
Kimberly benar-benar melajukan mobilnya meninggalkan kerumunan wartawan tersebut menuju Universitas tempat dia menimba ilmu, sebagai pewaris Kimberly tidak melanjutkan pendidikan nya di luar negeri, Universitas Internasional dalam negeri pun sudah memiliki kualitas pendidikan yang sangat bagus jadi untuk apa jauh-jauh pergi ke luar negeri.
Sesampainya di kampus tiga sahabat itu memarkirkan mobilnya beriringan dan juga sejajar, semua itu mereka lakukan supaya saat mereka pulang tidak perlu pisah-pisah hanya untuk mengambil mobil.
Keadaan saat Itu kampus sudah seperti biasanya, orang-orang berlalu-lalang, banyak yang melihat ke arah mereka karena mereka bertiga bagaikan emas dalam lingkaran itu.
"Sudah pernah kan aku bilang, kita bertiga bukan Selebrity jadi buat apa kalian melihat kami seperti itu?" ucap Kimberly dengan anggun.
"Cih, siapa juga yang liatin kamu. Orang aku lihatin Blair." ucap wanita itu dengan angkuh nya.
"Tapi Blair tidak nyaman untuk dekat dengan kamu." Viona mengucapkan satu patah kalimat yang membuat gadis itu mematung. Sedangkan Blair yang tidak tahu apa-apa cuma cengar-cengir mendengar celoteh Viona tersebut.
"Sudah ayo lanjut jalan." ucap Blair sambil merangkul dua sahabatnya itu. Banyak orang yang iri melihat kedekatan mereka bagaimanapun mereka adalah dua keluarga besar ternama, siapa yang tidak ingin dekat dengan mereka. Namun mereka sangat sulit di dekati.
Kebanyakan orang mendekat karena tujuannya masing-masing sehingga membuat Kimberly dan yang lainnya tidak nyaman, tidak ada yang tulus dalam dunia bisnis yang kebanyakan isinya adalah serigala berbulu domba dekat dan berteman hanya untuk menikam.
Perjalanan yang mereka lalui sama seperti biasa, mereka selalu menjadi pusat perhatian walaupun berdandan biasa saja. Hal itu karena kekayaan keluarga mereka yang membuat semua orang yang melihat iri dengan mereka.
Dalam perjalanan mereka terdengar kata bahwa salah satu investor terbesar sekolah itu akan datang, dengan gembiranya mahasiswi berdandan karena konon katanya investor itu masih sangat muda yang membuat siswi-siswi ingin sekali untuk menjadi pasangan nya, barangkali mereka jackpot dilirik oleh pengusaha tersebut.
"Dalam dunia bisnis tidak ada kata cinta yang ada hanyalah keuntungan, jadi kalian jangan terlalu berharap banyak jika tidak bisa memberikan keuntungan. Note, anak bukanlah keuntungan kalau dia tidak bisa menjadi pewaris." ucap Viona yang kesal dengan wanita-wanita di kelasnya tersebut karena mereka sangat berisik hingga mengganggu pendengaran Viona.
"Alah gadis tomboy kaya kamu kalau bukan karena harta orang tuamu siapa juga yang mau melirik. Udah yuk teman-teman kita pergi, kita kan miskin jangan sampai nasib nya kaya Henry Cold dan keluarganya." ucap gadis itu sambil mengajak teman-temannya keluar dari kelas.
Setelah mereka pergi Viona meletakkan bokongnya di kursi sambil menghela nafas.
"Kenapa sih menyadarkan orang bahwa hidup itu tidak seindah bayangan sangat susah, lihat mereka di ingatkan malah pergi." celetuk Viona kesal.
"Vio, mereka bukan kamu ataupun kita yang terlahir dengan status terhormat, mereka ingin panjat status melalui jalan pintas tanpa mereka sadari semakin tinggi mereka memanjat semakin sakit juga saat terjatuh." ucap Blair menjelaskan.
"Wajar jika mereka menganggap kita sombong, kita adalah manusia yang lahir dengan kenyataan hidup sementara mereka masih berusaha untuk meraih apa yang kita miliki sekarang."
Kimberly menjelaskan sambil menatap ke luar, kelas mereka yang berada di lantai atas sangat mudah untuk melihat kebawah.
Dari sana mereka melihat orang-orang seperti semut yang berjalan kesana kesini, Kimberly masih menatap dengan tatapan kosong ke arah luar.
"Kim ada apa denganmu?" tanya Blair yang tidak tahu apa-apa membuat Viona mengangkat bahunya karena dia tidak tahu apa-apa juga.
"Vio, aku boleh numpang makan di rumahmu?" tanya Kimberly sambil memalingkan wajahnya ke arah luar.
Viona melotot menatap Kimberly dengan tatapan mata tidak percaya, bagaimana bisa seorang Kimberly Daisy numpang makan di rumah orang.
"Aku rindu masakan mami Vio, mami jarang pulang dan juga sekali pulang belum tentu memasak untukku. Aku ingin makan masakan bibi Vio, apakah aku boleh."
Viona mengangguk dengan cepat, kemudian dia menyalakan ponselnya menceritakan apa yang baru dia dengar dari Kimberly kepada ibunya, dan dengan senang hati ibunya menjawab akan masak yang enak untuk Kimberly juga.
"Nanti pulang dari kampus ke rumahku, mama akan memasak untukmu, untuk kita. Biarpun mungkin tidak se enak tante Grace tapi mamaku pasti tidak akan mengecewakan mu."
Viona memeluk Kimberly yang mulai meneteskan air mata nya, di ikuti oleh Blair yang mengusap-usap rambut Kimberly dengan sesekali menepuk bahu nya menyuruh Kimberly untuk bersabar. Biasanya Kimberly tidak serapuh itu entah apa yang terjadi kepadanya tidak ada yang tahu.
"Vio, kadang aku merasa iri denganmu. Iri denganmu yang bisa memeluk mama mu kapan saja, iri denganmu yang bisa menikmati masakan mama mu kapan saja. Aku juga iri dengan Blair, dia bisa menikmati didikan dengan ayahnya hingga membuat dia berdiri kokoh seperti saat ini." ucap Kimberly dengan isak tangis nya.
"Kim, setidaknya kamu masih punya mama. Sementara aku tidak." jawab Blair yang membuat Kimberly merasa tidak enak.
"Maafkan aku Blair." ucap Kimberly.
"Tidak apa-apa, kita memang berbeda cerita Kim, namun kita bertiga harus saling melengkapi." jawab Blair.
Kimberly mengangguk kemudian mengusap air matanya yang telah tumpah berserakan di lantai, air mata yang turun bak hujan derasnya itu. Rasa sesak di dada masih ada namun harus dia tahan dengan sepenuh hati.
"Viona ajak Kimberly cuci muka, terus benahi riasannya. Tidak ada yang boleh tahu kelemahan dari Kimberly , Aku atau Kamu kecuali Kita. Kelemahan itu bisa membuat musuh dengan mudah menyerang." Blair mengatakan itu dengan bersungguh-sungguh dan Viona pun mengangguk dia mengajak dan mengantar Kimberly ke kamar mandi, tidak ada yang boleh tahu mereka itu lemah dunia hanya perlu melihat sisi kuat mereka bukan kelemahan mereka.
Sesampainya di tempat itu Kimberly membasuh wajahnya dengan air dingin kemudian mengelapnya dengan tisu. Setelah itu dia membenahi riasannya dan kemudian kembali untuk berkumpul dengan Blair, sementara Viona menemaninya melewati setiap proses nya dengan hati yang pilu.
Andai saja itu terjadi padanya mungkin dia tidak akan sekuat Kimberly ,batin Viona saat ini dan sangat beruntung dia lahir di tengah keluarga yang hangat dan harmonis serta tidak di pisahkan dengan keluarganya saat ini.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan Like Komen Dan Favoritkan.
Terima Kasih Semuanya.
❤️