
Angkasa membaringkan Viona di atas ranjang usai menggendongnya sejauh lima puluh meter dari dermaga menuju vila penginapan mereka.
"Istirahatlah, jangan kemana-mana. Boby akan mengantarkanmu makan malam nanti."ucap lelaki itu hendak berlalu keluar kamar.
Viona menahan salah satu tangannya, membuat lelaki itu menoleh. "Ada apa?" tanya Angkasa.
Viona mencoba duduk, "Terima kasih, Ase.Tapi aku khawatir dengan kejadian tadi membuat citramu buruk." Viona mengutarakan isi pikirannya.
"Tidak akan. Lagipula kamu manajer saya. Sudah sepantasnya saya juga menjagamu terlebih kamu istri Panji,atasan saya sendiri."
"Tapi seharusnya kamu tidak perlu menggendongku seperti tadi." tukas Viona.
""Kalau saya tidak menggendongmu, lantas haruskah saya menyeret tubuhmu kesini?"
"Bukan seperti itu."
Angkasa mendesah, "Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Anggap saja aku hanya berempati padamu sebagai sesama manusia. Istirahatlah." Kemudian Angkasa pamit pergi.
Setelah hanya tersisa dirinya, Viona mendesah panjang. Memikirkan apa yang akan orang-orang katakan terkait kejadian dirinya tadi.
***
Di malam harinya, Viona sedang mengambil makan malam di kafetaria. Perempuan itu mengantri di parasmanan yang sudah disediakan. Sebetulnya Boby sudah menawarkan diri untuk mengambilkan makanannya namun Vionna sungkan karena sudah banyak merepotkan.
"Iya, katanya sih manajer tapi kok sikapnya kayak perempuan gatel ya?"
"Pura-pura lemah biar Ase perhatian."
"Jauh dari suami jadi cari belaian lain."
Viona terdiam mendengar banyak bisik-bisikan dari perempuan lain membicarakannya. Perempuan itu sudah menduga bahwa dia akan dijadikan gosip hangat oleh mereka yang kurang kerjaan.
Memilih tak memedulikan, Viona langsung berjalan keluar kafetaria sesuai mengambil makanannya. Dia enggan makan disana dan membiarkan kupingnya panas.
Viona berjalan menuju lantai atas di bangunan lain,yaitu rooftop. Dia memilh menjauh dari keramaian. Namun begitu sudah disana, perempuan itu terkejut mendapati dia tidak sendirian disana. Ada Angkasa yang sedang berdiri bersandar pada pagar balkon menikmati pemandangan laut malam yang nampak magis di matanya. Cahaya bulan memantul pada permukaan air menggoreskan semburat putih dilautan warna hitam. Di tangannya sekaleng soda yang tutupnya sudah dibuka. Lelaki itu hanya diam, tak mengucapkan sepatah katapun.
"Ase." panggil Viona mendekat.
Angkasa menoleh, terkejut mendapati Viona datang membawa senampan makanan.
"Kenapa makan disini?" tanya Angkasa.
"Mejanya udah penuh." bohong Viona. "Kamu sendiri sedang apa disini? Boby bilang kamu belum makan." tanya Viona mengalihkan pembicaraan.
"Tidak apa-apa, hanya sedang tidak ingin." jawab Angkasa.
"Tidak boleh begitu, makan itu sangat penting bagi tubuh kita. Kalau kamu tidak makan, maka tubuhmu dapat tenaga darimana?" omel Viona.
Perempuan itu duduk di sebuah meja kayu. "Angkasa, kemarilah." panggil Viona.
Angkasa mendekat, dia ikut duduk di kursi kayu.
"Makanlah." Viona menyerahkan sebuah garpu pada tangan lelaki itu.
"Tidak." tolak Angkasa hendak meletakkan kembali garpunya.
Viona melotot, "Makan Ase." tekan perempuan itu tidak terbantahkan.
Angkasa mneghela nafas, dia pun menusukkan garpu pada kentang goreng lalu menyuapkan ke mulutnya.
"Nah begitu dong." ujar Viona senang.
Mereka pun makan berdua dalam diam. Tak berapa lama, makanan sudah habis. Angkasa meminum hingga tandas soda miliknya. Dia tiba-tiba bersendawa. Viona meliriknya sembari menahan tawa.
"Saya kebanyakan gas bukannya kenyang." kilah Angkasa malu karena tadi sendawa.
"Benarkah? Tapi iya sih, makanannya dibagi dua wajar tidak kenyang."
"Kau masih lapar? Maaf makananmu malah dibagi dua." ucap Angkasa tidak enak.
Viona menggeleng sembari tersenyum, "Aku tidak biasa makan banyak. Itu sudah lebih dari cukup."
Keheningan pun mulai menyeruak masuk di antara mereka.
"Apa kamu kesini karena disana mereka menggosipkanmu?" tanya Angkasa memecah keheningan.
Viona mengangguk pelan.
"Tidak usah dipedulikan. Mereka hanya sekelompok orang kurang kerjaan."
"Tapi tetap saja rasanya agak tidak nyaman." aku Viona.
"Kalau kau terjun ke dalam industri ini, kamu memang harus siap-siap menjadi perhatian. Mereka akan mengulik kehidupanmu, mencari bagian dimana mereka bisa menjadikan berita. Itu sudah biasa."
"Sekalipun aku bukan seorang artis?"
"Semua orang bahkan staf yang notabene seorang biasa juga pasti bisa menjadi bahan pembicaraan. Contohnya Tara. Dia cuma staf tapi skandal kencannya sama gitaris band itu membuat dia banyak dikirimi telur busuk di suatu pagi. Saya ingat, dia sampai tidak masuk kantor tiga hari berturut-turut karena para fans pacar gitarisnya itu." cerita Angkasa.
"Separah itu kah?" tanya Viona terkejut.
Angkasa mengangguk, "Bahkan mungkin ada yang lebih parah. Saya yakin."
"Intinya jangan dipedulikan. Kamu hanya perlu mengacuhkannya. Klarifikasi yang menurutmu tidak benar tapi jangan berlebihan. Karena percepatan berita di industri ini cepat, jadi tak lama lagi beritamu juga basi."
"Baiklah, Ase. Terimakasih atas saranmu." ucap Viona tersenyum.
Angkasa mengangguk, lelaki itu juga ikut menyinggungkan senyumnya. Perempuan itu terkejut.
"Kamu ternyata bisa senyum juga." ucapnya.
Angkasa mengerutkan keningnya, "Apa saya tidak bisa senyum?"
"Bukan, ini kali pertama aku melihat kamu tersenyum. Biasanya kamu selalu menempelkan wajah datar." jujur Viona.
Mendengarnya, Angkasa lekas mendatarkan wajahnya. Namun tangan Viona lansung menahan sudut bibir lelaki itu.
"Terus tersenyum." Viona menelisik raut wajah Angkasa dengan senyum di matanya, "Karena kalau dilihat-lihat kamu lebih tampan saat tersenyum."
Mendengar perkataan itu, jantung Angkasa jadi lebih berdetak kencang.
***
Usai syuting di pulau selesai, mereka kembali ke Jakarta. Boby, Angkasa dan Viona menyempatkan diri untuk makan siang di salah satu rrestoran sebelum kembali ke kantor.
"Ramai banget." komentar Boby. Suasanana restoran siang ini ramai pengunjung.
"Kita di atas aja." usul Angkasa. Biasanya lantai atas tidak terlalu ramai. Karena memang diperuntukkan untuk pelanggan VIP saja.
Mereka bertiga pun menaiki tangga menuju lantai atas. Suasanya cukup tenang diatas sini.
"Makan apa?" tanya Angkasa.
Mereka membaca menu yang tertera, lalu memangggil pelayan.
"Nasi goreng domba 1, ayam bakar 1, dan gurame goreng 1, minumannya jus jeruk saja 3."ucap Viona menyebutkan.
Pelayan itu menulisnya lalu mengangguk, "Baik, silakan ditunggu sebentar."
"Tidak terasa ya, bos syuting sudah dua minggu, tinggal dua minggu lagi dan selesai." celetuk Boby.
"Setiap harinya sangat melelahkan. Padahal hanya sebuah film, bagaimana nanti jika drama yang berepisode?" timpal Angkasa.
"Kamu berencana main drama juga?" tanya Viona.
Angkasa menganggguk, "Tapi belum dipikirkan sih. Cuma pengen menjajal saja dulu."
"Lalu adakah proyek yang sedang kamu pertimbangkan saat ini?"
"Bos tertarik untuk bermain drama mafia." jawab Boby.
"Drama mafia?"
Angkasa mengangguk, "Saya pengen rasain jadi penjahat gimana."
"Bukannya memang sudah jahat dari dulu ya." gumam Viona.
"Apa Vi?" tanya Angkasa tidak mendengar.
Viona terkejut, dia kira suaranya sudah kecil. Buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Tidak-tidak, tidak. Eh ayo makan, itu sudah sampai." Viona mengalihkan pembicaraan.
Sesuai ucapan Viona, pelayan datang membawa makanan. Mereka pun makan siang dengan tenang.
"Aku ke toilet dulu." di tengah makan siang, Viona pamit ke toilet. Dia tiba-tiba ingin buang air kecil.
Namun saat di perjalanan menuju lantai atas,dirinya terkejut mendapati Panji sedang makan siang di tempat yang sama. Namun bersama seorang perempuan. Belum pulih dari rasa keterkejutannya, Panji dann perempuan itu berdiri. Mereka sepertinya sudah selesai makan. Tanpa kata, Viona mengikuti mereka.
Mereka berdua berjalan menuju parkiran sembari bergandengan tangan membuat hati Viona teriris. Panji lalu membukakan pintu mobil dan perempuan itu masuk ke dalam sembari tersenyum. Jelas Viona tidak tahu siapa perempuan itu.
Menyadari mereka akan pergi, Viona kalang kabut mencari taksi. Beruntung sebuah taksi melintas, Viona langsung menghentikannya.
"Pak, ikuti mobil silver itu." ucap Viona pada supir taksi.
Viona pun membuntuti mereka. Dan sekitar tiga puluh menit berkendara, mobil Panji sampai di sebuah hotel mewah. Mereka berdua masuk ke dalam hotel. Viona menyerahkan uangnya.
"Kembaliaannya buat bapak saja." ucap Viona buru-buru turun dari taksi.
Viona berjalan pelan dibelakang mereka yang sedang berdiri di resepsionis. Entah apa yang akan mereka lakukan. Tapi Viona harap tidak seperti apa yang dipikirkannya.
Panji dan perempuan itu lalu berjalan masuk ke lift setelah menerima sesuatu yang Viona duga adalah sebuah kartu akses menuju kamar.
Viona mengecek ke lantai berapa mereka pergi setelah itu berlari menuju tangga darurat. Mereka menuju lantai lima.
Usai sampai di lantai lima, Viona bersembunyi di balik dinding koridor dan menyaksikan Panji dan perempuan itu keluar dari lift. Dan pemandangan selanjutnya membuat dinding pertahanan Viona runtuh. Perempuan itu menutup mulutnya menyaksikan betapa agresifnya Panji mencium perempuan asing itu di koridor bahkan sebelum mereka sampai di dalam kamar.
Mereka asyik berciuman dengan merapatkan diri ke dinding setelah itu lengan perempuan itu ditarik oleh Panji ke sebuah kamar.
Lutut Viona lemas, dia terduduk di lantai hotel yang dingin. Air matanya terjatuh. Kalau benar seperti dugaannya bahwa Panji memang telah berselingkuh dibelakangnya.