
Seorang gadis cantik berambut coklat sepinggang berjalan masuk ke dalam arena gelanggang es. Ia adalah Rachel Ann, seorang atlet seluncur indah kebanggaan Universitas Pelita. Dari awal ia masuk, ia sudah menarik perhatian banyak orang yang menonton laju pertandingan. Banyak wanita yang berbisik-bisik membicarakannya. Tentu saja, siapa yang tak kenal Rachel? Gadis angkuh yang mendapat predikat Ratu Seluncur Indah. Namanya sudah terkenal karena ia beberapa kali memenangkan medali baik untuk Pelita maupun untuk Indonesia.
Rachel Ann tidak terpengaruh sama sekali. Dengan raut datar ia duduk di salah satu kursi penonton. Banyak yang menatapnya aneh, tentu saja, siapa yang akan menonton pertandingan olahraga dengan dress putih selutut dan tanpa lengan pula? Tapi Anna tak peduli. Masa bodo dengan komentar orang lain. Ia tak akan mengurusinya.
Matanya menari di sekitar gelanggang es. Mencari seseorang berseragam hoki Luye. Lalu di bagian sudut, terlihat postur seseorang yang dicarinya tengah berdiskusi dengan pelatih Andra. Matanya terus memerhatikan sosok menawan itu. Rachel sudah lama mengagumi Junas. Semuanya bermula dari ujian penerimaan masuk klub Luye untuk tim hoki es.
Saat itu, setahun yang lalu. Rachel hendak menonton ujian masuk tim hoki sebagai perwakilan dari Rasti Ann, manajer klub Luye sekaligus bibinya. Ia sebenarnya malas namun ia terpaksa melakukannya agar sang bibi tidak membekukan kartu kreditnya yang ia pinta diam-diam tanpa sepengetahuan ibunya.
Ketika di arena gelanggang, ia melihat Junas. Dengan tubuh tegap berbalut seragam hoki, Junas nampak menawan. Ia memegang erat stik hoki dan bermain dengan luar biasa. Ia tidak mengalihkan tatapannya pada Junas. Rachel terus memerhatikan Junas, bibirnya perlahan membentuk senyuman tipis. Lalu satu waktu, Junas menengok ke arahnya membuat Rachel mematung. Rachel membeku melihat senyum indah Junas terukir sambil menatapnya. Seolah waktu berhenti berputar, selama itulah jantungnya terus berdetak cepat. Senyuman Junas mampu memunculkan suatu perasaan aneh pada dirinya. Dadanya berdesir. Betapa ia yakin bahwa ia telah jatuh hati pada Junas.
Sejak saat itulah, ia selalu melihat Junas dari kejauhan dan mengagumi dalam diam. Dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Jadi yang bisa ia lakukan hanyalah menjadi pengagum rahasia Junas.
Dan setelah sepekan ia tidak melihat Junas karena ada pekerjaan yang mengharuskannya ke luar Pelita, hari ini ia bisa bertemu dengan pemilik punggung menawan itu. Ia sungguh merindukan sosok kapten hoki es Luye itu.
Dilihatnya Junas sudah melenggang masuk ke gelanggang es. Rachel menatap Junas lamat-lamat. Meski wajahnya datar, namun dihatinya ada perasaan membuncah ketika rindunya terobati.
***
Viona kembali bekerja keesokan harinya. Dia hanya duduk diam di ruangan Alya. Perempuan itu sudah sangat bosan karena sedari tadi tidak melakukan apapun. Tara juga tidak memberinya pekerjaan apapun. Katanya, pekerjaannya adalah menyangkut Angkasa namun sampai sekarang lelaki itu belum pulang dari jadwalnya di luar kota.
Kalau difikir-fikir mengenai Angkasa, Viona sudah lama tak melihatnya. Pertemuan mereka hanya dua kali dan itu semua hanya berlalu sekejap saja. Yang paling dia ingat dari Angkasa tentu saja sifat eksentriknya. Bocah yang masih SMP itu mengajaknya pada pertemuan pertama ke gedung terbengkalai. Cowok itu juga yang mencuri ciuman pertamanya!
Viona menggeleng-gelengkan kepalanya, "Astaga, Vi. Lupakan soal masa lalu." rutuknya pada diri sendiri.
Ceklek
Viona menegap ketika mendengar suara puntu terbuka. Dia langsung berdiri begitu melihat dua orang cowok masuk ke ruangannya. Satu cowok berpenampilan ala anak band dengan headband putih melingkar di rambut coklatnya. Rambutnya juga gondrong. Pakaiannya kaus oblong dengan jaket adidas yang Viona taksir harganya pasti mahal dan celana ripped jeans. Dan cowok satunya berpenampilan biasa dengan kemeja bunga-bunga dan celana pendek yang kontras dengan kulit coklatnya. Kacamata bulat besar bertengger di wajahnya yang tembam,
"Saya Angkasa." ucap cowok headband itu tanpa basa-basi. Dia langsung duduk bersilang kaki di sofa.
Viona mematung, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya akan kedatangan Angkasa. Lelaki itu benar-benar berbeda dengan Angkasa yang dia temui beberapa tahun silam. Namun sifat nyentriknya masih ada seperti dulu.
"Saya Boby." ujar cowok berkacamata itu sambil menyengir. Dia mengulurkan tangannya yang gemuk untuk bersalaman dengan Viona.
"Saya Viona Felysia, manajer baru." balas Viona memperkenalkan diri. Tersenyum semanis mungkin.
"Cih, topeng." decih Angkasa.
Boby dan Viona langsung menatap Angkasa yang bergumam cukup keras tersebut. Merasa ditatap, Angkasa balas menyolot, "Apa?"
Viona menghembuskan nafas kasar. Sepertinya cowok itu kini berubah menjadi galak.
"Meski kau adalah temennya Tara tapi saya belum akuin kamu sebagai manajer gue. Saya perlu lliat kompetensimu dulu apakah layak atau enggak, mengerti?"
Viona mengangguk.
"Tugas pertama, apa yang kamu ketahui soal saya?" tanya Angkasa.
Viona langsung menjawab, "Angkasa Nalucas, atau biasa dipanggil dengan nama panggung Ase adalah penyanyi pop asal Indonesia yang populer dengan beberapa karya yang masuk dalam jajaran top hits di tangga musik. Penyanyi yang debut pada 2020 ini memiliki sejumlah prestasi yang membanggakan seperti lagu-lagunya yang langsung hits dan menjadi populer di kalangan masyarakat, contohnya lagu Menyesal yang diluncurkan pada Agustus 2021 menjadi salah satu lagu galau yang menempati nomor satu dalam tangga musik LEMON kemudian Mengapa Rasa ini Ada? menjadi top 1 selama tiga belas minggu berturut-turut. Dan baru-baru ini masuk ke dalam jajaran top orang berpengaruh di Indonesia under 30!" papar Viona bertepuk tangan diikuti Boby.
Bagaimana Viona bisa mengetahui ini semua ? Jangan harap dia tahu mengenai itu semua sendiri, tentu saja dia mencari di google.
"Oke, saya anggap kamu lulus tugas ini." ucap Angkasa. "Tapi ada satu tugas lagi, dan kalau kau berhasil maka saya anggap kamu lulus seleksi jadi manajer saya."
Viona jadi harap-harap cemas menanti tugas keduanya. Ditambah dengan senyuman misterius Angkasa.
"Kau tau Fuadi Sastrawirawan?" tanya Angkasa. Viona sontak menggeleng.
"Ah iya, kamu orang baru disini.' Angkasa seolah menyadarinya. "Dia sutradara dan dia lagi ada project Hate or Love."
"Jadi?" tanya Viona. Firasatnya sudah tidak enak.
Angkasa tersenyum smirk, "Dapetin peran utamanya buat saya!"
***
Viona tertunduk lesu. Nyawanya seolah menghilang usai Angkasa membebaninya tugas yang berat. Atsga, ayolah, dia orang baru di industri ini. Dan bagaimana dia bisa menemui orang bernama Fuadi itu?
Brak
Tiba-tiba ada yang menggebrak meja kafenya dengan keras. Viona berjengit kaget. Rachel berdiri menatapnya dengan wajah tak berdosa.
"Rachel?" seru Viona tak percaya. Bagaimana bisa sepupu Panji itu ada disini menemuinya?
"Kenapa sama mukamu? Dicampakkin Panji ya?" tanyanya dengan angkuh.
"Kamu sepertinya memang mendoakan hubunganku dengan Kak Panji berakhir ya." balas Viona.
Rachel mengangguk. "Aku benci kamu rebut pacar kakakmu sendiri." akunya terang-terangan.
Viona sontak menatap Rachel. "Turunkan pandanganmu. Membuat sakit mata." ucap Rachel tajam.
Viona mendesah kasar, "Terserahlah. Aku lagi mumet. Terserah apa katamu saja." ucapnya lalu.
Kini tatapan Rachel berubah menjadi tertarik. Perempuan berponi menutupi dahi itu duduk di depan Viona.
"Kamu kayaknya ada masalah ya?" tanyanya.
"Sejak kapan kamu tertarik mengurusi hidup orang lain?" tanya Viona balik.
Rachel hanya mengendikkan bahunya acuh, "Sejak kenal Junas, aku mau tidak mau jadi cewek kurang kerjaan yang nungguin gosip terbaru soal dia."
Viona menahan tawa. Perempuan kasar dan dingin ini ternyata sudah berubah jadi budak cinta.
"Jangan ketawa! Aku jahit mulutmu ya!" ancam Rachel tidak suka ada yang menertawakan dirinya.
Viona langsung menormalkan ekpresinya. Dia jadi takut dengan ancaman Rachel.
"Aku cuma lagi pusing gimana bisa ketemu sama Pak Fuadi Sastrawirawan." ungkap Viona.
Rachel terdiam, "Fuadi?"
Viona menganggukkan kepalanya.
"Maksudmu sutradara itu?"
"Kamu tahu?" tanya Viona merasa melihat secercah harapan.
Rachel menggelengkan kepalanya.
"Kukira kamu tahu." desah Viona lesu.
"Tapi asistenku pasti tau." lanjut Rachel.
Kemudian Rachel menghubungi seseorang. Tony, asistennya.
"Kau tau Fuadi?" tanyanya pada Tony yang berada di seberang telfon.
"...."
Rachel menutup telfonnya.
"Kenapa kamu gak bilang makasih ke orang itu?" tanya Viona penasaran.
"Karena dia bawahanku." jawab Rachel singkat.
Sombong sekali, batin Viona.
"Tapi kau tau kan, aku gak bantu kamu dengan cuma-cuma. Aku ada syaratnya."
"Apa itu?"
"Kasih aku nomornya Junas baru aku kasih informasinya."
"Nomor Junas? Bukannya kamu punya ya? Kalian kan satu kampus." ucap Viona bingung. Junas Tan adalah adik sepupunya. Lelaki yang disukai oleh Rachel Ann.
"Kalau aku punya, untuk apa aku minta sama kamu? Bego kok dipelihara." balas Rachel sengit.
Viona agak tersinggung jadinya. "Yaudah, aku kasih. Tapi kamu jangan ingkar janji ya."
"Santai aja sih. Mana nomornya?"
Viona langsung mengirimkannya pada chat Rachel.
Rachel tersenyum senang. "Kamu jangan bilang ke Junas kalau aku meminta nomornya ya. Malu aku."
Viona mengangguk kembali. "Jadi gimana? Kamu bisa bantu aku soal Pak Fuadi?"
"Menurut Tony, dia sering nongkrong di Athena. Kalau kau mau ketemu dia, kau tinggal kesana aja. Gak jauh, masih di Jakarta Pusat."
"Athena? Makasih Chel. Aku gak nyangka kamu ternyata baik banget!" pekik Viona terharu.
Viona lekas pergi meninggalkan Rachel dengan senyum misteriusnya.
"Aku belum selesai ngomong. Kalau Athena adalah klub malam." lanjutnya puas.
****
Viona terdiam membeku mendapati sebuah bangunan dengan papan gemerlap bertuliskan Athena. Dia terkejut dan baru menydari seberapa bodoh dia saat ini.
"Kenapa aku gak tanya Rachel dulu, Athena itu tempat apa?" rutuknya. Dia memang langsung pergi dari kafe dan menelpon gocar untuk mengantarnya menuju Athena.
Kakinya sudah lemas seperti jeli. Ayolah, dia belum pernah datang ke tempat seperti ini. Bahkan saat di Amerika dulu, klub malam adalah tempat yang paling dia hindari. Nomor satu!
Namun tak ada jalan lain. Dia harus bisa menemui Fuadi, memintanya untuk mengcasting Angkasa demi memenuhi kriteria penilaian menjadi manajer Angkasa dan setelah itu demi memuluskan perjanjiannya dengan sang ibu agar dirinya bisa terbebas dari penjara hidup.
Saat di pintu masuk, Viona dihadang seorang security berbadan tegap.
"Tanda pengenal?" tanyanya,
Viona menyerahkan ktpnya, memverifikasi bahwa dirinya bukan anak dibawah umur.
Security itu mengallihkan pandangannya pada Viona yang memandangnya takut.
"Baru pertama kali ya?" tanyanya.
Viona mengangguk kaku.
Ktp itu diserahkan kembali pada Viona yang menerimanya dengan tangan gemetaran.
"Mau ketemu siapa?" tanya security itu lagi.
"Eh?" Viona membeo.
"Biasanya kalau orang yang pertama kali masuk itu, biasanya buat ketemu orang atau cuma coba minum-minum. Tapi mbak kayaknya gak cocok buat minum-minum, mau ketemuan ya?"
Viona sontak menganggukkan kepalanya.
"Silakan masuk." ucap lelaki itu. "Apa mau dimasukkin?" lanjutnya menggoda.
Viona menelan ludah. Dirinya buru-buru pergi meninggalkan security mesum yang sedang tertawa terpingkal-pingkal.
Sampai di dalam, ponsel Viona bergetar. Pesan Rachel masuk.
Rachel
kau didalem? cari cowok ini, dia namanya Fuadi.
Begitulah isi pesan yang dikirimkan Rachel. Viona menatap seksama foto yang dikirimkan oleh Rachel.
Kemudian netra Viona melebar ke segala penjuru, mencari sosok bernama Fuadi. Cukup lama Viona mencari karena ramainya pengunjung klub. Ditambah musik yang berdentum dengan keras serta cahaya temaram yang sedikit meredupkan gedung. Mau tak mau hingar bingar itu membuat Viona mual tiba-tiba.
Tak lama dirinya mellihat siluet sosok tak asing. Itu seperti orang yang dicarinya. Viona mendekat.
Lelaki yang dicarinya benar-benar ada di hadapannya. Hanya berjarak dua meja saja. Lelaki itu berambut hitam dengan sejumlah uban di samping kanan-kiri kepalanya. Kumisnya lebat dengan perut agak membuncit. Didepan lelaki tersebut banyak minuman beralkhol tersaji. Namun lelaki itu hanya sendirian. Matanya menatap sayu pada keramaian pengunjung yang tengah berjoget ria.
Viona mendekati Fuadi.
"Selamat malam pak." sapa Viona canggung.
Fuadi menatap Viona dengan seksama, "Maaf saya lagi gak mau ngamar." tolaknya mengira Viona adalah perempuan ******.
Viona sontak menggeleng keras, "Bukan pak. Saya perempuan terhormat. Saya kesini bukan untuk menawarkan diri saya." tukas Rachel setengah kesal.
"Jadi kalau bukan itu untuk apa wanita terhormat ini menghampiri saya? Kamu tahu wanita terhormat tidak akan datang ke klub malam, surganya alkohol dan lelaki hidung belang."
Viona mendesah pelan. "Saya tahu. Tapi saya terpaksa." gumamnya.
"Apa bapak ada waktu beberapa menit? Saya ingin membicarakan sesuatu." pinta Viona sopan.
Namun Fuadi nampak tidak bisa diajak bicara. Netra lelaki itu sayu dan rambutnya sudah kusut acak-acakan. Dia mabuk.
"Duduklah." Namun tanpa disangka, lelaki itu mengiyakan permintaan Viona.
Viona lekas duduk. Agak berjauhan jaraknya.
"Saya mendengar bapak sedang menggarap film berjudul Hate or Love. Kebetulan saya memiki artis yang sangat berbakat untuk menjadi aktor. K Dia sangat tampan, tinggi, berkarisma, dan menarik!" ujar Viona berapi-api."Kalau bapak berkenan, bisakah bapak mengizinkan artis saya untuk ikut casting?" tanya Viona berharap.
"Siapa artis tersebut?" tanya Fuadi,
"Namanya Ang---"
"Selamat malam, Pak Fuadi,"
Fuadi dan Viona menoleh. Dan mata Viona hampir meloncat keluar ketika mendapati kedatangan Angkasa.
Sedang apa cowok itu disini?