
Angkasa seperti biasa sedang berada di studio musiknya. Dia ditemani oleh Junas, seorang atlet hoki es Universitas Pelita sekaligus sahabatnya. Lelaki itu sedang asik bermain rubik.
“Aku dengar kau dijodohkan dengan Rachel, Jun.” Celetuk Angkasa.
Junas berhenti bermain rubik, dia menatap tajam Angkasa.
“Siapa yang ngasih tahu? Tara?” tebaknya. Angkasa mengangguk.
“Penyihir itu benar-benar ember bocor.” Kesalnya.
“Bukannya kau harusnya senang dijodohkan dengan dewi seperti Rachel? Dia adalah atlet seluncur indah terkenal, kakaknya seorang aktor populer dan ditambah dia bermarga Ann, keluarga terkaya di Indonesia.” Ucap Angkasa.
“Dewi kau bilang? Bagiku dia tak lebih dari seorang sampah yang selalu merundung para juniornya. Dia berhati dingin, asal kau tahu. Tak pernah tersenyum. Dia bermuka dua.” balas Junas benci.
“Darimana kau tahu soal itu? kalau itu tidak benar, itu bisa jadi pencemaran nama baik!” seru Angkasa.
“Akh pernah melihatnya sendiri, Ase. Dia merundung salah satu juniornya sesama atlet.”
Junas pun mulai menceritakannya pada Angkasa. Jadi saat itu dia hendak menemui Andra, pelatihnya di ruang kerjanya. Namun ketika tengah berjalan di koridor sepi, disanalah Junas melihat Rachel sedang merundung seorang gadis. Bagaimana Junas bisa tahu bahwa gadis itu sedang dibully Rachel? Karena dia melihat gadis itu tertunduk ketakutan dan Rachel yang menatap mereka dengan senyuman jahatnya.
“Dan lagipula Rachel memang sudah sangat terkenal akan sifatnya itu. Dia dingin, kejam, tak berperasaan dan sok berkuasa. Hanya karena universitas Pelita dan klub olahraga musim dingin Luye itu disponsori oleh keluarganya sendiri.” Lanjut Junas.
Angkasa berdecak, “Kau tahu, Jun? Aku sama sekali gak percaya ceritamu.” Ucapnya.
Junas terkejut, “Kenapa?”
Angkasa berdiri dan menatap Junas, “Karena semua yang kau katakan tadi hanyalah berdasarkan asumsimu saja. Kamu belum mengenal Rachel lebih jauh saja. Jadi jangan terlalu cepat mengambil keputusan, takutnya kamu sendiri yang akan menyesal nantinya.” Ujar Angkasa bijak. Setelah itu lelaki itu pergi keluar studio.
“Eh mau kemana?” teriak Junas.
“Kafetaria!” balas Angkasa berteriak juga.
***
Viona kini sedang berada di lobi Sinc Entertainment. Pagi ini dia tiba-tiba saja ditugaskan oleh Rachel untuk bekerja sementara waktu di perusahaan Panji untuk belajar mengenai perusahaan hiburan.
Jadilah dia disini, sedang menunggu Tara. Tak lama kemudian, sahabatnya muncul.
"Sudah menunggu lama, Vi? Ayo, kuantar kau menuju tempat kerja barumu." ucap Tara tersenyum.
Viona mengangguk kemudian berjalan mengikuti Tara. Mereka naik lift ke lantai dua.
Sesampainya di lantai dua, mata Viona terbelalak melihat banyaknya foto-foto besar bagai Billboard yang biasa dia lihat saat di New York dulu.
"Itu adalah foto-foto artis kami." ucap Tara menjelaskan kekaguman Viona.
Ruangan di lantai dua itu adalah lantai khusus manajemen aktor dan penyanyi. Suasananya sangat ceria karena banyak dihiasi warna-warna terang. Nampak colorfull padahal setahunya Panji lebih menyukai warna kalem.
Sembari berjalan, Tara mulai menjelaskan sejarah agensinya. "Sinc Entertainment didirikan pada tahun 2010, saat itu artis pertama sekaligus CEO nya adalah Pak Panji. Dia adalah seorang pianis, kau tahu kan?" Viona mengangguk.
"Kemudian dengan sentuhan jeniusnya, perusahaan berkembang pesat seiring tenarnya beliau padahal dia masih duduk di bangku kuliah kalau tidak salah. Kemudian satu persatu artis mulai direkrut oleh Pak Panji hingga perusahaan mengalami masa kejayaan dan bertahan sampai saat ini karena kami berhasil mendebutkan Angkasa Nalucas atau Ase. Semua artis adalah aset berharga kami tapi Ase adalah kasus istimewa. Dimana dia adalah aset terbesar kami."
"Angkasa Nalucas?" tanya Viona merasa familiar dengan nama itu.
Tara tersenyum, "Kau mengenalnya Vi. Mungkin kau masih lupa. Nanti juga ingat."
Tara membuka satu ruangan full kaca. Di depan pintu tertulis manager dengan nama Alya Tan. Ruangan kakaknya.
"Kakakmu pernah magang disini dan dia menjadi seorang manager langsung. Dia padahal hanya magang setengah tahun namun berhasil membuat album debut B.Ara sukses besar!" seru Tara.
"Aku tidak tahu kalau kakakku pernah magang disini." ucap Viona melihat sekeliling.
Tak ada jejak peninggalan Alya. Ruangan itu seakan kosong, tanpa ada seorangpun yang pernah menempatinya.
"Jadi apa tugasku?" tanya Viona menatap Tara.
"Inilah tugasmu. Menjadi manajer pemula untuk artis. Karena kamu baru, jadi kubiarkan kamu mempelajarinya dulu." jawab Tara.
"Artis siapa yang akan kuurusi?" tanya Viona.
"Angkasa tentu saja, siapa lagi?" balas Tara.
Viona terkejut. "Apa?"
"Kenapa kau terlihat sangat terkejut, Vi?" tanya Tara.
"Kau bilang Angkasa adalah aset terbesar kalian, lalu kenapa kau malah membiarkan aku, yang awam soal dunia ini diberikan tanggung jawab mengurusnya?"
"Karena manajer lama akan resign. Angkasa cukup pilih-pilih soal manajernya. Dan lagipula Alya berhasil melakukannya, maka kurasa kamu juga bisa berhasil." jelas Tara.
"Bagiku sama saja. Kalian kakak beradik." tandas Tara enteng.
"Tara, apa hubungannya?" Viona hampir frustasi. Dia takut diberikan tanggung jawab sebesar itu, ditambah dia masih belum tahu tentang industri ini.
"Sudahlah, Vi. Kamu adalah orang yang cepat beradaptasi, aku yakin kamu bisa melakukannya. Ingat, aku adalah orang yang sangat perhitungan dalam memutuskan sesuatu dan aku yakin, keputusanku tidak salah." tandas Tara.
"Kau santailah disini dulu, nanti Boby akan kesini membawa pekerjaanmu." lanjut Tara hendak keluar.
"Boby siapa?" tanya
"Asisten Ase." jawab Tara membuka pintu dan langsung keluar.
"Eh Tara! Tara!" teriak Viona tak sempat mencegah Tara yang sudah pergi duluan.
****
Viona sedang duduk di meja Alya yang kini jadi kantornya itu. Dia masih tak mengerti sebetulnya tapi yasudah, dia sudah terikat perjanjian dengan sang ibu, dia hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan oleh Marianne Tan.
Sudah satu jam sejak kepergian Tara, dan Boby yang katanya akan menemuinya membawa pekerjaan juga tak kunjung datang. Viona hampir mati kebosanan menunggunya.
Ceklek
Viona langsung menoleh ke arah pintu ketika terdengar suara pintu dibuka dari luar. Dia berdiri menyambut orang yang datang yang dia pikir adalah Boby.
Namun ternyata yang datang adalah seorang perempuan cantik dengan tinggi semampai. Rambutnya lurus panjang dengan poni gaya Korea. Pakaiannya agak aneh, dia mengenakan celana legging dengan crop top. putih dan sepatu boots hitam. Padahal tadi baru saja hujan, suhu sudah turun dan wanita ini sepertinya tidak merasa kedinginan.
"Well aku gak menduga akan melihat seseorang disini." ucap perempuan itu dengan nada sinis. Sorot matanya tajam menatap Viona.
"Rachel." lirih Viona.
Rachel Ann adalah sepupu Panji. Dia adalah anak dari adik ibu Panji, Marisa Jane. Rachel adalah seorang atlet seluncur indah. Kesukaannya pada olahraga es merupakan berkah dari sang ibu yang sewaktu muda menjadi pesenam. Namun katanya sang ibu mulai tidak mendukung cita-citanya lagi, kini dia menginginkan Rachel menjadi seorang pengusaha alih alih seorang atlet.
"Ku pikir setelah kau membunuh kakakmu, kau akan merasa malu untuk menampakkan batang hidungmu lagi, Vi. Tapi nyatanya kau makin gak tahu malu. Ataukah ini caramu menguasai segalanya dengan mengorbankan Alya?" ucapnya sarkas. Rachel memang terkenal dengan ucapan tajamnya.
"Jangan ngaco, Rachel. Alya adalah segalanya bagiku." desis Viona.
"Kalau begitu seharusnya kau enyah selamanya. Jangan duduk di kantor ini dan menikahi pacar kakakmu sendiri!"
"Itu bukan keinginanku sama sekali." tukas Viona.
"Jangan bermain-main denganku, Viona. Aku masih sama kejamnya dengan Rachel yang merebut mainan barbiemu saat masih kecil dulu. Kini kau merebut hidup orang lain padahal hidupmu tidak lebih berharga dibanding Alya. Kalau seharusnya yang mati itu adalah kau, Viona!" seru Rachel berapi-api.
Viona terdiam, dia amat sakit hati dan marah dengan ucapan tak pantas Rachel. Tapi dia tidak bisa mendebatnya. Dia kalah.
"Sebaiknya kemasi barang-barangmu, jangan berharap kau mampu mengambil alih posisi Alya. Bahkan dibanding dengan harga dirimu, ludah Alya masih lebih berharga nilainya." hina Rachel.
Brak
Rachel langsung pergi dengan membanting pintu keras.
***
Rachel Ann sudah kehilangan moodnya. Dia awalnya datang ke perusahaan untuk bertemu Panji dan menengok kantor Alya yang sudah lama ditinggalkan. Tapi dia malah menemukan seonggok sampah tak berguna, sepupu Junas.
Ketika dia hendak turun ke lobi, dia malah bertemu Junas di lift.
Tak ada sepatah katapun, padahal mereka akan bertunangan. Junas sangat tak menyukai Rachel.
"Jangan lupa datang ke restoran malam ini." akhirnya Rachel dulu memecah keheningan.
"Untuk apa?" tanya Junas jutek.
"Membahas pertunangan, dasar amnesia." jawab Rachel.
"Tidak mau." tolak Junas singkat.
"Kenapa?" tanya Rachel cepat.
Junas menatap Anna lekat-lekat dengan sorotan dinginnya.
"Karena aku tidak akan pernah sudi menghabiskan hidupku yang berharga dengan istri sepertimu."
Ting
Junas langsung keluar dari lift tanpa menunggu tanggapan dari Rachel. Dan di dalam lift, Rachel mengepalkan tangannya keras. Mencoba menahan emosinya yang memuncak.