I Love You To The Moon And Back

I Love You To The Moon And Back
Bab 14. SELAMI SAYA



"Selamat malam, Pak Fuadi." sapa Angkasa sopan.


Viona menatap terkejut kedatangan Angkasa, berbeda dengan Fuadi yang nampak senang dan tak menyangka akan bertemu dengan aktor terkenal.


"Ase! Senang bertemu denganmu! Selamat malam." pekik Fuadi girang. Kemudian terbatuk-batuk namun senyuman belum sirna dari wajah tuanya.


"Bapak kayaknya mabuk. Anda baik-baik saja?" tanya Angkasa.


"Ya, saya baik-baik saja. Mungkin agak pusing sedikit." jawab Fuadi sekadarnya.


"Omong-omong, Ase sedang apa kamu disini?"


"Saya sedang menghadiri acara perpisahan teman saya yang akan pergi ke luar negeri, Pak. Bapak sebaiknya pulang saja. Dikhawatirkan bapak akan jatuh sakit nanti." saran Angkasa.


"Ya saya sepertinya harus segera pulang. Kalau gitu sampai jumpa di lain waktu Ase, saya mengharapkan kerja sama luar biasa darimu." Fuadi menjabat tangan Angkasa.


"Baik pak, terimakasih atas kepercayaannya."


Fuadi lalu menatap Viona yang masih diam kaku di tempatnya.


"Nona manis, kita berbincang lain kali saja." ucapnya.


"Hati-hati di jalan, Pak." ucap Angkasa. Fuadi pun pergi.


Usai kepergiaan Fuadi, Viona menatap penuh pertanyaan pada Angkasa.


"Jadi maksudnya apa? Apa yang sedang kamu lakukan disini? Kerja sama apa?" tanya Viona beruntun.


Angkasa menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "Kau sendiri, sedang apa disini? Clubbing?" tanyanya balik.


"Tentu saja tidak! Aku mencoba menyelesaikam tugas yang kamu berikan." tukas Viona.


"Ah benar." Angkasa tiba-tiba tertawa.


"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Viona mengernyit.


"Nona Viona Felysia Tan, apa kamu bodoh apa sok bego?"


"Apa?!" seru Viona.


"Yang namanya pertemuan bisnis tentu saja harus dilaksanakan di tempat yang wajar dan pada waktu yang normal. Di kantor kek, di kafe kek bukan di klub malam! Bego kok dipelihara." ejek Angkasa.


Wajah Viona memerah antara menahan kesal dan rasa malu.


"Ini semua kan karena kamu!" tuntut Viona. "Jadi sebetulnya kamu sudah dapat peran di film itu kan? tugas itu cuma caramu mengerjaiku?" tanyanya.


Angkasa mengangguk santai.


"Kau gila!" pekik Viona kesal.


Viona berjalan pergi meninggalkan Angkasa. Namun baru beberapa langkah, tangannya ditahan Angkasa.


"Apa lagi? Lepaskan, belum cukup ya mengerjaiku?" sinis Viona,


Namun Angkasa mengabaikan ketusan itu. "Kau pulang denganku. Jangan membantah." lelaki itu lalu pergi lebih dulu.


Viona memandang punggung tegap Angkasa dengan penuh rasa kesal.


"Dasar brengsek. Sudah jahil, sok memerintah lagi!" umpatnya.


Namun tak ayal, Viona mengikuti langkah Angkasa.


Mereka berjalan menyusuri koridor klub yang temaram. Suara dentuman musik dan hingar bingar pengunjung yang berjoget masih terdengar. Namun lorong itu sepi dan hanya beberapa orang yang lalu lalang saja. Mereka berjalan sempoyongan karena pengaruh alkohol.


Viona kembali melamun sambil berjalan. Dia membayangkan hidupnya jikalau Alya masih ada. Mungkin saat ini dia berada di sanggar tarinya yang nyaman bukan di klub malam. Namun nasi sudah jadi bubur, nasibnya kini adalah kesalahannya dulu karena telah  menyebabkan kepergian Alya yang menyisakan banyak luka bagi orang yang menyayanginya. Dan sebagai penebusan dosanya, dialah yang harus mengambil alih beban mahkota Alya.


Bruk


Dahi Viona terantuk punggung tegap Angkasa ketika laki-laki itu berhenti berjalan.


"Kenapa berhenti mendadak sih?" tanya Viona meringis.


"Saya mau ke toilet dulu. Kamu jangan kemana-mana, tetap disini jangan bergeser satu senti pun. Jangan mengobrol dengan orang asing dan jangan menerima minuman apapun. Kalau ada yang menggodamu, tendang saja selangkangannya." pesan Angkasa penuh penuntutan.


"Kamu cuma mau ke toilet saja, tapi kenapa pesannya sepanjang itu?"


Tuk


Angkasa menyentil dahi Viona membuat gadis itu kembali meringis kesakitan.


"Kalau saya ngomong, jangan membantah. Mau jadi santapan cowok hidung belang disini?" Viona sontak menggeleng.


"Saya gak lama. Awas, jangan pergi kemana-mana." peringat Angkasa lagi.


"Iya-iya, dasar bawel." gumam Viona.


"Kamu ngatain saya lagi, saya sentil lagi, mau?" ancam Angkasa.


Viona menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan kasar dong. Iya gih mau ke toilet. Aku tunggu disini. Apa aku masuk aja?" tanyanya jahil.


"Boleh. Yuk." Angkasa menarik tangan Viona namun Viona langsung menepisnya.


"Becanda," cengirnya.


Kemudian Angkasa pun berlalu pergi ke toilet, menuntaskan hajatnya yang sempat tertahan.


Lima menit kemudian, Angkasa keluar dari toilet dan berjalan ke tempat Viona menunggu. Namun saat sampai, batang hidung Viona tak nampak sama sekali. Angkasa mulai cemas.


"Vi?" panggilnya.


Netra Angkasa menatap sekeliling namun keberadaan Viona tidak nampak sama sekali. Kekhawatirannya makin memuncak. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada perempuan polos itu?


Angkasa pun kembali melanjutkan langkahnya mencari Viona. Namun ketika sampai di koridor khusus ruangan VIP, dirinya malah mendapati segerombolan perempuan bergaun seksi.


"Eh itu Ase bukan sih? Kayak mirip,"


Bisik-bisik itu terdengar oleh Angkasa. Dia terkejut karena ada yang mengenalinya dengan penampilannya saat ini. Angkasa memang tengah memakai masker hitam dan pakaian yang serba hitam juga. Seharusnya dia tidak dikenali.


Panik, Angkasa segera kabur dari tempat itu.


Namun gerombolan perempuan itu mengejarnya.


"Ase! kamu Ase kan?" seru salah satu perempuan itu.


Angkasa tak menanggapi. Dia lalu melihat sebuah pintu. Tanpa berpikir, lelaki itu masuk dan langsung mengunci pintu.


Angkasa menempelkan telinganya ke daun pintu. Usai suara bisik-bisik perempuan itu sudah tak terdengar lagi, Angkasa baru bernafas lega.


"Ase."


"Ah!" pekik Angkasa terkejut.


Bagaimana tidak, usai lega karena berhasil kabur, kini Angkasa malah dikejutkan dengan suara halus yang bergema di telinga kanannya.


"Ase, kenapa teriak?" tanya si pemilik suara tersebut. Dan ternyata itu Viona.


"Vi!" serunya. Antara lega dan kesal.


"Apa? Kamu habis dikejar siapa, ngos-ngosan kayak gitu." tanya Viona.


"Kamu kemana aja? Saya udah bilang untuk gak kemana-mana, jangan bergeser satu senti pun! Kamu selaim bego juga pembangkang ya!" omel Angkasa.


"Kamu kenapa mengatai aku terus? Aku juga tidak bermaksud pergi kok! Tadi aku hampir digodai lelaki mabuk jadi karena ketakutan telah menendang selangkangannya aku kabur." jelas Viona. "Itu juga karena kamu yang lama di toilet!" lanjutnya menyalahkan.


"Saya cuma pergi lima menit. Dan asal kamu tahu, gara-gara kamu hilang, saya jadi dikejar gerombolan perempuan yang hampir mengenali penampilan saya!" seru Angkasa marah.


"Kenapa kamu jadi marah-marah sih?" sewot Viona.


"Kamu yang mulai!" seru Angkasa.


Viona membuang nafasnya kasar. Angkasa juga jadi diam.


"Ayo pergi. Lupakan masalah ini. Jangan katakan apapun pada Tara." kata Angkasa.


"Aku juga tidak berniat memberitahukan padanya."


Angkasa mendengus. Selain bego, suka membantah, perempuan dihadapannya ini juga kekanak-kanakkan.


"Ayo pergi. Lama disini membuatku merinding." ajak Viona.


Viona hendak pergi namun tangannya dicekal Angkasa.


"Apa lagi?" desah Viona.


"Karena udah disini, gimana kalau clubbing dulu?" tawarnya dengan tersenyum smirk.


Viona melotot, "Selain kasar, kamu juga gak waras!" umpatnya balik mengatai.


***


Namun Angkasa tetap mengantarnya pulang. Karena gadis itu belum memiliki SIM. Namun di tengah perjalanan, Angkasa berhenti di sebuah angkringan.


"Kenapa berhenti?" Tanya Viona.


Namun Angkasa tidak menjawab membuat Viona mendengus pelan. Lelaki itu lalu menelfon seseorang.


"Hmm, saya di deket pohon."


Kemudian, Angkasa menutup telfonnya. Dia lalu menatap Viona, "Saya lapar. Mau makan dulu." ucapnya.


"Oh." jawab Viona seadanya. Lalu gadis itu melepas sealt beltnya dan hendak membuka pintu mobil. Segera, Angkasa menahannya.


"Mau kemana?" tanya lelaki itu.


"Turun, katanya kamu lapar. Ayo makan." jawab Viona polos.


Angkasa berdecak, "Gak usah turun. Penjualnya akan mengantar sendiri." tukas Angkasa.


"Kok bisa?"


"Karena saya Angkasa." tandas lelaki itu,


Viona berdecak, "Selain kasar dan gak waras, kamu juga sombong ya." komentar Viona.


"Bukan sombong tapi saya cuma mengantisipasi adanya pemberitaan miring. Terlebih saya tengah malam diluar sama seorang perempuan tak dikenal."


"Apa hubungannya dengan angkringan ini?"


"Menurutmu? Sebagai publik figur, apakah kita hanya dipuja dengan prestasi kita saja? Ada banyak orang yang juga ingin menjatuhkan kita dengan skandal-skandal." papar Angkasa.


"Aku jadi penasaran, kenapa kamu ingin jadi artis, Ase?" tanya Viona.


"Karena saya Angkasa. Dan saya ingin menjadi angkasa yang ingin menghibur jiwa sedih manusia lain." jawab Angkasa.


"Hah?" beo Viona bingung.


Angkasa menatap Viona lamat-lamat, "Coba saja menyelami saya maka kamu akan temukan arti jawaban saya."


Viona terdiam. Entah kenapa jantungnya menjadi berdentum tak menentu. Tatapan dalam Angkasa seakan menghanyutkannya ke dalam pusaran riak air di netra coklat itu.


Tok tok


"Lihat ke arah samping kiri kamu dulu. Jangan berbalik sebelum saya bilang." titah Angkasa.


Angkasa memutuskan sesi pandang-pandang mereka. Dia membuka jendela mobil. Dan menerima pesanannya setelah itu menyerahkan uangnya. Jendela mobilpun ditutup kembali.


"Sekarang berbalik."


Viona kembali menatap ke depan, dia melihat sekantung gorengan yang uapnya masih mengepul dan dua cangkir plastik susu coklat panas.


"Minum, udaranya dingin." ujar Angkasa menyerahkan satu gelas pada Viona. Viona langsung menerimanya dan berterimakasih.


"Mau gorengan?" tawar Angkasa.


Viona menggelengkan kepalanya. "Terlalu berminyak." tolaknya.


Angkasa tak memusingkannya, dia asik menyuap potong demi potong gorengan itu ke mulutnya.


"Kamu kelihatan lahap, favoritmu ya?" tanya Viona memecah kesunyian.


"Lebih tepatnya, mencoba mengenang masa sulit sebelum debut. " jawab Angkasa menyesap susu coklatnya. "Waktu debut, saya hampir gak punya uang sepeserpun. Untuk makan ke warteg saja sulit dan gorengan menyelamatkan saya. Harganya yang cuma dua ribu dengan satu buah lontong menyelamatkan perut kelaparan saya."


"Loh bukannya saat trainee kamu dibiyayai oleh perusahaan?" tanya Viona tidak mengerti.


Angkasa menggeleng, "Saat debut, perusahaan belum jadi seperti sekarang. Pak Panji masih merintis dan ada banyak kesulitan yang terjadi. Saya udah bersyukur bisa debut."


Angkasa lalu menyalakan pemutar musik di mobilnya. Alunan instrumental yang dikenal Viona tiba-tiba terdengar.


"Loh ini?" seru Viona terkejut.


"Familiar?" tanya Angkasa tersenyum.


Viona menatap Angkasa penuh keterkejutan, "Ini lagu Yoo." lirihnya. "Kamu Yoo?" tanyanya menatap Angkasa.