
Angkasa tertunduk sedih di kursi taman. Semilir angin lembut dari rooftop gedung pencakar langit tak memberinya sedikitpun kesejukan. Nyatanya baik hati dan kepalanya sudah mengepul panas sejak tadi.
Tara datang menghampiri lelaki berambut gondrong itu sambil membawa dua kaleng soda.
“Nih.” Ucapnya menyerahkan satu kaleng pada Angkasa.
Angkasa menggeleng tidak mau maka Tara menjejalkannya langsung ke tangannya.
“Jangan pura-pura tidak mau.” komentarnya setelah itu duduk disamping Angkasa.
Tara membuka kaleng sodanya setelah itu menunjukkannya pada Angkasa, bermaksud mengajaknya bersulang. Angkasa pun dengan malas mengadukan kalengnya ke kaleng soda. Setelah bersulang, mereka meminum masing-masing seteguk.
“Kali ini alasan penundaannya apa?” tanya Angkasa.
Tara menghela nafas, “Pak Panji sedang berada di New York untuk dua bulan ini. Dan beliau ingin menghadiri acara debutmu secara langsung.”
Angkasa mengernyitkan dahinya, “Dia bisa melihatnya dengan virtual.”
“Baginya, kau adalah calon aset terbesar agensi. Sejak foto dan video pradebutmu terungkap, kau sudah mengantungi puluhan juta pengikut di sosial mediamu. Ada lebih dari delapan puluh juta penggemar yang tersebar di seluruh dunia menunggu debutmu. Pak Panji menyadari potensimu jadi beliau tak ingin mendebutkanmu dengan asal-asalan. Semuanya harus dalam pengawasannya.” Jelas Tara.
Angkasa menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi, “Entah aku harus bahagia mendengarnya atau tidak.”
Tara mendesah pelan, dia menumpukan tangannya ke pundak Angkasa.
“Bersabarlah dua bulan lagi. Setelah dua bulan itu terlewati, kau akan sepenuhnya menggapai mimpimu. Hanya perlu sedikit menunggu dan kau akan berjalan ke puncak dengan sendirinya.”
...****************...
Viona berjalan melintasi halaman New York Business School yang kini penuh dedaunan kering berwarna-warni yang gugur tertiup angin musim gugur.
“Hai, Vi.” Sapa teman-temannya. Viona tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya.
“Hi, Vi. Wanna drink?” ajak seorang gadis berambut pirang menghadang jalannya.
Viona langsung menggeleng, “I have work tonight.”
“Why? What else is the Smelly Thoby telling you to do?” tanyanya.
Viona tersenyum skeptis, “He asked me to make a paper as big as a pillow.”
Perempuan berambut pirang itu mendengus, “He is so cruel, Mud Thobies.” Umpatnya kesal.
Viona terkekeh, dia menepuk pundak temannya. “Bye, Elena.”
“Bye, Vi.” Balasnya.
Viona berjalan menuju apartementnya. Setelah sampai di apartementnya yang nyaman dan minimalis, gadis itu langsung duduk di kursi belajarnya dan membuka laptop.
Ting
Viona langsung tersenyum senang ketika dia mendapat pesan email baru.
Kepada : Anneth.Tan@gmail.com
Dari : Yoo1234@gmail.com
Subjek : Re: I know you can!
Kurasa kamu benar. Aku sudah menasihatimu agar kau bersikap santai dengan hidupmu dengan begitu kamu akan lebih bisa menerimanya. Aku juga melakukan hal yang sama dengan hidupku. Rasanya semua masalahku sudah hilang. Meski debutku kembali ditunda.
Oh ya, ada sebuah lagu yang ingin kubagikan denganmu. Tapi shut, jangan bilang-bilang ya. Ini adalah rahasia yang tidak boleh sampai diketahui orang lain. Kecuali dirimu.
Aku akan mengirimkannya padamu. Dengarkanlah dan beri pendapatmu ya.
Viona langsung memutar lagu yang dikirim teman onlinenya itu. Suara alunan musik yang menenangkan langsung mengisi telinga Viona. Viona seketika menutup matanya.
Baby, I wanna cry
You leave me without word
Viona terus mendengarkannya hingga agu itu habis terputar. Rasa hangat memenuhi hatinya.
Viona mulai mengetik balasan email.
Kepada : Yoo1234@gmail.com
Dari : Anneth.Tan@gmail.com
Subjek : Wonderful!
Tapi aku yakin, bila kamu sabar menunggu , kamu pasti akan bersinar di atas panggungmu sendiri. Jadi jangan patah semangat dan terus berlatihlah. Jangan kecewakan para penggemarmu yang sudah menantimu debut. Ingat lho, aku adalah penggemar nomor satu untukmu!
Aku sudah mendengarkan lagunya dan lagunya benar-benar luar biasa. Aku tidak tahu siapa penyanyinya tapi kuyakin bahwa dia adalah seseorang yang luar biasa yang memiliki suara paling merdu yang pernah kudengar. Bolehkah ini menjadi lagu favoritku mulai sekarang? Aku akan mendengarkannya setiap hari
Tapi ada satu pertanyaan yang terlintas, mungkinkah ini adalah lagumu?
Send
Viona merasa senang sudah mengirim balasan untuk Yoo. Kalian mungkin masih bingung, siapakah Yoo sebenarnya? Bagaimana bisa Viona berteman dengannya dan saling mengirim email?
Awal hubungan mereka dimulai satu bulan yang lalu ketika Viona tak sengaja menemukan sebuah grup di salah satu aplikasi pertemanan yang direkomendasikan Tara padanya. kata sahabatnya itu, rata-rata pengguna aplikasinya adalah orang yang memiliki masalah dalam hidupnya. Mereka saling memberi dukungan dan berbagi cerita. Tertarik, Viona mulai menggunakannya.
Dan disanalah dia bertemu Yoo. Saat itu dia membuat sebuah postingan singkat mengenai rasa muaknya atas kehidupan. Dan komentar pertama yang muncul datang dari akun anonim bernama Yoo. Yoo lah yang pertama kali mendukungnya alih-alih menasihatinya. Ketika Viona bilang dia tidak suka dengan kehidupannya, Yoo mendorongnya untk terus melampiaskan amarah dengan catatan bila kemarahannya sudah reda, Viona harus menjalani hidupnya kembali.
Setelah saling berbalas komentar, Yoo dan Viona dengan nama akunnya Anneth mulai saling berkomunikasi lewat pesan pribadi di akun masing-masing. Mereka ternyata memiliki banyak kemiripan. Mereka saling berbagi cerita sehari-hari. Yoo diketahui adalah seorang trainne di salah satu agensi di Indonesia yang tengah mempersiapkan debutnya. Tapi karena ada beberapa faktor, debutnya sudah tertunda selama satu tahun. Yoo menceritakan bahwa itu adalah masa-masa terendahnya dan tersulitnya ketika harapannya agar bisa berdiri di atas panggung harus tertunda.
Pertemanan mereka ternyata berlanjut menggunakan email karena Yoo mengatakan bahwa dia akan menguninstall aplikasi. Entah apa alasannya. Viona yang sudah terlanjur nyaman, meminta alamat email Yoo. Dan darisanalah mereka mulai saling mengirim dan berbalas email. Sejak saat itu Viona mulai hidup kembali. Yoo bagai oasenya ketika dia sudah muak dan lelah dengan hidupnya. Pada Yoo lah, dia mencurahkan segala perasaannya.
Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa Viona bisa semudah itu menceritakan semuanya pada seorang yang asing dan memiliki akun anonim bernama Yoo? Viona juga tidak tahu mengapa. Tapi satu alasan yang mungkin tepat adalah karena Yoo secara tidak langsung adalah teman dekatnya yang tak akan pernah dia temui di dunia nyata. Yoo tidak akan mungkin membocorkan rahasianya karena Yoo tidak tahu siapa dirinya.
Istilah yang tepat adalah—mereka hanyalah teman asing yang tanpa sungkan saling mendukung.
...****************...
Kepada : Yoo1234@gmail.com
Dari : Anneth.Tan@gmail.com
Subjek : Wonderful!
Tapi aku yakin, bila kamu sabar menunggu , kamu pasti akan bersinar di atas panggungmu sendiri. Jadi jangan patah semangat dan terus berlatihlah. Jangan kecewakan para penggemarmu yang sudah menantimu debut. Ingat lho, aku adalah penggemar nomor satu untukmu!
Aku sudah mendengarkan lagunya dan lagunya benar-benar luar biasa. Aku tidak tahu siapa penyanyinya tapi kuyakin bahwa dia adalah seseorang yang luar biasa yang memiliki suara paling merdu yang pernah kudengar. Bolehkah ini menjadi lagu favoritku mulai sekarang? Aku akan mendengarkannya setiap hari
Tapi ada satu pertanyaan yang terlintas, mungkinkah ini adalah lagumu?
Angkasa tersenyum membaca balasan dari teman onlinenya bernama Anneth itu. dia sedikit merutuki kecerobohannya karena tak sengaja membocorkan siapa dirinya. Angkasa mulai mengetik pesan balasan.
Kepada : Anneth.Tan@gmail.com
Dari : Yoo1234@gmail.com
Subjek : Re: Wondelful!
Itu bukan laguku. Entah kenapa tapi laguku belum dibuat sama sekali.lagu yang kau dengarkan adalah sebuah lagu dari seorang penyanyi yang tengah menanti belahan hatinya kembali.
Oh y, kau pernah merasakan sebuah cinta yang tiba-tiba datang kepadamu saat menatap seorang wanita dalam sekali pandang? Lagu itu menceritakan perasaan itu. singkatnya, dia tidak tahu apakah perasaannya pada sang wanita adalah perasaan cinta atau perasaan gila semata. Tapi pertemuan pertama mereka luar biasa. Dan dia ingin sekali bertemu dengan sang wanita dan memastikan bagaimana perasaannya sesungguhnya.
Angkasa menekan tombol kirim. Setelah terkirim, dia menutup laptop miliknya lalu bersandar ke kepala ranjang. Wajahnya terus menyunggingkan senyum.
“Entah kapan semesta akan mempertemukan dia dan sang wanita yang berhasil memikatnya dalam sekali pandang.”
...****************...
MASA KINI, 2022
“Hi, Vi. Long time no see!” pekik Tara heboh langsung memeluk erat sahabatnya yang sudah tak ditemuinya bertahun-tahun itu.
Viona membalasnya dengan sama eratnya. Dia senang akan kedatangan Tara menjenguknya.
Mereka lalu melepaskan pelukan.
“Mau teh?” tawar Viona.
Tara mengangguk, “Aku ingin merasakan teh khas Amerika.”
Viona tersenyum kecil, sambil menuangkan air panas ke teko kaca, dia berkata. “Sayangnya aku hanya punya teh melati.”
Tara mencebik di balik punggung Viona.
“Bagaimana pekerjaanmu bu manager?” tanya Viona sembari menaruh secangkir teh di meja.
“Cukup baik. Lagipula pekerjaanku hanya dua. memastikan artisku mendapatkan pekerjaan dan membereskan kekacauan yang mereka lakukan.” Jawab Tara santai sembari meminum teh.
“Terdengar sulit bagiku. Lagipula kau belum bisa mengurus dirimu sendiri, dan sekarang kau malah mengurus orang lain.” Timpal Viona.
"Uhuk.” Tara hampir menyemburkan tehnya tatkala mendengar ucapan Viona.
“Kau meremehkanku. Begini juga aku adalah manager senior. Aku sudah menjadi kepala tim 1 sekarang, bukan lagi manager seorang artis tapi beberapa artis.” Tandas Tara angkuh.
Viona tersenyum, “Aku senang karena kamu sukses, Tara.” Ucapnya.
“Namun omong-omong, wisudamu sebentar lagi. Kau akan tetap disini atau pulang?” tanya Tara serius.
Viona terdiam sebentar, “Pulang.” Jawabnya singkat.
“Ah, benar, aku hampir lupa. Kau adalah pewaris tahta Tan Group.” Ucap Tara.
Viona menyesap tehnya juga, “Aku dijodohkan oleh ibuku.” Ucapnya.
Byur
Kali ini Tara sungguh menyemburkan tehnya.
“Apa?” serunya kaget.
Namun Viona tetap pada pembawaannya yang tenang. “Kau masih ingat Kak Panji? pacar kakakku.”
“TENTU SAJA AKU TAHU. DIA DIREKTURKU SENDIRI.” Pekik Tara. “Kau dijodohkan dengannya?” tanyanya tak percaya.
Viona mengangguk pelan.
“Kenapa? Bukankah Pak Panji itu pacar kakakmu? Tak kusangka dia malah akan dinikahkan denganmu.”
Panji Gardana, Lelaki yang sedang mereka bicarakan adalah direktur agensi Sinc, tempat Tara bekerja sekaligus pacar almarhumah kakaknya. Panji juga kakak kelas Viona ketika SMP namun tak begitu dekat. Alya dan Panji sudah menjalin hubungan sejak SMP kelas 2, saat itu Viona masih duduk di bangku SD. Perbedaan usia antara dia dan Alya tak jauh, hanya selisih 3 tahun saja.
“Apa yang terjadi Vi?” tanya Tara.
“Aku melakukan pertemuan singkat dengan ibuku ketika dia menyempatkan berkunjung kesini dalam perjalanannya ke Paris. Dia bilang perusahaan akan bekerja sama dimana nanti para artis dari Sinc akan menyalurkan lagu-lagu mereka untuk didengar para fans mereka di seluruh dunia melalui platform yang akan diluncurkan Tan Group bernama Lavarel. Seperti yang kau tahu bahwa agensimu adalah salah satu agensi hiburan terkaya di Indonesia ini, kalian banyak menaungi penyanyi, aktor dan model terkenal jadi ibuku berfikir kerja sama ini akan sangat menguntungkan kedua belah pihak. Tapi syaratnya ya itu tadi, aku harus menikah dengan Kak Panji agar nilai kedua perusahaan semakin tinggi. Dan kalau pernikahan itu berhasil, peluncuran Lavarel juga berhasil dan para artis di agensi Sinc bisa terhubung dengan fansnya di seluruh dunia, maka Tan Group juga akan mendapatkan keuntungan yang besar. Ini berperan penting.” Jelas Viona panjang lebar.
Tara diam cukup lama, dia hampir tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Viona. Dia hanya menangkap intinya saja bahwa sahabatnya itu akan menikah dengan direktur perusahaannya.
“Dan kau setuju, Vi?” tanya Tara pada akhirnya setelah terus diam.
Viona mendesah pelan, “Kau tahu bahwa aku sudah tak bisa mengatakan tidak pada ibuku. Jadi yang bisa kulakukan hanyalah menerimanya.” Jawab Viona pelan.
Tara menghembuskan nafasnya, “Malang sekali jadi kamu, Viona. Kamu memang dikelilingi kekayaan yang luar biasa tapi tetap tak bisa membuatmu menjalani hidupmu dengan bebas.”
“Terakhir kali aku diberi kebebasan, aku membuat Alya tiada. Kufikir aku tidak bisa melakukan itu lagi. Kalau aku diberi kebebasan lagi, entah siapa yang nanti akan jai korbannya.” Kekeh Viona sarat kesedihan. Kepalanya menunduk dan bahunya terlihat lunglai.
Tara yang merasa kasihan langsung menghampiri sahabatnya dan memeluknya dengan erat. Viona menumpukan kepalanya pada pundak Tara, satu-satu sahabatnya yang dia miliki.
“Jangan sedih, Viona. Kau tidak sendirian dan tidak ada yang menyalahkanmu karena insiden itu. Jangan terus larut dalam rasa bersalahmu. Kau tidak salah. Kau tidak salah.” Hibur Tara. Berapa kali Tara terus menggumamkan kata “kau tidak salah” pada Viona agar gadis itu tahu bahwa insiden tragis itu memang bukan kesalahannya.
“Bahkan didunia ini, hanya kamu yang bisa mengerti aku, Tara.” Lirih Viona.
Viona, perempuan malang itu untungnya masih memiliki Tara, satu-satunya orang yang paling mengerti dirinya. Orang yang tak pernah menghakiminya karena kejadian itu dan orang yang setia berada disampingnya disaat dunia mulai menjauhinya karena dianggap telah membunuh kakaknya sendiri.
Setidaknya dalam hidupnya yang kacau ini, Viona masih bersyukur pada semesta karena telah menghadirkan Tara pada hidupnya yang kelam.