
Semua orang telah berkumpul di depan ruang ICU, Grace dan Ibu Viona saling memeluk dan menguatkan satu sama lain. Mereka adalah seorang ibu yang pantas untuk saling menguatkan karena yang sedang terbaring tidak berdaya adalah sebagian dari nyawanya.
"Keluarga pasien Kimberly dan Viona?" tanya seorang dokter dengan suara yang serak.
"Iya dok saya ibunya." ucap Grace dengan cepat maju ke depan di ikuti oleh ibunya Viona.
"Untuk nona Kimberly hanya mengalami patah tulang tangan mungkin karena benturan yang terlalu keras hingga sendi tangan kanan nya bergeser, sementara nona Viona dia mengalami luka bakar hampir 60%. Dia selamat tapi luka bakar itu tidak akan sembuh kecuali dia melakukan operasi plastik."
Mendengar hal itu Grace menghela nafas lega, namun ibu Viona yang bernama Berlyn itu menangis dengan sangat kencang memeluk suaminya.
Grace mendekati sahabat nya sekaligus ibu dari sahabat putrinya itu.
"Berlyn, semua akan baik-baik saja. Setelah mereka berdua pulih kita akan mencari rumah sakit terbaik untuk menyembuhkan Viona, aku disini bersamamu kita bersama-sama menyembuhkan putri kita."
Berlyn berbalik kemudian memeluk Grace, dia meluapkan rasa sesak di dadanya itu dengan menangis histeris hingga sebagian air matanya membasahi tubuh Grace.
Setelah semua prosedur selesai, Kimberly di pindah ke ruang rawat sementara Viona karena kondisinya yang sangat parah masih perlu perawatan intensif.
Semua sudah usai, Grace menemani Kimberly dalam bangsalnya begitu juga Blair yang tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri, sementara Berlyn dan Samuel masih menemani putrinya di luar ruang perawatan intensif. Sedangkan Daisy kini duduk di dekat Blair dengan nafas sedikit berat.
"Blair, bagaimana bisa kamu tahu Kimberly kecelakaan secepat itu. Sementara kamu sendiri sedang bersama ayah mu di perusahaan?" tanya Daisy yang ingin tahu dari awal.
"Sebenarnya waktu itu tuan Keith dan Kevin Louis datang ke perusahaan untuk memberitahukan hal ini paman, namun karena saat itu aku masih rapat jadi aku hanya menyuruhnya menunggu. Waktu itu dia tidak menungguku tapi menitipkan pesan ke pada resepsionis. Awalnya aku tidak percaya, papa sedang menyuruh orang memastikan tapi karena aku sudah panik aku memutuskan untuk mengecek setiap rumah sakit, dan akhirnya aku sampai di sini menelfon paman, waktu itu dua bersaudara Louis masih di sini sebelum akhirnya dia pergi. Paman apa hubunganmu dengan dua bersaudara Louis kenapa dia baik sekali?"
Blair menjelaskan sambil bertanya kembali, hal itu membuat Daisy juga menggaruk-garuk kepala karena setahunya hubungan dengan keluarga Louis juga sangat jauh itu juga hanya hubungan bisnis saja tidak ada hubungan yang lain.
Kita tinggalkan mereka dalam duka nya, kini kita pergi ke kediaman Louis untuk menyaksikan dua bersaudara itu di omelin oleh neneknya.
"Louis bersaudara, bagaimana bisa kamu tidak membawa bibimu kembali. Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk membawanya kembali apapun yang terjadi!."
"Nenek disana dia memiliki suami dan anak, dia tidak akan mau kembali dengan suami dan anak nya. Sementara aku, aku tidak ingin ayah dan anak serakah itu duduk di kursi Louis Group." ucap Keith dengan tenang.
"Tapi dia itu paman dan keponakanmu!."
"Nenek tenanglah nenek." ucap Kevin dengan sabar.
Suara Keith menjadi dingin , neneknya juga sudah mulai diam dulu Louis Group sudah diajang kebangkrutan karena sejak ibu Louis Bersaudara sakit ayahnya sudah tidak mampu mengurus perusahaan hingga orang-orang dalam perusahaan memanfaatkan untuk membawa kabur uang perusahaan, sementara saat itu Louis Bersaudara masih kecil. Neneknya terdiam kemudian menghela nafas, sementara keith beranjak dari tempat ia berdiri kemudian berjalan menuju ke kamar tidurnya, tinggal di mansion keluarga besar Louis justru membuatnya tidak tenang, dia hampir gila karena tuntutan-tuntutan konyol dari neneknya yang tanpa mempertimbangkan perasaan nya itu.
"Lagi-lagi gara-gara ibumu membuat keluarga kita kocar-kacir, andaikan wanita itu tidak menikah masuk ke keluarga Louis, mungkin kita tidak akan dipenuhi dendam seperti ini."
"Nenek bahkan ibuku yang sudah meninggal pun masih sering kamu maki-maki, kenapa tidak sekali-sekali kamu ganti kata-katamu dengan ucapan, 'Seandainya bibimu tidak menikah dengan marga Cold, mungkin aku bisa bersantai sejenak' Nenek aku dan Keith juga memiliki hati dan otak, aku tau kamu tidak suka dengan kami, tapi kami juga marga Louis."
Setelah mengatakan itu Kevin juga beranjak pergi, dia juga merasakan kesal kepada neneknya yang selalu memihak bibinya dan tidak pernah memikirkan dirinya sekalipun.
Tok... tok... tok... Kevin mengetuk pintu kamar Keith, dia hendak beranjak ke kamar nya sendiri namun niat itu di urungkan terlebih dahulu dan memilih mampir ke kamar kakaknya terlebih dahulu.
"Masuk." jawab dari dalam.
Ceklek.. pintu kembali di tutup, Kevin duduk di ranjang besar kakaknya itu.
"Kak, apakah menurutmu kita perlu pindah ke rumah sendiri. Aku membaca dari mimik nenek kelihatannya hanya kegagalan kita yang terpancar di mata nya, kita sudah bekerja keras membangun Louis Group namun ketika kita tidak berhasil membawa bibi kembali langsung dia kecewa kepada kita."
"Apakah kamu baru merasakan jika nenek tua itu hanya memanfaatkan kita, dia mendorong kita naik keatas kemudian dengan mudahnya menjatuhkan kita kebawah."
Tanpa mereka sadari seseorang tengah menguping dari balik pintu kamar Keith mendengarkan pembicaraan mereka.
"Disini saja kita tidak memiliki privasi, bahkan tidak di izinkan untuk memiliki dinding kedap suara."
Keith mengatakan itu dengan keras membuat Kevin ikut menoleh ke arah pintu, Kevin beranjak hendak membuka pintu. Namun saat pintu di buka tidak ada siapapun di sana.
"Kamu tahu mata-matanya tersebar dimana-mana mungkin juga di dalam kamar ini." ucap Keith sambil merebahkan tubuhnya yang terasa pegal sekali.
Mendengar hal itu Kevin segera beranjak untuk kembali ke kamar nya, dia melihat seseorang yang tengah mengepel lantai.
'Sumgguh penyamaran yang konyol, bagaimana ada yang mengepel lantai jam segini.' batin Kevin sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalam kamarnya.
Wanita yang sedang mengepel itu menghela nafas lega, dia merasa bahwa penyamarannya sudah sempurna tanpa tahu jika dua bersaudara itu sangatlah peka dan sudah tahu tentang dirinya.
Keith sedang merebahkan tubuhnya, dia menatap langit-langit kamarnya sambil membayangkan kejadian akhir-akhir ini yang terjadi kepadanya, entah itu pertemuan nya dengan Kimberly ataupun kebangkrutan pamannya.