
Blair masih dalam perjalanan, dia menghampiri seluruh rumah sakit yang berada di sekitar sana namun hasilnya nihil tidak ada korban kecelakaan yang di rawat di tempat-tempat tersebut.
Blair memukul-mukul mobilnya kesal, dia tidak tahu bagaimana keadaan dua sahabatnya itu, dia mencoba menghubungi siapapun yang bisa dia hubungi namun kondisi Kimberly dan Viona seakan-akan ada yang menutupi.
Dengan secepat kilat Blair menuju rumah sakit lain, ini adalah rumah sakit terbaik di pusat kota tersebut dan ini rumah sakit terakhir dan terdekat yang bisa di jangkau oleh Blair.
Dengan tergesa-gesa Blair masuk kedalam kemudian menanyakan kepada petugas apakah ada pasien kecelakaan yang di rujuk ke rumah sakit tersebut.
"Permisi nona, apakah ada pasien kecelakaan yang baru masuk ke rumah sakit ini?" tanya Blair dengan tergesa-gesa. Sejenak petugas itu mengamati penampilan Blair yang terlihat acak-acakan dan kusut.
"Saya Blair Issac, tolong beritahu saya apa adanya."
Setelah Blair mengatakan itu petugas itu baru berani untuk membuka mulutnya, dia mengatakan jika Kimberly dan Viona masih berada di dalam UGD.
"Maaf tuan pasien yang anda maksud adalah nona Kim dan Viona masih berada di ruang UGD, dokter masih memeriksa kondisi beliau." jawaban wanita itu membuat sekujur tubuh Blair gemetar, ternyata benar Kimberly dan Viona benar-benar mengalami kecelakaan lalu lintas.
Diantar oleh seorang petugas, Blair menuju tempat UGD, disana dia melihat dua orang pria yang tidak asing baginya, dua orang pria itu adalah laki-laki yang dia lihat saat acara di sekolah siang tadi.
"Tu-an." sapa Blair sebelum akhirnya dia terduduk lemas tak berdaya, Kevin mendekati Blair sementara Keith hanya diam membisu.
"Terima kasih." lanjut Blair sambil menatap sosok laki-laki tampan berwajah dingin di depannya.
"Tidak perlu sungkan, kami hanya kebetulan lewat. Bisakah kamu mengabari tuan Daisy dan Nyonya Grace, ku kira kamu yang lebih pantas untuk itu." ucap Kevin dengan tenang , Kevin selalu angkat bicara mewakili Keith untuk hal-hal sepele seperti itu tidak perlu kakaknya turun langsung.
Dengan gemetar Blair merogoh saku ponselnya kemudian dia menelfon seseorang dengan tulisan 'Paman Daisy' di layar ponselnya.
Tutttt.... Tutttt.... Tuttt.... Suara dering ponsel berbunyi, telepon itu tersambung namun sangat lama tidak ada yang menjawab telepon itu. Blair mengulanginya sekali lagi, namun semuanya berakhir sama hingga akhirnya Blair memutuskan untuk menghubungi Grace.
"Tuan tidak ada jawaban dari paman Daisy, aku akan menghubungi tante Grace."
Setelah mengatakan itu Blair langsung menelfon Grace, ponsel itu juga tersambung sebagaimana mestinya. Sementara itu kini Grace sedang berada di sebuah seminar desainer perhiasan terbaik. Dering suara ponsel nya begitu nyaring hingga siapapun yang mendengarnya menoleh ke arah sumber suara, Grace menghentikan kata-katanya dia melihat ke arah ponselnya terlihat nama Blair di sana, Blair yang selama ini tidak pernah menelfonnya dan sekarang menelponnya disaat dia sedang seminar.
"Mohon maaf semuanya, saya harus mengangkat telepon sebentar ini panggilan dari teman anak saya, saya khawatir ada sesuatu terjadi." ucap Grace yang di beri tepuk tangan oleh orang-orang karena ternyata Grace adalah sosok yang mencintai anaknya.
Grace masih berada di atas panggung, dia mengangkat telepon tersebut di hadapan semua orang.
"Blair ada apa nak?" tanya Grace dengan lembut.
"Tante hanya sedang berada di seminar, bicaralah Blair." Grace mengatakan itu dengan lembut membuat orang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sosok desainer ternama itu.
"Ma-af tante, aku gagal menjalankan tugas menjaga Kimberly. Dia-dia...." suara Blair terputus begitu saja.
"Kimberly kenapa Blair? Jujur dengan tante." ucap Grace panik yang membuat orang menyorot nya dengan penuh tanda tanya.
"Kim dan Viona kecelakaan tante dan sekarang masih di UGD."
Sejenak dunia Grace seakan-akan menjadi gelap gulita, Kimberly Kimberly Kimberly, dia menyebut nama itu tiga kali sebelum akhirnya pingsan. Merry dengan sigap menagkap atasannya itu, sementara hp Grace jatuh ke lantai dan pecah seribu.
Suasana menjadi ricuh ada apa dan apa yang terjadi mungkin itu yang terdengar di sana, Merry dibantu beberapa orang membopong tubuh Grace ke ruang istirahat kemudian Grace dengan gemetar menghubungi Daisy karena memang itu baru pertama kalinya dia melihat Grace pingsan, biasanya jika dia tidak enak badan atau apa dia akan selalu memberitahu Merry terlebih dahulu.
Merry menelfon tuan Daisy, tidak butuh waktu lama telefon itu terjawab dengan baik.
"Ada apa mer?" tanya Daisy dengan terang-terangan.
"Maaf tuan besar, nyonya pingsan setelah menerima panggilan dari teman nona Kimberly yang bernama Blair. Saya takut terjadi hal buruk di kampung halaman, tolong segera konfirmasi tuan." ucap Merry dengan bibir gemetar.
"Apa? Oke-oke aku akan mencari tahu. Tolong rawat dia dengan baik."
Setelah menjawab demikian panggilan itu terputus dengan sendirinya Merry mendekati majikannya yang sedang Tidak sadarkan diri tersebut. Sementara para wartawan sedang berusaha masuk untuk melihat kondisi Grace semua itu demi berita terbaru, namun mereka di halangi oleh para scurity.
Sementara itu Blair masih berdiri di depan kamar UGD, dia sudah menerima panggilan telefon dari tuan Daisy dan dengan langsung dia mendengar bahwa setelah Nyonya membaik akan segera terbang kembali dengan pesawat pribadi mereka.
"Maafkan aku, Maafkan aku, Maafkan Aku. harusnya aku tidak meninggalkan kalian dan harusnya aku menemani kalian pulang." ucap Blair menyesali kelalaian nya.
"Tuan muda Issac kami harus pergi, jangan lupa untuk menghubungi tuan Sam." ucap Kevin Louis.
"Baik tuan Louis, terima kasih." ucap Blair sambil membungkuk kan badannya dan itu hanya di jawab anggukan oleh Kevin Louis.
Keith dan Kevin pergi dari rumah sakit, tidak ada muka kepedulian di raut wajah mereka namun kenapa mereka bahkan rela menunggu untuk wanita yang tidak mereka kenal sebelumnya, bahkan jika kenal hanya sebatas kenal nama. Blair memudarkan bayangan itu kemudian dia menelfon Samuel dan istrinya mengabarkan bahwa Viona kecelakaan.
Tidak ada orang yang menyalahkan Blair namun Blair menyalahkan dirinya sendiri, seandainya dan andaikan kata itu selalu menghantui pikiran Blair, bagaimana bisa hal itu terjadi. Benar mungkin perasaan tidak enak yang dia rasakan saat di kampus adalah tanda-tanda dari peristiwa buruk itu terjadi.