
Kini Keith dan Kevin Louis tengah membereskan berita-berita itu namun semakin di beres kan semakin menjadi, sangat terlihat jelas jika ada campur tangan orang yang ingin membuat seolah-olah rusaknya Group Louis adalah gara-gara campur tangan perusahaan luar negara. Banyak hujatan yang turut di lontarkan kepada Keith louis namun bukan itu yang menjadi pokok dari permasalahannya melainkan keadaan Kimberly yang dipikirkan oleh raja bisnis tersebut. Bukankah mudah untuk mengatasinya yakni tinggal telfon dan menanyakan kondisi Kimberly, namun gengsi dan ego nya yang tinggi membuat laki-laki itu enggan untuk melakukan hal tersebut karena gengsinya yang tinggi.
Ponsel di gengam dengan erat, banyak panggilan masuk dari awak media. Kenapa bisa terjadi bukankah dulu nomor keith sangatlah pribadi namun kenapa saat ini awak media justru dengan gampang menghubungi seperti sengaja ada yang menyebarkan berita dan nomor teleponnya.
“Apakah ini ulah nenek tua itu?” tanya Kevin sambil terus menatap layar komputer yang memperlihatkan trending topik semakin naik.
“Mana mungkin nenek tua itu punya waktu untuk ini, harusnya dia saat ini sedang kocar kacir membereskan masalah perusahaan.” Ucap Keith yang tidak yakin jika itu adalah ulah dari neneknya, namun jika bukan neneknya lantas siapa yang melakukan hal itu terlalu banyak musuh tersembunyi yang tidak mereka ketahui hingga mereka harus mengusut hingga akarnya.
Keith dan Kevin kembali ke kesibukannya masing-masing mencoba untuk tidak termakan oleh gosip-gosip tersebut karena semakin mereka bersikap biasa saja maka semakin tidak senang orang yang melakukannya. TDR Group perusahaan kecil yang di dirikan secara rahasia oleh dua bersaudara itu akan mengembangkan robot yang bisa membantu mengatur urusan rumah tangga, ada robot pembersih, robot koki dan juga robot pengasuh. Robot-robot itu akan membantu meringankan beban wanita di seluruh dunia, selain itu harganya juga akan di buat se murah mungkin dengan kualitas yang baik sebagai bentuk promosi mereka.
Marga Louis namun tidak ingin lagi mengembangkan perusahaan Louis hal itu sungguh sangat di sayangkan mengingat Louis adalah perusahaan yang sudah berdiri dengan kokoh namun Keith dan Kevin memilih untuk menjalankan perusahaan sendiri yang penting tidak dalam bayang-bayang neneknya.
Kringggggg.... kringggggg... bunyi ponsel berdering ponsel tersebut tidak lain milik Keith Louis, dalam layar tersebut tertulis nama Brick, yang tidak lain adalah bawahan kepercayaan kakeknya dahulu. Keith memandangi nama tersebut sebelum akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan telefon tersebut.
“Halo paman ada apa?” tanya Keith dengan suara dinginnya yang membuat bulu kuduk merinding untuk siapapun yang mendengarkannya.
“Hallo tuan muda, gawat perusahaan sudah hampir gulung tikar para investor sudah mulai menarik modal mereka karena perusahaan tidak beroperasi sebagaimana mestinya.” ucap Brick dengan nada panik.
“Paman memiliki banyak tabungan? Jika iya beli minimal 20% sahamnya, jika kamu tidak ingin perusahaan itu roboh. Bukankah anda sangat setia dengan kakekku.”
Keith terus bersuara dengan nada dingin dan angkuh, semua yang mendengarnya pasti gemetar ketakutan ketika laki-laki itu sedang serius.
“Tidak perduli untuk apa aku akan mendapatkan 20% saham itu tuan.” Ucap laki-laki itu sebelum akhirnya undur diri dan mematikan panggilan tersebut setelah itu Keith tersenyum jika ada 60% saham di pihaknya artinya dia bisa mengeluarkan nenek nya dari perusahaan tersebut, ini terdengar tidak masuk akal dan terdengar dia cucu yang durhaka, namun bagaimanapun nenek nya tidak bisa mengoperasikan perusahaan jadi untuk apa dia menduduki kursi presiden direktur.
Ingin kembali berkuasa dengan menjatuhkan neneknya itu erdengar tidak manusiawi namun bila terus di biarkan maka Louis benar-benar akan runtuh.
wanita-wanita sosialita itu mendekatinya.”
Keith sedikit menggoda kakaknya tersebut nampak dari pandangan matanya kakaknya itu tengah berfikir keras demi tujuan mereka namun kenapa berbalik arah dan membantu Louis. Namun memang benar apa yang di katakan
oleh adiknya itu keith sengaja berbalik arah dan membantu perusahaan keluarganya, namun dirinya tidak ingin berada di sana jika masih terus menerus mengikuti aturan dari nenek nya, lantas apa yang akan di lakukan oleh Keith selanjutnya akan kah dia benar-benar mengambil alih Louis group jika iya maka kepemimpinan TDR dibawah naungan Louis Group.
“Kakak apakah TDR akan berada di bawah naungan Louis group?” tanya Kevin sambil menyangga dagu nya dengan salah satu tangannya.
“Tentu saja tidak! Yang benar adalah TDR berada di atas Louis, atau Louis harus mengikuti aturan dari perusahaan kita. Jika nenek tua itu menolak untuk semua itu biarkan saja Louis lengser dan meninggalkan cangkang kosong sama dengan perusahaan milik menantu kesayangannya, Cold Company yang di lengser kan oleh seorang nona besar.”
Dengan sorot mata tajam Keith menatap ke arah luar gedung yang mereka tempati itu nampak dari sana terlihat segelintir orang dan juga mobil berlalu-lalang. Memang pemandangan itu cukup indah namun lebih baik lagi jika tidak ada orang-orang yang meremehkan mereka.
“ Aku ingin berdiri kuat tanpa pandang bulu sama seperti mereka yang tidak pernah memandangku.” Ucap Keith tanpa melirik ke arah saudaranya yang duduk di dekatnya itu.
“itu masuk akal namun sejak kapan perusahaan yang sudah berdiri puluhan tahun di pimpin oleh perusahaan yang baru saja berdiri dan belum memiliki kekuatan seutuhnya.”
“Kevin, dari sejak kita lahir semua sudah di takdir kan seperti ini jika kita terus tunduk arinya kita membiarkan kematian kedua orang tua dengan sia-sia, mereka pasti juga tidak ingin kita selalu di remehkan oleh orang lain.”
“Kamu mau kopi? Bukankah semua ini akan segera terjadi. Mari kita lakukan hal untuk mempercepat semua ini terjadi.”
Kevin menawarkan kopi kepada kakaknya dan mereka sedang bersiap untuk menyediakan dua gelas kopi yang untuk menemani pekerjaan mereka hari ini, rasanya melelahkan namun perjalanan yang masih panjang dan belum saatnya berkata lelah apalagi menyerah.
Hening sepi sunyi setelah pembicaraan pribadi itu berlangsung, yang terdengar hanya bunyi ketukan keyboard yang di tekan oleh dua bersaudara tersebut, untung saja mereka sangat cerdas hingga bisa saling menopang dan saling melengkapi satu sama lain, detak jam dinding juga menemani mereka mengerjakan pekerjaaan mereka namun entah apa yang mereka kerjakan hingga tidak ada obrolan satu sama lain