
(Author POV)
Jakarta, 2017
Sudah cukup lama Viona hanya terduduk melamun di pelataran rumah mewahnya. Kolam jernih dihadapannya bagaikan televisi waktu yang memutar ulang semua ingatan menyakitkannya di masa lalu. Viona mendesah, bahkan sudah satu tahun sejak Alya tiada, Viona masih tetap terpuruk dalam jurang hidupnya yang sudah tak berwarna lagi.
Bagi Viona, Alya bagai mentarinya yang menghangatkan hidupnya yang dingin bahkan nyaris beku. Bagi Viona, Alya adalah perisainya untuk berlindung dari sang mama saat dia ingin menjadi dirinya sendiri. Dan bagi Viona, Alya adalah setengah hidupnya, setengah kewarasannya dan semua warnanya. Viona tidak yakin bahwa dia masih ada dunia ini kalau bukan karena kakaknya.
Sejak kecil, hidupnya selalu dikungkungi kendali sang mama. Alya seakan tak punya hak atas hidupnya sendiri. Segala hal tentangnya adalah segala hal yang diperintahkan Rachel Tan. Dan Viona sempat merasakan kebebasan sesaat dahulu meski keputusan egoisnya itu berujung tragis.
Bunyi derap langkah seseorang terdengar di kejauhan. Sherly datang menghampiri Viona yang masih duduk termangu di depan kolam.
“Viona, Nyonya ingin bicara denganmu.” Ucapnya.
Viona menoleh. Dirasakan matanya bergetar.
Dan kini setelah satu tahun kepergian Alya, Rachel yang tak pernah nyaris bicara lagi dengan sang putri menampakkan batang hidungnya.
Sudah sepuluh menit sejak mereka duduk di ruang tamu besar rumah Tan dan mereka belum bicara sama sekali. Viona jelas tak mau membuka pembicaraan. Jadilah dia menunggu sang mama membuka suara lebih dulu.
“Sudah lama sekali sejak kepergiaan Alya dan mama yakin suasana hatimu masih buruk.” Suara Rachel Tan yang berwibawa terdengar di seluruh ruang tamu megah ini.
Viona menganggukan kepala. Yah, dia masih berduka entah sampai kapan.
“Tapi yang namanya hidup harus berjalan kedepan. Hanya karena ada rintangan kecil, kita berhenti terlalu lama di tempat. Waktu tak pernah berkawan dengan siapapun.” Lanjutnya.
Viona terdiam, dia tidak bisa menduga ke arah mana pembicaraan ini menuju.
“Dan mama rasa kita harus mulai melupakan semua kesakitan itu. Berkabung boleh, tapi jangan terlalu lama. Dan kamu sebagai adiknya dan satu-satunya putri Tan yang masih ada, dengan kepergiaan kakak kamu otomatis tugasmu menjadi lebih berat dari sebelumnya.”
“Mama tidak akan menasihatimu lebih lanjut, mama yakin dengan adanya tragedi ini, kamu bisa berfikir logis tentang apa yang harus kamu lakukan.”
Viona mengangguk pelan, “Aku tahu.”
“Tanda tangani ini.” Rachel meletakkan sebuah kertas perjanjian di atas meja.
Viona mengambil kertas itu dan membaca isi yang tertera. Matanya membelalak.
“I-ini...” Viona menatap mamanya.
“Sebagai seorang ibu, mama tidak mau mengalami kegagalan yang sama dalam mendidikmu. Dan sebagai seorang pebisnis, mama harus membuat kontrak sempurna dan adil agar mama tidak mengalami kerugian kembali. Perjanjian itu adalah strategi mama dalam mendidikmu kembali.”
“Ini hanya satu bulir syarat tapi kenapa sangat sulit?” tanya Viona.
Isi surat perjanjian itu memang hanya satu bulir saja. Yaitu Viona sebagai pihak B harus menuruti semua perintah mamanya sebagai pihak A yang berkaitan dengan hidupnya selama itu baik, dimulai dari pendidikan, karier hingga asmara. Dan perjanjian ini bisa diputuskan bila Viona sebagai pihak B mampu melampaui Rachel Tan, pihak A. Dan bila itu terjadi, maka Rachel tak akan ikut campur lagi dan membebaskan Viona melakukan apapun.
“Bukankah itu adil?” tanyanya.
“Ini terlalu sulit dan sangat mengikatku. Apa aku sama sekali tidak memiliki kebebasan apapun?”
“Kebebasan yang terakhir kali mama berikan padamu berakhir dengan terenggutnya nyawa Alya. Dan bila mama berikan kebebasan lagi, siapa yang akan pergi kali ini?” desis Rachel.
Viona menunduk mendapat serangan telak dan menohok dari Rachel.
“Ini semua demi kebaikan kamu. Mama perlu meluruskan kehidupanmu lagi sebagai seorang ibu. Kamu harus tahu bahwa ini adalah bentuk kepedulian mama sama kamu.”
Kepedulian? Hahaha.
“Dan apa yang dimaksud sampai aku bisa melampaui mama baru perjanjian ini bisa diputuskan?” tanya Viona.
“Kalau itu tergantung persepsimu. Kamu bisa mengalahkan mama dari bidang apapun. Terutama bisnis.”
“Jadi maksud mama, kalau aku bisa memajukan perusahaan lebih maju dari saat mama menjabat, aku bisa bebas?” tanya Viona penuh harap.
Rachel mengangguk, “Bisa kamu anggap begitu.”
Viona seperti sedikit mendapatkan harapan. Setidaknya itu bukan hal yang mustahil. Meski dia sadar bahwa waktunya mungkin akan sangat panjang. Tapi dia yakin, selagi dia berusaha keras, maka hasil tak akan mengkhianatinya.
“Jadi sudahkah kamu fikirkan? Mau tanda tangan?”
Viona menatap kertas perjanjian itu lagi lalu mengambil pulpen yang disodorkan Rachel. Dia kembali bimbang.
“Apa yang terjadi bila aku tidak menandatanganinya?” tanya Viona.
“Maka kamu tidak akan bisa membayar segala yang telah kamu perbuat selama ini.” jawab Rachel tegas.
Viona kembali terdiam. Dosa terbesarnya saat ini adalah kematian Alya. Viona selalu menyalahkan dirinya atas kepergian sang kakak tercinta.
Viona mengeratkan genggamannya pada pulpen berwarna hitam metalik itu. Tangannya gemetar sesaat lalu dengan mantap membuka tutup pulpen.
Viona menghembuskan nafas pelan, lalu dengan pelan mulai mendatangani di kolom pihak B. Setelah selesai, dia menyerahkannya pada Rachel.
Rachel menatap puas kertas perjanjian itu. Dia lalu menyimpannya di samping badannnya dan kembali menatap Viona.
“Mulai mingu depan, belajarlah kembali di sekolah bisnis selama 2 tahun untuk mengambil magistermu. Jangan lakukan apapun yang membuatmu menjadi bodoh kembali dan mengulang kesalahanmu. Belajarlah dengan benar agar kamu siap mengambil alih perusahaan.” Titahnya.
Viona mendongak, menatap mamanya dengan raut terkejut.
“Ma, aku tidak bisa mengambil alih perusahaan.” Tolaknya.
Mama menatapnya dengan dingin dan itu mmebuat Viona menciut, “Kamu lupa dengan apa yang baru kamu tandatangani?”
Viona meredupkan pandangannya, dia mengangguk pelan.
“Aku akan berusaha keras.” lirihnya.
Mama mengangguk puas.
“Tidak usah fikirkan barang-barangmu, Wilona akan mengurusnya. Kamu fokuslah mempelajari materi.”
Usai mengatakan itu, Rachel Tan pergi dari ruang tamu. Dan sepeninggal sang mama, Viona melemaskan pundaknya yang tegang. Dia mendesah pelan. Hidup robotnya kini kembali dan tanpa syarat serta batasan.
...****************...
Begitu musik habis, lelaki itu berhenti. Dia terengah-engah sebentar lalu berjalan menuju tempat air minumnya berada.
Angkasa Nalucas langsung meneguk minumannya. Setelah menghabiskan satu botol, dia terduduk dengan tangan menopang tubuhnya di belakang.
“Latihan selama delapan jam tidak terasa lelah, kan?” tanya seorang perempuan menghampirinya.
Angkasa hanya berdecih, “Coba saja kau lakukan sendiri.” Ucapnya.
Tara tertawa, “Bangunlah, saatnya rapat membicarakan debutmu.” Ucapnya.
Angkasa yang tadi beraut lelah langsung bersemangat kembali.
“Kau serius?”
Tara meletakkan kedua tangannya di saku lalu menatap angkuh Angkasa, “Apakah manajer barumu ini tampak seperti pembohong?”
Angkasa jelas menggeleng, “Kau teman yang paling kupercayai.”
Tara tersenyum mendengarnya lalu berdecih sinis, “Dasar bocah.”
Angkasa tersenyum lalu menggendeng Tara, “Ayo rapat, bu manajer.” Ajaknya menarik Tara pergi.
...****************...
Viona sedang membereskan beberapa barang pribadinya yang akan dia bawa ke New York. Wilona memang sudah mengemas semua pakaiannya tapi Viona perlu mengepak beberapa barang lainnya.
Viona dengan tegar mulai memasukkannya ke dalam kardus. Barang-barang yang dia kepak adalah sebagian besar merupakan barang pemberian Alya semasa hidupnya. Viona mengambil sebuah bola kaca salju pemberian Alya untuk ulang tahunnya yang selalu jatuh di tanggal 1 Januari. Bola kaca itulah yang menemaninya melewati musim dingin saat dia berada di Wina saat kecil. Viona memang sempat tinggal di Wina, Austria menemani neneknya yang kini telah tiada.
Setelah bola kaca itu, Viona mengambil barang lain. Kali ini adalah sebuah tas selempang berwarna pink dengan animasi barbie di depannya. Diantaranya dengan Alya, Viona bisa dibilang sangat feminim. Dia menyukai hal-hal seperti barbie, masak-masakan dan apapun yang disukai anak gadis seusianya. Beda dengan Alya yang lebih tomboy dan terkesan kuat. Itu sebabnya Alya lebih bisa diandalkan karena kepribadiannya yang sama tangguhnya .
Setelah selesai mengepak semuanya ke dalam kardus lalu menutupnya dengan lakban, Viona mengambil ponselnya. Dia membuka kasing ponselnya dan mengeluarkan kartu sim miliknya. Setelah itu memasang kembali kasing ponselnya.
Kartu sim itu dia taruh di saku celana jeansnya.
Tok tok
Pintu diketuk setelah itu, Viona berjalan menuju pintu dan membukanya. Ada Sherly dihadapannya.
“Sudah siap?” tanyanya. Viona mengangguk.
“Ayo, Nyonya sudah menunggu di bawah.” Ajaknya.
Hari itu telah tiba rupanya.
Sherly lalu berjalan lebih dulu tapi tangannya tiba-tiba ditahan Viona hingga dia berhenti melangkah.
“Ada apa?” tanyanya berbalik menatap Viona.
Viona terdiam sesaat, cukup ragu mengatakannya. Tapi selain Sherly, dia tidak punya orang yang dia percayai lagi.
“Bantu aku menyimpan kardus yang ada di atas ranjang itu ke tempat penyimpanan.” Pintanya.
Sherly mengangkat satu alisnya, “Kenapa?”
“Alasan pribadi.” Jawab Viona seadanya.
“Kenapa tidak membawanya saja?”
Viona menggeleng, “Tidak perlu. Kau bantu aku menyimpan isi kardus itu ya. Jangan lupa kuncinya berikan padaku. Aku pasti akan membukanya suatu saat nanti.”
Sherly mengangguk, “Baiklah kalau begitu.”
“Ada lagi,” ujar Viona. “Jangan beritahu mama soal ini.”
Sherly mengangguk mengerti, “Tenang saja. Rahasiamu aman.” Senyumnya.
Viona ikut tersenyum, “Terima kasih, Sherly.”
...****************...
Viona kini sedang berada di bandara dengan Rachel dan Sherly. Mereka tidak akan mengantar Viona menuju rumah barunya selama beberapa tahun kedepan. Karena itu, Rachel berbicara serius dengan putrinya.
“Ingat, Vio, belajarlah yang rajin. Jangan fikirkan apapun kecuali pelajaranmu. Mama akan menjengukmu setiap musim panas jadi kamu tidak perlu pulang ke Indonesia.”
Viona mengangguk, “Baik, ma.”
“Nanti ada seorang wanita bernama Susan yang akan melayanimu dan menemani selama disana. Katakan bila ada sesuatu yang kamu butuhkan padanya, kau mengerti?” viona kembali mengangguk.
“Baguslah. Sekarang, ponselmu.” Sesuai dugaan Viona, Rachel akan meminta ponselnya.
Viona menyerahkan ponselnya tanpa ragu, Rachel langsung menyerahkannya pada Sherly.
“Jangan fikirkan soal teman-temanmu disini. Fokuslah belajar, jadi mama harap mama tidak mendengar hal aneh-aneh selama kamu bersekolah.”
Viona mengangguk.
Kemudian terdengar suara pengumuman bahwa pesawat jurusan Jakarta-New York yang akan dinaiki Viona segera berangkat.
“Aku pergi dulu, sampai jumpa.” Pamit Viona sopan.
Rachel hanya mengangguk tanpa memeluknya, “Susan akan mengabari mama bila kamu sampai. Dan mintalah ponsel yang baru padanya nanti.”
“Sampai jumpa, Viona.” Timpal Sherly melambaikan tangannya.
“Sampai jumpa.” Balas Viona.
Viona akhirnya berjalan pergi meninggalkan Rachel dan Sherly yang menatap kepergiannya. Kali ini langkah Viona lebih tegas dari sebelumnya. Perempuan itu tak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi seperti 4 tahun lalu.
Karena baginya, ini adalah langkah penebusan dosanya dan caranya berkabung atas kepergian Alya. Serta ini adalah tanda terimakasihnya untuk pengorbanan Alya.
Kak Alya, izinkan aku mengambil alih beban mahkota dikepalamu. Aku akan berusaha semampuku untuk membalas jasamu atasku. Meski aku harus kehilangan mimpiku, karena bagiku kamu tetap segalanya. Batin Viona.