
Viona mencoba gaun pernikahannya ditemani Sherlyn, sekretaris sang ibu. Dia mencobanya di depan cermin besar yang menjulang tinggi. Gaun pengantin itu terlihat pas ditubuhnya dengan ekor bak mermaid dihiasi payet sederhana. Menampilkan lekuk tubuhnya yang semampai. Terlihat elegan meski sederhana.
"Bagus sekali, Vi. Kamu memang cocok memakainya." puji Sherlyn. "Gaun itu dipilih langsung oleh Panji." lanjutnya.
"Apa itu gaun untuk Alya?" tanyanya.
Sherlyn menganggukan kepalanya. "Sebelum kecelakaan itu, Panji memang sudah berniat melamar Alya, mereka juga sudah melakukan fitting untuk hari bahagia mereka. Namun takdir berkata lain. Tuhan lebih sayang pada Alya jadi Dia mengambilnya lebih dulu."
"Jadi aku menikah, itu semua dengan pilihan Alya? Gaun, dekorasi, bahkan pelaminan?"
"Benar. Semuanya adalah kesepakatan antara Panji dan Alya."
"Jadi aku seperti pengantin pengganti. Menggantikan kakakku yang meninggal karena kesalahanku." lirih Viona.
Sherlyn menyentuh pundak ringkih Viona. "Vi. bukan begitu.Nyonya hanya merasa akan buang-buang waktu bila kita harus memulai dari awal makanya rancangan pernikahan yang telah disepakati dilanjutkan. Tapi kalau kamu keberatan. kita bisa membicarakannya. Dimulai dari gaun ini, kamu bisa menggantinya dengan apa yang kamu sukai."
Viona menggeleng dengan senyum pasrah, "Dengan posisiku, aku tak berhak untuk mengeluh." tolaknya.
Sherlyn menganggukkan kepalanya mengerti. "Aku sangat memahami perasaanmu."
***
Keesokan paginya Angkasa dibangunkan oleh Boby. Lelaki itu baru tertidur dua jam yang lalu. Terlihat matanya masih memerah karena memang kurang tidur.
"Bob, kita baru pulang jam lima tadi. Biarin gue tidur dulu!" kesal Angkasa.
"Aku tahu tapi hari ini kamu harus menghadiri pernikahan." ucap Boby.
"Pernikahan siapa?" tanya Angkasa bingung.
"Pak Panji."
Angkasa terdiam. "Panji? Menikah dengan siapa?"
"Tentu saja dengan Mbak Viona!"'
Kini Angkasa terbangun sepenuhnya. Hari ini Viona menikah?
"Aku sudah menyiapkan pakaianmu, hari ini kamu jadi pengiring pengantin ya, Pak Panji yang meminta sendiri." ucap Boby.
Angkasa seperti telah kehilangan separuh hatinya, langitnya seakan runtuh. Kenapa saat dia bertemu kembali dengan Viona, gadis itu justru akan jadi milik orang lain?
***
Hari pernikahan telah tiba. Media juga sudah banyak berkumpul di depan. Mereka memang tidak diizinkan meliput langsung karena pernikahan ini privasi. Namun karena pernikahan ini adalah pernikahan putri bungsu konglomerat Tan Group dengan CEO SINC Entertainment, membuat pernikahan mereka menjadi perhatian utama.
Angkasa juga menjadi perwakilan Panji menyapa para tamu yang hadir. Meski senyum indah terpatri di bibirnya namun hatinya tengah patah. Dirinya harus pura-pura terlihat baik-baik saja di tengah hari bahagia temannya.
Junas juga hadir bersama Ringgo dan Jeno. Dia terlihat sumringah karena sepupunya menikah hari ini. Ketiga lelaki itu menemui Viona di ruang ganti.
"Woah woah! Pengantin kita cantik banget!" riuh ketiganya.
Viona yang awalnya sedang melamun kini memasang senyum lebar. "Akhirnya dateng juga. Kakak kira gak dateng." sambutnya.
"Pasti dateng lah kak. Sepupu sendiri nikah, kurang ajar banget gak datang. Ditambah nih si Ringgo pengen all you can eat!" tawa Junas berderai.
"Si sapi malah fitnah. Bohong kak, aku gak begitu serakah." bela Ringgo. "Tapi kue tartnya kayaknya enak banget nih." lanjutnya menyengir.
Viona tertawa, lumayan terhibur dengan kelakuan absurd sepupu dan teman-temannya.
"Oh ya kak, kita kedepan dulu ya. Sekalian nemenin calon mempelai pria. Nervous banget kayaknya." pamit Junas.
Viona menganggukan kepalanya, "Iya. Temani Kak Panji saja ya."
"Oke, kak." angguk Junas.
Sepeninggal Junas, Ringgo dan Jeno di saat kebetulan Rachel juga datang menghampiri Viona di ruang ganti. Namun penampilan Rachel cukup membuat Viona mengernyit heran.
"Chel, pakaian kamu..." Viona mengantung ucapannya.
Rachel menatap keseluruhan penampilannya. "Sesuai dengan konsep kan? Hitam untuk berduka kepada hatimu yang tidak menginginkan pernikahan ini." jelasnya.
Rachel memang memakai pakaian yang cukup kontras di acara pernikahannya yang memiliki konsep white to denim. Dia mengenakan blouse off shoulders hitam dibawah lutut dengan sepatu boot yang berwarna senada. Rambutnya dia gulung ke atas dan wajahnya dihiasi kacamata yang juga berwana hitam legam.
Viona menghela nafas, "Tapi bisakah kamu tidak menunjukkannya dengan jelas? Ini bukan hanya hari tentang aku saja tapi sepupumu juga."
Rachel mengendikkan bahunya acuh, "Gak peduli. Hak ku mau pakai baju apapun." ucapnya ketus.
"Terserah kamu saja." Viona menyerah.
Rachel tiba-tiba tersenyum membuat Viona mengernyitkan dahi. "Ada apa? kenapa tiba-tiba tersenyum?" tanyanya.
"Tidak ada. Hanya merasa kasihan padamu. Hidupmu bener-bener menyedihkan ya." jawab Rachel geleng-geleng kepala seolah-olah dia prihatin.
"Apa maksudmu?"
Rachel menumpukkan kedua tangannya di bahu Viona, cukup keras hingga membuat tubuh Viona agak membungkuk.
"Kau tau ini hari apa?" tanya Rachel.
"Hari selasa?"
"Bukan itu maksudku, bego!" seru Rachel kesal. "Ini hari anniversary Kak Alya dan Kak Panji." lanjutnya.
Viona terdiam. Dia tidak tahu akan hal itu.
"Aku merasa kau gak tau." Rachel menyadari keterkejutan Viona. "Jadi kau mengerti kan dari ini aja gimana posisimu di hati Kak Panji. Kau gak akan pernah dianggap dan hanya selamanya jadi pengganti Alya!" tegasnya.
Rachel menegapkan tubuhnya, "Btw, happy wedding. Kuharap kau gak bercerai dalam waktu dekat." ejeknya. Perempuan itu lalu keluar ruangan.
Viona mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Takdir, kenapa sangat kejam padanya?
***
Dan akad pernikahan berlalu begitu saja tanpa ada yang spesial. Mungkin Viona agak sedikit gugup ketika Panji mengikrarkan janjinya sebagai suaminya. Itu saja. Selebihnya Viona lebih merasa kosong. Dia sama sekali tak bahagia. Rasa sesak lebih menyelimuti hatinya.
Dan Panji juga hanya bersikap biasa saja padanya. Selain mencium dahi dan tangan, tak ada kontak fisik lain yang disengaja. Mereka hanya saling diam tanpa bicara sepatah katapun dan lebih sering melayani tamu undangan.
Viona juga tidak tahu bagaimana perasaan Panji akan pernikahan ini. Panji tak pernah terbuka dan mengatakan apapun tentang betapa peliknya hubungan mereka. Sejujurnya, mereka memang tak pernah bicara lagi sejak menghadiri pesta Tuan Salazar. Untuk menghubungi duluan juga Viona merasa canggung. Bagaimanapun Panji pernah jadi pacar kakaknya dan sekarang malah menjadi suaminya.
Namun satu hal yang sekarang sangat diharapkan oleh Viona, memberinya waktu berdua untuk berbicara pada Panji dan meminta maaf padanya atas Alya.
"Malam ini kita bisa beristirahat. Besok harus bekerja kan?" dan itu adalah kalimat pertama yang Panji ucapkan setelah seharian ini mereka tak saling bicara.