I'm Not A Celebrity.

I'm Not A Celebrity.
Masakan Ibu.



Grace kini telah sampai di rumah mereka, rumah besar dan megah yang telah dia milki puluhan tahun lalu, tempat dimana Kimberly tumbuh besar. tidak ada yang bisa di pungkiri jika dia lelah namun dalam hati nya dia ingin memberikan masakan sepesial untuk putrinya, Kini dia sudah selesai membasuh tubuhnya wanita itu beranjak untuk pergi ke dapur dengan senyuman yang dia paksakan di wajahnya.


"Sayang apakah para wartawan itu sudah kamu urus?" tanya Grace saat dia melihat Daisy hendak naik ke atas.


"Sudah beres semuanya."


"Baiklah aku akan pergi kedapur untuk memasak bubur buat Kimberly setelah itu kita akan kembali ke rumah sakit untuk menemaninya."


Grace beranjak pergi meninggalkan Daisy yang menyorot langkah kakinya dengan mata telanjang, setelah itu dia menghela nafas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini Louis bersaudara telah dengan setelan kemejanya , dua orang itu tengah menuruni tangga mansion keluarga Louis.


"Dengar-dengar ada yang hendak keluar dari rumah ini, jika keluar pastikan tidak membawa sepeserpun uang keluarga Louis dan aset apapun."


Nenek Louis mengatakan itu dengan keras seakan-akan benar-benar ditujukan kepada kedua cucunya itu, benar-benar orang tua yang tidak tahu di untung, sudah berapa banyak perjuangan Louis bersaudara untuk keluarga itu namun tidak ada yang terlihat di mata nya.


"Nenek jika kamu menginginkan perusahaan Louis silahkan ambil kembali, namun jika kembali jatuj jangan memohon kepadaku. Jika aku ingin keluar dan tidak membawa sepeserpun aset itu juga sangat wajar karena aku bukan keturunan Louis."


Keith mengatakan itu lalu bergegas pergi, bergitu juga Kevin dia mengikuti kakaknya kemanapun Keith pergi dia juga akan ikut pergi.


"Apa tidak apa-apa mengucapkan kalimat seperti itu kepada nenek tua itu? Jika dia benar-benar mendepak kita bagaimana kehidupan kita selanjutnya."


Kevin mengatakan itu kepada kakaknya, anak laki-laki itu benar-benar mengkhawatirkan kehidupannya selanjutnya.


"Jika aku masih makan nasi, kamu juga sama. Jadi tidak usah khawatir nenek tua itu tidak akan segegabah itu untuk mengusir kita dari perusahan."


Kevin kembali mengemudikan mobilnya pergi dari mansion besar itu, kini dia tidak tahu arah tujuan karena kakaknya tidak memberitahu mereka hendak kemana.


"Apa kita perlu pergi ke perusahaan?" tanya Kevin sambil memusatkan kemudinya.


"Tidak perlu, biar kita lihat bagaimana cara nenek tua itu memimpin." jawab Keith dengan dingin.


Bagaikan batu Es di sekujur tubuh rasanya, tubuh Kevin seakan-akan beku mendengar kata-kata dari Keith tersebut bagaimana bisa mereka menyerahkan sebuah kepemimpinan perusahaan kepada seorang nenek-nenek yang dulu hanya fokus dengan urusan rumah tangga dan sama sekali tidak fokus dengan karir.


Kevin terus mengemudikan mobilnya, mungkin saja di mobil itu sudah ada alat pelacak namun mereka tidak peduli dengan alat-alat itu.


"Mari kita pergi ke bar , bantu nenek tua itu menghabiskan uang."


"Selain mobil yang di kontrol, apa lagi yang bisa kita nikmati. Setelah tiba saatnya kita akan berdiri sendiri kemudian meninggalkan marga Louis."


Kehidupan orang kaya memang sangat sulit untuk di tebak, dikit-dikit perselisihan keluarga. dikit-dikit ambisi yang tidak ada habis-habisnya. Sementara itu dalam perusahaan Louis semua departemen mulai kocar kacir hal itu karena nenek Louis tidak bisa mengendalikan arus perusahaan dan semuanya mengandalkan asisten dan orang-orang dalam perusahaan bahkan nenek tua itu tidak tahu bagaimana caranya mengecek benar atau salah nya sebuah proposal perusahaan.


"Nyonya, sebaiknya kita serahkan urusan perusahaan kepada kedua tuan muda. Jika seperti ini aku khawatir perusahaan akan kembali anjlok." ucap asisten pribadi nenek Louis.


"Apa kamu bilang? kamu ingin aku menyerahkan perusahaan kepada dua orang tidak berguna itu? bahkan mereka sudah berani untuk melawanku? apa kamu yakin?" nenek Louis berbicara dengan keras dan kasar sama sekali tidak mencerminkan jika dia adalah nyonya dari keluarga ternama.


"Apa aku termasuk dalam orang yang tidak memenuhi standar kualitas?" tanya nenek Louis sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Nyonya dalam sebuah kemajuan perusahaan diperlukan pemimpin yang cakap. Sekarang bahkan nyonya tidak mampu untuk mengecak sebuah proposal, nyonya harus memikirkan sebab akibat." asistennya kembali berkata untuk membuka jalan pikiran nenek Louis namun bukan kritik sarannya di terima dia malah di caci dan dibentak.


"Kau sudah bosan kerja denganku? kamu justru membela cucu tidak berguna itu. Bahkan untuk membawa bibinya kembali mereka tidak mampu. Apa yang perlu mereka banggakan? Hah. Kalau kamu suka menjilat mereka pergi sana cari mereka."


Nenek louis juga menghujat dan mencaci makinya dengan kata-kata kasar dan kotor yang saya sensor alias tidak saya tulis.


Mendengar kata-kata itu asisten itu tidak lagi bersuara dia mundur kebelakang kemudian menghela nafas panjang.


"Nyonya sebenarnya kontrak ku di keluarga Louis hanya berlaku untuk tuan besar dan keturunannya, tidak berlaku untuk nyonya. Jadi jika aku ingin lanjut kerja di kelurga Louis aku harus bekerja kepada tuan Keith. Tapi aku sudah tidak ingin bekerja di keluarga Louis. Saya permisi nyonya, segera aku akan menyerahkan surat pengunduran diri."


Laki-laki itu bergegas keluar, tidak lagi memperdulikan teriakan nyonya Louis yang menyuruh nya kembali. Sebenarnya tidak ada cacian dan makian yang masuk ke hatinya namun dia sengaja menggunakan kesempatan itu untuk meninggalkan keluarga Louis.


"Jika tuan dari atas sana melihat, betapa sedihnya beliau melihat keluarga Louis yang berantakan seperti saat ini."


Laki-laki itu pergi meninggalkan gedung Louis Group dengan menggunakan taxi dia tidak lagi mengendarai mobil yang di siapkan oleh nyonya nya karena dia tahu jika barang-barang yang diberikan oleh nyonya adalah barang-barang yang memudahkan orang-orang untuk menemukan dirinya.


Dia juga memasukkan ponselnya ke tong sampah, benda dari keluarga Louis tidak ingin dia sisa kan sedikitpun. Taxi yang dia naiki melaju dengan pesat meninggalkan gedung besar tersebut serta amarah wanita tua di dalamnya.


Sementara itu Keith dan Kevin Louis sedang berada di bar siang bolong, ponselnya terus berdering namun tidak lagi dia hiraukan dia tidak minum hanya duduk di sana saja.


"Kak untuk apa kita ke bar jika kita tidak minum sama sekali? buang-buang uang untuk memesan semua ini." ucap Keith sambil melihat berbotol-botol minuman di atas meja.


"Untuk apa? untuk melihat apa yang bisa nenek tua itu lakukan kepada kita. Kevin, aku sudah lelah hidup dalam penjara yang dibuat oleh orang tua itu." Keith berkata seperti itu sambil menatap wajah polos Kevin yang berada di dekatnya. Sekarang keluarganya hanya tinggal Kevin seorang tidak ada yang ingin dia lindungi selain adiknya itu. Ya setidaknya untuk sekarang tidak ada yang ingin dia lindungi selain adiknya karena pesan ayah dan ibunya adalah agar merka saling menjaga dan melindungi satu sama lain seumur hidup mereka, ayah dan ibunya juga pernah berpesan agar mereka tidak berbut harta seperti yang dilakukan orang-orang keluarga Louis karena itu sangat menjijikkan sekali.


.


.


.


.


Jangan Lupa untuk tinggalkan jejak dengan memberikan Like, Komen dan Favoritkan.


Jangan lupa kunjungi media sosial saya


Instagram @dewiseptianareal_


Facebook : Septiana


Terima kasih, selamat membaca ❤️