
Hari sudah semakin gelap, rintik hujan benar-benar turun dengan lebat nya menerjang semua yang ada di bawahnya, Grace melamun di bangsal Kimberly dia melamunkan masa depan keluarganya.
"Ma-ma." panggil Kimberly.
Grace menoleh ke arah putrinya, dia pikir putrinya sudah bangun namun ternyata Kimberly belum terbangun dan hanya mengigau memanggilnya. Grace segera menyuruh untuk memanggil dokter ke ruangan itu.
"Sayang, Kim tadi memanggil mama. Panggil dokter sekarang mungkin dia akan segera bangun." ucap Grace kepada suaminya, wanita itu mengusap air matanya dan berusaha tersenyum.
"Bibi tenang dulu ya, biar aku yang panggil dokter. Bibi dan paman di sini saja."
Blair segera beranjak dari tempat duduknya, dia bergegas untuk memanggil dokter sementara Grace menatap punggung anak laki-laki itu.
"Sayang, kenapa dia merasa bersalah sementara dia tidak ada hubungannya dengan kecelakaan Kimberly. Bukankah sangat wajar bagi anak-anak memiliki tujuannya masing-masing." ucap Grace sambil menatap punggung Blair yang sudah hilang dibalik pintu tersebut.
"Entahlah mungkin karena hubungan mereka terlalu dekat."
"Dulu ibunya juga seperti itu waktu kami masih kecil, sayangnya dia tidak berumur panjang harus meregang nyawa disaat Blair masih belia."
Daisy tidak menanggapi istrinya itu dia hanya menyandarkan kepala istrinya di bahunya sambil menggengam tangan Grace karena dia berusaha membuat Grace sabar dan tidak mengingat kenangan yang menyakitkan itu.
Tak lama lagi Blair kembali dengan Seorang dokter bersamanya dokter tersebut langsung izin memeriksa kondisi tubuh Kimberly.
"Tuan dan Nyonya tidak perlu khawatir, dalam 2 atau 3 jam nona besar akan sadar, rangsangan yang tadi nyonya ucapkan mungkin itu adalah orang yang sangat di rindukan oleh nona besar hingga alam bawah sadarnya pun merespon nama itu." setelah mengatakan itu dokter pun pamit untuk kembali bekerja.
"Benar kah kita harus mengerjakan dokter umum, apakah kita tidak perlu mengambil dokter khusus untuk merawat Kim?" tanya Grace sambil menatap suaminya
"Dokter ini adalah dokter terbaik, aku justru iri dengan kamu Kimberly masih mengingat mu walau dalam kondisi tidak sadarkan diri. Sementara aku dia lupakan."
Daisy mencoba untuk menghibur istrinya dia selalu berusaha untuk membujuk istrinya agar tidak lagi menangis.
"Kamu harus berhenti menangis, bagaimana jika kim bangun dan melihatmu lemah. Bukankah Kim selalu ingin melihatmu tersenyum."
Mendengar hal itu Grace mengangguk, tok... tok... tok... suara pintu di ketuk.
"Biar aku saja Blair," ucap Daisy saat Blair hendak membuka pintu. Laki-laki muda itu mengangguk kemudian kembali duduk.
Daisy membuka pintu kemudian muncul Lim di depan pintu, ternyata yang datang adalah Lim ayah dari Blair. Lim membuka tangannya kemudian di sambut pelukan oleh Daisy setelah itu mereka berdua masuk ke dalam tak lupa Lim menyalami Grace.
"Ikut prihatin dengan musibah yang menimpa Kimberly dan Viona. Maaf aku baru datang karena ada masalah serius di perusahaan." ucap Lim.
"Tidak apa-apa kak Lim, aku tau kamu pasti juga sibuk." jawab Grace dengan senyuman.
Kak Lim itu adalah panggilan Grace kepada ayah Blair, sejak dulu dia menemani ibunya Blair berkencan dengan ayah dari Blair tersebut. Air mata mengenang di pelupuk mata nya, tangisnya kembali pecah.
Grace mengingat kenangan semasa muda, dulu mereka bertiga bagaikan kim dan kawan-kawannya satu orang sakit yang lain ikut merasakannya.
"Sudah-sudah, jangan terlalu banyak berfikir. Mama blair meninggal karena sakit, tidak ada hubungannya denganmu. Mau kamu belajar ke luar negeri atau tidak takdir masih akan sama. Semua sudah berlalu, bahkan blair juga sudah terbiasa tanpa ibu."
Blair mengatakan apa yang dia dengar hari itu membuat Grace menangis dia gagal menjadi seorang ibu dia gagal menjadi ibu yang baik.
"Kamu jangan bersedih, aku dan blair akan tetap disini sebaiknya kamu dan Daisy pulang terlebih dahulu. Mandi dan masak bubur biar Kimberly bisa menikmati masakan ibunya setelah dia bangun."
Awalnya Grace merasa bimbang namun dia akhirnya menyetujuinya karena memang sejak turun dari pesawat dia belum mandi ataupun mengisi perutnya.
"Dan jangan lupa makan, kamu harus punya tenaga ekstra untuk merawat Kimberly."
Daisy berterima kasih kepada Lim, Lim menepuk pundak Daisy dan melihat orang itu pergi meninggalkan bangsal tempat Kimberly di rawat.
Lim sejenak menghela nafas kemudian menatap ke arah Putranya.
"Blair apakah kamu merindukan ibumu?"
"Rindu sih rindu, tapi takdir kita memang sudah seperti ini."
Lim mengangguk, anaknya memang sangat rasional dia tidak menolak takdir seberat apapun itu. Diam tanpa suara sepi hening tak terkira, sungguh entah apa yang terjadi dua orang diatas sofa itu sibuk dengan pikirannya masing-masing.
alangkah baiknya jika semuanya masih bisa bersama namun takdir tetaplah takdir, tidak ada yang bisa menghindar dari takdir itu semdiri.
Blair termenung, dia menatap ranjang yang ada Kimberly di atasnya gadis yang biasanya konyol dan ceria itu kini terdiam lemah tidak berdaya.
"Bagaimana keadaannya Blair?" tanya Lim dengan pelan.
"Tangan kanan nya patah, selain itu sendinya juga bergeser dia akan dijadwalkan operasi setelah sadar." jawab Blair
"Lalu bagaimana dengan Viona?" Lanjut ayah blair bertanya.
"Dia mengalami 60% luka bakar,"
"Bagaimana bisa terkena luka bakar?"
"Mobilnya terbakar setelah terbalik, untung saja tuan Kevin menolongnya tepat waktu jika tidak aku juga tidak bisa membayangkan apa yang terjadi."
Lim mengernyitkan dahinya, apakah suatu kebetulan tuan Louis bersaudara lewat tempat kejadian kecelakaan dan kenapa mereka masih sempat untuk memberitahukan kepada mereka di waktu genting itu apakah semuanya sesederhana itu tidak ada satupun orang yang tahu apa yang di pikirkan oleh louis bersaudara tersebut.
.
.
.
Jangan Lupa untuk tinggalkan Like Komen Dan Favoritkan.