I Love You To The Moon And Back

I Love You To The Moon And Back
BAB 23. TEMAN YANG TAK MENYENANGKAN



Angkasa melirik arloji yang tersemat di pergelangan tangannya, sudah hampir satu jam Viona pergi dan belum kembali Perempuan itu tadi bilang hanya pergi ke toilet untuk membasuh muka namun mengapa selama ini?


"Boby, aku ke toilet dulu." ucap Angkasa pada Boby yang masih asik menghabiskan lobster panggang, pesanan tambahannya. Lelaki gemuk itu hanya mengangguk singkat.


Angkasa keluar ruangan dan berjalan menuju toilet. Sesampainya disana Angkasa ragu-ragu mendekati bilik toilet perempuan. Tentu saja karena dia adalah laki-laki dan tak mungkin menerobos masuk ke dalam toilet perempuan. Bisa-bisa dia digebuki karena dicap mesum.


Alhasil, Angkasa hanya bersandar pada tembok di samping toilet pria. Masih menyangka Viona masih di dalam.


Namun sudah dua menit dan Angkasa mulai kehilangan minatnya. Dia juga merasa tak nyaman karena orang- orang yang hilir mudik melewatinya menatapnya penuh kecurigaan. Apalagi saat itu dia memakai masker dan pakaian serba hitam.


Angkasa tiba-tiba menepuk dahinya. Sial, betapa bodohnya dia! Dia memiliki ponsel lantas kenapa tidak menelpon perempuan itu dan menyuruhnya keluar?


"Bego banget." makinya pada diri sendiri


Angkasa lantas mendial nomor Viona namun hanya ada nada sambung yang terdengar. Perempuan itu tak mengangkat telepon darinya. Angkasa kembali mencoba. Namun semuanya hanya menjadi panggilan keluar.


Lelaki itu diam, kebingungan dengan tingkah Viona yang aneh. Angkasa yakin bahwa Viona pasti tidak akan ada di toilet selama itu. Lantas kemana perempuan itu pergi?


****


Berkilo-kilo meter dari Angkasa, Viona duduk termenung. Pikirannya masih memikirkan mengenai Panji dan perempuan asing itu. Benarkah mereka berselingkuh? Sampai saat ini Viona masih tak memercayainya. Namun bayangan ciuman liar mereka di koridor hotel menjawab kesamaran keyakinannya. Betapa dia seharusnya yakin bahwa suaminya memang telah bermain api di belakangnya. Namun kenapa?


"Woy." seseorang mengoyang-goyangkan lengannya dengan keras. Nadanya tak santai begitupun orangnya


"Viona, kenapa terus melamun? Cepat pergi sekarang!" kini perempuan itu mengusir Vioria dengan tega.


Viona mendongak, air matanya hampir tumpah membuat dahi perempuan itu berkenyit


"Ada apa denganmu?" tanyanya


Rachel awalnya terkejut ketika pintunya diketuk dan lebih terkejut bahwa yang mengetuknya adalah Viona Felysia Tan Ini kali pertama Viona datang menemuinya sendiri tanpa paksaan. Viona meminta menumpang di kamar asmaranya sebentar dan entah bagaimana Viona bisa masuk ke asrama atlet kampus Pelita ini namun yang jelas Rachel menolak. Perempuan itu langsung menutup pintu dengan keras tepat di depan hidung Viona.


Setelah itu terdengar suara tangisan yang kencang. Rachel langsung membuka pintu dan tangisan Vlora terhenti. Melihat celah kosong yang terbuka lebar, Viona dengan kaki panjangnya langsung menyelinap masuk sehingga tak bisa membuat Rachel mengusirnya


"Vi, aku mengaku salah. Aku minta maaf." Viona buru-buru minta maaf sebelum penyihir kecil itu kembali mengeluarkan rentetan . "Izinkan aku duduk sebentar lagi. Aku perlu berpikir." pintanya


"Kau bisa duduk di rumahmu, Viona! Kenapa? Kursinya kurang empuk? Minta suamimu belikan sepuluh yang barul"


"Jangan bahas dia. " lirihnya. Dia kembali sedih.


"Kenapa lagi? Ah, jangan-jangan kau bertengkar dengan Kak Panji?" tebak Rachel.


Viona tak menjawab. Rachel anggap itu adalah iya.


"Sudah kuduga, bahwa hubunganmu dengannya tidak akan lama" ejek Rachel


"Namanya pernikahan pasti akan ada pasang surut. Bertengkar adalah hal yang wajar. Begitupun dalam pertemanan juga. Seperti itu ah benar kau pasti tidak tahu rasanya."


Rachel mengepalkan tangannya, "Apa katamu ******?" kesalnya. "Jangan berteriak padaku. Aku sedang pusing." Entah dapat keberanian darimana namun Viona yang biasanya selalu takut pada Rachel kini malah sering membantah perkataan Rachel.


"Pergi darisini selagi aku masih baik-baik Galaunya di rumahmu saja! Seru Rachel


"Kalau tak segera pergi Viona, kupastikan akan menendang bokongmu dengan sepatu skateku." ancamnya kejam.


Viona menutup kedua kupingnya mendengar teriakan Rachel yang menggelegar Perempuan itu mengalah dia mengambil tasnya dan keluar kamar tanpa sepatah kata: Rachel mondesah pelan "Dia jauh lebih sulit daripada Dee yang lupa password ponselnya sendiri rutuknya


Rachel mengurut keningnya pelan lalu berlalu ke kamar mandi.


***


Viona berjalan tak tentu arah mengelingi kampus Pelita Ini adalah kampus milik Ananta Grup, perusahaan keluarga Rachel Sepupunya Junas juga berkuliah disini. Sepupunya bergabung dalam klub hoki es Luye. Dan dia juga menjabat sebagai kapten


Bruk


"Maaf, saya tidak sengaja." perempuan itu mendongak dan matanya membola melihat siapa yang mengalami insiden dengannya. "Junas!" serunya


"Kak Vi, tidak apa. Maaf aku tidak memerhatikan jalan tadi."


Viona lekas menggeleng, "Kali ini aku yang salah. "


"Omong-omong sedang apa kakak disini?" tanya Junas bingung


"Ah menjenguk Rachel. "jawab Viona


"Menjenguk Rachel? Kok bisa? bukannya kalian tidak akur ya?" tanya Junas kebingungan.


"Karena itulah aku mencoba merayunya namun menjinakannya lebih sulit dibanding membuat harimau bisa diajak lompat tali." keluhnya.


Junas tertawa. "Kalau mau ke kandang macan seharusny kakak bawa daging candanya."


Rachel bahkan lebih galak dibanding macan Dia iblis" bisik Viona.


"Rachel bahkan lebih galak dibanding macan Dia iblis bisik Viona


Junas tertawa renyah.


"Oh ya, ingat malam ini datang ke acara makan malam celetuk Junas


"Acara makan malam?" tanya vlona bingung


"Kaka tidak tahu?" Angkasa bertanya balik


Sepertinya tante lupa memberi tahu tapi malam ini ada acara pasta di rumahku Tante Anne juga akan hadir, kaka jugaajib


"Haruskah?" grmamiona Dia tak suka datang ke acara seperti itu. Terutama pesta keluarga. Karena dia tak


memiliki keluarga


Junas mengangguk "Malam ini di rumahku Oh ya ajak Kak Panji juga Ini adalah masalah Dia sedang tak ingin berbicara pada Panji dan dirinya juga sangsi Panji akan hadir terutama


ini adalah kabar mendadak.


Malamnya Viona benar-benar datang ke pesta setelah Marianne sendiri yang menghubunginya tak lama dia bertemu Junas. Ibunya juga mengatakan hal yang sama untuk mengajak Panji namun Viona terlalu malas berbicara. Jadilah dia sendirian disini.


"Mana Panji?" tanya Marianne yang sejak tadi tak nampak bantang hidung menantunya.


"Sedang di jalan, tadi Kak Panji masih di kantor soalnya." bohong Viona tak berani menatap mata bunya yang menghujaminya dengan tajam


"Kabari suamimu suruh dia cepat datang." titah Marianne


"Bak ma."


Viona asik memakan makanannya tanpa bemiat menimbrung dengan siapapun Mereka adalah keluarganya yaitu Om Theodore, Tante Marisa, dan Junas juga sepupu sepupu dan kerabat jauh lainnya. Namun Viona enggan bersikap hangat kecuali pada Junas karena mereka yang katanya keluarga pun ikut mendorongnya pergi selepas insiden Alya.


"Maaf saya terlambat suara seseorang yang amat di kenal Viona terdengar Viona menoleh dan terkejut mendapati Panji berada di belakangnya.


"Panji lama sekali? pekerjaanmu sangat banyak?" sambut Marriane pada menantunya.


"Saya cukup sibuk ma. Maaf." ucap lelaki tersebut.


"Tidak apa-apa dudukiah ucap Anne persilakan "Viana layani suami titah sang mama


Vlona langsung mengambilkan makanan untuk Panji yang mengambil tempat duduk disampingnya meski enggan. "Terima kasih" bisik Panji.


Viona tersenyum paksa.