I Love You To The Moon And Back

I Love You To The Moon And Back
BAB 19. DRAMA HUJAN



Usai pembacaan naskah, Viona meminta mampir ke sebuah TPU dimana makam Alya berada. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, langit sudah mulai gelap. Sepertinya hujan akan segera turun.


"Kamu tunggu saja disini, aku segera kembali." ucap Viona.


Angkasa menganggukkan kepalanya. Viona pun turun dari mobil.


Saat hendak sampai di makam Alya langkah Viona mendadak terhenti ketika mendapati Panji sedang berlutut di makam Alya. Lelaki itu tampak menebarkan banyak bunga di atas makam Alya membuatnya terlihat cantik bersamaan. Hati Viona tersentak, menyadari bahwa Panji masih begitu mencintai kakaknya.


***


Panji berdoa untuk Alya dan setelah itu menebarkan banyak bunga di makam kekasihnya tersebut. Matanya nampak sayu namun tersirat beban kesedihan di dalamnya.


"Halo Alya. Sudah lama aku tidak kemari. Apa kamu merindukanku? Kalau aku jangan ditanya, rasanya ingin menyusulmu saking kangennya." ucap Panji mulai berbicara.


"Aku dan VIona telah menikah. Maafkan aku karena tidak bisa menjaga janji kita berdua. Tapi Viona adalah adikmu kelak aku akan berusaha menjaganya dengan baik. Meski aku sudah menikah, aku tidak akan bisa melupakan cinta kita. Kuharap aku bisa bertemu denganmu di surga nanti. Tunggu aku."


Panji mengusap sudut matanya yang berair. Rasanya masih sama menyedihkannya saat dia mendapati kabar Alya telah tiada beberapa tahun silam.


Panji mengelus batu nisan Alya, "Sudah tujuh tahun kamu pergi dan aku masih mencintaimu dengan sama besarnya."


***


Melihat kejadian itu dan mendengarkan semuanya Viona merasa tubuhnya lemas. Dia menunduk, hatinya merasa sakit dan patah secara bersamaan. Rasa bersalahnya juga seakan naik ke permukaan. Dia sadar dia telah melakukan kesalahan besar. Merenggut kehidupan dari Alya membuat banyak orang kehilangan separuh senyumnya.


"Ternyata banyak yang mencintaimu sangat tulus, Kak." lirih Viona.


tes tes tes


Hujan tiba-tiba turun dengan deras, Viona belum sempat berteduh. Dilihatnya Panji berlari pergi sembari menghindari hujan. Makam Alya seketika juga basah.


Namun Viona rasanya sudah  tidak sanggup melangkah. Dia menutup mata merasakan air matanya yang meleleh. Biarlah dia menangis sembari hujan menyembunyikan tangisannya. Dia juga terluka.


Namun selang beberapa saat, Viona tidak lagi merasakan basah. Perempuan itu membuka matanya dan melilhat sebuah payung kuning melindunginya dari tetesan hujan.


"Kamu kira ini drama horor? Hujan-hujanan di tengah makam?" celetuk Angkasa tak habis pikir.


Viona mengusap matanya, "Aku hanya terbawa suasana." jawabnya.


Angkasa menghela napas, dia tahu bahwa Panji kesini dan tahu bahwa Viona menangis namun lelaki itu memilih tak membahasnya. Dia juga tak ingin ikut campur terhadap apa yang terjadi.


"Nyekarnya nanti saja. Hujan gede. Kita ke mobil. Alya juga pasti mengerti."kata Angkasa.


Viona menganggukkan kepalanya. Mereka pun melangkah bersama menembus hujan.


****


Viona sampai di rumah, perempuan itu langsung menuju kamarnya mengganti baju dan berpikir untuk menyiapkan makan malam. Dia sebenarnya tidak tahu kapan Panji pulang namun dengan harapan bahwa Panji akan menyukai masakannya, Viona merasa bersemangat.


Tapi baginya juga rasa ini salah. Dia tidak seharusnya mencintai pacar kakaknya sendiri. Terlebih lagi menikah dengannya. Namun Viona tak sanggup memungkiri debaran aneh didanya. Dia hanya berharap bahwa Panji dapat melupakan masa lalu dan melangkah menuju masa depan bersamanya.


Pemikiran yang mungkin terlalu muluk.


Kak Panji


Kakak, pulang jam berapa malam ini?"


Viona mengirimkan pesan itu pada Panji. Dia tersenyum sembari menata makananannya. Setelah selesai, Viona mengecek pesannya kembali namun tidak ada balasan apapun. Perempuan itu tetap berpikir positif mungkin Panji masih sibuk.


Jam sudah menunjukkan angka sebelas malam namun Panji belum pulang juga. Pesan yang dikirim Viona lima jam yang lalu pun belum dibaca sama sekali. Viona mendesah pelan, makanan yang sudah terhidang di meja bahkan sudah mendingin. Dia juga mulai mengantuk.


"Kapan Kak Panji sampai?" desahnya. Perempuan itu kembali membuka ruang percakapan dengan Panji namun pesannya masih sama belum terbaca.


Ceklek


Di tengah keputuasaan itu, pintu terbuka. Viona langsung berjalan menuju ruang depan, Panji sedang membuka sepatunya. Tas kerjanya sudah berada di atas sofa beserta dasi dan jasnya. Lelaki itu nampak lelah.


"Kenapa belum tidur?" tanya Panji.


"Aku sedang menunggu kakak. Apa kakak sangat sibuk sampai tak bisa membaca pesanku?"


"Aku sibuk banget, gak sempat liat ponsel." balas Panji.


Viona memakluminya, jadi dia tidak memperpanjang urusan. "Kalau begitu, apa kakak sudah makan malam? Aku abis---"


"Aku sudah makan bersama Angkasa tadi." potong Panji.


Senyum Viona seketika luntur. Dia sudah menyiapkan makan malam dengan susah payah dan berharap akan makan malam dengan Panji namun Angkasa menghancurkan harapannya begitu saja.


Dasar Angkasa menyebalkan, lihat saja aku akan membuat perhitungan denganmu besok! batin Viona kesal.


"Ada lagi yang ingin kamu bicarakan? Aku sedikit mabuk, mau mandi dulu."


"Kakak mabuk?" tanya Viona terkejut.


"Hanya setengah botol. Merayakan kemenangan Angkasa di acara musik." balas Angkasa.


Viona menganggukan kepalanya meski masih takk menerimanya, "Seharusnya jangan mabuk juga."


"Aku ke kamar dulu." ucap Angkasa berlalu.


Viona hanya bisa pasrah, dia menatap makanannya di atas meja. Makanan yang sudah dia siapkan dengan susah payah berakhir mendingin dengan sia-sia.


"Sudahlah, aku bisa menghangatkannya besok." desahnya. Perempuan itu lalu mengambil barang-barang Panji dan membawanya ke kamar.