
Usai resepsi, seperti kata Panji malamnya mereka beristirahat di kamar hotel yang sudah dipesan menjadi kamar pengantin mereka. Kamar itu disulap seolah-olah kamar pengantin baru, lilin putih saling berjajar menciptakan suasana romantis. Lima tangkai mawar berada di vas kaca alih-alih di ranjang.
"Aku mandi dulu. Koper kita sudah diantarkan tadi." ucap Panji langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Viona pun duduk di ranjang. Dengan menghela nafas berat, Viona mulai melepaskan satu demi persatu aksesoris di tubuhnya.
Bersamaan dengan semua aksesoris telah dilepas, Panji keluar dari kamar mandi. Lelaki itu sudah memakai pakaian tidur meski rambutnya masih basah.
"Handuk kamu ada di dalam, tadi aku sekalian taruh. Mandi dulu aja." ucap Panji.
Viona menganggukan kepalanya. Perempuan itu masuk ke kamar mandi.
Namun baru juga sepuluh detik, Viona menyembulkan kepalanya.
"Kak." panggilnya pelan.
Panji menoleh, "Apa?"
"Aku minta maaf tapi bisa bantu lepasin resleting baju? Letaknya di belakang, aku agak kesusahan." pinta Viona malu.
Panji mengerti, lelaki itu beranjak dari duduknya dan mendekati Viona yang masih di dalam.
"Berbaliklah."
Viona membalikkan badan. Dan terasa tangan Panji menyentuh pundaknya, jantungnya bertalu. Sekujur tubuhnya merinding. Entah kenapa. Dengan perlahan, Panji menurunkan risleting pakaian Viona sampai ke batas pinggang. Dan nampaklah punggung putih mulus perempuan itu.
Panji menelan ludah. Dia lelaki dewasa dan normal.
"Kak, udah?" tanya Viona ketika merasakan tak ada pergerakan lagi dari Panji.
Panji buru-buru mengenyahkan isi pikirannya. "Udah. Aku keluar dulu." ucapnya cepat-cepat keluar.
"Makasih kak." ucap Viona. Akhirnya dia terbebas dari rasa nerveousnya.
****
Di sisi lain, Angkasa sedang menikmati waktu malamnya dengan menongkrong di kafe favoritnya sambil disuguhi berbagai merk wine.
Kalau kalian bertanya-tanya, apakah Angkasa minum alkohol? Lelaki itu memang menyukai wine dan bir. Namun tidak sering karena seringkali berakhir mabuk dan berakibat pada kondisi tubuhnya di keesokan hari. Jadi Angkasa hanya minum disaat pikirannya sedang stress saja.
Angkasa memang ditemani Boby, sang asisten setianya. Lelaki itu asik makan ayam goreng dengan jus jeruk manis dan asam. Dia sudah biasa melihat Angkasa minum. Dan itu memang sisi lain yang tersembunyi dari artisnya.
Namun ada yang aneh pada malam ini. Angkasa nampak kesetanan. Teguk demi teguk cairan bening itu masuk ke tenggorokannya tanpa henti. Biasanya dia selalu santai saat minum dengan diselingi cemilan seperti ayam goreng namun ini? Lelaki itu hanya terus minum dan minum.
Boby bahkan sampai berhenti makan dan terperangah dengan sikap tak biasa Angkasa.
"Ase, udah. Kamu banyak minum." cegah Boby ketika Angkasa hendak membuka botol ketiganya.
Mata Angkasa sudah nampak sayu, "Biarkan aku minum lebih banyak, Bob." ucapnya berusaha membuka penutup botol.
Boby langsung merebut botol wine itu, "Kamu udah mabuk, Sa!" serunya.
Angkasa menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tertawa, "Aku mabuk? Sadar gini kok, saking sadarnya aku merasa sudah siap mati." racaunya.
Boby sudah yakin bahwa Angkasa telah mabuk.
"Siniin Boby!" Angkasa berusaha menggapai botol wine yang diambil Boby namun Boby bisa mengamankannya. Mungkin dalam keadaan normal, Angkasa bisa mengalahkan Boby namun tidak saat mabuk.
"Telfon Mbak Tara dulu." gumam Boby.
"Usai menelfon Tara dan memintanya untuk datang menjemput, Boby menaruh botol wine itu di meja paling ujung. Lelaki itu menatap Angkasa yang sudah berbaring dengan kepalanya berada di atas meja. Lelaki itu tertidur pulas.
***
Usai mandi, Viona menghampiri Panji yang berada di ruang tamu kamar hotel mereka. Lelaki itu sedang memangku laptopnya, nampak fokus dengan pekerjaannya.
"Kak Panji." panggil Viona ragu-ragu. Dia takut mengangggu konsentrasi Panji.
Panji mendongak, "Iya, Vi? Butuh sesuatu?" tanyanya.
Viona menautkan kedua jemarinya dengan gugup, "Sibuk banget kak?" tanyanya. "Ada yang mau aku omongin."
"Lumayan, besok meeting dengan investor jadi sedang siapkan materinya." jawab Panji. Lelaki itu kembali fokus pada layar kotak di depannya.
Astaga, lelaki itu bahkan tidak mengizinkannya berbicara lagi.
"Aku minta waktu kakak lima menit aja bisa? Setelah itu aku gak ganggu lagi."pinta Viona.
"Vi, aku lagi sibuk. KIta bicara nanti aja ya." tolaknya.
"Tiga menit, aku mohon."pinta Viona lagi.
"Vi..."
"Satu menit dan aku gak akan ganggu kakak lagi malam ini." pinta Viona memohon.
"Gak mau duduk?" tanya Panji.
Viona lalu duduk di depan panji, hanya terhalang meja kaca saja.
"Ingat, Vi. Satu menit." peringat Panji. Viona mengangguk.
Pertama, Viona menghirup nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. Setelah tenang, perempuan itu mulai berbicara.
"Aku minta maaf sama kakak atas insiden Kak Alya. Udah lama aku ingin ngomong ini namun waktu masih belum pas. Aku juga belum siap. Dan sekarang, sudah waktunya aku bilang kalau aku menyesal karena telah membuat kalian berpisah, aku juga minta maaf karena hal ini, kakak kehilangan perempuan yang kakak cintai." ucap Viona mulai berderai air mata.
"Aku juga sadar bahwa aku tidak akan menjadi siapa-siapa yang kakak anggap. Akuk tahu di hati kakak masih ada kak Alya--"
"Darimana kamu tahu soal itu?" sela Panji.
"Gaun, dekorasi pesta, kue pernikahan. cincin kawin bahkan tanggal pernikahan, semuanya berkaitan dengan cinta kalian. Aku merasa seperti perusak kisah cinta kalian. Aku mohon maaf." Viona menundukkan kepalanya. Betapa ia menyesali semuanya.
Panji menghela nafas, "Angkat kepalamu, Vi."
"Kakak seharusnya benci aku kan? Aku memang pantas dibenci," lirih Viona terisak.
"Viona, angkat kepalamu." titah Panji penuh penekanan.
Viona menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu tidak mengangkat wajahmu maka kupastikan aku akan membencimu seumur hidupku." ancam Panji.
Mendengar ancaman Panji, Viona langsung mengangkat wajahnya.
"Kak, maafkan aku."
"Satu menit kamu habis." ucap Panji. Lelaki itu kembali menaruh laptop di pangkuannya dan memakai kacamata bacanya.
"Pergilah tidur." lanjutnya tanpa menatap Viona.
Viona mendesah dan beranjak pergi menuju kamar.
Sepeninggal Viona, Panji menghentikan pekerjaannya. Lelaki itu terdiam. Entah apa yang berada di pikirannya namun ucapan Viona mungkin mengusik perasaannya.
***
Keesokan harinya Viona masuk bekerja. Kemarin malam setelah pembicaraanya dengan Panji, Viona langsung tertidur dan paginya dia mendapati ranjang sampingnya kosong. Lewat secarik kertas yang ditaruh di atas nakas, lelaki itu memberitahunya sudah pergi lebih dulu karena harus menghadiri rapat. Viona menghela nafas. Entah semalam suaminya itu tidur di ranjang yang sama atau tidak.
Di kantor, Tara langsung menariknya ke ruangan gadis itu. Perempuan itu tersenyum begitu lebar seakan melihat Viona begitu menarik perhatian.
"Katakan." desah Viona.
"Jadi semalam sudah melakukan apa saja dengan suamimu tercinta itu?" tanyanya antusias.
"Mandi. makan malam dan tidur." jawab Viona jujur.
"Itu saja?Tidak ada hal lain?" tanya Tara.
"Hal lain apa?" tanya balik Viona.
"Kamu tahu, belah duren. Unboxing." jawab Tara.
Viona bingung, "Semalam, kami gak makan duren." ucapnya polos.
Tara mendesah kecewa, dia lupa bahwa temannya ini polos menjurus tolol.
"Bikin anak, you know lah!" seru Tara blak-blakan.
Viona terdiam, "TARA!" teriaknya. "Kamu mesum!"
"Vi, aku ngomong itu dari tadi kamu gak ngerti makanya aku langsung blak-blakan aja. Jadi bikin gak?"
Viona menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Kita gak melakukan perbuatan haram itu."
"Lah, Vi, kalian udah sah ya halal dong mau bercocok tanam juga." balas Tara.
"Tara, kita itu tidur di kamar bukan abis dari sawah."
Tara menghembuskan nafasnya, "Itu kata lainnya, Vi. Bukan beneran cocok tanam di sawah!" pekiknya frustasi. "Kenapa aku punya teman polos menjurus bego ya?"gumamnya.
"Tara, makanya kalau ngomong yang benar dan sesuai. Jangan pakai peribahasa atau kata ganti lain. Dan lagi, aku itu pinter gak bego!"
"Semerdekamu aja, Vi." pasrah Tara. Dia sudah menyerah tak akan menanyai Viona lagi.
"Oh ya, temuin Angkasa ya, semalam dia mabuk pastikan dia sudah baik-baik saja. Sekarang waktunya pembacaan naskah kan." lanjut Tara.
Viona terkejut, Angkasa mabuk?