
Sejak saat itu sudah tidak ada lagi kabar dari Henry dan keluarganya, keluarga besar kakeknya juga sudah lepas tangan karena mereka semua adalah pebisnis yang mengutamakan keuntungan, jika saja Henry tidak sombong mungkin saja saat ini mereka masih hidup mewah dengan kekuasannya.
Sementara itu di rumah Kimberly kini dengan suasana yang sangat ramai karena Grace akan pulang untuk menghabiskan waktunya di rumah karena merasa sudah cukup lama mengeluti dunia yang sangat dia sukai, kini dia memutuskan untuk berhenti dan hanya mendesain untuk orang-orang tertentu.
Para wartawan sudah mulai berkerumun di depan gerbang rumah Kimberly hingga terkesan menganggu, sementara Viona dan Blair ikut berada di dalam rumah bersama Kimberly mereka mencoba membantu Kimberly mencegah kebosanan karena terus berada di rumah demi menghindari paparazi.
"Sudah seperti artis saja, seluruh reporter berkumpul mengerubungi rumah. Padahal mereka tahu mami jarang menerima wawancara, sungguh orang yang berkorban sia-sia." ucap Kimberly sambil menatap kerumunan wartawan dari balkon rumahnya.
Mendengar hal itu Blair dan Viona yang sibuk memainkan ponselnya ikut mendekat ke arah Kimberly yang sedang berdiri sambil menggoyang-goyangkan gelas anggurnya.
"Kim? Bagaimana dengan mata kuliah kita hari ini. Bagaimana cara kita keluar jika terus bertambah banyak wartawan nya." ucap Viona dengan tergesa-gesa sambil melihat ke arah orang-orang yang berkerumun di depan pagar.
"Biasanya paparazi yang kita hadapi memang tidak sebanyak ini, jadi pikirkan jalan keluarnya Kim." ucap Blair ikut menatap ke kerumunan wartawan tersebut.
Kimberly tersenyum mendengar itu kemudian mulai berfikir jika gerbang di buka maka wartawan akan masuk ke halaman jika satu saja pohon bonsai di halaman rusak maka semua akan kena dampaknya.
"Dengan sedikit ancaman kita bisa keluar." ucap Kimberly.
Viona dan Blair tidak paham mereka hanya mengernyitkan dahinya berharap Kimberly benar-benar membuat keputusan yang memuaskan sehingga mereka bisa belajar dengan tenang.
Telefon Kimberly berdering, panggilan Video dari ibunya benar-benar terjadi kemudian Kimberly menjawab panggilan Video tersebut.
"Hallo mi," ucap Kimberly dengan nada lembut.
"Kok belum berangkat kuliah kim?" tanya Grace yang menyadari putrinya masih berada di rumah.
Kemudian Kimberly merubah kamera nya menjadi kamera belakang dan menunjukkan betapa mengerikannya para wartawan itu berkumpul.
"Oh no, aku bukan selebrity untuk apa mereka berkumpul seperti semut dalam tumpahan gula." ucap Grace sambil menatap orang-orang yang berkumpul di luar gerbang rumah nya tersebut.
"Untuk hal itu mami perlu bertanya sama mereka, kira-kira mengapa mereka berkumpul padahal ini baru rencana mami pulang. Jika mami sudah benar-benar pulang aku khawatir setiap hari kita akan kedatangan tamu wartawan." ucap Kimberly sambil menghela nafas.
"Kim apa kamu tidak suka mami pulang?" tanya Grace dengan air mata berkaca-kaca.
"Tentu suka mi, hanya saja lebih baik jika dirumah menghabiskan waktu bersamaku. Bukan malah menghabiskan waktu untuk mengurus wartawan-wartawan itu."
"Kim kamu kenal dengan tuan Keith Louis? Pewaris Louis Group, dia adalah orang yang paling bisa mengendalikan para reporter tersebbut. Minta tolong kepada dia tidak akan ada salahnya."
"Mi aku tidak kenal siapa itu Keith Louis, bagaimana bisa aku minta tolong kepada orang yang bahkan aku tidak tau siapa dia." ucap Kimberly.
"Aish benar juga ya, seorang gadis harus menjaga harga dirinya. Oh iya kim, mami udah mau pulang lo kamu mau nitip atau pesan apa biar mami belikan."
Grace berucap dengan manja kepada putrinya itu, sementara tuan Daisy hanya mendengar obrolan ibu dan anak itu dari tempat tidur.
"Tidak ada mi, jika mami mau pulang itu sudah cukup. Sekarang aku sudah besar mi, aku tidak akan lagi merengek minta sesuatu yang mahal. Karena ada sesuatu yang lebih mahal lagi hilang dari hidupku mi. Aku selalu bersikap dewasa dan anggun seperti pesan mami, namun tidak bisa di pungkiri jika aku iri dengan mereka. Mereka yang selalu di temani oleh orang tuanya, aku iri mi." ucap Kimberly sambil mengusap air matanya yang mulai mengalir.
"Maafkan mami sayang....." tuttttttt.
panggilan diputus sepihak oleh Kimberly, bukan karena dia tidak sopan namun karena dia tidak ingin ibunya mendengar isak tangisnya. Keluh kesah yang dia katakan adalah isi hatinya bukan sebuah kata yang hanya bisa di ucapkan namun itu adalah realita isi hatinya.
Kimberly menangis tak bersuara, ada rasa sesak dalam hatinya kenapa dia tidak seberuntung Viona. Viona walaupun dia tidak se kaya dirinya namun dia sangat bahagia hidup satu atap dengan orang tuanya, dan kenapa kisahnya tidak semanis Blair walaupun Blair sudah tidak memiliki ibu namun dia sangat di percaya dan di didik dengan baik oleh ayahnya, sementara dirinya sejak kecil di besarkan oleh pengasuh dan pendidikan nya juga oleh orang lain sebenarnya tidak ada yang bisa dia banggakan, namun dia selalu bersikap seolah keluarganya sangat harmonis.
"Sayang ada apa?" tanya Daisy ketika istrinya menatap layar ponselnya dengan sendu.
"Lagi-lagi Kimberly menangis dan menutup sepihak telepon ku. Sayang, aku hendak bertekat untuk mengakhiri karirku aku ingin menjadi ibu rumah tangga dan mendampingi Kimberly saat ini, dia pasti rindu dengan kasih sayang kita."
Grace menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, walaupun dia sudah berumur namun wajahnya terbilang sangat awet muda, bahkan mungkin jika dekat dengan Kimberly bisa di sangka kakak beradik.
"Bagaimana jika kita kembali bersama, walau aku tidak bisa cuti tapi aku bisa menyisakan waktu untuk menemani kalian di rumah beberapa hari." Daisy mencoba untuk mencari cara agar Istrinya tidak lagi murung, wajar saja dan sangat wajar bila istrinya sedih, 18 tahun lamanya Kimberly tumbuh dewasa di bawah asuhan orang lain.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Grace sambil menatap wajah suaminya itu.
"Aku bisa menyerahkan semuanya kepada Joseph, aku tau dia tidak akan mengecewakan aku." Daisy mengelus rambut indah istrinya, dia mencium beberapa kali menikmati aroma yang jarang sekali dia temui.
Grace mengangguk menyetujui ucapan suaminya setelah selesai dengan pekerjaan nya di negara itu dia akan kembali ke negara asal dan menyudahi karirnya sebagai seorang desainer. Dia memeluk suaminya dengan hangat, mengungkapkan kerinduan mereka karena mereka jarang sekali berkumpul bersama sebelum akhirnya mereka terlelap dalam mimpinya masing-masing.
.
.
.