I Love You To The Moon And Back

I Love You To The Moon And Back
BAB 9 - KEMBALI



Bintang terlihat terang


Saat dirimu datang


Cinta yang dulu hilang


Kini kembali pulang~


Lihatlah, dia mulai bernyanyi


Coba merangkai mimpi


Cinta yang dulu pergi kini datang kembali~


“Hmmm, hemm, nanaanana.” Angkasa sedang bersenandung sembari memetik gitarnya dengan lembut. Suaranya menyihir seisi studio latihan.


Tapp tapp tap


Suara ketukan high heel Tara yang terdengar dari sudut ruangan. Wanita itu menghampiri Angkasa yang masih tenggelam dalam nyanyiannya.


“Ase, Pak Panji ingin berbicara denganmu.” Ucap Tara memanggil Angkasa dengan sebutan Ase. Ase adalah panggilan sayang untuk Angkasa yang diberikan para fansnya. Luvise.


Angkasa menghentikan petikan gitarnya sekaligus berhenti bernyanyi. Dia menatap Tara dengan senyuman charmingnya.


“Aku akan kesana dalam lima menit.” Jawabnya.


...****************...


“Kau gila menciptakan skandal yang menggemparkan seperti itu ditambah ini jelang perilisan lagu terbarumu, Ase!”


Panji Arkana, CEO Sinc Entertainment sedang mengeluarkan kekesalannya pada Angkasa. Dan Angkasa hanya berdiri diam sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Lelaki itu seakan tak perduli dengan ucapan bosnya.


“Kau mendengarku, Ase? Kau adalah aset terbesar di perusahaan ini. sedkit kau melakukan kesalahan maka itu akan berakibat fatal pada karirmu juga. Ditambah ini jelang perilisan lagu terbarumu. Dan jangan lupa, kau juga akan terjun ke dunia akting. Tolong jangan nodai reputasimu dengan berita kencan semacam ini.” lanjut Panji.


Lagi, Angkasa hanya diam. Dia benar-benar nampak acuh tak acuh.


“Angkasa Nalucas!” seru Panji frustasi melihat artis sekaligus adik kelasnya ini dengan gemas.


“Aku mendengar itu, Panji. Jangan berlebihan. Cukup akui kalau Caithlyn itu adalah kekasihku beres.” Jawab Angkasa enteng.


Panji dan Tara seketika tercengang mendengar jawaban Angkasa yang diluar dugaan itu. Mereka saling berpandangan sesaat sebelum kembali menjatuhkan tatapan tak percaya pada Angkasa.


“Apa kau bilang? Kau mengakui kalau Caithlyn pacarmu?” tanya Panji.


“Itu menguntungkan bukan? Saat ini lagu terbaruku tentang seorang lelaki yang sedang jatuh cinta pertama kalinya pada gadis yang baru dia temui sekali. Ada semacam perasaan penasaran sekaligus tertarik ingin mengenal lebih jauh si gadis itu. Dan itu cocok dengan konsep hubungan kami. Aku dan Caithlyn baru pertama bertemu di acara gala dinner itu dan karena terbawa suasana, kami mabuk dan melakukan hal tersebut. “ jawab Angkasa.


Tara menutup mukanya frustasi. Dia tak sanggup menatap bosnya akibat jawaban Angkasa yang di luar ekspetasinya tersebut.


“Kalau boleh kutanya, melakukan seperti apa yang kau maksudkan itu?” tanya Panji berusaha bersabar.


“Kuharap bukan seperti yang kufikirkan.” Timpal Tara cemas.


Angkasa menoleh pada Tara, “Sayangnya itu benar.” Tandasnya.


“Jadi kau, kau—“ Panji berkata dengan terbata-bata saking syoknya. “Kau melakukan—kegiatan bercinta dengannya?” tanyanya.


Angkasa mengerutkan keningnya, “Tentu saja tidak. Itukah yang kalian fikirkan? Wah, aku tak menyangka sama sekali!” decak Angkasa.


“Lalu apa yang kau maksudkan itu, Bodoh?!” seru Panji kesal.


“Aku mengantarnya pulang ke apartementnya karena dia mabuk bersama asistennya.” Jelas Angkasa.


Tara dan Panji membuka mulutnya terkejut.


“Aku tahu aku bajingan tapi aku tidak sebrengsek itu untuk melakukannya sebelum menikah!” lanjut Angkasa.


Tara hampir jatuh lunglai kebawah dan Panji juga sudah sangat gemas pada Angkasa.


“Hanya itu saja, kan? Tidak ada yang lain?” tanya Panji memastikan. Angkasa mengangguk.


“Konfirmasi pada tim Humas dan minta mereka segera berikan klarifikasi pada media.” Titah Panji pada Tara.


“Baik, pak.” Jawab Tara. Dia langsung mengambil ponselnya dan mulai menelfon.


“Kau boleh pulang, Ase. Jangan tinggal di perusahaan hingga larut. Kau harus menjaga staminamu dengan baik. Comebackmu segera datang.” Ucap Panji menepuk bahu Angkasa.


Angkasa mengangguk, dia pun berlalu keluar dari ruangan Panji bersama Tara.


...****************...


“Kau hampir membuatku jantungan, Ase.” Ucap Tara ketika mereka sedang berjalan di lorong perusahaan menuju lobi.


“Tapi benar juga sih, mana mungkin kau bisa terlibat hubungan asmara seperti itu. kau bilang kau tak ingin memiliki pasangan sesama artis. Dan lagipula kalau seandainya benar kau harus berpacaran dengan sesama artis, jangan pilih artis yang baru saja debut atau terlalu muda darimu. Itu akan memengaruhi citramu juga. Tapi yang lebih kuharapkan lagi, tolong jangan buat masalah dulu sebelum comebackmu selesai. Kau tidak ingin penantian fansmu selama ini berubah sia-sia hanya karena idolanya tersandung skandal pacaran.” Lanjut Tara.


“Aku tidak bisa melihat wajah mereka. Jadi aku tidak terlalu peduli pada masalah percintaan selama itu.” timpal Angkasa santai.


Tara menghembuskan nafasnya, dia memilih tak melanjutkan topik itu karena Angkasa sudah membawa-bawa soal penyakitnya lagi. Dia takut akan melukai perasaan Angkasa lagi.


“Omong-omong, pemotretan besokmu diantar Boby saja ya. Aku tidak bisa menemanimu. Aku harus menjemput seseorang di bandara.”


“Siapa” tanya Angkasa.


“Kenapa kau penasaran, Tuan Ase?” tanya Tara jahil.


“Karena kalau itu simpananmu, aku yakin Panji akan mencak-mencak karena kau menggunakan transportasi perusahaan untuk kepentingan pribadi.” Jawab Angkasa.


Tara memukul bahu Angkasa kesal, “Aku memakai mobil dan uang bensinku sendiri tahu! Lagipula aku masih jomblo, simpanan darimana? Kalau simpanan uang tabungan, aku sih masih mau.”


“Jadi siapakah temanmu itu?” tanya Angkasa lagi.


Tara mendengus, “Yang jelas, aku tidak akan memberi tahumu. Bye.” Tara pun langsung berjalan pergi meninggalkan Angkasa sendirian menunggu balasan dari Angkasa.


Angkasa menggelengkan kepalanya.