I'm Not A Celebrity.

I'm Not A Celebrity.
Universitas Internasional



Helaan nafas panjang, Kimberly bergegas untuk mengambil tas kuliah nya, dan tak butuh waktu lama dia kembali mendekati Blair dan juga Viona yang masih sibuk memperhatikan para wartawan yang berkerumun seperti semut di depan gerbang rumahnya.


"Bagaimana caranya kita keluar?" tanya Viona sambil menatap ratusan orang yang memadati tembok tersebut.


Kimberly memanggil beberapa pelayan yang ada di rumahnya kemudian memerintahkan mereka untuk membuka gerbang, awalnya pelayan itu ragu-ragu karena wartawan yang sudah kepanasan itu pasti akan menerobos masuk ke halaman rumah dan itu bisa menyebabkan kerusakan yang tidak perlu.


"Katakan saja pada mereka, jika mereka berani masuk dan sampai merusak bonsai ataupun furinture keluarga Daisy, maka kita akan menuntut perusahaan mereka. Satu orang yang melakukan semua yang ada di sana akan di tuntut oleh Daisy group." ucap Kimberly dengan nada dingin.


"Tapi nona besar, apakah ancaman ini benar-benar manjur?" tanya salah satu dari pelayan yang di kumpulkan oleh Kimberly.


"Paman, jika orang lain mungkin mereka akan langgar namun keluarga kita adalah Daisy Group siapa yang berani membantah. Apa mereka ingin berakhir seperti keluarga Cold." ucap Kimberly sambil menepuk pundak pelayan di rumahnya itu.


Pelayan tersebut mengangguk kemudian dia mengajak teman-temannya untuk membubarkan wartawan itu setidaknya membiarkan mobil dari Kimberly untuk keluar dari rumah besar tersebut. Suara sepatu mereka nampak beriringan untuk menjalankan tugas, satu orang berusaha untuk membuka gembok sementara yang lain berbaris di belakang untuk berjaga-jaga agar tidak ada satupun wartawan yang masuk ke dalam rumah.


"Kawan-kawan reporter semuanya, jika anda ingin menunggu nyonya besar kembali silahkan tunggu di luar pagar dan beri jalan agar mobil nona besar keluar."


Namun kata-kata dari pelayan itu sama sekali tidak di idahkan oleh para wartawan yang sudah kelelahan tersebut.


"Sesuai perintah dari nona besar, siapapun yang berani menerobos masuk dan merusak bonsai ataupun furinture yang ada di sini maka semua orang akan di tuntut beserta dengan perusahaan nya."


"Apakah nona besar sedang mengancam kami dengan menggunakan identitas?" tanya salah satu wartawan tersebut.


"Terserah kalian mau bilang apa, tapi nona kami harus berangkat ke kampus. Kalian saja yang disini sudah menganggu kenyamanan bisa saja kami laporkan."


Mereka yang paham dengan kata-kata pengawal tersebut segera menyingkir kemudian memberikan jalan untuk mobil Kimberly keluar, tiga buah mobil mewah benar-benar keluar dari kediaman besar tersebut mobil itu adalah milik Blair, Kimberly dan Viona sementara wartawan itu sibuk memotret Kimberly melihat seorang Reporter yang tengah hamil sedang duduk lesu di pinggir jalan, terlihat mukanya yang lelah tidak bertenaga.


Kimberly menepikan mobilnya hal itu membuat Blair dan Viona keheran-heranan. Kimberly turun dari mobil kemudian dia menghampiri wanita hamil tersebut.


"Nyonya kamu sedang hamil?" tanya Kimberly yang dijawab cepat oleh wanita tersebut, sementara wartawan yang lain sibuk mengambil gambar karena merupakan berita bagus ketika nona besar menyapa orang lain apakah Kimberly akan mengusir wanita hamil tersebut.


Kimberly memanggil dua orang pelayannya kemudian memerintahkan mereka untuk membawa wanita hamil itu masuk.


"Bawa dia masuk, biarkan dia beristirahat. Selanjutnya kalian tahu apa yang harus di lakukan."


"Tidak perlu nona besar saya disini saja bersama dengan yang lain." ucap Reporter wanita tersebut.


"Baik untuk dirimu tapi tidak baik untuk bayi di dalam kandunganmu, jangan sampai demi pekerjaan mu kamu rela membahayakan janinmu. Jika tidak mau masuk maka kamu bisa pergi dari sini. " ucap Kimberly dengan tenang.


Setelah mengatakan itu Kimberly kembali ke dalam mobilnya dan dengan cepatnya mobil tersebut melesat pergi menuju Universitas tempat Kimberly dan yang lainnya menimba ilmu.


Sementara itu di rumah Kimberly masih di gegerkan dengan sikap Kimberly kepada reporter wanita yang tengah mengandung itu, sementara orang-orang suruhan Kimberly benar-benar membawa wanita itu masuk kedalam rumah dan menjamu nya seperti tamu istimewa.


"Tuan apakah aku boleh memotret desain interior dari rumah ini, rumah ini sangat menarik dan belum pernah dilihat orang lain."


"Nona sebaiknya anda tahu batasan, tanpa izin tidak ada yang boleh mempublish apapun tentang rumah ini. Jika masih berani untuk mencuri informasi ataupun yang lainnya ingat konsekuensi nya." ucap pelayan yang berdiri di depan wanita itu.


"Namaku Nora tuan."


"Aku tidak peduli anda siapa, tugasku hanya melayani anda seperti perintah nona besar."


Wanita bernama Nora itu hanya diam, dia tidak lagi mengatakan sesuatu yang tidak penting atau mungkin tidak enak di dengar oleh pelayan-pelayan itu, beberapa jenis buah dan makanan juga tersaji di depannya dengan sempurna seakan-akan membuat sayang siapapun yang hendak memakannya.


"Buah-buahan ini di pilih dengan kualitas terbaik ada beberapa yang merupakan buah impor dan juga buah lokal terbaik, jangan khawatir itu beracun karena itu adalah buah-buahan yang di sukai oleh nona Kimberly.


"Tuan saya tidak berfikir ini beracun, hanya buah-buahan ini terlalu mahal untuk saya nikmati."


Pelayan itu hanya diam saja tidak lagi menanggapi ucapan Nora, kemudian dia berbalik dan membisikkan sesuatu kepada teman-temannya.


Sementara itu orang-orang yang berkerumun di depan gerbang rumah Kimberly nampak sangat bosan, mereka juga sangat kepanasan. Ada beberapa yang sudah menyerah dan kembali ke perusahaan ada juga yang menunggu di dalam mobil dan ada juga yang masih antusias demi berita besar.


"Apa kabar kepulangan Desainer Grace adalah kabar angin, kenapa hingga saat ini belum ada tanda-tanda dia akan datang." ucap reporter A yang sibuk dengan keringat nya di dahi.


"Entah namun saat atasanku bilang desainer Grace hendak pulang aku langsung disuruh datang kepada mereka. Enak ya jadi orang kaya, tidak perlu apa-apa sudah menjadi kaya sementara kita bekerja dengan sangat keras tapi masih begini-begini aja." jawab reporter B dengan keluhannya.


"Kalian salah jika bilang sebagai orang kaya itu enak, kanu lihat tuan dan Nyonya Daisy mereka bahkan jarang sekali pulang untuk mengurus pekerjaan nya. Ya mungkin saja mereka senang namun bagaimana dengan nona Kimberly, dia pasti sedih tidak di temani oleh orang tuanya." sahut reporter C.


"Kamu sok bijak, bagaimana kamu tau dia sedih, mungkin saja dia bahagia kan dia memiliki segalanya."


Obrolan itu akhirnya berubah menjadi panjang kali lebar kali tinggi hingga hari sudah hampir sore.


.


.


.


.


.


.