I Love You OM

I Love You OM
lima belas



Pulang sekolah Jason mendatangi kelasku. Dia meminta maaf karena tidak bisa mengantarku pulang. Dia berkata jika siang ini akan ada latihan basket, bulan depan akan ada pertandingan yang membuat dia dan tim nya harus terus berlatih agar bisa menang. Aku berkata Jason tidak perlu mengkhawatirkan ku dan harus fokus pada pertandingan. Akhirnya aku menelfon pak Johan dan memintanya untuk menjemputku.


Sampainya di rumah aku langsung membersihkan diri dan berganti pakaian. Seperti biasa Maya sudah berada di kamarku untuk menyiapkan keperluanku.


"nona, apa anda ingin makan siang di kamar?"


"aku belum lapar Maya. Nanti saja"


"baiklah nona, kalau begitu saya permisi" pamit Maya undur diri.


Aku merasa lelah dan memilih berbaring di ranjangku, kemudian tak lama aku pun terlelap dalam mimpi.


Sebuah rumah gubuk kecil menjadi pemandangan pertamaku. Di sekitar tidak ada rumah lain selain gubuk itu. Dengan penasaran aku pun memasuki gubuk itu dan aku tidak melihat siapapun disana. Lalu sebuah foto yang terpajang di dinding membuatku tertarik. Aku pun mengambil foto yang sudah terlihat usang itu. Foto itu memperlihatkan seorang wanita cantik yang sedang tersenyum, terlihat jika wanita itu masih sangat muda.


Melihat wanita di foto itu membuatku merasa tidak asing. Tapi aku pun tidak tahu dimana aku pernah melihatnya. Akhirnya aku kembalikan foto itu ke tempat semula dan berniat untuk pergi. Tapi baru beberapa langkah foto itu terjatuh membuatku terkejut. Foto terjatuh dalam keadaan terbalik, samar-samar aku melihat seperti ada sebuah tulisan dan aku pun melihatnya.


Aku adalah ibu mu


Sentuhan Maya di bahuku membuatku terbangun seketika.


"maaf nona, apa saya mengejutkan anda?" ucap Maya merasa bersalah.


"tidak apa-apa Maya" aku mengusap wajahku dan memikirkan apa maksud dari mimpiku itu. Tapi kemudian aku sadar jika mimpi hanya bunga tidur, dan aku tidak perlu terlalu memikirkan nya.


"saya sudah menyiapkan air untuk anda mandi nona"


"terimakasih Maya" aku pun berjalan menuju kamar mandi.


Selesai mandi aku mendengar ponselku berbunyi. Dan aku tersenyum senang saat tahu ternyata yang menelfonku adalah bunda via video call.


"hallo bunda, bunda apa kabar?"


"bunda baik sayang. Kau sendiri bagaimana kabarmu? apa kau baik-baik saja disana?"


"aku baik bunda, jangan khawatir. Aku kan sudah besar. Oh ya bagaimana kabar nenek? apa sudah membaik, dan Kalvin bagaimana dengan nya? aku sangat merindukan bocah kecil itu.."


Bunda mengarahkan ponselnya pada Kalvin yang sedang tidur. Melihat wajah menggemaskan Kalvin membuatku merasa bwgitu merindukan nya.


"bunda, kapan bunda akan pulang?"


"saat nenek sudah membaik bunda akan langsung pulang. Tapi ayah mengatakan dia akan kembali dalam dua hari. Kau harus menjadi anak baik dan jangan menyusahkan om Chris, ok?"


"iya bunda"


"baiklah bunda tutup dulu telfon nya. Jaga dirimu sayang..."


Setelah telfon terputus aku menjadi merasa kesepian. Bagaimana tidak di rumah yang cukup besar hanya tinggal aku seorang. Mengenai om Chris aku masih belum melihat tanda-tanda keberadaan nya.


"Maya, apa om Chris belum pulang?"


"sepertinya sejak semalam tuan Chris tidak pulang nona"


Sejak semalam?


Bukankah semalam dia pulang bersamaku? Kenapa dia tidak pulang?


Cepat-cepat aku menggelengkan kepalaku berusaha membuangnya dari fikiranku. Kenapa aku harus peduli padanya. Mau dia pulang atau tidak itu bukan urusanku. Mungkin saja sekarang dia sedang bersenang-senang dengan salah satu teman wanitanya. Jadi buat apa aku harus pusing memikirkan orang itu.


"Maya tolong bawakan makan malam ku ke kamar saja, aku malas kalau harus makan sendiri di meja makan"


"baik nona, saya akan membawakan makan malam anda" pamit Maya dan berlalu pergi.


Tak lama Maya kembali datang dengan membawa table tray yang terisi penuh dengan makanan. Maya menata semua makanan di meja kecil di sudut kamarku.


"Maya duduklah bersamaku, ayo kita makan bersama. Aku yakin kau pasti belum makan"


"saya tahu nona akan meminta saya makan bersama, karena itu saya membawa banyak makanan kemari" ucap Maya sambil tersenyum geli.


Inilah yang aku sukai dari Maya, dia tidak merasa sungkan sama sekali meskipun aku adalah majikan nya. Meski kami cukup dekat, tapi Maya selalu bersikap sopan dan hormat padaku.


Makan malam kami cukup menyenangkan, karena sesekali Maya mengatakan hal-hal lucu yang membuatku tertawa, karena memang pada dasarnya Maya termasuk orang yang humoris, membuatku senang berlama-lama menghabiskan waktu dengan nya.


Ada pesan masuk ke ponselku, ternyata Eva mengirim pesan menanyakan tentang tugas kelompok yang di berikan guru piket pagi ini.


Eva : Dimana kita akan mengerjakan tugas itu?


Aku : Bagaimana dengan rumah mu atau rumah Shila?


Eva : Di rumahku tidak bisa karena sedang di renovasi. Shila juga mengatakan kalau kakaknya baru saja melahirkan. Banyak saudara dan keluarga dari pihak kakak iparnya yang datang menginap. Bagaimana jika di rumahmu?


Aku bingung harus berkata apa pada Eva. Menolak pun akan terasa sungkan, tapi jika mengiyakan mereka pasti akan tahu identitasku yang sebenarnya. Bagaimana ini?


Tiga tahun kami berteman memang sekalipun mereka belum pernah datang ke rumah. Aku selalu bisa mencari alasan setiap mereka ingin mengunjungi rumahku. Aku hanya tidak ingin mereka mengetahui siapa aku sebenarnya. Tapi kali ini sepertinya sulit untukku mengelak.


Aku : Baiklah, besok setelah pulang sekolah kita kerjakan tugas itu di rumahku.


Eva : Ok. Aku akan mengatakan nya pada Shila. Bye selamat malam..


Sepertinya aku harus bersiap menjelaskan kepada mereka besok. Karena aku yakin mereka pasti akan membrondongku dengan banyak pertanyaan.


Hari sudah larut tapi aku belum bisa memejamkan mataku. Ku lirik jam yang sudah menunjukan pukul satu malam. Aku bisa terlambat lagi jika tidak segera tidur. Tapi baru saja aku ingin tidur tiba-tiba ponselku berbunyi.


Ada panggilan dari nomor yang tidak ku kenal. Karena sudah larut dan aku berfikir itu hanya nomor nyasar aku pun enggan untuk mengangkatnya. Tapi selama beberapa menit aku mendiamkan nya, nomor itu terus-terusan menelfonku membuatku risih dan akhirnya aku pun mengangkatnya.


Aku : Halo, siapa ini?


Penelfon : Akhirnya kau angkat juga. Aku menelfon dari ponsel Chris. Dia mabuk berat, bisakah kau datang menjemputnya? dia ada di club XXX.


Aku : Chris? maksudmu Chris Danta?


Penelfon : Ya benar, cepatlah datang.


tut...


Tiba-tiba sambungan terputus begitu saja.


Om Chris?


Nomor yang baru saja menelfonku adalah nomor om Chris? tapi dari mana dia tahu nomor ponselku?


Itu tidak penting sekarang. Karena yang lebih penting adalah bagaimana aku bisa menjemput om Chris. Ini sudah larut malam dan aku masih 18 tahun, sudah pasti aku tidak di izinkan masuk ke dalam club itu.


Sekian...