terus menerus.


"Paman kamu tidak bisa begitu, jika kamu mengambil alih Cold group bagaimana nasibku di masa depan." ucap Henry dengan nada tinggi juga.


"Seharusnya kamu itu diam dan malu Henry, jika bukan karena ulahmu kamu tidak akan kehilangan segalanya. Jadi sekarang kamu harus bersikap sebagai orang biasa jangan sok bersikap seperti tuan muda. Bisa apa kamu tanpa uang?" Kevin Louis ikut menyahuti ucapan Henry yang sudah dia nilai keterlaluan, ya keterlaluan karena walaupun sudah miskin namun dia tetap banyak gaya dan tidak ada habis-habisnya membuat masalah.


"Masih untung aku menganggap bibi ada, jika saja tidak dengan itu aku pasti akan menggulingkan mu lebih dalam."


Keith masih melanjutkan kata-katanya dengan amarah, dendam dan rasa sakit hati kepada keluarga Cold. Kini dia mengajak Kevin Louis untuk kembali ke anak cabang perusahaan nya yang ada di sini, karena masih banyak hal yang harus dia urus sehingga tidak bisa untuk kembali ke Eropa lebih cepat.


"Bibi, apakah kamu ingin ikut aku kembali ke kediaman Louis. Jika iya jangan bawa anak dan suamimu, aku tidak ingin memiliki banyak beban. Dan kakek Louis juga tidak ingin bertemu mereka."


Keith berkata kepada Nyonya Cold dengan lembut, dia masih menghargai bibinya tersebut.


"Bagaimana bisa kami tidak boleh ikut, aku juga cucu keluarga Louis." ucap Henry.


"Kakek tidak lagi menganggapmu cucu setelah tahu apa yang kamu lakukan, jadi sedikit tahu malu lah Henry. Gara-gara kamu semua orang menganggap keluarga Louis itu keluarga yang angkuh dan serakah. Sementara untuk paman Cold, sepuluh tahun yang lalu dia tidak membantuku menyelamatkan ibuku jadi jangan harap sekarang aku akan membantunya."


Setelah mengatakan itu Keith bergegas memasuki mobilnya, sejenak dia berhenti dan menghela nafas melihat orang-orang mengeluarkan benda-benda dari dalam rumah besar Cold. Sebesar itu dampak dari menipu dan menghina tiga pewaris tunggal, namun di sisi lain dia berterima kasih karena dengan begitu satu persatu dendam nya dengan mudah terbalaskan.


_____


Sementara itu Viona tengah tertawa terbahak-bahak di dalam kamar sambil membaca berita tentang runtuhnya keluarga besar Cold, dia sangat puas dengan hasilnya menurutnya teguran terbaik untuk Henry adalah itu. Sekalian itu teguran untuk orang-orang yang melihat bahwa keluarga mereka tidak bisa di provokasi. Dia bukan tertawa di atas penderitaan orang lain namun itu adalah balasan yang setimpal untuk orang-orang yang berani merendahakan dirinya , dan juga teman-temannya.


"Sayang apakah kamu tidak takut Henry balas dendam dengan apa yang kamu lakukan dan teman-temanmu juga ?" tanya Ibu Viona.


"Mama, mau balas dendam pakai apa kalau tidak punya uang. Uang bukanlah segalanya tapi segalanya butuh uang." ucap Viona sambil membolak-balikkan komputer tablet nya.


"Yaudah ayo turun makan."


"Baik ma, sebentar aku ingin mengirim pesan ke Blair dan Kimberly."


Nyonya Berllyn mengangguk, lalu mengatakan dia akan turun terlebih dahulu sementara Viona sibuk mengirim pesan kepada Kimberly dan Blair.


Pesan yang dia kirim berisikan rasa senang nya atas jatuhnya keluarga Cold, bukan dia bermaksud bahagia di atas penderitaan orang lain namun dari cara Henry memperlakukan mereka hal ini sudah sangat pantas untuk diterima oleh keluarganya.


Setelah selesai mengirim pesan itu dia menyusul ibunya ke ruang makan, di sana juga ada ayahnya. Entahlah kenapa ayahnya sudah pulang, biasanya ayahnya selalu lembur di perusahaan.


"Viona, aku tidak ingin menghalang-halangi apapun yang kamu lakukan mau menjatuhkan keluarga Cold atau menegur Henry, cuma tolong perhatikan keselamatanmu sebelum bertindak. Aku bisa melawan seluruh dunia untukmu tapi aku tidak bisa kehilangan mu kehilangan kalian berdua berarti kehilangan duniaku." ucap tuan besar Samuel ayah dari Viona.


"Papa tenang saja, aku selalu mendengarkan kata-katamu."


Viona berjalan menuju ayahnya kemudian bergantian mencium pipi ayah dan ibunya sebelum akhirnya dia duduk di kursi nya sendiri. Ternyata ayahnya rela pulang lebih awal karena mengkhawatirkan dirinya, bagi ayahnya Viona masih gadis kecilnya. Namun hal-hal itu justru membuat dunia melihat betapa harmonis dan manisnya keluarga mereka.


Makan malam di mulai tidak ada yang terdengar kecuali dentingan sendok dan garpu yang berbenturan itu hal yang biasa bagi orang-orang bangsawan dimana diam dianggap sebagai cara mereka menghormati makanan mereka.


.


.


.