
Sesampainya di kamar mereka, Viona menaruh tas Panji di tempatnya kemudian memasukkan dasi dan jas ke dalam keranjang cuci. Perempuan itu lalu membuka lemari, menyiapkan pakaian tidur suaminya, lalu meletakannya di atas kasur. Sembari menunggu Panji selesai mandi, Viona berniat menonton di ruang keluarga. Namun baru saja hendak keluar kamar, suara notifikasi ponsel Panji menghentikannya.
Viona penasaran, perempuan itu mendekat ke nakas dan mengambil ponsel Panji yang tersimpan. Panji memiliki kebiasaan unik, lelaki itu tidak pernah menyandi ponselnya alih-alih menyandi ponselnya lelaki itu justru menggunakan suara untuk membuka ponselnya. Dia juga tahu ketika Panji melakukan hal tersebut.
"Satu tujuh belas dua lima satu."
Terbuka.
Viona lalu membuka aplikasi perpesanan dimana notif itu berasal dan alangkah terkejutnya ketika dia melihat sebuah nomor asing mengirimkan foto tak senonoh. Foto berisi perempuan telanjang. Dan captionnya bahkan lebih mengejutkan.
Penasaran kan? Kau bisa menikmatiku sepuasnya besok.
Viona langsung menutup ponsel Panji. Jiwanya terguncang. Apa-apaan ini? Panji--ada apa dengannya?
***
Keesokan paginya, Panji seperti biasanya dengan acuh pergi dari rumah tanpa sarapan dan hanya pamit dengan singkat pada Viona. Viona menghela nafas, dia kembali di kecewakan oleh Panji. Sudah beberapa kali dia memasakkan makanan namun Panji tak pernah menyentuhnya sekalipun.
"Apa sulit ya memakan masakanku?" gumamnya sedih.
Ting
Notifikasi berbunyi di ponselnya. Viona membukanya dan itu adalah pesan Angkasa.
Angkasa Nalucas
Hari ini datang ke taman bermain. Bawakan beberapa cola dan salad buah.
Viona mendengus, "Memangnya aku babu kamu apa?" kesalnya.
***
Viona berjalan menuju tenda artis di pinggir taman bermain. Ase sedang syuting adegan taman bermain hari ini bersama pemeran yang lain termasuk Caithlyn, lawan mainnya.
"Nih, kola dan salad." ucap Viona mengangsurkan keresek putih pada Angkasa yang sedang duduk sambil dikipasi Boby.
"Baru ingat, kalau mereka mengandung banyak gula." balas Angkasa.
"Terus?"
"Makan aja sendiri."
"Aku lagi diet!"
"Kalau begitu biarkan Boby yang makan. Itu kesukannya." putus Angkasa santai.
Viona terhenyak dibuatnya, "Itu kesukannya lalu kenapa kamu menyuruhku membelinya?" tanyanya tidak terima.
Angkasa menatap Viona, "Kamu cerewet sekali, apa susahnya membeli?"
"Tapi aku seorang manajer, bukan asistenmu yang mau kau suruh-suruh!" seru Viona.
"Kau pikir menjadi manajer membuatmu merasa hebat? Apa kau tahu apa pekerjaan dasar dari manajer?" tanya Angkasa.
Viona terdiam, dia sejujurnya juga masih belum terlalu paham tentang konsep menjadi manajer artis.
"Seorang manajer artis adalah orang yang paling dekat dengan artis. Mereka mengatur jadwal artis dan mengurus barang-barang pribadi artis mereka. Hal itu saja kau tidak tahu?"
"Aku--"
"Ase!" seseorang memanggilnya.
Ucapan Viona terjeda ketika Kate datang ke tenda Angkasa dengan memamerkan senyum manisnya.
"Kate." sapa Angkasa balik.
Kate lalu menoleh pada Viona, "Nona Viona, selamat ya atas pernikahanmu. Maaf aku tidak bisa datang karena saat itu aku memiliki jadwal di luar negeri." ucapnya sembari menyalami Viona.
"Tidak apa-apa, Nona Kate. Aku memakluminya. Terimakasih atas ucapan dan doamu." balas Viona ramah.
"Sayang sekali, padahal aku ingin datang. Siapa tahu aku yang mendapat bunganya saat kalian melempar buket." kekeh Kate.
"Kalau kamu ingin bunga, tidak perlu menunggu mendapatkannya di pernikahan." ucap Angkasa.
"Lantas, kamu membelikannya untukku? tanya Kate becanda.
"Aku bisa melakukannya namun aku takut diamuk oleh fans lelakimu." jawab Angkasa.
"Fansku tidak sebar-bar itu. Justru mereka berharap aku segera menikah." canda Kate.
"Kalau begitu segera menikah saja." ucap Angkasa.
"Nanti setelah kamu melamarku, haha." tandas Kate. Angkasa juga terkekeh.
Namun Viona hanya bisa terdiam. Entah mereka berdua sedang bercanda satu sama lain ataukah memang ada bunga-bunga cinta yang bermekaran di antara keduanya.
***
Di sela makan malam, Viona menemani Angkasa berjalan di sekitar taman bermain. Taman bermain tidak terlalu ramai namun juga tidak terlalu sepi. Meski memang taman bermain ini dipakai sebagai set lokasi syuting namun ada beberapa tempat yang masih dibuka untuk umum.
"Apa Pak Panji tidak masalah kamu masih diluar semalam ini?" tanya Angkasa.
"Tidak apa-apa. Lagipula dia sedang sibuk. Jadi sering bekerja sampai malam." jawab Viona.
Angkasa mengangguk mengerti.
Viona tiba-tiba teringat sesuatu, "Oh ya, kemarin malam kau mengajak Kak Panji makan malam diluar?" tanyanya.
"Iya, kenapa?"
"Aku sudah menyiapkan makan malam untuknya namun gara-gara makan denganmu, dia jadi tidak makan masakanku. Aku sudah bersusah payah membuatnya." keluhnya.
"Saya tidak tahu kalau kau membuatkannya makanan. Lagipula itu tidak direncanakan. Dia menelfonku sendiri untuk menemaninya makan bersama. Saya tidak enak menolak karena dia bosku." jelas Angkasa.
"Makksudmu Kak Panji meminta kamu menemaninya sendiri? Bukan karena perayaan kamu menang di acara musik?"
"Saya tidak sedang mengeluarkan lagu baru, bagaimana saya menang acara musik?"
Viona terkejut. Jadi alasan kemarin itu hanya bohongan. Nyatanya bukan Angkasa yang mengajak makan malam melainkan Panji sendiri. Apa sebegitu tidak inginnya lelaki itu makan bersama dengannya sampai perlu berbohong?
"Saya minta maaf." ucap Angkasa meyadari bahwa raut wajah Viona sudah mendung.
Viona mencoba tersenyum, "Tidak apa-apa. Lagipula ini bukan kesalahanku. Aku yang terlalu impulsif sampai-sampai kesal padamu."
"Jadi lain kali kalau Pak Panji tidak memakannya, kamu bawa saja makananmu. Saya yang makan." celetuk Angkasa.
"Kenapa kamu yang mau makan?" tanya Viona heran.
"Daripada makananmu mubazir. Saya juga bisa menjadi juri untuk mencicipi masakanmu. Siapa tahu masakanmu yang bermasalah jadi Pak Panji tidak ingin mencobanya."
Viona memukul bahu Angkasa, "Apa maksudmu? Masakanku enak tahu!"
"Saya tidak bisa berkomentar lebih." tawa Angkasa berderai.
"Asal kau tahu ya, sejak sekolah dulu Tara sangat menyukai masakanku, dia selalu memintaku membawakannya makanan. Katanya makananku enak." ucap Viona bangga.
"Itu bukannya jadi koki gratis ya?"
Viona berdecak, "Mana ada! Kalau aku bawain makanan untuknya maka dia akan mentraktirku es krim vanila."
"Karena mudah diucapkan. Kalau strawberry sulit. Lidahku, lidah orang kampung." jawab Viona tertawa.
Angkasa ikut tertawa kecil. Cinta itu memang membuat otak korbannya menjadi bodoh seketika. Dia menertawakan lelucon Viona yang bahkan sangat garing tersebut. Demi obrolan mereka.
"Memangnya ada bedanya lidah orang kampung dan lidah orang kota?"
"Kalau soal itu tentu saja tidak ada bedanya. Lagipula itu hanya kiasan saja. Kenapa harus bertanya lebih lanjut."
Kemudian mereka sama-sama terdiam. Mereka berdiri di depan rumah hantu. Entah kenapa langkah mereka sampai di tempat paling menakutkan di taman bermain.
"Saya ingin bertanya, mengapa kamu menangis saat melihat Pak Panji di makam Alya?" tanya Angkasa serius.
Viona terdiam, wajahnya mulai mendung. Angkasa bisa merasakan perubahan emosi tersebut.
"Jangan dijawab kalau enggan."
Viona menghela nafas, "Aku hanya merasa menjadi manusia paling jahat didunia karena memisahkan mereka berdua. Mereka jelas-jelas sangat mencintai bahkan hampir menikah namun aku membuat takdir bahagia mereka hancur berantakan. Aku sangat jahat."
"Vi, kamu tidak jahat. Kecelakaan itu bukan kesalahanmu. Sudah takdirnya Alya pergi. Tidak ada yang perlu membuatmu terbebani."
Viona menggeleng tidak setuju, "Ini tetap menjadi kesalahan dan dosa terbesarku. Lihatlah, ketika Alya pergi banyak orang yang menyesalinya. Banyak hati yang telah patah karenanya. Banyak senyum yang memudar akibatnya. Semua itu terjadi diakibatkan keegoisanku yang ingin menapaki mimpiku sendiri. Tanpa sadar bahwa Alya sudah mengorbankan begitu banyak tentang impian masa mudanya demi kenyamanan hidupku. Dia mengambil beban besar sebagai anak pertama demi aku agar terbebas dari tuntutan seorang anak Zhouseng Tan." isak Viona.
Angkasa terdiam. Dia menyesal mengapa harus mengangkat topik sensitif ini. Viona menjadi menangis dan Angkasa bahkan tak tahu cara menghiburnya.
Tangan lelaki itu terangkat, hendak menyentuh kepala Viona yang berguncang. Namun urung dilakukan.
Dia sudah bersuami batinnya dalam hati.
Kemudian mata Angkasa mengedar ke sekelililng dan menyadari bahwa mereka berada tepat di depan rumah hantu. Lelaki itu terpikirkan satu cara bagaimana menghibur Viona.
"Vi, ikut denganku." ajak Angkasa.
"Kemana?" tanya Viona mengangkat wajahnya.
Angkasa tersenyum dan tanpa kata menarik lembut lengan Viona mengikuti langkahnya.
***
Viona terdiam sepenuhnya. Dia menatap penuh pertanyaan pada Angkasa.
"Ase, kenapa kamu membawaku ke rumah hantu?" tanya Viona.
"Menghiburmu." jawab Angkasa santai.
Viona terkejut luar biasa, yang dimaksud penghiburan adalah datang ke rumah hantu?
"Sebenarnya ada apa dengan otakmu?"
"Apa maksudmu?" tanya Angkasa.
"Kau tahu, selain Marianne Tan, aku juga paling takut hantu!" seru Viona panik.
"Tapi ini hantu bohongan. Mereka manusia cuma berpura-pura saja." kilah Angkasa.
"Tidak, pokoknya aku tidak mau." tolak Viona menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ck, ayo." Angkasa menyeret Viona untuk masuk ke dalam wahana.
Di dalam Viona berteriak-teriak untuk setiap hal. Bahkan hanya suara langkah kaki saja, dia berteriak setinggi tiga oktaf. Dia mengamit lengan Angkasa dengan keras.
Tiba-tiba sosok kuntilanak muncul di depan, Viona langsung berteriak keras.
"AAAAA!"
Angkasa menutup kupingnya. Dia lebih takut pada Viona daripada kuntilanak. Karena teriakan gadis itu sungguh memekakan telinga.
Baru jalan beberapa langkah, pocong melompat keluar, kali ini Viona sampai menjambak rambut Angkasa saking takutnya.
"AAA!"
"AAA! Viona sakit!" pekik Angkasa kesakitan.
Usai pocong itu berlalu, cengkeraman di rambut Angkasa juga terlepas. Lelaki itu nampak pusing dan sepertinya rambutnya tercabut beberapa helai.
"Maaf, Ase, aku tidak sengaja." ucap Viona panik. Dia menatap Angkasa penuh kekhawatiran.
"Aku terlalu kencang menjambaknya, apa sakit?" tanyanya.
"Menurutmu?" ketus Angkasa.
"Itu karena kamu mengajakku ke rumah hantu. Sudah kubilang aku paling takut dengan hantu. Tapi kau sengaja membawaku kesini." rutuk perempuan itu.
"Aku membawamu kesini untuk menghiburmu sekaligus mengajarkanmu tentang pengendalian emosi." Angkasa menghela nafas.
"Apa maksudmu?" tanya Viona bingung.
"Lihat di sekitarmu, gelap bukan?"Viona mengangguk takut-takut. "Dan kamu ketakutan karena menduga-duga sosok menakutkan apa yang akan muncul di kegelapan ini. Entah pocong, kuntilanak atau suster ngesot. Kamu takut mereka menakutimu dan mengejutkanmu."
Viona mengangguk.
"Anggap semua sosok itu adalah emosi dan traumamu. Kamu menjadi takut keadaan karena emosi dan traumamu yang bisa muncul tanpa diprediksi.Jadi saat pocong datang kamu hanya bisa menjerit namun tak bisa berlari atau melakukan apapun. Kamu hanya terdiam ditempatmu."
"Jadi yang mesti kamu lakukan adalah mengatasi ketakutanmu. Ingatlah, bahwa hantu hanya sudut pikiranmu saja. Begitupun traumamu. Kamu harus melawannya. Karena kau yang mengendalikan pikiranmu bukan traumamu. Dia hanya mengambil sebagian kecil otakmu tapi tubuhmu lebih banyak mengambil ruang. Lantas kenapa takut untuk sesuatu yang kecil?"
"Lantas apa yang harus kulakukan?" tanya Viona.
"Tutup matamu, rasakan energi positif dari dirimu. Kenangan mu bukan hanya soal buruk saja namun ada kenangan bahagia juga. Energi dari kenangan bahagia itulah yang akan memberimu kekuatan melawan ketakutanmu."
"Sekarang tutup mata." perintah Angkasa.
Viona memejamkan matanya. "Tarik nafas dalam-dalam. Rasakan energi dari kenangan bahagiamu, biarkan dia mengalir ke seluruh tubuhnmu bersamaan dengan hembusan nafasmu."
Viona merasakannya. Kilasan-kilasan bahagia saat dirinya masih kecil, saat papanya masih ada dan mamanya tidak sekejam sekarang. Senyum Alya, Tawa Alya, dan celotehan Tara. Semuanya adalah kenangan bahagia yang dirangkum bak kolase film di pikirannya.
"Sekarang buka matamu,saat traumamu datang, kamu boleh berteriak tapi kamu harus memilki tindakan, kau mengerti?"
Viona menganggukan kepalanya.
Angkasa menatap ke depan, ada sosok suster ngesot datang menuju mereka.
"Buka matamu, Vi."
Viona membuka matanya dan langsung melotot kaget ketika suster ngesot itu menjerit.
"AAA!" Teriak Viona. Perempuan itu mencoba tenang, dia mengingat apa yang tadi dipelajari dari Angkasa.
"Kamu manusia, aku tidak takut lagi." ucap Viona tegas. Perempuan itu berjalan dengan berani melewati suster ngesot tersebut.
Namun saat tangan sosok suster ngesot itu menyentuh kakinya, Viona langsung menjerit dan berlari kencang penuh ketakutan.
Grep
"AAAA!!"
Melihat kejadian itu, tawa Angkasa langsung menyembur kencang.