
"Junas si brengsek itu."
“Pada dasarnya lelaki itu iblis! tanpa perasaan!”
"Sialan Junas."
Kata-kata makian terus diucapkan oleh Rachel.Satu pukulan di samsak, satu kata makian untuk Junas.
Setelah keluar dari perusahaan Panji, Rachel tidak langsung menuju asrama, melainkan mampir ke sasana tinju.Dia telah mengunjungi tempat ini ratusan kali.Bisa dibilang, ring tinju adalah tempat meluapkannya emosi.
Malam itu, suasananya sepi.Tentu saja sudah lewat jam operasional.Tapi karena itu Rachel, dia punya akses 24 jam. Sasana itu milik temannya.
"Bocah setan nakal."
Bug
"Sialan Junas."
Bug
"Anak nakal tidak punya hati."
Bug
"Junas si brengsek!!!"
Bug
Setelah pukulan keras itu, Rachel berhenti.Napasnya tidak teratur.Keringat bercucuran deras. Rachel melepaskan ikatan di tangannya.
"Kita lihat saja Junas Tan." desis Rachel.
...******************...
Vionna kembali bekerja keesokan harinya di Sinc.Di hari pertamanya, dia tidak langsung terjun ke pekerjaannya.Ia kebanyakan hanya melihat lewatnya para pegawai yang sedang bekerja, Boby, asisten Angkasa rupanya tak bisa datang menemuinya.Pria itu sedang menemani Angkasa syuting iklan di luar kota.
Viona sudah duduk manis di kamarnya--atau lebih tepatnya di kamar Alya.Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu dari luar, Viona terkesiap.Dia merapikan pakaiannya, menyapa siapapun yang datang.Mungkin itu Boby atau bahkan Angkasa sendiri.
Namun ternyata tebakannya salah.Yang datang adalah Panji.Pria itu tampilmemukaudengan setelan jas serba hitam dan dasi merah marun, kontras dengan rambut cokelatnya.Sepertinya Panji baru saja mengecat rambutnya.Kemarin rambut pria itu masih hitam.
"Selamat pagi, Vi."Ucap Panji sambil tersenyum manis.
"Pagi, Kak-eh Pak Panji."jawab Viona dengan gugup.Dia tidak tahu harus memanggil Panji apa.
Panji sepertinya paham, "Kalau di perusahaan, seharusnya kamu memanggilku Pak Panji, tapi di luar, kamu bebas memanggilku apa saja. Lagipula, kamu adalah calon istriku."
Viona entah kenapa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat saat Panji memanggilnya calon istrinya.
Sadarlah Viona, dia adalah pacar adikmu.Jangan jatuh cinta.Viona sadar.
"Ya, Tuan. Saya minta maaf."ucap Viona.
"Tidak ada apa-apa."jawab Panji santai.Ia lalu duduk di sofa kamar Viona dan membuka majalah yang ada disana."Bobby belum ke sini?"tanya Panji.
Viona menganggukkan kepalanya."Katanya dia sedang menemani Angkasa syuting di luar kota."
Panji paham, "Sepertinya Tara salah, dia pasti lupa kalau Angkasa ada jadwalnya."
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya bisa menunggu."ucap Viona.
"Akkasa saat ini masih berada di luar kota, kemungkinan besar dia akan kembali besok. Jadi daripada harimu berlalu begitu saja, bagaimana kalau kamu menemaniku menemui temanku?"tawarkan Panji.
“Menemani ayah?”Panji mengangguk.
"Tetapi mengapa saya, Tuan?"tanya Viona tak mengerti.
"Kamu adalah calon istriku. Aku ingin memperkenalkanmu juga. Bukan hanya relasi bisnisku saja, tapi relasi bisnis Tan Group juga ada. Kamu juga bisa mengenal mereka."
Viona mengerti, dia menyetujuinya.Lagi pula, dia sudah siap untuk ini, bukan?
...******************...
Seorang pria berpose memegang sebotol minuman dengan pakaian yang agak mencolok di tengah cuaca panas di pantai. Angkasa sedang melakukan pemotretan iklan terbarunya.Dia bertelanjang dada dengan hanya celana pendek biru di atas lutut.Kulitnya yang kecoklatan apalagi terbakar sinar matahari ditambah dadanya yang rata dan perutnya yang six pack sangat menggoda di tengah panasnya udara pantai.
"Oke, cut!"seru sutradara.
Angkasa berhenti berpose. Ia langsung ditutupi oleh kimono dan payung oleh stafnya.
"Itu keren, Ase. Kuharap dadamu tidak berasap karena panas sekali."ucap sang sutradara sekaligus memuji.
Angkasa tersenyum, "Tidak mungkin. Tadi aku sudah menggunakan dua botol besar sunblock."lucu
Sang sutradara tertawa dengan humor ringan Angkasa.
"Tara mengirimimu manajer baru." ucap Boby asistennya saat mengantarkan sebotol minuman dingin kepada Angkasa.
"Oh ya? siapa dia? apakah dia dibayar fantastis oleh Tara?"tanya Angkasa cuek sambil meminum airnya.
"Dia bilang dia adalah teman Tara sendiri."jawab Boby sambil mengecek ponselnya.
Angkasa terdiam, “Teman Tara?”Dia bertanya.
Boby mengangguk, "Namanya Viona."
Byur
Angkasa tersedak begitu sebuah nama yang paling tak bisa dia lupakan terucap.
"Bos gapapa?" tanya Boby khawatir. Dia langsung menyodorkan tisu.
"Bob, kita kembali ke Jakarta sekarang."dia bersikeras.
Kali ini Angkasa menutup botol minumannya.
Jika Viona benar seperti dugaannya maka firasatnya tidak salah.Dia harus pulang malam ini juga dan membuktikannya.
Boby yang mendengarnya terkejut, "Kita pulang nanti malam. Pesawatnya nanti malam."
“Kita pake mobil saja.” ucap Angkasa segera berdiri dan kembali ke kamar untuk mengemasi barang-barangnya.
"Apa?"seru Boby karena terkejut.
...******************...
Panji dan Viona sampai di sebuah hotel mewah yang masih berada di kota Jakarta.Mereka menghadiri pesta salah satu rekan bisnis Panji yang juga merupakan salah satu investor terbesar di perusahaannya.
"Tuan rumah kali ini adalah Tuan Salazar Laksmana, dia adalah CEO Persada Internasional. "kata Panji.
Viona mengangguk, "Putrinya menjadi model dan masuk ke agensi kami juga."lanjut Panji sambil menunjuk seorang gadis bergaun mewah dengan rambut pirang menonjol yang ditarik ke belakang.
"Siapa dia?"tanya Viona.
"Kamu tidak tahu?"Viona menggeleng cepat.
"Ah, benar. Kamu belum pernah berjuang di industri ini sebelumnya." tandas Panji mulai sadar.
"Dia Caithlyn Laksmana, kamu bisa memanggilnya Kate. Dia suka dipanggil dengan nama masa kecilnya."
“Ayo, kita bertemu tuan rumahnya.”ajak Panji.
Panji dan Viona lalu berjalan menghampiri pasangan Laksamana dan Kate yang sedang berdiri di podium utama menerima tamunya.
"Oh, Tuan Panji. Senang bertemu Anda di sini. Terima kasih telah menerima undangan kami."sapa Pak Salazar dengan gembira.
Panji tersenyum, "Dengan senang hati Tuan Salazar, dengan senang hati saya menerima undangan anda. Apalagi Kate adalah salah satu talenta kami, tentunya suatu kehormatan bagi kami bisa hadir di pesta anda."jawab Panji.
Tuan Salazar menganggukkan kepalanya.Ia lalu menoleh ke arah Viona yang dari tadi hanya diam.
"Ini---" Dia tidak melanjutkan perkataanya.Namun Panji langsung menoleh ke arah Viona, dia paham.
Panji menarik lengan Viona dan memeluknya hingga menimbulkan getaran aneh pada diri Viona yang tak disangkanya.Sambil tersenyum manis Panji berkata, "Ini Viona Felysia Tan calon istriku."
Mata suami istri laksamana itu terbuka lebar begitu pula mata Kate.Mereka bertiga sama-sama terkejut.
"Tan? Maksudmu wanita ini adalah putri dari keluarga Tan? Tan Group?"tanya Salazar dengan mata terbelalak.
Panji mengangguk dengan mantap.
Salazar segera menoleh ke arah Viona lagi dan menyapa Viona dengan khidmat.Matanya tampak terpesona dan terpesona.
"Aku dan ibumu adalah rekan bisnis. Tan Group adalah perusahaan filantropis, mereka menyelamatkan perusahaan kita dari ambang kebangkrutan beberapa tahun yang lalu. Hingga saat ini aku belum melupakan hal itu."kata Salazar.
Viona tersenyum, "Aku senang bisnis keluargaku bisa membantumu."jawab Viona dengan biasa saja.
Salazar tersenyum, "Pak Panji sungguh beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga Tan, saya bisa merasakan aura masa depan yang cerah ketika kedua perusahaan bisa bersatu. Semoga berhasil."
Panji tersenyum namun entah mengapa Viona merasa senyum Panji kali ini terlihat cukup aneh tak seperti sebelumnya.
"Tentu saja aku merasa beruntung. Semoga pernikahan kita bisa harmonis dan langgeng. Kami akan kirimkan undangannya, semoga kalian bisa menghadiri pernikahan kami."tolong Panji.
Suami istri Salazar menganggukkan kepala, "Tentu, kami akan hadir."
Panji dan Viona tersenyum penuh terima kasih.