I Love You OM

I Love You OM
Part 13



***


"Kamu bahkan ngngak perna ada waktu untukku Rico, tapi selalu ada saat dia memintamu! "


Jarinya menuding wajahku yang semakin kaku tak berekspresi.


"SEKARANG JAWAB, KAMU MILIH DIA APA AKU? "


Suaranya menggelegar, siapa saja yang mendengar pasti bergidik ketakutan. Sorot matanya memandang tajam kepada Rico, sedangkan tangannya mengepal kuat menahan amarah.


Jantungku berdegup kencang, kakiku terasa lemas. Ini adalah sebuah tamparan keras untukku. Melihat kemarahan wanita ini, barulah aku tersadar. Dia ... Pacar Rico. Kuamati wajah yang memerah penuh amarah itu, ingatanku langsung jatuh pada foto gadis yang perna di tunjukkan Rico beberapa tahun silam. Kalau tidak salah, namanya Geovani.


"Maaf Ge. Apa pun bandingannya, Tiffany ngngak akan tergantikan. "


Rico menjawabnya cukup santai, membiarkan bekas tangan di wajahnya di tiup angin lembut. Tangannya bersedekap sambil menyandarkan tubuhnya pada pembatas balkon. Sangat santai.


Aku tahu kalau itu adalah ekspresi yang di buat-buat. Entah bagaimana hatinya saat ini. Matanya sekilas menatapku, kemudian beralih menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi di depan sana. Tatapan penuh luka, pasti sakit sekali rasanya. Memilih antara dua wanita yang sama-sama di sayanginya.


Geovani adalah cinta pertamanya. Beberapa tahun yang lalu dia mengatakan hal itu kepadaku, pengakuan yang membuatku terkejut bercampur bahagia. Dia yang tidak perna kuketahui dekat dengan wanita mana pun, tiba-tiba langsung berkata seperti itu.


Aku yang sedang minum, langsung tersendak. Sangat terkejut dengan apa yang dia ucapkan. Kami yang saat itu berada di restoran, membuat banyak pengunjung menatap iri ke arahku karna perlakuannya. Dia meraih tissue dan mengelap mulutku lembut, lalu mengacak-acak rambutku. Mungkin mereka mengira kalau kami adalah sepasang kekasih yang sedang mabuk asmarah.


Saat dia mengatakan hal itu, ada rasa tak rela yang tak mampu ku ucapkan. Tapi aku tidak mau egois. Aku tidak mau perhatiannya selalu tertuju kepadaku dan mengabaikan kebahagiannya. Aku yang selalu mendesak agar dia mencari belahan jiwanya, tapi ketika dia sudah berhasil menemukannya, kenapa rasanya sangat sakit?


Aku mau dia selalu ada untukku, selamanya. membayangkan dia menikah saja sudah membuat hatiku seperti di remas-remas. Tapi itu sama saja aku egois.


Memang perhatiannya selama ini tidak pernah berubah, walau dia sudah punya pacar. Tentulah hal itu mengundang amarah dan rasa cemburu. Aku juga jika di perhadapkan dengan situasi seperti itu, pasti akan melakukan hal yang sama. Tidak ada wanita yang ingin jika prianya membagi perhatian kepada siapa pun.


***


Geovani yang terkejut dengan penuturan Rico barusan, langsung meraih tasnya dan berjalan pergi, tidak sengaja menyenggol tubuhku.


Tapi baru beberapa langkah di belakangku, suaranya kembali terdengar dan semakin membuatku di landa rasa bersalah.


"Kita putus." katanya penuh penekanan.


Kakiku yang sejak tadi sudah gemetaran, langsung ambruk seketika. Tatapan mata kosong, tapi air mata mengalir dengan derasnya. Sebuah tangan menyentuh bahuku dan kemudian memeluk erat tubuh ini. Tangis yang sejak tadi ku tahan akhirnya keluar juga.


"Dasar bodoh. "


Tanganku memukul dadanya sambil mulut mengeluarkan kata umpatan.


Dia semakin menenggelamkan tubuhku dalam pelukan eratnya. Hatiku pedih, rasa bersalah semakin menghujam jantung.


Akulah penyebab semua ini.


Saat dia melepas pelukannya, dia langsung mengecup keningku.


"Kenapa menangis? "Tanyanya sambil menghapus air mata yang membasahi ke dua belah pipi.


"Kenapa? "


Tanyaku geram.


"Bodoh. "


Lanjutku saat dia tidak juga menjawab.


"Sssttt. "


Dia menempelkan telunjuknya pada bibirku, matanya tampak sayu dan memprihatinkan. Sangat berbanding terbalik saat Geovani masih ada di sini.


"Jangan nangis, sayang. "


Katanya lembut penuh kasih sayang. Mungkin dia ingin mengucapkan kalau dia tidak apa-apa.


"Kenapa, kenapa harus menghancurkan kebahagianmu hanya demi aku, kenapa? "


Mataku kabut oleh air mata. Tangan juga terasa basah oleh keringat.


"Seharusnya kamu jangan terlalu dekat samaku, jangan terlalu perhatian. Kalau kamu menjauh dariku, pasti hal ini ngngak akan terjadi. "


Aku meneriakinya di sela-sela tangis yang semakin menjadi. Betapa bodohnya pria ini, entah apa yang ada dalam benaknya sampai rela melepas calon pendamping masa depannya.


"Aku harus apa Riko, biar kamu jangan selalu dekat samaku. Aku harus ap-, "


Ucapanku terpotong saat ku lihat setetes demi setetes air mata mulai keluar dari pelupuk matanya. Hatiku bergetar. Dia menangis tanpa suara.


Kali ini aku yang merangkulnya, membawa dalam pelukan.


"Maaf. "


Aku berujar pelan, benar-benar di penuhi penyesalan.


Dia menyeka air matanya kasar, lalu tersenyum.


"Jangan perna mengucap hal konyol seperti tadi. Berjanjilah. "


Di raihnya bahuku dan mengelusnya.


"Tapi akulah penyebab hubungan kalian retak seperti ini. Dia wanita yang selama ini kau dambakan, pergi dengan kesalah pahaman dan kamu menyuruhku untuk berjanji? "


"Kamu bukan penyebabnya, jangan perna berlaku seakan kamulah penyebab ini semua. Bukan dia yang salah paham, tapi kamu. "


Senyum tulus terbit di bibir tipisnya, tatapan matanya juga seolah meyakinkan. Di genggamnya tanganku erat.


"Maksudnya? "


"Apa menurutmu aku yang adalah seorang pria tampan dan menawan ini, pantas mendapat perempuan rendahan melebihi binatang? "


Dahiku berkerut, sama sekali tidak mengerti tujuan dari ucapannya.


"Kamu memang selalu menyuru dan mendukungku, supaya aku mencari belahan jiwaku bukan? "


Aku mengangguk mengiakan.


"Apa kamu merasa kalau wanita itu, adalah Geovani? "


Aku kembali mengangguk lemah.


"Kamu salah sayang. Wanita itu murahan. Dia berlaku bagai serigala berkulit domba. Sandiwaranya mampu membuatku percaya kalau dia adalah wanita baik-baik, nyatanya dia begitu murahan. "


Aku diam, membiarkan dia menjelaskan semuanya tanpa menjedah.


"Tadi aku pergi ke Apartemennya, berniat membuat kejutan di hari ulang tahunnya. Bukannya memberi kejutan, yang ada akulah yang di kejutkan. "


Dia tersenyum kecut, miris sekali melihatnya.


"Dia tampak kelelahan dengan keringat membanjiri keningnya, bergumul dalam selimut dengan suara desahannya yang menjijikkan bersama pria yang sama buruknya. "


Bagai petir di siang bolong, penuturannya barusan menyentak lamunanku yang membayangkan apa yang dia ucapkan.


"Apa karna aku adalah laki-laki dengan sejuta keburukan, pantas mendapat wanita semacam itu? "


Dadaku bergemuruh hebat, sangat terkejut. Tiba-tiba amarah langsung meletup-letup. Aku menggeleng kuat, dia sama sekali tidak pantas mendapat wanita seperti itu.


***


Saat keadaan sudah tenang, tidak ada lagi tangis yang mengalir, Rico membawaku duduk di kursi balkon. Menatap gedung-gedung tinggi di depan sana sambil menikmati pemandangan matahari yang hampir tergenam.


Tangannya memeluk erat tubuhku, tanpa ingin melepaskannya.


"Aku tau rasanya pasti sakit sekali saat di hianati. "


Pandanganku tetap fokus ke depan, sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Aku merasakan kepalanya mengangguk karna dia menyandarkan kepalanya pada bahuku.


"Tapi rasanya ngngak lagi sesakit tadi. "


Aku mengernyit heran. Secepat ini?


"Setelah tau kalau dia sama sekali ngngak menyukaimu."


"Eh, "


Aku semakin bingung.


"Aku mau mencari wanita yang juga mau menyayangimu. Sebaik apa pun dia, kalau dia ngngak menyukaimu, aku tetap akan memutuskannya detik itu juga. "


Entah aku egois atau bagaimana, tapi rasa bahagia terasa sangat membunca dalam dada. Aku terharu di buatnya.


Di lepasnya pelukan dari tubuhku, lalu sorot matanya menatap tajam ke manik mataku, tapi tidak melukai.


"Kamu adalah sepupuku, adikku. Tugasku adalah menjagamu, menemani harimu dalam keadaan suka mau pun duka. "


Satu tetesan air mata mulai jatuh, aku merasa sangat di hargai.


Rico adalah sepupuku satu-satunya, tapi tidak semua orang yang mengetahui hal ini. Umurnya yang lebih tua tiga tahun dariku , menjadikannya bagai malaikat yang selalu menjagaku.


Banyak yang merasa iri melihat kedekatan kami, tapi dia tetap menampilkan sikap masa bodohnya. Bahkan sahabat-sahabatku juga merasa iri dengan perlakuannya yang berlebihan itu.


"Kebahagiaanku seutuhnya ada pada dirimu. Jadi, berjanjilah untuk bahagia. "


Sambungnya sambil menyeka air mataku. Aku mengangguk mengiakan, dan langsung menghambur dalam pelukannya.


Menikmati suasana sore hari yang hampir beranjak malam dalam pelukan hangat dan kasih sayang. Hingga mataku perlahan terpejam dalam kebahagiaan.