
Viona menemui Angkasa di studio lelaki itu. Begitu kakinya melangkah masuk, yang pertama dia lihat adalah Angkasa sedang memangku gitarnya di tengah ruangan. Jari jemarinya memetik ringan senar gitar, menyenandungkan lirik secara asal.
"Ase?" panggil Viona.
Angkasa mendongak, lelaki itu tak bisa menutupi keterkejutannya melihat Viona berdiri disana.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya lelaki itu. "Bukankah seharusnya kamu libur?"
Viona duduk di seberang Angkasa, lantas menggeleng. "Aku tidak mengambil jatah cuti." jawabnya.
"Kenapa? Seharusnya kalian bulan madu, kan?" tanyanya cepat.
"Kak Panji lagi sibuk banget. Kalau kami bulan madu maka pekerjaannya akan terbengkalai." jawab Viona.
Angkasa menganggukan kepalanya. Lelaki itu mulai memetik kembali gitarnya.
"Kudengar kamu semalam mabuk, kenapa?"
"Apa lagi, cuma pengen minum."
"Selain ngerokok, kamu juga suka mabuk-mabukkan ya."
"Kapan aku merokok?" tanya Angkasa.
"Saat kamu SMP. Saat kita di warung kopi itu, kamu kan lagi ngerokok."
"Ah, maksudmu saat kita ciuman?" goda Angkasa.
"Bukan itu!" sela Viona cepat.
Angkasa terkekeh, "Saya pikir kamu lupa dengan pertemuan pertama kita."
"Aku tidak lupa hanya tidak ingin mengungkitnya lagi." kilah Viona.
"Loh tadi kan ngomongin---"
"Ah, sudah lupakan saja." tandas Viona.
Kemudian pembicaraan mereka terjeda, situasi hening mulai menyergap mereka berdua. Angkasa yang tidak tahu harus berbicara apa lagi memilih fokus memainkan gitarnya.
"Kamu masih ada waktu sepuluh menit sebelum kita berangkat, nyanyikan satu lagu." pinta Viona.
"Lagu apa?"
"Apa saja."
Angkasa mulai memetik gitarnya, alunan lembut menguar memecah kesunyian yang rapat akan kecanggungan dari dua manusia. Nada demi nada menyusun sebuah musik yang isinya penuh penghayatan.
Maybe its the way you say my name
Mungkin memang sudah begitu caramu menyebut namaku
Maybe its the way you play your game
Mungkin memang sudah begitu caramu mempermainkanku
But it's so good, I've never known anybody like you
Tapi itu sangat menyenangkan, aku tidak pernah kenal orang sepertimu
But it's so good, I've never dreamed of nobody like you
Tapi itu sangat menyenangkan, aku tidak pernah membayangkan (bertemu dengan) orang sepertimu
[Pre-Chorus:]
And I've hear of a love that comes once in a lifetime
Dan kudengar-dengar cinta (sejati) hanya datang sekali seumur hidup
And I'm pretty sure that you are that love of mine
'Cause I'm in a field of Dandelions
Karena hatiku berbunga-bunga
Wishing on every one that you'll be mine, mine
Berkata kepada semua orang bahwa kau akan menjadi milikku
And I see forever in your eyes
Dan aku melihat keabadian di matamu
I feel okay when I see you smile, smile
Aku merasa senang ketika melihatmu tersenyum
Wishing on dandelions all of time
Memohon kepada bunga dandelion sepanjang waktu
Praying to God that one day you'll be mine
Berdoa pada Tuhan agar suatu hari nanti kau menjadi milikku
Wishing on dandelions all of the time, all of the time
Memohon kepada bunga dandelion sepanjang waktu
-Ruth B - Dandelions
Lagu Dandelions adalah representasi dari hati Angkasa sendiri untuk Viona. Layaknya dandelion yang melambangkan cinta sederhana dan juga cinta yang murni. Cintanya adalah perasaan sederhana yang tumbuh mengikuti arus kemana hatinya berlabuh. Viona yang nampak rapuh dimatanya namun tetap memiliki semangat hidup mengingatkannya pada dandelion yang meski dianggap gulma namun tetap mampu tumbuh dan mekar dimana saja. Dan dandelion layaknya perasaan Angkasa pada gadis itu.
Tut
Saat sedang asik menyelami lagu yang dinyanyikan Angkasa, keduanya terkejut dengan suara kentut yang begitu keras. Mereka berdua menoleh dan mendapati Boby dengan penampilan kusut memegangi bokongnya. Ekspresi lelaki itu nampak kesakitan.
"Sorry bos, sorry mbak Vi. Aku mules, gak kuat nahan. Aku ke toilet dulu. Kalian pergi duluan aja ya." dengan panik Boby berlari ke kamar mandi studio untuk ke sekian kalinya.
"Dia kenapa?" tanya Viona.
"Diare, kebanyakan makan." jawab Angkasa.
Viona mengangguk-anggukan kepalanya.
***
Angkasa dan Viona berjalan menuju parkiran mobil. Mereka menggunakan mobil pribadi Angkasa untuk menuju ke tempat pembacaan naskah pertama.
"Ngapain?" tanya Angkasa saat melihat Viona hendak duduk di kursi pengemudi.
"Nyetir." jawabnya.
"Gak boleh." larang Angkasa.
"Lah kenapa?"
"Karena saya masih sayang nyawa. Turun."
Viona keluar dari mobil dengan cemberut, "Lantas, siapa yang mengemudi?"
"Saya." jawab Angkasa santai.
"Gak boleh, kamu baru aja mabuk. Gimana kalau kehilangan kesadaran terus kecelakaan!" seru Viona panik.
Angkasa berdecak, dia menyentil dahi Viona, Tuk
"Berisik. Minggir." usir Angkasa menggeser Viona dengan tak santai.