
Aku merasa mobil om Chris melaju dengan kecepatan tinggi. Berkali-kali ku dengar suara klakson dari mobil yang kami lewati. Ada apa dengan nya, kenapa dia terlihat marah seperti itu.
"om bisa pelan-pelan tidak. Kenapa harus ngebut begini?"
Om Chris tidak menjawab dan masih fokus pada kemudinya. Ku lihat cengkraman tangan om Chris pada kemudi begitu kuat hingga membuat otot-otot di tangan nya tampak menonjol. Raut wajahnya juga memperlihatkan kemarahan yang sangat kental membuatnya terlihat menakutkan.
Sikapnya selalu berubah-ubah setiap saat membuatku sulit mengerti apa mau om Chris sebenarnya. Merasa lelah dengan semua nya aku memutuskan untuk diam dan tak lagi berbicara hingga kami sampai di rumah.
Keadaan rumah tampak sepi karena memang sudah hampir larut malam. Aku bergegas ke kamarku dan tidak menoleh ke arah om Chris sama sekali. Aku takut perasaan ku akan goyah jika terlalu lama berdekatan dengan nya.
Saat pagi hari aku bangun terlambat. Ini semua gara-gara kejadian di rumah baru om Chris yang terus berputar-putar di otakku hingga membuatku sulit untuk memejamkan mata. Terlihat meja makan kosong tidak ada ayah maupun om Chris. Aku meminum susu dan mengambil sepotong roti dengan selai strawberi kesukaanku.
"mba, dimana ayah. Apa ayah sudah sarapan?" tanyaku pada salah satu asisten rumah tanggaku.
"tuan besar sedang pergi ke luar negri untuk beberapa hari nona. Semalam tuan besar berpesan jika nona membutuhkan sesuatu nona bisa memintanya pada tuan Chris"
"ooh, baiklah terimakasih"
Segera aku menghabiskan sarapanku dan bergegas keluar untuk menunggu Jason. Tapi ternyata Jason sudah standby di depan rumah.
"hy, kapan datang?"
"emm... sekitar sepuluh menit yang lalu"
"kenapa malah menunggu disini, kenapa tidak masuk saja?" aku merasa tidak enak karena sudah membuat Jason menunggu.
"kalau masuk nanti ketemu ayahmu bagaimana? kan kamu sendiri yang bilang kalau sekarang bukan waktu yang tepat. Lagi pula kalau aku masuk kamu pasti akan melakukan segala nya dengan terburu-buru. Makan nya aku lebih memilih menunggu di luar sampai kamu selesai dengan rutinitas pagimu."
Lagi, aku di buat tersentuh dengan perhatian Jason yang tidak ada habisnya. "kau baik sekali. Ayo kita berangkat sekarang"
"oke, naiklah"
Seperti biasa Jason memakaikan helm dan meminjamkan jaket padaku. Setelah siap Jason melajukan motor sportnya menuju sekolah.
Begitu sampai Jason langsung meminta maaf padaku karena tidak bisa mengantar ke kelasku karena dia dan tim basketnya memiliki agenda rapat pagi ini.
"tidak perlu minta maaf. Pergilah sebelum kau terlambat"
"baiklah. Bye sayang.."
"bye.."
Jason langsung berlari menuju ruang rapat dan pasti teman-teman sudah menunggu kedatangan nya. Jason merupakan ketua tim basket di sekolah kami. Dan karena kepiawaian nya dalam bidang olahraga itu membuat sekolah kami selalu memenangkan pertandingan bola basket antar sekolah.
Di lorong sekolah aku berpapasan dengan Tika dan teman-teman nya. Mereka menatapku penuh dengan aura peemusuhan. Aku memilih mengabaikan mereka dan tetap berjalan menuju kelasku dan untungnya mereka membiarkan aku pergi dan tidak menggangguku.
Jam pelajaran pertama di isi dengan mata pelajaran om Chris. Tapi yang datang malah guru piket dan hanya memberikan tugas. Guru piket mengatakan jika om Chris tidak datang ke sekolah hari ini karena ada keperluan penting. Aku baru sadar jika saat aku berangkat ke sekolah aku pun tidak melihat mobil om Chris terparkir di halaman. Kira-kira kemana om Chris pergi?
Jujur aku merasa cemas, karena semalam om Chris tampak tidak baik-baik saja. Tidak biasanya dia terlihat begitu rapuh bahkan sampai menangis.
Sadar akan kebodohanku yang masih memikirkan nya, aku cepat-cepat mengenyahkan om Chris dari pikiranku. Bisa-bisanya aku masih memikirkan pria yang sudah berkali-kali menolak dan menyakitiku.
Aku merasa jahat karena terus memikirkan pria lain, padahal Jason sudah menjadi kekasih yang sempurna untukku. Apa yang salah dengan hatiku ini tuhan?.
Jam istirahat aku menolak ajakan Eva dan Shila untuk pergi ke kantin. Aku sama sekali tidak berselera untuk makan karena sejak tadi hatiku merasa tidak tenang.
Aku memutuskan untuk pergi ke toilet untuk mencuci wajahku agar aku bisa merasa lebih segar dan tenang. Tapi belum sempat aku keluar kelas, Tika dan teman-teman nya sudah lebih dulu masuk ke dalam kelas ku.
Dengan angkuh Tika berjalan menuju ke arahku. Aku memutar bola mataku, jengah dengan tingkahya yang menyebalkan dan sok berkuasa hanya karena ayahnya merupakan salah satu donatur di sekolah ini.
Brakkk...
Tika memukul mejaku dengan keras. "rupanya pelajaran kemarin tidak cukup menyadarkanmu ya?. Kau bahkan sekarang berani berpacaran dengan Jason. Aku sudah memperingatkan mu kalau Jason adalah milikku!!"
"Jason bukan barang, dan dia bukan milik siapapun" jawabku dengan tenang.
"apa karena pak Chris kau berani melawanku?"
Aku mengerutkan alisku, tidak mengerti maksud dari ucapan Tika. "pak Chris? memang apa urusan nya dengan pak Chris?"
"ha...haha... jangan pura-pura pikun ya!. Kemarin kau mengadukan aku pada pak Chris kan? karena itu dia menghukumku dan membuat aku di skors selama tiga hari"
Informasi yang baru aku dapatkan sungguh mengejutkan. Benarkah om Chris yang membuat mereka di skors? tapi bagaimana om Chris bisa tahu? aku bahkan tidak mengatakan apapun padanya tentang kejadian di toilet hari itu.
"aakkhh..." aku meringis menahan sakit saat tiba-tiba Tika menjambak rambutku dengan kencang.
"jauhi Jason atau kau akan menyesal.!!" bisik Tika dengan nada penuh ancaman.
"Jason yang mengejarku dan menyatakan cintanya lebih dulu. Dia tidak melakukan hal itu padamu bukan? Bukankah itu artinya Jason lebih tahu siapa yang lebih berkualitas di antara kita?"
"kurang ajar"
Tika sudah melayangkan tangan nya siap untuk menamparku tapi aku sudah lebih dulu mencengkram tangan nya. Aku tidak akan membiarkan Tika dan teman-teman nya menindasku lagi.
"berhetilah bersikap liar Tika. Lebih baik kau keluar dari kelasku jika kau tidak ingin di skors lagi."
"kau mengancamku? apa kau akan mengadukanku lagi? ucap Tika tidak terima.
"aku tidak perlu mengadukanmu pada siapapun. Karena guru pasti tahu apa yang kau lakukan padaku. Apa kau lupa kalau kelas ini memiliki cctv?" aku melirik pada cctv yang berada di pojok kelas bagian atas.
Seolah baru menyadarinya, Tika langsung melepaskan jambakan nya pada rambutku. Aku memegang kepalaku, jambakan Tika cukup keras. Rasanya kulit kepalaku seperti mau lepas saja.
"awas kau. dasar sial!!" umpat Tika sebelum dia berlalu pergi.
Setelah kepergian nya aku merasa lega. Untung saja tadi aku belum sempat pergi ke toilet. Tika bisa saja mengulangi perbuatan nya atau bahkan bisa lebih buruk. Karena cctv di kelas ini membuat Tika tidak bisa berbuat macam-macam padaku.
Sial sekali aku harus satu sekolah dengan anak penganggu seperti Tika.
Sekian....