
Perjalanan pulang Lexa berjalan seperti biasanya, sampai ketika mobil mulai melewati tol. Mobil tiba - tiba saja berhenti dan mengeluarkan asap.
"Kenapa Pak." Tanya Lexa.
...**...**...
"Saya cek dulu ya Non." jawab Pak Bowo lalu keluar dari mobil. Pak Bowo membuka kap mobil dan mulai mengecek masalah yang terjadi. Setelah mendapatinya, dia langsung kembali dan mengetuk kaca belakang penumpang, tempat Lexa duduk.
"Gimana Pak?!
"Anu Non. Air radiator mobilnya habis." jawab Pak Bowo.
"Kok bisa?!"
"Saya tidak tahu Non. Padahal tadi pagi saya sudah cek." jelas Pak Bowo.
"Pak Bowo gak bawa air?!"
"Tidak Non."
"Hah! Mana di jalan tol lagi. Yaudahlah Pak. Saya turun aja, mau cari Taxi."
"Maaf ya Non."
"Ehm."
Lexa keluar dari mobil dan melihat ke arah jalan mencoba mencari Taxi. 10 menit sudah berlalu tapi satupun Taxi tak ada yang lewat, karena kesal. Lexa memilih berjalan menyusuri jalan tol, berharap akan ada Taxi yang akan lewat.
Lama dia menunggu, tak ada satupun Taxi yang terlihat. Hingga sebuah mobil BMW hitam berhenti di depannya. Merasa tak kenal dengan mobil itu, Lexa mencoba menjauh dari mobil. Tapi anehnya, mobil itu terus berjalan mengikutinya.
Dan keheranan Alexa terjawab ketika kaca mobil penumpang itu diturunkan dan memperlihatkan sosok Om Bryan di dalamnya.
"Om Bryan??!"
"Lex, kamu kenapa dipinggir jalan tol?!" tanya Bryan bingung.
"Itu Om. Mobil Lexa kehabisan air radiator. Tuh disana." jelas Lexa sembari menunjuk mobil Pamannya yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kamu mau pulang?!" tanya Bryan.
"Iya Om."
"Yaudah masuk! Saya antar kamu." titahnya.
"Tapi Om?!"
"Nanti saya telepon pihak bengkel untuk datang kesini. Ayo masuk."
Lexa pun akhirnya menurut dan masuk ke dalam mobil milik Bryan. Belum sampai setengah perjalanan, sebuah deringan HP memecah keheningan di dalam mobil itu.
Drrtt.. Drrtt..
***'Halo.'
... ...
'Hm. Saya akan kesana!"
... ...***
Setelah menutup telepon, Bryan menoleh ke arah Lexa.
"Kenapa Om." tanya Lexa.
"Ada urusan mendadak di kantor." jawab Bryan.
"Eh?! Saya bukan pria tak bertanggung jawab yang menurunkan seorang gadis cantik di jalanan."
Blusshh..
Mendengar Bryan mengatakan dirinya cantik, membuat wajah Lexa seketika memerah malu. Padahal sudah sering baginya mendengar pujian orang lain, tapi entah kenapa rasanya berbeda jika yang memujinya adalah sosok pria dewasa di sampingnya ini.
"Kamu gak masalah kan, kalau kita ke kantor dulu. Gak akan lama kok." Tanya Bryan memastikan.
"Gak papa Om." jawab Lexa lalu mengalihkan pandangan nya keluar jendela, mencoba menutupi rona merah di wajahnya.
Keheningan pun kembali diantara mereka sampai mobil BMW itu berhenti tepat di depan pintu utama kantor pusat Benz Group.
Seorang security yang mengenali mobil milik Bryan bergegas membukakan pintu mobil itu.
"Selamat Datang Presdir." sapa security ramah.
Bryan keluar dari mobil, tapi langkahnya terhenti ketika menyadari Lexa yang tak kunjung keluar. Dia pun kembali dan membuka pintu mobil, sedikit menunduk agar dapat berbicara dengan Lexa.
"Kenapa kamu tidak turun?!"
"Hah?! Saya?! Gak usah Om. Saya disini saja." jawab Lexa canggung.
"Keluarlah. Nanti kamu bosan di mobil sendiri." balas Bryan sembari mengulurkan tangannya pada Lexa.
Lexa dengan ragu menerima uluran tangan Bryan dan keluar dari mobil. Dia pun berjalan di samping Bryan dan terus mengikuti nya. Semua pasang mata di tempat itu memperhatikan kedatangan mereka, diam - diam berbisik dan membicarakan. Penasaran tentang gadis kecil yang berjalan di samping Presdir.
*"Siapa gadis kecil itu?!"
"Entahlah. Mungkin ponakan Presdir?!"
"Ngaco. Presdir kan anak tunggal."
"Anak temannya mungkin?!"
"Bisa jadi. Tapi cantik banget loh dia."
"Hm. Aku jadi mau kenalan, siapa tahu dia akan jadi pacarku?!"
"Itu mata dikondisikan! Lihat yang bening aja langsung jelalatan!!"
"Hahaha... Rasain tuh!!"*
Mendengar pembicaraan itu membuat Bryan langsung menatap tajam ke arah karyawannya yang masih memperbincangkan mereka. Membuat para karyawan mulai membubarkan diri. Entah mengapa, mendengar orang berbicara dan mendamba sosok gadis disampingnya ini membuatnya tersulut emosi.
"Selamat siang Pak Bryan." sapa seorang lelaki yang merupakan asisten kepercayaan Bryan, Remond yang sering dipanggilnya Ray.
"Hm." jawab Bryan singkat.
Sejenak tatapan Remond beralih ke arah Lexa, sedangkan yang ditatapnya terlihat acuh tak peduli. Kedua alisnya bertaut, heran dan penasaran akan gadis yang bersama Presdir mereka. Menyadari tatapan Remond, Bryan mulai mengalihkannya.
"Kita keatas sekarang." ucapnya tegas.
Remond yang mendengar ucapan bos besarnya itu hanya mampu mengangguk, menelan segala pertanyaan yang bersarang di otaknya. Dia kini memandu mereka menuju lift khusus sang Presdir dan menekan tombol lantai 31, lantai tertinggi di gedung ini sekaligus lantai tempat Ruangan Presdir dan dirinya berada.
Tiing!!
Pintu lift pun terbuka, menampilkan suasana lantai yang tenang dan bersih karena warna putih yang hampir mendominasi segala penjuru dengan perpaduan design modern nya.
Kini Bryan yang berjalan di depan dengan Remond dan Lexa yang mengekorinya, hingga mereka berhenti tepat disamping meja yang tertata rapi lengkap dengan seorang karyawan perempuan yang terlihat cantik dengan gaya elegannya.
"Selamat datang Presdir. Mereka sudah menunggu anda di dalam." ucap karyawan perempuan itu sembari membungkuk hormat.