
Sore itu langit mendung bergulung-gulung mungkin saja hujan akan segera datang sebenarnya Blair sudah sangat malas namun kata ayahnya hal ini bisa menjadi dasar untuk dia mengait rekan bisnis yang cukup banyak, karena orang-orang yang di undang adalah orang-orang dari pebisnis di berbagai dunia.
"Jangan sepelekan orang-orang yang ada di sana Blair, sekalian ingatkan dua teman mu itu untuk berhati-hati dengan serigala berbulu domba." ucap tuan Lim dengan lembut mengingatkan putranya tesebut.
"Pa, bahkan kamu saja secara tidak sadar memelihara serigala betina berbulu domba." jawab Lim sambil meraih kunci mobilnya.
"Sebenarnya aku tau Blair, namun masih menunggu momentum yang tepat untuk menyingkirkannya jika tidak bagaimana menjelaskan kepada para petinggi perusahaan."
Mendengar hal itu Blair mengangguk kemudian meminta izin ayah nya untuk pergi ke rumah Kimberly menjemput dua orang wanita itu, dan izin. untuk pulan agak malam karena mesti mengantar dua gadis itu sampe rumah, baru dia pulang. Ya sangat berbahaya bagi wanita untuk pulang sendirian malam-malam.
"Kamu memang tidak berubah Blair selalu saja mengutamakan mereka."
Viona dan Blair sudah berkumpul di rumah besar Kimberly, mereka ingin berangkat bersama untuk pergi ke pesta besar Henry Cold. Semua sudah mereka persiapkan satu buah mobil mewah yang cukup untuk mereka bertiga dan undangan juga tidak lupa mereka bawa.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Blair saat mendapati Kimberly sudah keluar dari lift di rumahnya, di rumah Kimberly ada tangga dan ada juga lift tergantung dari mana dia ingin turun dan naik.
"Apakah baju ini cantik?" tanya Kimberly kepada Blair dan Viona.
Kimberly sendiri menggunakan gaun berwarna merah jambu selutut sementara Viona menggunakan long dresa berwarna navy dengan belahan dari ujung kaki hingga paha.
"Lumayan." Jawab Blair mengangguk.
"Cantik." jawab Viona sambil mencubit pinggang Blair.
Viona memutar bola mata nya kesal kenapa laki-laki ini sangat suka berterus terang apakah hidupnya sangat terang-terangan seperti itu. Kimberly yang melihat itu tersenyum tidak berdaya dari kecil mereka (Blair dan Viona) memang sudah seperti tom and Jerry walau sangat sulit untuk dekat namun tetap saling melengkapi.
"Sudah jangan ribut ayo berangkat." ucap Kimberly.
Blair mengangguk dia berjalan duluan sementara Viona mengikuti Kimberly, satu buah mobil mewah yang di miliki oleh Blair mereka gunakan, bagi mereka tidak perlu terlihat mencolok untuk di lihat semua orang yang penting mereka datang sebagai niat baik untuk menerima undangan dari teman lama.
Sepanjang perjalanan Kimberly hanya diam saja sementara Viona sibuk mengoceh sana sini mengomel seperti ibu-ibu.
"Viona kita hampir sampai, tolong jaga citramu sebagai gadis bangsawan." ucap Blair sambil memasukkan mobil mereka ke area parkir yang sudah tersedia. Setelah selesai mobil di parkir mereka merapikan gaunnya kemudian turun dari mobil. Disana nampak orang-orang berlalu-lalang untuk menunjukkan undangan agar bisa masuk, antrian tidak cukup panjang namun ada banyak orang yang memang sengaja ngobrol di luar sebelum masuk ke ruang pesta.
"Tuan dan nona, tolong tunjukkan kartu undangan anda." ucap seorang penjaga dari beberapa penjaga yang berjaga di depan pintu masuk.
Blair mengeluarkan tiga lembar undangan dan menyerahkan kepada dia.
"Ini undanganku dan dua temanku." ucap Blair.
"Maaf tuan, undangan ini palsu dan anda tidak bisa masuk." Ucap orang itu sambil melihat undangan Blair, Kimberly dan juga Viona.
"Ha palsu? Tapi undangan itu yang di kirim kerumah kami." ucap Viona keras hingga orang-orang mendengarkan hal itu.
"Sudah ayo kita pulang," ucap Blair meredam emosi Viona.
"Pulang? Kamu tidak bercanda kan Blair. Sejak kapan kita tiga keluarga besar ini merendah ketika di permalukan."
Mendengar hal itu Blair pun terdiam, dia juga kesal karena hal itu menyangkut martabat keluarganya namun bagaimana pun tidak ramah untuk ribut di acara orang.
"Yooo... Ku kira siapa yang ribut di depan rumahku, ternyata dua nona besar dan tuan muda ya. Kenapa bahkan kamu ingin memaksa masuk ke dalam pestaku?" seorang laki-laki dan beberapa pengawalnya keluar dari rumah, orang itu tak lain adalah Henry Cold.
"Seandainya kamu tidak mengundang kami juga tidak apa-apa Henry, namun apa perlu sampai mempermalukan kita bertiga." ucap Kimberly sambil menyobek undangan tersebut di depan Henry.
"Ha ha kenapa marah? Mau menggunakan kekuasaan keluarga Daisy?"
"Untuk hal ini tidak perlu Daisy turun tangan, aku saja cukup mampu untuk menggulingkan perusahaan mu." ucap Viona ketus.
Tanpa Henry sadari Keith dan Kevin Louis mendengar hal itu dari belakang, dua orang itu juga samar-samar mendengar suara Kimberly. Mereka tersenyum entah apa yang membuat mereka senang.
Namun Kimberly yang merasa geram ingin keluarganya juga ikut campur sangat mudah untuk menggulingkan keluarga Cold bagi mereka.
Kimberly mengirim pesan kepada Joseph, dia menceritakan bagaimana Henry Cold mempermalukan mereka setelah mendengar itu tentu saja Joseph tidak tinggal diam dia segera memberitahu atasan nya. Joseph itu sebenarnya bukan hanya sekertaris namun dia juga seorang wakil presdir, ayahnya sangat percaya pada laki-laki itu hingga dia mengikuti ayahnya menceritakan semua yang terjadi padanya kepada laki-laki itu.
"Ingat Henry, keluarga kami bukan keluarga yang suka di tindas secara sukarela siap-siaplah menerima akibat dari perbuatanmu." ucap Kimberly dengan nada tinggi, Kimberly benar-benar marah jika dia diam saja itu artinya dia mengakui jika keluarganya sangat mudah di tindas apalagi hanya perusahaan kecil seperti Cold bagaimana bisa mendindasnya.
"Kamu mengancamku? Orang yang hidupnya cuma mengandalkan keluarga nya dan juga kekuasaan orang tuanya kira-kira bisa apa. Apa kamu berfikir aku takut denganmu?"
Henry berucap mengancam, dia tidak tau apa konsekuensi dari melawan tiga keluarga besar namun dia tahu dia tidak mungkin untuk menyerah hanya karena sedikit ancaman oleh putri keluarga besar, baginya bisnis keluarganya sudah tidak terkalahkan.
Ha Ha Ha... Viona terkekeh dengan lantang, kemudian dia menatap Henry dengan tatapam membunuh.
"Kamu kira kamu hebat? Selain setatus sebagai putra keluarga Cold apa lagi yang kamu punya. Bagaimana bisa kamu sebangga itu, bahakan Universitas Internasional tidak mau menerimamu. Aku baru sadar Tuan Muda Cold, adalah seseorang yang B O D O H."
Viona kembali membuka mulut, dia mengeja kata-kata kasar itu dengan sangat terus terang membuat Henry menggigit bibirnya karena amarah, walaupun yang di katakan Viona itu benar namun bagaimanapun dia tidak ingin di permalukan.
.
.
.
.