
Hal tersebut cukup membuat Kimberly dan teman-temannya di permalukan, bagaimana bisa pesta sebesar itu berani untuk mempermalukan mereka bertiga. Bukan tentang kekuasaan, namun ini tentang harga diri.
"Kim bagaimana ini?" tanya Viona sambil meremas tangan Kimberly.
"Kalian semua yang ada di sini dengarkan aku. Aku Kimberly Daisy, pewaris keluarga Daisy mengatakan kepada kalian semua untuk tutup mulut atas kejadian ini. Dan bagi kalian semua jika masih ingin berkerjasama dengan keluarga Daisy, Berlyn dan Issac untuk tidak menyebar berita ini dan sekarang kalian bubar, jika masih tetap ingin tinggal siapapun itu akan kami Blacklist, tidak sulit untukku mendapatkan siapa saja undangan di sini dan yang terakhir untuk wanita-wanita cantik di sini tidak akan bisa mendapakan barang-barang desain ibuku lagi."
Kimberly mengatakan itu dengan tenang, sementara Viona dan Blair hanya mendengarkan saja. Bukan mereka tidak mampu bersuara, jika satu suara bisa mengubah segalanya kenapa mereka mesti buang-buang waktu untuk ikut campur. Semua orang yang mendengar itu berbisik-bisik kemudian beranjak meninggalkan tempat tesebut.
"Selamat tuan muda Henry Cold atas rusaknya pesta anda yang megah ini." ucap Viona sambil menarik sudut bibirnya.
Setelah mengatakan itu Kimberly dan kawan-kawannya ikut orang-orang bubar meninggalkan tempat tersebut sementara itu Kabar tentang marahnya anak keluarga Daisy terdengar hingga telinga ayah Kimberly, laki-laki itu tersenyum puas dengan kinerja putrinya dengan begitu tidak ada lagi orang-orang yang akan meremehkan keluarga Daisy, bahkan putrinya yang masih kuliah pun sudah memiliki jiwa penguasa.
"Lihatlah putrimu Grace, dia bahkan sudah tau caranya mengijak orang-orang yang tidak tahu malu." ucap Daisy sambil tersenyum puas melihat layar ponselnya.
"Sayang seharusnya bukan cuma putriku, tapi putri kita. Jarang-jarang sekali kita dapat pekerjaan satu negara. Sudahlah kembali nanti kita beri hadiah kepada Kimberly, kasihan anakku satu-satunya itu."
"Bagaimana kalau kita kasih adik, biar dia tidak menjadi satu-satunya."
"Kamu ini ngomong apa, aku sudah tidak mampu lagi untuk hamil dan melahirkan. Tubuhku ini sudah lelah dalam hal pekerjaan. Setelah selesai semua kontrakku aku akan meninggalkan dunia desain, aku hanya akan menerima desain dari orang-orang tertentu dan fokus menghabiskan waktu untuk hidup dengan anakku di rumah."
Grace mengatakan itu sambil duduk di pinggiran ranjang, dia mengingat-ingat masa lalu bagaimana dia tidak pernah memiliki waktu untuk putri tercintanya, dari kecil hingga saat ini Kimberly kekurangan kasih sayang orang tuanya. Ibu dan ayah nya yang sibuk bekerja tentu saja tidak punya waktu untuk mengurus Kimberly dan semua yang berkaitan dengan asuh mengasuh Kimberly di serahkan kepada kepala pelayan di rumahnya. Untung saja Kimberly terlahir sebagai putri yang pengertian jika tidak mungkin kenyataan nya saat ini sudah berbeda mungkin saja gadis itu akan sangat membenci mereka.
"Aku akan selalu mendukung keputusanmu, entah mau jadi wanita karir atau ibu rumah tangga biasa yang penting tetap memperhatikan kesehatan mu. Kalau aku aku akan istirahat ketika Kim sudah mampu untuk memimpin Daisy Grub."
Tuan Daisy ikut duduk di samping istrinya dia mengusap rambut istrinya yang bergelombang tersebut dan sesekali mencium aroma wangi dari wanita yang menemaninya dari nol tersebut dan hingga akhirnya mereka tertidur dengan lelapnya.
Sementara itu Kimberly sudah berada di dalam mobil hendak pulang ke kediaman nya, Rasa malu yang dia terima hari ini akan selalu dia ingat dengan baik di otaknya dan sepanjang hidupnya, entah bagaimana dia tergiur dengan undangan itu dia pikir setelah sekian lama Henry Cold akan berubah namun ternyata dia jauh lebih sadis daripada saat mereka masih SMA.
"Benar-benar keterlaluan si Henry, dia bahkan dengan bangga nya mempermalukan kita. Memang siapa dia? Hanya keluarga Cold saja sudah berani untuk mempermalukan kita." ucap Viona dengan kesalnya.
"Jangan terlalu merendahkan orang Viona, siapa tahu nanti di masa depan dia akan melebihi kita." ucap Blair dengan santai, Blair selalu berpikiran terbuka dan tenang ketika menghadapi sesuatu terutama menghadapi dua sahabat perempuan nya itu.
"Itu tidak mungkin Blair, orang sombong, angkuh dan tidak tahu malu tersebut susah untuk sukses. Ingat dia itu Henry bukan tuan Cold." balas Viona masih dengan nada kasar dan ngegas.
"Astaga kenapa aku tidak terpikirkan dengan tuan besar Cold, bagaimana ini. Mungkin kita dalam masalah." ucap Kimberly menepuk jidatnya.
Blair masih memegang kemudi dengan sabar, dia memecah padatnya jalanan karena memang orang-orang ikut bubar dari pesta Cold, jadi jalanan cukup ramai hari ini.
"Aku akan menelfon Papa sekarang." ucap Viona.
"Aku juga udah mengirimkan pesan kepada papa." ucap Blair.
"Terus aku harus telfon atau kirim pesan kepada papa dan bilang apa?" ucap Kimberly sambil menggaruk-garuk keningnya.
"Kirim pesan atau katakan untuk blacklist keluarga Cold, kan papamu sayang sekali sama kamu dia pasti akan mendengarkan alasanmu. Setauku paman Daisy akan menempatkanmu di atas segalanya, jadi tidak masalah bagi keluarga Daisy untuk kehilangan satu rekan bisnis." ucap Blair menerangkan otak Kimberly.
"Tapi aku sudah mengirimkan pesan kepada paman Joseph, aku hanya tinggal menunggu paman bertindak. Dan kamu wakil persdir Can's bagaimana seorang wakil peresiden direktur bisa menyuruh papamu melakukan sesuatu untukmu." canda Kimberly sambil sendikit tersenyum.
"Posisiku sangat tidak stabil, orang-orang di perusahaan tidak percaya pada kemampuanku karena aku hanya seorang mahasiswa. Mereka lupa jika tuan Keith Louis sudah mulai memimpin perusahaan saat duduk di bangku kuliah." ucap Blair menatap ke jalanan dengan tenang.
"Kau ini aneh Blair, dia adalah tuan Keith yang misterius bagaimana bisa di bandingkan denganmu yang tiap jalan di dekati ratusan gadis." jawab Viona.
"Hanya dekat saja namun tidak bisa bersama untuk apa, " jawab Blair.
"Kita bertiga terus bersama dan saling memiliki namun tidak salin mencintai, betapa konyolnya." Kimberly menyahut.
"Tapi aku mencintaimu Kim." celetuk Viona.
"Benar cinta seorang sahabat." Jawab Blair lagi.
Kimberly bukan gadis bodoh namun di depan teman-temannya dia selalu bersikap seperti itu Konyol dan kekanak kanakkan kadang juga angkuh dan sombong namun teman-temannya tidak pernah ambil pusing mereka justru menerima dengan baik sikap dari teman-temannya satu sama lain.
Mobil melaju menuju kediaman Kimberly karena disana mobil mereka semua terparkir, sementara Kimberly mencoba memejamkan matanya.
.
.
.