
Suatu kebetulan hal itu terjadi, suatu kebetulan Keith dan Kevin melewati rute tersebut, biasanya mereka akan melewati rute yang jauh lebih mulus atau tidak macet jadi suatu kebetulan mereka menemukan dua mobil kecelakaan tersebut.
Ambulance segera datang Kimberly dan Viona di bopong ke arah tandu dengan keadaan sudah pingsan setelah itu kedua ambulan melaju dengan pesat ke rumah sakit pusat kota.
Kondisi mereka sangat berbeda namun Viona jauh lebih parah karena dia menderita 60% luka bakar di tubuh nya.
Keith dan Kevin memandangi mobil ambulance yang melaju dengan pesat tersebut kemudian dia melihat sekeliling menyaksikan betapa tragis nya kejadian itu.
"Hubungi tuan Daisy, katakan jika putrinya mengalami laka di sini." ucap Keith memerintah adiknya, sementara Kevin mulai merogoh ponsel nya namun sayang dia tidak memiliki nomor telepon dari tuan Daisy atau ayah dari Kimberly.
"Argghhhh... aku tidak memiliki nomor ponselnya." ucap Kevin sambil menatap ke arah Keith.
"Pergi ke perusahan Can's Entertainment."
Keith berkata sambil berjalan memasuki mobilnya kemudian di susul oleh Kevin yang masih kebingungan. Kenapa harus kesana secara langsung kenapa tidak lewat telepon saja untuk memebritahu mereka, mungkin itu yang di pikirkan oleh Kevin Louis.
"Kamu jangan banyak berfikir, jika aku menyuruhmu menelfon nya apakah kamu memiliki nomor ponselnya." ucap Keith seakan-akan menjawab isi hati Kevin.
Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya tanda dia tidak memiliki nomor telepon Can's Entertainment ataupun tuan Lim dan putranya, dia adalah orang yang memiliki gengsi tertinggi bagaimana bisa menyimpan nomor ponsel perusahaan kecil seperti Can's.
Mobil melaju meninggalkan TKP meninggalkan mobil Kimberly yang ringsek ataupun mobil Viona yang mulai habis terbakar dan meninggalkan ledakan-ledakan. Untung saja mereka datang lumayan tepat waktu hingga masih ada waktu untuk mengeluarkan Viona dari dalam mobil tersebut.
Polisi dan pihak damkar datang kelokasi mereka melakukan Olah Kejadian Perkara, mengumpulkan bukti-bukti dan memasang garis polisi di berbagai tempat. Sebagian dari mereka juga mengatur lalu-lintas yang sempat tersendat untuk sesaat.
Mobil memutar arah menuju perusahaan tempat Blair bekerja dan belajar tersebut namun karena kondisi jalan yang cukup macet membuat Kevin berkali-kali mengumpat kesal.
Tak lama lagi mereka benar-benar sudah tiba di parkiran perusahaan Lim atau Can's Entertainment. Baru hendak masuk mereka sudah di hadang oleh dua scurity untuk bertanya asal usul mereka karena tugas nya adalah memastikan perusahaan kondusif dan aman.
Sampai di bagian Front Office Kevin mengatakan kepada salah satu pegawainya bahwa mereka hendak bertemu dengan Blair Issac.
"Nona saya Kevin dari Louis Group. Saya ingin bertemu dengan tuan muda Blair." ucap Kevin dengan ramah, dia ada di perusahaan orang hingga dia harus mematuhi semua peraturan yang berlaku di sana.
Wanita muda yang berjaga itu sedikit kaget, tidak ada atasan yang mengatakan jika ada kunjungan dari Louis Group, sehingga dia menjadi sedikit bergemetar.
"Sebentar ya tuan saya harus memberitahu atasan dulu."
Kevin mengangguk, dia tetap berdiri di depan wanita itu sambil menunggu jawaban dari nona resepsionis.
"Tuan wakil presdir sedang ikut rapat, tuan bisa menunggu sebentar untuk bertemu."
Kevin menghela nafas kesal, bagaimana bisa mereka di suruh menunggu.
"Kak sepertinya kita tidak diterima di sini, apakah kita harus pulang." ucap Kevin dengan nada keras.
Keith meninggalkan Can's Entertainment dengan amarah di wajah nya begitu juga dengan Kevin, Keith tidak menyangka jika tuan besar Lim tidak menghargai orang seperti mereka dan memilih melanjutkan rapat daripada menemuinya.
Tak butuh waktu lama , Blair dan ayahnya telah selesai dengan rapat nya hari ini. Kemudian mereka menuju Resepsionis untuk melihat apakah benar tamu mereka keturunan bangsawan Louis.
"Mana tamu kita?" tanya Lim dengan nada dingin.
"Maaf presdir. Tuan Louis bilang, memang seharusnya tidak datang kemari karena Louis dan Can's Entertainment tidak pernah kenal dan tidak saling kenal." ucap wanita resepsionis itu dengan ragu-ragu.
"Lancang, apakah dua marga Louis sedang mengancamku!."
"Sepertinya tidak tuan, karena mereka datang kemari demi memberitahu tuan muda Blair bahwa Nona Besar Daisy dan Nona Besar Viona mengalami kecelakaan."
Mendengar hal itu Blair bagaikan tersambar petir, jika saja dia tidak menyuruh tuan muda itu menunggu mungkin saat ini dia sudah dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Serius? Dimana? dan rumah sakit mana?" tanya Blair dengan panik.
"Maaf tuan muda mereka tidak mengatakan apa-apa. Hanya mengatakan itu lalu berlalu pergi."
Blair merasa dunia seakan-akan runtuh, namun dia benar-benar harus memastikan apa berita itu benar. Dia mencoba menelfon Viona dan Kimberly namun nomor mereka berdua benar-benar tidak aktif.
"Astaga papa. Apa yang harus aku lakukan?" Blair menggosok-gosok kepalanya dengan gemetar.
"Tenang Blair, kita harus memastikan dulu kebenaran berita sebelum menelan berita itu mentah-mentah."
Tuan Lim berusaha untuk menenangkan putranya, namun dia tahu jika dua wanita itu adalah kelemahan terbesar dari Blair dia menyuruh beberapa orang bawahannya untuk mencari tahu kebenaran berita itu, dan jika benar menyuruh mereka mencari tahu dimana rumah sakit itu.
Blair terduduk lemas tak berdaya, dia adalah anak tunggal laki-laki namun kali ini dia benar-benar terlihat tidak berdaya.
Perusahaan mereka adalah Entertainment namun mereka belum menerima kabar angin atau gosip tentang kecelakaan itu. Siapa yang bisa menutupi berita dari mereka.
Namun kali ini semua itu tidak penting yang paling penting adalah memastikan benar atau tidak nya berita itu.
Blair dengan secepat kilat menyambar kunci mobil ayahnya tanpa izin kemudian dia berlari keluar.
"Blair kamu mau kemana?" teriak ayahnya yang sudah tidak lagi di gubris oleh Blair. Blari sendiri memutuskan untuk mengunjungi beberapa rumah sakit untuk mencari informasi, andaikan saja dia memiliki nomor dua bersaudara keluarga Louis itu mungkin saat ini semua akan menjadi lebih mudah.
.
.
.