
"Kamu Yoo? tanya Viona.
"Bukan." jawab Angkasa.
"Kalau begitu kenapa kamu bisa mengetahui lagu ini?" tanya Viona lagi. Intro masih dimainkan.
"Tentu saja saya tahu. Ini lagu Torry Kelly, paper hearts." balas Angkasa.
Viona mematung. Jadi ini bukan lagu Yoo. Tapi kenapa sangat mirip.
"Dengarkan."
Remember the way you made me feel
Such young love but
Something ini me knew that it was real
Frozen in my head
Pictures I'm living through for now
Trying to remember all the good times
Our life was cutting through so loud
Memories are playing in my dull mind
I hate this part, paper hearts
And I'll hold a piece of yours
Don't think I would just forget about it
Hoping that you won't forget about it
Angkasa ikut bernyanyi. Suaranya alto sehingga terdengar lembut dan merdu di dengar. Viona larut dalam euforia nyanyian Angkasa.
"Terus kamu kenapa bertanya tadi familiar?"
"Saya melihat ekspresimu seperti tidak asing lagunya. Makanya saya bertanya, kamu famillar? lantas siapa Yoo? Kenapa bertanya saya Yoo?"
Viona menggeleng, "Tidak, lupakan saja." kilahnya.
"Sepertinya Yoo sangat spesial ya. Kamu menatap saya seakan saya orang paling dirindukan oleh kamu." kekeh Angkasa.
"Ayo pulang." ajak Viona. Dia enggan membicarakannya. Perempuan itu merutuki kebodohannya menyangka Angkasa adalah Yoo.
jepret
Angkasa dan Viona tersentak kaget ketika cahaya terang menyilaukan mata mereka. Angkasa menatap ke depan terlihat siluet lelaki sedang memegang kamera.
"Dia memotret kita?" tanya Viona panik. Dia jelas tahu bahwa cahaya itu adalah cahaya flash kamera.
"Iya. Dia bego banget biarin pake lampu flash." ejek Angkasa.
"Terus bagaimana? Apa dia reporter? paparazi? Dia akan menyebarkan foto kita?" tanya beruntun Viona. Angkasa lalu menyalakan lampu mobil. Sorot terang lampu itu membuat lelaki misterius itu kabur.
"Seharusnya kita tidak kelihatan karena kaca mobil ini akan gelap jika dilihat dari luar." jawab Angkasa. Dia yakin dengan ucapannya karena ini juga sudah larut malam. Cahayanya juga redup.
"Sebaiknya kita segera pulang." pinta Viona.
Setelah berkendara selama lima belas menit, Viona sampai di depan gedung apartemennya. Angkasa berhenti menatap Viona yang tengah melepas sealt belt.
"Jangan khawatir soal itu. Saya akan bertanya pada Tara untuk melacak orang itu." ucap Angkasa. Dia tahu bahwa VIona sedari tadi gelisah akibat kejadian tersebut.
Viona mengangguk sembari tersenyum seadanya.
"Terimakasih Ase. Hati-hati di jalan." pamitnya.
Viona keluar dari mobil dan langsung berjalan menuju gedung tempat tinggalnya.
Angkasa tersenyum tipis, "Viona, you hold my piece like paper hearts."
***
Keesokan paginya, Angkasa menghampiri Tara.
"Tara, gimana?" tanya lelaki itu tanpa basa-basi.
"Aman, dia dari media Daily. Udah selesai urusannya." jawab Tara.
Angkasa mengangguk lega. "Temanmu hampir kejang-kejang atas kejadian ini."
"Lagipula kalian habis darimana sih? Pulang sampai larut malam gitu."
"Sedang bekerja tentu saja. Apalagi?"
"Kenapa Boby tidak ikut?"
"Dia mengalami jetlag parah."
Tara mengembuskan nafas pelan, "Ase, jangan ajak Viona ke tempat aneh-aneh ya." peringatnya.
"Apa aku membawa pengaruh buruk dengannya?" tanya Angkasa tidak terima.
"Bukan begitu." tukas Tara.
"Dia manajerku Tara. Dan dia wajib mengikuti kemanapun aku pergi." tegas Angkasa pergi dari ruangan Tara.
***
Di sisi lain, Viona tengah duduk berhadapan dengan Marianne, sang mama di rumah mewah besarnya. Perempuan itu memainkan jari-jarinya dengan gelisah. Pagi ini, Sherlyn menghubunginya dan memintanya datang ke rumah atas perintah sang mama. Viona memang sudah tak tinggal dengan Anne lagi semenjak pulang dari luar negeri. Ini permintaan Viona sendiri karena butuh ketenangan.
"Besok kamu akan segera melangsungkan pernikahan dengan Panji." ucap Marianne.
Deg
"Apa ma? Besok?" tanya Viona terkejut.
"Mama tidak suka mengulangi ucapan mama." tandas Anne.
Jari jemarinya yang tadi saling bertaut karena kegelisahan, kini saling mengepal erat di samping tubuhnya. Ingin Viona memberi bantahan namun apa daya, dia tak mampu melakukannya.
"Sekarang ke butik dengan Sherlyn. Pilih gaun yang kamu inginkan." titah Anne.
Viona menahan amarah yang menggumpal di dadanya hingga dadanya terasa sakit. Namun yang Viona bisa lakukan hanya
"Baik, ma."