
Kimberly masih berada di ruang kelas nya, hari ini mereka bertiga ada kelas yang sama karena mereka mengambil jurusan yang sama walaupun hobi dan minat mereka berbeda. Hal itu bukan karena keinginan tapi kenyataan yang harus mereka tanggung, pundak mereka sejak lahir memang harus menanggung beban yang cukup berat.
"Kamu tidak ikut menyambut investor muda itu Kim?" tanya Blair sambil membolak balikkan buku yang dia pegang, entah buku apa itu intinya hanya seperti orang gabut mengisi waktu tanpa harus tau isinya.
"Engga, buat apa? Bukankah kita terlalu sering bertemu cowok tampan dan kaya." ucap Kimberly acuh tak acuh.
"Oh iya Kim, aku pernah bertemu dengan putri seorang presiden dari salah satu rekan bisnis papi, dan dia cantik sekali Kim." ucap Blair sambil menatap ke langit-langit ruangan itu.
Viona terbelalak bagaimanapun itu pertama kalinya Blair membicarakan tentang seorang wanita di hadapan mereka.
"Presdir group mana, biar aku cari tahu tentangnya." ucap Viona dengan antusias.
"Presdir Group......."
Pembicaraan mereka terputus tatkala mendengar pengumuman untuk seluruh mahasiswa atau mahasiswi untuk berkumpul di aula tempat berkumpul, itu karena mereka kedatangan investor terbaik yang ingin mereka kenalkan kepada seluruh Investor.
Mendengar itu mereka menyudahi percakapan mereka dan dengan bermalas-malasan meninggalkan tempat duduk untuk ikut bergabung dengan yang lainnya, mereka memang memiliki hak istimewa di sekolah itu termasuk boleh untuk tidak mengikuti acara sekolah, namun mereka harus ikut demi nama baik dan menjadi contoh murid teladan.
Mereka berjalan beriringan bersama dengan anak-anak lain yang awalnya juga malas untuk menyambut Investor namun mereka terpaksa datang karena sudah di perintah untuk datang.
Tak butuh waktu lama, perjalanan mereka telah usai dengan sesegera wakil rektor Universitas Internasional tersebut memberikan tempat mereka duduk di depan.
"Ibu, kami cuma murid biasa kami bukan selebriti jadii kenapa mesti dikasih tempat duduk di depan?"tanya Viona kepada ibu wakil rektor tersebut.
"Tidak apa-apa kalian adalah murid terbaik disini." ucapnya dengan ramah.
Setelah mendengar itu mereka tidak lagi bertanya namun langsung duduk begitu saja, dalam dunia ini siapa yang berkuasa akan di lindungi dan di hormati semua itu karena kekuasaan mereka bukan main-main. Tak butuh waktu lama, sebuah mobil yang tidak asing di mata Kimberly dan Viona berhenti tepat di depan aula.
"Kim, bukankah itu mobil Keith dan Kevin Louis." ucap Viona sambil mengusap-usap matanya.
"Ho'oh kayanya, eh tapi ngapain dia di kampus kita?" tanya balik Kimberly.
"Siapa mereka?" tanya Blair yang penasaran.
"Mereka dua tuan muda keluarga Louis." ucap Kimberly.
Keluarg Louis, keluarga besar yang kebanyakan usahanya berkembang di Eropa, bagaimana bisa mereka ada di sini entahlah siapapun tidak akan tahu apa yang dipikirkan orang lain, lha wong saya saja tidak tau apa yang saya pikirkan hehe.
"Kenapa dia!." ucap Kimberly dengan penasaran, dan benar saja dua orang yang turun dari mobil tersebut adalah Keith dan Kevin Louis, dua orang bermarga Louis itu memang selalu bersama-sama kemanapun mereka berada.
Tepuk tangan meriah, mahasiswi bersorak-sorak menyaksikan ketampanan mereka membuat mereka merasa risih dengan itu, Keith dan Kevin Louis benar-benar datang dia duduk di kursi tepat di depan Kimberly dan Viona.
"Wanita-wanita ini tidak mencerminkan sebagi mahasiswi di Universitas Internasional, aku akan minta papa untuk memindahkan aku dari sini." ucap Kimberly kesal.
"Bagaimana denganku," ucap Viona sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kita ikut lah, bukankah janji persahabatan kita seperti itu." ucap Blair menanggapi mereka berdua.
"Wajar saja nona Daisy, jika seorang wanita melihat laki-laki tampan dan histeris. Mereka belum melihat luasnya dunia dan berapa banyak laki-laki tampan di dunia ini." ucap Kevin mendengarkan pembicaraan mereka.
"Bukan hanya cuma tampan tapi di ikuti mapan, jika hanya tampan di kampus ini ada ratusan laki-laki tampan termasuk Blair, tapi tidak ada yang mendekatinya." celetuk Viona judes sekali.
"Eh kok bawa-bawa aku, Penggemarku banyak lo." jawab Blair sambil menggosok-gosok rambut nya.
"Sudahlah kalian jangan berisik, aku bahkan tidak tau dia adalah Investor terbesar di kampus kita." ucap Kimberly menenangkan sahabatnya karena jika di biarkan perdebatan itu akan sangat panjang.
"Itu karena kita tidak kenal nona." jawab Kevin Louis.
Sementara itu Keith Louis hanya diam saja, entah dia mendengar atau tidak ucapan dan pembicaraan mereka namun dia hanya diam tidak bersuara.
Tak butuh waktu lama pembawa acara memanggil nama dua orang itu untuk maju kedepan dan memberikan motivasi bagaimana bisa sukses di usia muda.
"Itu karena mereka pewaris bukan perintis."
Kimberly mengatakan itu dari mulutnya yang langsung di bungkam oleh Viona yang berada di sampingnya, sementara Keith mendengar itu tersenyum kecil.
"Ternyata ada wanita yang meremehkannya, itu bagus." batin Keith sebelum akhirnya beranjak ke panggung di ikuti oleh Kevin di belakangnya. Sementara itu Kimberly yang merasa bersalah memilih diam seribu bahasa tidak tahu apa yang baru saja dia katakan, jika mereka tersinggung akan sangat berbahaya untuk masa depan mereka.
Sementara itu Keith dan Kevin Louis dengan wibawa nya mengatakan sepatah dua patah kata di atas panggung, suasana hening di iringi bisikan-bisikan kecil antara orang-orang yang disana, entah kenapa jantung Kimberly berdetak mendengar nada suara Keith Louis, bagaimana bisa itu terjadi dia tidak pernah merasakan itu sebelum nya.
"Kimberly ada apa? Kenapa kamu menatap tuan Louis dengan tatapan seperti itu?" tanya Viona sambil menepuk pundak Kimberly.
Kimberly kaget bukan main.
"Oh tidak." ucap Kimberly lumayan keras hingga orang-orang menatap ke arah Kimberly begitu juga dengan Keith yang tersenyum kecil mendengar tingkah Kimberly.
"Astaga kim, ku kira kamu fokus melihat tuan Keith. Ternyata kamu melamun." yang membuat orang-orang kembali ke posisinya masing-masing dan para wanita yang ada di tempat itu juga menghela nafas lega karena tidak mungkin bagi mereka untuk bersaing dengan seorang Kimberly Daisy.
"Maafkan aku Viona, aku sedang menunggu kabar kapan mamiku akan kembali hingga tidak fokus." jawab Kimberly dengan santainya.
Orang-orang yang mendengar itu mulai menebak-nebak benarkah desainer terkenal papan atas akan kembali ke tanah air , jika benar itu akan menjadi berita besar untuk mereka cerita kan.
"Kim? kapan ibumu akan kembali, aku akan menunggu nya di bandar udara untuk meminta tanda tangannya." ucap salah seorang mahasiswa di sana.
"Maaf aku sendiri tidak tahu, karena mami belum memberikan jadwal pastinya."
.
.
.
.
.
.