
Viona berdiri disamping Boby menyaksikan Angkasa berakting adegannya. Lelaki itu nampak tak terpengaruh dengan cuaca panas yang menyengat kulitnya, berbeda dengan Viona. Kulit putihnya sudah kemerahan bak kepiting rebus.
"Aduh, Bob, ke tenda dulu ya. Panas." keluhnya.
"Mbak pake sunscreen gak?" tanya Boby.
"Pakai tapi panas banget. Aku tunggu di dalam ya." ucap Viona.
"Iya, mbak."
Viona berjalan menuju tenda milik Angkasa. Mereka memang sedang syuting di luar ruangan jadi masing-masing pemain diberi tenda terpal yang teduh untuk beristirahat.
Perempuan itu mengipas-ngipaskan wajahnya menggunakan tangan, mengusir panas yang masih mengendap di wajahnya. Namun dia masih kepanasan.
"Pakai kipas saja." putus Viona.
Viona mencarinya di dalam tas keperluan Angkasa yang biasa disiapkan Boby namun saat mengaduk-aduk tas hitam tersebut, Viona malah menemukan sesuatu yang lain. Sebuah foto usang.
Foto itu adalah foto dirinya bersama Angkasa di atas gedung tua beberapa tahun silam. Pertemuan pertama mereka. Dan tersimpan rapi di sebuah dompet hitam yang sama usangnya.
Ingatan Viona jadi terlempar pada kejadian di hari itu
FLASHBACK ON
"Apa namamu angkasa karena orang tuamu menyukai benda langit?" tanya Viona.
Angkasa Nalucas mengendikkan bahunya acuh, "Saya tidak ingat apa yang mereka sukai tapi yang pallng saya ingat mereka membenci saya."
Viona terkejut, "Membenci kamu? Kok bisa?"
Angkasa tersenyum pahit, "Mama saya hamil di luar nikah. Saya anak yang tidak diinginkan."
Viona menahan nafasnya, terlalu syok dengan pernyataan lelaki disampingnya.
"Kamu tahu darimana semua itu?" tanya Viona.
"Setiap mereka memukul saya, mereka juga mencaci maki saya. Dan cacian mereka ya soal kehadiran saya di dunia ini. Mereka menyalahkan saya karena gara-gara kelahiran saya di dunia ini, mereka hidup susah."
Viona menarik nafasnya berat, tiba-tiba dadanya serasa terhimpit sesuatu.
"Aku---turut bersimpati, Angkasa."
Angkasa menganggukan kepalanya sembari tersenyum, "Saya belum pernah mengatakan ini pada siapapun termasuk Tara, kamu orang pertama."
"Kenapa?"
"Mungkin karena kamu spesial." tandas Angkasa mengendikkan bahunya acuh. "Ayo foto bersama." ajaknya lantas tiba-tiba.
Viona menaikkan sebelah alisnya, merasa aneh atas ajakan yang tiba-tiba.
"Ayo." Angkasa menarik bahu Viona mendekat.
"Senyum, Vi." ucap Angkasa memamerkan senyumnya.
Viona ikut tersenyum, mereka saling menatap kamera dan terciptalah sebuah foto legendaris pertemuan pertama mereka.
"Saya jadikan ini sebagai kenang-kenangan, bolehkan?" pinta Angkasa.
"Boleh, Ase." jawab Viona tersenyum.
"Kenapa tiba-tiba kamu memanggil saya Ase?" tanya Angkasa.
Viona terdiam beberapa saat kemudian sudut bibirnya makin terangkat naik, "Panggilan spesial."
FLASH BACK OFF
Viona menjatuhkan foto itu ke lantai. Merasa terkejut dengan kilasan kejadian di waktu itu. Perempuan itu baru menyadari bahwa nama panggung Angkasa sama dengan panggilannya pada Angkasa waktu itu.
Lantas, apakah Angkasa sengaja menggunakan nama panggung Ase karena pertemuan mereka?
"Vi, ayo, kita mesti ke pulau." tiba-tiba suara Angkasa membuyarkan lamunan Viona. Perempuan itu menoleh dengan raut penuh keterkejutan.
"Ada apa?" tanya Angkasa bingung. Lelaki itu menghampiri Viona.
"Ini--" Angkasa terdiam ketika Viona mengulurkan foto mereka. "Darimana kamu nemuin ini?" tanyanya.
"Di tas keperluan kamu biasa. Aku baru ingat kalau kita pernah berfoto bersama waktu itu. Dan aku yang memanggilmu dengan nama Ase pertama kalinya."
Angkasa menganggukan kepalanya, "Jujur saja, saya terkesan dengan pertemuan pertama kita." aku lelaki itu.
"Kupikir kamu sudah lupa. Karena kamu tidak pernah membahas hal ini." ucap Viona.
"Vi, bukan berarti tidak membahas, saya sudah lupa."
"Benar juga,"
"Ayo, sudah waktunya berangkat. Tas itu saya bawa aja." Angkasa menyampirkan tasnya ke pundak. Mereka berjalan beriringan.
***
Adegan Angkasa selanjutnya diadakan di sebuah pulau di tengah laut karena itulah rombongan tim bergerak ke lokasi syuting dengan naik kapal. Viona tidak biasa jadi dia sudah mengalami mabuk laut lima belas menit kemudian.
Perempuan itu duduk di atas haluan, menikmati semilir angin sore sembari menenangkan perutnya yang bergejolak. Ketika asik menutup matanya, tiba-tiba Angkasa datang menghampirinya.
"Boby bilang kamu mabuk laut." ucap lelaki itu.
Viona mengangguk lemah. "Aku tidak terbiasa naik kapal laut." akunya.
"Putar badanmu." titah Angkasa.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Viona curiga.
"Membantumu mengatasi mabuk laut." jawab Angkasa.
Lelaki itu menyila rambut Viona menjadi ke samping, kemudian menempelkan sepotong kecil plester di belakang telinga.
"Apa ini?" tanya Viona menyentuh plester di belakang telinganya tersebut.
"Katanya mampu mengurangi tekanan mabuk laut."
"Serius?" tanya Viona tertawa.
"Terima kasih." ujar Viona tersenyum.
***
Tara masuk ke sebuah coffe shop langganannya di depan kantor.
"Latte satu." ucap Tara pada barista di depannya. Perempuan itu asik memainkan ponselnya sembari menunggu pesanannya.
"Ini." ucap barista menyerahkan pesanannya setelah beberapa saat.
"Makasih." ucap Tara.
Perempuan itu hendak berbalik namun tiba-tiba tangannya terbentur seseorang. Tara berseru mengkhawatirkan kopinya jatuh namun tangan seseorang menahan kopinya yang hampir tergelincir ke bawah.
"Fiuh, untung bukan adegan drama-drama picisan."ucap Tara lega.
"Maaf ya, hampir saja. Aaaa!" Saat menatap siapa penolongnya, Tara lantas berteriak.
"Kamu? Kita pernah ketemu kan?" tanya Tara antusias. Iya, lelaki yang pernah membantunya saat di bandara kini bertemu lagi.
"Benarkah? Saya tidak ingat." ucap lelaki itu terkesan acuh.
Tara termangu, bukan sifat ini yang dibayangkannya. Waktu itu lelaki itu bersikap hangat padanya.
"Saya waktu itu tidak sengaja menabrak kamu di bandara, ingat?" tanya Tara berusaha mengingatkan pertemuan mereka.
Lelaki itu seperti teringat sesuatu, "Ah, iya kamu yang menabrak saya karena main ponsel kan? Akhirnya kita ketemu juga, gara-gara itu setelahnya saya gagal terbang mengakibatkan meeting kerja sama saya dengan klien batal!" seru lelaki itu kesal. Aura permusuhan seketika menguar dari tubuh lelaki tersebut.
"Hah? Kok bisa?" tanya Tara terkejut.
"Tentu saja bisa. Nona, apakah main ponsel di jalan merupakan kebiasaanmu? Saya lihat kamu juga bermain ponsel saat mengantri tadi."
"Itu---" Tara kehabisan kata-kata.
"Saya harap saya tidak bertemu dengan kamu lagi." tandas lelaki itu.
"Eh tunggu!" seru Tara. Lelaki itu berjalan keluar kafe tanpa menoleh sedikit pun.
"Dia kenapa sih? Kenapa sifatnya berbeda seratus delapan puluh derajat?!" gerutu Tara.
Tara akhirnya mengejarnya.
"Hei, tunggu. Aku bisa jelaskan. Kenapa kamu tiba-tiba pergi sih?" seru Tara pada pria di depannya yang berjalan cepat.
"Hei!" panggil Tara. Namun lelaki itu tak menoleh sama sekali.
"Jangan ikutin saya!" seru lelaki itu kesal.
"Ya tunggu dulu, saya mau jelasin!"
"Tidak mau!" tolak lelaki tersebut.
Lelaki itu tiba-tiba berlari, Tara terkejut, tara pun mulai berlari. Mereka saling mengejar.
Tak berapa lama, Tara berhasil mengejarnya.
Tara menyentuh bahu lelaki itu, "Mau lari berapa lama lagi, hah? Saya mau jelasin." ucap Tara terengah-engah.
"Pak Wisnu, Tara?" panggil seseorang dari arah belakang.
Tara dan pria yang dipannggil Wisnu itu menoleh, terlihat Panji dan asistennya menuju ke arah mereka.
"Kalian saling mengenal?" tanya Panji bingung.
"Tidak." tegas Wisnu.
"Tunggu, kenapa kamu bisa ke kantorku?" celetuk Tara. Perempuan itu baru sadar bahwa mereka berada di lobi utama Sinc Entertainment.
"Kantormu? Bagaimana bisa ini jadi kantormu?" tanya Wisnu syok.
"Tentu saja aku bekerja disini. Atasanku Pak Panji." jawab Tara. "Lantas kamu siapa?" tanya Tara.
Panji merasakan kebingungan mereka berdua, lelaki itu mulai berbicara. "Kalau begitu saya perkenalkan kalian berdua satu sama lain karena sepertinya ada kesalahpahaman disini. Tara, ini Pak Wisnu presdir Antara Group, salah satu investor kita. Dan Pak Wisnu, ini Tara. Direktur artist."
"Apa?" seru Tara. Jadi lelaki dihadapannya ini adalah seorang CEO?
"Kenapa? Kaget ya? Lihat saya semuda ini sudah jadi CEO?"
"Tidak kaget tuh, karena yang paling buat kaget adalah kalau bapak jadi suami saya!" tandas Tara tersenyum manis.
Wisnu membeku, "Apa?"
Fiks, setelah kejadian ini, Tara bersumpah akan mengejar lelaki itu!
***
Mereka sampai di pulau setelah dua jam penuh berlayar. Sudah tak ada lagi terik matahari, kini tergantikan dengan lembayung senja. Udara menjadi lebih hangat, tidak sepanas tadi. Satu persatu turun menuju dermaga. Mereka langsung mengikuti pemandu untuk beristirahat di resor yang telah disiapkan.
Angkasa mengikuti Viona dari belakang yang tampak berjalan lunglai. Perempuan itu masih merasakan perutnya bergejolak. Dia juga tidak tahu kenapa, tapi mabuk lautnya ini buruk sekali.
Tiba-tiba Viona limbung, perempuan itu hampir jatuh kalau Angkasa tidak sigap memegang pinggangnya. Adegan itu disaksikan oleh semua orang.
"Vi, kamu tidak apa-apa?" tanya Angkasa khawatir.
Viona menganggukan kepalanya, cuma pusing dan lemes aja." jawab Viona. Perempuan itu menegakkan tubuhnya, malu karena tiba-tiba dipeluk oleh Angkasa di hadapan semua orang.
"Tidak bisa." putus Angkasa.
Lelaki itu tiba-tiba membopong Viona begitu saja menyisakan seruan keterkejutan oleh semua orang yang menyaksikannya.
"Angkasa turunkan aku!" bisik Viona panik.
"Jangan bergerak, Vi." ucap Angkasa. Matanya menatap lurus kedepan.
Lelaki itu lalu berjalan begitu saja dengan Viona yang berada di gendongannya. Merasa malu, Viona menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Angkasa.
"Kamu selalu buat saya khawatir, Viona Felysia." bisik Angkasa.