I Love You To The Moon And Back

I Love You To The Moon And Back
BAB 6 - AKU ADALAH JURU KEMUDI HIDUPKU



Aku duduk menunduk di kursi. Didepanku mama masih tak bicara hanya terus menatapku dengan dingin. Aku sudah mengenalnya selama belasan tahun ini, dan tatapan menakutkan itu baru sekali kulihat.


Suasana hening mencekam ini terus berlanjut hingga tiga puluh menit kemudian. Kalau ada lomba paling lama diam, aku yakin mama akan menjadi pemenangnya.


Tiba-tiba dehaman mama terdengar, memecah kesunyian dan lamunanku. Jantungku berdetak lebih cepat hanya karena dehaman kecil itu.


“Mama memberimu waktu setengah jam untuk mengoreksi diri.”


Aku mendesah pelan, “Maaf, ma.” Lirihku.


“Mama tidak ingin maaf tapi ingin sebuah penjelasan.” Tukas mamaku.


Aku menggigit bibir bawahku. Aku tahu cepat atau lambat, mama akan mengetahuinya tapi aku tidak menduga akan secepat ini.


“Viona Felysia Tan, mama tidak punya waktu bermain-main denganmu. Jadi cepat katakan, apa tujuanmu sebenarnya membohongi mama?” tekannya.


“Aku...” aku menggantung ucapanku, rasanya terlalu sulit bagiku mengatakan yang sesungguhnya, “Aku suka menari dan aku diterima di salah satu akademi tari di New York.” Pungkasku cepat. Aku langsung menutup kedua mataku, tak ingin melihat sorot kemarahan di wajahnya.


“Tari? Kau sedang becanda dengan mama? Menari katamu? Hidupmu terlalu sia-sia bila harus dihabiskan dengan menari.” Tukas mamaku tajam.


“Ma, aku minta maaf telah mengecewakan mama.”


“Kamu jelas mengecewakan!” sentak mama. “Membohongi orang tua, lalu mengikuti kuliah ganda. Kau mencampuradukkan kewajiban dan akhirnya semuanya menjadi sia-sia. Kerja kerasmu selama ini sia-sia!” teriak mama.


Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat, kurasa sudah waktunya aku membela diriku sendiri.


“Aku suka menari dan bisnis bukan passionku. Aku tidak menyukainya dan tidak mau bekerja di bidang yang tidak kusukai.” Tukasku.


Mama melotot, “Kamu sudah mulai berani membalas perkataan mama?” sarkasnya.


“Aku minta maaf tapi aku benar-benar sudah lelah. Aku muak harus terus menjadi robotmu, diatur sedemikian rupa. Aku juga punya hati dan aku jelas punya mimpi. Aku ingin menentukan nasibku sendiri. Kuharap mama mau mengerti dan mendukungku.” Mohonku.


“Dengan menjadi penari?” skeptis mama. “Maka teruslah bermimpi hingga kamu menjadi lelah. Dan sampai kapanpun, mama tidak akan pernah mendukungmu.” Desis mama tegas.


Kurasa aku sudah mulai terbawa emosi, perasaan yang selalu kupendam rasanya ingin menerobos keluar. Memuntahkan segala yang kutahan. Segala kemuakkan pada aturan mama.


“Aku adalah juru kemudi hidupku. Tidak ada yang berhak memutuskan nasibku selain aku. Tak terkecuali mama. Aku sudah mengalah padamu, membiarkan mama mengendalikan hidupku. Tapi kini aku sudah memiliki mimpi, aku tahu ingin menjadi apa. Aku tidak perlu dukungan materiil darimu, yang penting adalah kau mendukung cita-citaku.” Ujarku tegas.


Mama berdecih, “Jangan harap.”


Aku mendesah pelan, lalu berlutut di depan mama. Mama menatapku sepintas lalu kembali memalingkan wajahnya.


“Aku mohon, ma. Izinkan aku menggapai mimpiku. Izinkan aku menjadi penari. Aku sangat suka menari.” Mohonku teramat.


Mama masih tak menjawab. Aku menyentuh lututnya.


“Ma...”


“Segera atur pengunduran diri kamu di Akademi Tari. Kalau kau tidak mau melakukannya, maka mama sendiri yang akan melakukannya.” Potong mama.


Aku menggeleng keras, “Ma, aku mohon. Aku tidak ingin keluar. Aku ingin berkuliah tari.” Pintaku menumpukkan kepalaku di atas kedua lututnya.


Mama masih bergeming, dan aku mulai kehilangan asa.


“Perusahaan Tan Group dibangun susah payah oleh mendiang papamu. Sebelum diambil alih oleh mama, keluarganya memperebutkan pemegang saham terbesar di perusahaan, tak mempedulikan bahwa papamu masih memiliki kamu dan Alya yang jelas lebih berhak mendapatkan perusahaan dan asetnya. Mama berseteru dengan mereka, berusaha mempertahankan apa yang harus kami wariskan pada kalian. Di dalam perjalanan itu, mama mulai ditinggalkan satu persatu, di masa penuh kesendirian itu, mama hanya ditemani olehmu dan kakakmu. Berusaha mencari alasan kenapa mama harus melakukan ini semua. Dan setelah perusahaan ini berhasil mama ambil alih, kamu sebagai ahli warisnya mau membuangnya begitu saja? Membuang hasil jerih payah papa dan mama?” tutur mama menatapku.


Air mataku menitik.


Mama memalingkan wajahnya kembali, “Kamu sudah besar dan mama tahu jelas, kamu memiliki hak mengatur hidupmu. Tapi mama tak ingin kamu menderita karena keputusan impulsifmu.”


Aku menghembuskan nafas pelan, “Aku tahu dan aku mengerti. Tapi ini bukan keputusan impulsif semata. Aku sungguh-sungguh ingin menjadi penari dan koreografer. Aku ingin menjalani bidang pekerjaan ini selamanya.”


“Sangat gegabah!” sentak Mama yang membuatku mengerut. “Intinya, selagi mama bicara baik-baik, segera urus pengunduran diri kamu.” Tegas mama.


Aku menggeleng, tetap tidak mau.


“Viona Tan.” Tekan Mama.


Meski rasanya udara di sekeliling berubah dingin mencekam, aku tetap tidak goyah. Aku harus mengejar apa yang kumau dan kusukai.


“Terserah mama ingin melakukan apa tapi aku tetap pada keputusanku.” Tegasku.


“Viona Tan!” teriak Mama.


Aku berdiri sebagai tanggapanku, menarik nafas dan menghembuskannya pelan-pelan. “Tidak peduli akan seperti apa nanti, tidak peduli apakah mama akan menghalangiku, tapi aku akan mengejar apa yang kumau. Aku ingin menjadi penari.” Ulangku kini dengan nada lebih mantap dan yakin.


“Sekarang kamu tidak patuh ya? Apa ini rasanya digigit anak yang dibesarkan sendiri sedari kecil?” sindirnya sarkas.


“Maaf ma.” Lirihku. “Sudah lama aku ingin mengatakan hal ini pada mama. Tapi aku terlalu takut sampai tadi. Dan saat ini, aku sudah memiliki keberanian.”


Mama tidak menjawab, aku yakin dia mungkin akan meledak sebentar lagi karena putri keduanya membangkang perintahnya.


Dan untuk mencegah itu, aku kembali berlutut, kini lebih dalam dan sungguh-sungguh.


“Aku mohon izinkan aku.” Mohonku memegang kakinya.


Mama meronta, mencoba melepaskan peganganku pada kakinya tapi aku tetap memegangnya dengan erat.


“Aku tidak akan melepas sebelum mama mengatakan iya.”


“Lepas!” teriak mama melepaskan kakinya dengan keras.


Maa mendesah kasar, “Tindakan rendahan hanya untuk menjadi penari? Sebuah pekerjaan yang hanya bisa kamu lakoni hingga usia tiga puluh-an?” decihnya.


“Aku yakin, aku akan sukses dalam waktu lama. Kumohon ma.” Mohonku terus memohon.


Mama menyentak kakinya kasar hingga pegangan tanganku pada kakinya terlepas.


“Lakukan apa yang kamu yakini itu. Susah mengajarimu yang sudah dibutakan impian impulsif semata. Biarkan kamu melihat sendiri!”


Usai mengatakan itu, mama langsung pergi dari kamarku dengan membanting pintu. Aku tersentak dan seketika mendesah.


Bab 7. Blue Night


Kufikir mama tidak akan membiarkanku belajar tari begitu saja. Kufikir beliau akan meledak emosi begitu aku mengajukan surat pengunduran diri dari sekolah bisnis agar lebih fokus menari. Tapi nyatanya, kemarahan itu tak pernah datang. Tak hanya itu, selama empat tahun ini, mama tak pernah sekalipun menghubungiku bahkan datang menjengukku. Kak Alya bilang, mama membebaskanku agar bisa diberi pelajaran.


Aku tidak mengerti apa maksudnya karena kuyakin jalan yang kupilih tak akan berbalik menjadi boomerang bagiku.


Tapi nyatanya, ucapan mama benar. Ketika suatu musibah datang yang membuatku menyesali keputusan impulsifku hingga menentang mama.


Aku baru saja pulang ke Indonesia bersama Kak Alya ketika aku mendapat undangan kompetisi menari untuk diiikutsertakan sebagai delegasi Indonesia di kancah internasional.


Namun saat menuju lokasi pertandingan, saat itu sedang turun hujan lebat.


“Kak ayo cepat, pertandingannya mau dimulai!” ucapku pada kakak perempuanku yang duduk di kursi pengemudi. Wajahku risau dan gugup.


“Ini tidak bisa lebih cepat lagi, hujan sedang turun dengan deras. Duduklah diam dengan tenang.” Tukas kakak perempuanku.


Aku tak bisa diam ketika hatiku tak tenang sama sekali. Wajahku sama gugupnya dengan kakakku. Karena hari ini aku memiliki pertandingan yang sangat bersejarah di hidupku.


“Berapa lama lagi?” tanyaku.


“Mungkin sekitar sepuluh menit bila aku mengebut lebih cepat.” Jawab kakakku.


Terasa mobil melaju lebih cepat dari sebelumnya. Aku bahkan harus berpegangan pada sabuk pengaman agar tidak terdorong kedepan. Seketika aku mulai was-was.


“Kak Alya, pelan-pelan saja.” Ucapku pelan.


“Jangan khawatir.” Balas kakakku santai. Yah, hobi sampingannya mungkin balapan.


Mobil terus melaju lebih kencang, tak peduli dengan guyuran air hujan yang tumpah ruah ke jalanan. Berbanding terbalik dengan ekspresi penuh ketegangan, kakakku malah beraut cukup tenang. Sedetik, aku mulai bisa percaya.


Hingga—


“Kak, awas!”


Brak


Kecelakaan itu terjadi hanya sedetik ketika aku merasa mobil kami terhantam keras dan terbalik. Suara dentuman besar amat menyiksa pendengaran dan otakku. Aku tak ingat apa-apa, selain wajah Kak Alya yang penuh dengan darah. Hanya itu yang kulihat sebelum mataku terpejam.


***


Hiks Hiks


“Alya!”


“Alya!”


Suara racauan dan tangisan itu membangunkanku. Aku meringis kala rasa pusing seakan menyengat otakku. Aku melihat sekeliling, semuanya serba putih. Aku mengangkat tangan kiriku, ada jarum infus tertancap di punggung tanganku.


“Kak Alya?” lirihku teringat dengan kakakku.


“Viona!” pekik Sherly yang baru tersadar aku sudah sadar.


“Sherly, dimana Kak Alya?” tanyaku lirih. Satu-satunya yang kuingin temui saat ini hanyalah Kak Alya.


“Istirahat saja dulu. Kau baru saja siuman.” Entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak.


“Katakan saja bagaimana keadaannya.” Pintaku.


Sherly terdiam, rautnya berubah sendu. Aku menyadari perubahan air mukanya.


“Sherly...” panggilku pelan.


Sherly mendesah, “Tuhan lebih sayang Alya.” Lirihnya tanpa menatap wajahku.


Deg


“A-apa?”


Sherly menarik nafasnya, matanya memerah. “Alya meninggal dunia.” Kini Alya terisak pelan. Dia menutup wajahnya dan tergugu.


Aku membeku. Rasanya darahku berhenti mengalir imbas dari ucapan Sherly. Aku tidak mampu berfikir apapun.


Sedetik kemudian, air mataku menetes.


“KAK ALYA!” Pekikku histeris.


Aku buru-buru melepas infusan di tanganku dengan paksa. Sherly berusaha menahanku agar tidak pergi tapi tenaga seolah telah terisi penuh, aku mampu menepis tangan Shery dan berlari keluar kamar, mencari kakakku.


Aku berlari sambil menangis, berlari kemana saja untuk bisa menemukan dimana kakakku berada. Kemudian di kelokan, aku mendengar tangisan mama. Aku berhenti, jantungku berdegup cepat. Kenapa mama menangis?


Aku berjalan pelan menuju mama yang terduduk di lantai rumah sakit yang dingin. Perempuan di ujung lima puluh itu terisak keras di depan ruangan ICU. Aku mengedar sekeliling, tak hanya mama, ada juga Om Jefrey, rekan bisnisnya dan Wilona, kepala pelayan di keluarga kami.


“Ma...” lirihku.


Mama mendongak menatap kedatanganku, dan mama langsung berdiri menerjangku.


“Lihat perbuatanmu! Gara-gara keegoisanmu, Alya tidak ada! Kau puas, Viona? Alya sudah tidak ada!” teriaknya emosi. Dia terus berteriak padaku sembari memegang bajuku.


Kurasakan Om Jefrey dan Wilona mencoba memisahkan kami tapi mama tak bergeming. Dia tetap memarahiku bahkan memakiku dengan amat histeris. Aku hanya diam, menerima semuanya. Air mataku terus berderai menatap pintu ruang ICU dengan tatapan nanar.


Tak lama, pintu itu dibuka. Mama langsung menoleh begitupun Om Jefrey dan Wilona. Kami langsung histeris begitu ranjang dorong berisi Alya yang telah ditutupi kain putih muncul.


“Alya, Alya.” Isak Mama langsung memeluk jenazah Alya. Aku juga menangis, memeluk kakakku dari samping lain.


Aku tidak tahu berapa lama kami menangisi jenazah Kak Alya. Semuanya begitu samar-samar dan kelabu bagiku.


Yang aku tahu, kebahagiaanku telah hilang bersama jiwa Kak Alya