I Love You To The Moon And Back

I Love You To The Moon And Back
BAB 10 - UNEXPECTED WEDDING



Tara berjalan menyusuri luasnya bandara demi menjemput Viona yang hari ini kembali ke Indonesia. Gadis itu menolak dijemput Sherly dan memilih meminta dirinya untuk menjemputnya di bandara. Tara sih jelas mau, terlebih dia sudah kangen berat dengan Viona. Sudah 6 bulan semenjak pertemuan mereka terakhir kalinya ketika Tara sengaja datang menjenguknya ke New York.


Tara berjalan lurus sembari menatap ponsel. Sebagai seorang kepala tim 1 yang menaungi penyanyi-penyanyi terkenal di agensinya, Tara memiliki banyak waktu sibuk dan jadwal yang padat. Dia tak henti-hentinya membaca banyak email masuk. Saking fokusnya, Tara tak sempat memerhatikan jalan yang dia lalui.


Bruk


“Aduh, maaf.” seru Tara terkejut. Dia tak sengaja menabrak bahu seseorang hingga orang itu mengaduh kesakitan. Ditambah orang itu entah kenapa membawa banyak dokumen penting di tangannya yang akhirnya berakhir berjatuhan di lantai.


Tara dan lelaki itu segera memunguti berkas yang berjatuhan.


“Aku minta maaf, benar-benar minta maaf ya.” Ucap Tara berkali-kali. Dia selesai membantu memunguti berkas yang berjatuhan karena ulahnya itu dan mengembalikkannya pada orang tersebut.


“Tidak apa, mbak. Tapi lain kali tolong perhatikan jalan ya. Ini tempat yang ramai, banyak orang yang sedang berlalu lalang. Jangan bermain ponsel saat sedang berjalan.” Ucap lelaki tersebut bijak.


Tara menganggukkan kepalanya. Dia masih tak enak perihal tadi. “Saya minta maaf ya mas. Saya sedang mengecek email pekerjaan yang baru masuk dan saking fokusnya, saya jadi tak memerhatikan jalan. Sekali lagi saya minta maaf ya.” Ujar Tara menunduk sopan.


“Tidak apa-apa, mbak. Astaga, saya hampir terlambat menjemput atasan saya. Saya duluan ya mbak. Permisi.” Lelaki itu tiba-tiba saja pamit dan berjalan cepat meninggalkan Tara. Wajahnya terlihat panik dan terburu-buru.


Tara memerhatikan lelaki itu yang punggungnya hampir tak terlihat lagi. Wanita itu tersenyum menatap punggung menawan yang hanya bisa dlihat dari kejauhan.


“Sudah tampan, pembawaannya tenang dan bicaranya pun sangat bijak. Lelaki idaman sekali. Kuharap aku bisa bertemu dengannya lagi.” Gumam Tara berharap.


Sedetik kemudian, Tara terkesiap. Dia hampir lupa dengan tujuannya datang kesini. Wanita itu melihat arlojinya.


“Sial, aku terlambat. Viona pasti akan mengomeliku.” Rutuknya cepat cepat berjalan pergi.


***


Viona mengetuk-ngetuk jarinya pada kopernya sembari menunggu Tara yang belum juga muncul. Hingga tak lama, sahabatnya itu datang dan berlari tergopoh-opoh menghampiri dirinya.


“Hah hah Viona—hah,” Tara berhenti di depan Viona sembari terengah. Berlari menggunakan highheels sangat tidak layak dilakukan. “Kau tidak terlalu lama menunggu kan?” tanya Tara.


“Minum dulu.” Viona menyerahkan botol mineralnya yang sudah sisa setengah pada Tara. Tara langsung meneguknya hingga tandas.


“Kau darimana saja Tara? Dan kenapa berlarian seperti itu?” tanya Viona pada Tara yang nafasnya kini sudah mulai teratur kembali.


“Ada insiden kecil tadi hingga menyebabkan aku terlambat datang menjemputmu. Kau tidak terlalu lama menunggu kan?” tanya Tara cemas.


Viona menggeleng pelan. “Tidak, Tara kau sudah selesai beristirahat kan?”


“Sudah, memang kenapa? Kau mau pergi kesuatu tempat dulu?”


Viona mengangguk.


***


Viona dan Tara sampai di pelataran sebuah galeri seni. Setelah memarkirkan mobil,mereka langsung masuk ke dalam galeri dan terus berjalan melewati ruang lobi dan area pameran. Setelah melewati satu lorong panjang dimana di kanan kirinya terdapat banyak hiasan patung dan lukisan buka berwarna-warni, mereka sampai di ruangan serba pink yang penuh dengan rak-rak penyimpanan seperti loker. Tanpa banyak bicara, Viona dan Tara menuju satu loker yang letaknya berada paling ujung dari barisan loker mewah itu. setelah sampai di hadapan loker yang dituju, Viona mengeluarkan sebuah id card dan langsung menempelkannya pada sistem yang berada di loker tersebut. Loker tersebut menimbulkan bunyi bip sekali dan langsung terbuka. Viona mengambil satu boks berwarna coklat yang berpenutup warna senada. Itu adalah barang-barangnya yang disimpan Sherly karena permintaannya sebelum pergi ke luar negeri.


“Apa saja isi barang-barangmu itu?” tanya Tara penasaran.


Viona membuka isinya dan mata Tara terbelalak terkejut. Alasannya adalah karena barang-barang yang berkaitan dengan profesi Viona dahulu masih tersimpan rapi.


“Ini kan...” Tara tak bisa melanjutkan kata-katanya.


Disana ada sepasang sepatu kets yang sudah sangat usang modelnya namun masih terlihat bagus, sepatu itulah yang biasa menemani Viona saat berlatih menari hingga larut malam. Kemudian ada sepatu highheels pemberian kakaknya, Alya saat dirinya akan mengikuti seleksi penari mewakili Indonesia yang tak sempat ia pakai. Sepatu itu seperti wujud dukungan sang kakak atas mimpinya dan naas semuanya berakhir buruk bahkan sebelum ia sempat mengenakan sepatu cantik dari sang kakak tersebut. Kemudian ada banyak barang-barang lainnya pemberian Alya, kartu sim dahulunya juga masih ada. Dia takut kartu sim sekaligus memori sd itu dihancurkan Rachel karena disana banyak sekali kenangan Alya dan dirinya. Dan juga ada barang-barang lainnya. Semuanya adalah peninggalan masa lalu yang berharga bagi seorang Viona Tan.


***


Suara derap langkah Viona menggema di aula utama restoran mewah bergaya Prancis. Dia diarahkan oleh seorang pelayan menuju sebuah ruangan VVIP yang luas. Dan langkahnya terhenti di depan pintu tatkala ia melihat sesosok wanita paruh baya namun masih terjaga kecantikannya sedang duduk menatap ke arahnya. Viona merasa jantungnya tiba-tiba berdegup cepat.


Viona mulai melangkah kembali menuju wanita itu. Dan kini mereka sudah saling berhadapan, hanya terhalang sebuah meja bulat besar saja tempat makanan ditata. Viona tersenyum pada ibunya itu.


“Halo, ma. Lama tidak bertemu.” Sapa Viona canggung. Anne adalah ibu kandungnya tapi entah kenapa Viona merasa dia dan Rachel semakin asing.


Anne mengangguk saja. Tak ada sepatah katapun sebagai balasan yang keluar dari mulutnya. Bahkan tak ada pelukan yang lazimnya dilakukan seorang ibu dan anak. Wanita itu hanya menatap Viona tanpa ekspresi. Sulit mengatahui apakah Anne senang atau tidak dengan kepulangannya ke Indonesia.


“Duduklah. Kita menunggu satu orang lagi.” Ucap Anne pada akhirnya. Viona mengangguk. Lalu duduk disamping ibunya karena Rachel yang menyuruhnya.


“Siapa yang kita tunggu, ma?” tanya Viona.


“Calon suamimu.” Jawab Anne singkat.


Jantung Viona kembali berdegup. Jadi mereka akan membicarakan soal pernikahan?


Tak lama pintu besar ruangan VVIP itu terbuka menampilkan seorang pelayan wanita yang sedang mengantar seorang laki-laki masuk ke ruangan. Bau parfum maskulin langsung menguar begitu lelaki tersebut masuk. Dan Viona jelas mengenalnya. Dia Panji, pacar almarhumah kakaknya sekaligus calon suaminya.


Panji duduk di depan ibu dan anak tersebut. Pelayan itu pun undur diri. Perbincangan mereka pun dimulai.


“Lama tidak bertemu, Panji. Terakhir kali tante melihatmu, kamu datang ke rumah meminta izin merayakan ulang tahun Alya ke-20.” Ucap Rachel mengawali pembicaraan.


“Itu berarti sudah belasan tahun tante. Saat itu usia Viona baru 17 tahun, dia baru kelas 11 SMA kan? Kurasa itu terakhir kalinya juga kita bertemu ya, Vi.” Jawab Panji tersenyum ke arah Viona.


Viona mengangguk, “Waktu berlalu cukup cepat.” Tandasnya pelan.


“Iya, Vi?” tanya Panji tidak mendengar.


Viona terkesiap lalu menggelengkan kepalanya.


“Tante tahu kau pasti terkejut dan terpukul atas kepergian Alya yang begitu cepat. Kami juga merasakan hal yang sama. Tapi waktu harus terus berjalan, tidak ada gunanya kita masih berkubang dalam duka mendalam.” Ujar Anne.


Panji mengangguk meski terlihat ada perubahan ekspresi di wajahnya. Air mukanya kini terlihat mendung. Dan melihat itu, Viona merasa bersalah. Dialah penyebab Alya tiada.


“Kak Panji, aku minta maaf.” lirih Viona.


Panji menatap Viona. Lelaki itu menggeleng sembari terus tersenyum, “Tidak apa-apa, Vi. Bukan salahmu. Semua memang sudah takdirnya.” Ucapnya tegar.


“Seperti pembicaraan kita kemarin, tante. Terkait kerjasama Tan Group dengan Sinc Entertainment, aku menyetujuinya 100 persen. Dan kalau aplikasi itu sudah rampung, aku akan mulai memperkenalkannya pada artis-artisku.” Lanjut Panji.


Anne mengangguk. “Tinggal penyelesaian tahap akhir. Dan bersamaan dengan peluncuran Lavarel, aku ingin kalian juga mengumumkan pernikahan kalian juga.”


Panji terdiam, nampak terkejut. Namun kemudian dia kembali berekspresi biasa.


“Aku bahkan siap untuk menikah dengan Viona satu bulan lagi, tante.” Ucapnya tersenyum mantap.


Dan kini giliran Viona yang terkejut