
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Dompet yang kosong, perut yang lapar dan di sepelekan banyak orang adalah guru terbaik dalam hidup.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Keith sudah berada di dalam mobil, dia selalu bersama dengan adiknya saat ini.
"Kevin apakah semua pekerjaan kita di sini sudah selesai?" tanya Keith dengan nada dingin.
"Sudah kak." jawab Kevin dengan sangat cepat.
Mendengar hal itu Keith memerintahkan adiknya untuk segera menyiapkan pesawat untuk kembali pulang ke Eropa, menurutnya sudah tidak ada lagi hal yang harus mereka lakukan di sini. Di sepelekan di perusahaan Can's membuat dirinya tidak lagi ingin berlama-lama di negara tersebut, bukan karena dia baper atau merasa di rendahkan. Mereka dulu sudah biasa hidup dengan di rendahkan oleh orang lain.
Kimberly Daisy adalah sosok wanita yang kuat siapa sangka dia menjadi korban kecelakaan, saat ini kondisinya sangat memprihatinkan bagaimana tidak Kimberly bahkan belum sadarkan diri hingga saat ini, sementara Viona hampir 60 persen terkena luka bakar dan tidak diketahui bagaimana nasib nya.
Blair masih setia menunggu dua sahabatnya itu di ruang UGD, sebelum akhirnya mereka harus benar-benar masuk ke ruang ICU.
"Tuan muda, sebaiknya anda menunggu lebih dahulu disini dan kabari keluarga pasien.
Blair duduk dengan lemas hingga saat ini belum ada pemberitahuan apapun dari pihak dokter seakan-akan mereka menutupi semuanya dari nya. Belum ada tanda-tanda kedatangan orang tua Viona, sementara orangtua Kimberly entah jadi pulang atau tidak.
Blair menutup wajahnya dengan kedua tangannya tak lama kemudian dia mendengar langkah kaki memdekat ke arahnya. Tiba-tiba ada sebuah tangan kekar yang menepuk pundaknya, seketika Blair pun melihat ke arah orang tersebut, ternyata itu adalah ayah dari Viona.
"Paman, maafkan aku aku tidak bisa menjaga mereka." ucap Blair terisak, Samuel merangkul anak laki-laki itu sementara ibu Viona yang berusaha untuk menahan air matanya hanya diam membisu.
"Blair, itu bukan salahmu. Kalian sudah dewasa, sangat wajar bagi kalian untuk memilih jalan masing-masing tidak bisa bersama setiap saat."
Samuel mencoba menenangkan Blair yang sedang merasa bersalah itu, tidak tau lagi mesti bagaimana menjelaskan tentang kejadian itu. Ibu Viona juga ikut mendekat kemudian memeluk Blair dan suaminya itu.
"Blair, Blair putriku Blair." ucap Ibu Viona dengan air mata yang mengalir deras.
Blair mencium tangan wanita paruh baya itu sambil terus-terusan minta maaf namun kecelakaan itu bukan salah blair jadi untuk apa dia minta maaf.
Sementara itu kini Daisy dan Grace sudah ada di bandar udara, Grace tidak henti-hentinya menangis dia merasa menunggu keberangkatan pesawat hanya satu jam membuatnya Merasa sangat lama.
"Sayang apa tidak bisa di percepat keberangkatannya, jika seperti ini untuk apa memiliki pesawat pribadi." ucap Grace sambil menangis terisak.
"Tidak bisa sayang, yang kita cari adalah rute pesawat. Kamu harus sabar, jika kita memaksa bagaimana jika di udara bertabrakan dengan pesawat lain ingat Kimberly butuh kita jangan gegabah." Daisy menenang kan istrinya dia mengelus-elus kepala Grace menyuruh wanita itu bersabar sementara Merry harus membersihkan semua kekacauan saat seminar hingga dia tidak ikut kembali ke tanah air dan mengatakan akan menyusul setelah semuanya selesai.
"Sudahlah, jangan bersedih dia pasti akan baik-baik saja."
Daisy merangkul istrinya kemudian menyandarkan kepala Grace di bahunya, ini bukan sebuah kisah romantis namun ini adalah cara untuk sedikit membuat Grace lebih tenang.
"Putri kita, putri kita hiks... hiks..." ucap Grace dengan air mata yang kembali bercucuran, pilu nya hati seorang ibu mendengar putrinya terlibat dalam kecelakaan beruntun.
"Sudahlah, Kimberly itu kuat jadi dia pasti akan baik-baik saja."
Sebisa mungkin Daisy selalu berusaha tegar, dia berusaha keras untuk menutupi kesedihan dan semua yang ada dalam pikirannya putrinya pasti baik-baik saja.
"Sudahkah kau hubungi pihak rumah sakit, bagaimana kondisi putri kita?" tanya Grace sambil menatap mata suaminya.
"Sudah, mereka bilang masih di tangani."
Pesawat melesat dalam indahnya awan, menuju bandara yang di tentukan, dalam penerbangan tidak ada halangan apapun hingga mereka tiba di tujuan, sesampainya di bandara sudah ada mobil yang menjemput mereka.
"Nyonya, di rumah banyak wartawan yang sedang menunggu apa yang harus kita lakukan?" tanya sang supir saat Grace dan Daisy sudah duduk di dalam mobil.
"Abaikan mereka. Kita langsung pergi ke rumah sakit." Jawab Daisy, membantu Istrinya menjawab karena dia tahu sangat sulit bagi Grace untuk berbicara saat ini.
"Baik tuan." ucap Supirnya sambil menyalakan mobil dan beranjak pergi.
Tatapan matanya kosong dia hanya menatap ke arah luar jendela, kaca jendela masih tertutup hingga pandangan keluar begitu sendu dan sayu.
"Kamu jangan seperti ini, kamu harus kuat aku tidak bisa jika kamu seperti ini. Bagaiman nanti? siapa yang akan mengurus Kim jika kamu seperti ini." Daisy mencoba berbicara hingga Grace menatap ke arah suaminya itu.
"Iya benar siapa yang akan mengurus Kim, andai saja aku mengurusnya dengan baik dia tidak akan kebut-kebutan di jalan." ucap Grace.
Dia menyalahkan dirinya sendiri merasa tidak becus menjadi seorang ibu karena selama 18 tahun ini bisa di hitung berapa kali dia bertemu dengan Kimberly, biasanya hanya bertemu melalui Video Call saja.
Daisy menghela nafas entahlah apa yang harus dia lakukan sangat sulit untuk membujuk istrinya saat ini. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju pusat rumah sakit dimana kimberly di rawat, sesampainya di sana mereka mencari tempat parkir terlebih dahulu kemudian masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
.
.
.