I Love You OM

I Love You OM
tujuh belas



Ingin rasa nya aku membangunkan om Chris untuk meminta penjelasan darinya. Tapi sekeras apapun aku mengguncang tubuhnya om Chris tidak terbangun sama sekali.


Dengan gontai aku berjalan keluar dari kamar om Chris menuju kamarku sendiri. Aku membaringkan tubuhku di ranjang tapi mataku sama sekali tidak bisa terpejam. Bisakah kali ini aku mempercayai kata-kata nya? atau ini hanyalah igauan dari om Chris karena dia sedang tidak sadar akibat pengaruh alkohol.


Tapi dia menyebut namaku, bukankah itu artinya dia memang melihatku. Dia benar-benar melihatku meski dia sedang tidak sadar.


Aah bagaimana ini, kenapa aku masih saja mengharapkan nya. Kenapa hati ini masih saja berdebar untuknya. Dan kenapa aku merasa sangat bahagia setelah mendengar pengakuan cintanya. Padahal sudah berulang kali aku terluka oleh nya, kenapa hanya dengan pengakuan nya malam ini bisa membuatku melupakan semua kesakitan yang pernah dia berikan padaku. Kenapa semudah itu aku bisa memaafkan nya. Seolah semua kesakitanku tidak berarti lagi setelah dia mengakui jika dia juga mencintaiku. Sebodoh itu kah aku? Atau cintaku padanya telah membutakan mata dan hatiku.


Aku berharap pagi segera datang agar aku bisa meminta penjelasan darinya.


***


"nona, bangunlah ini sudah jam 6 pagi"


Aku mengerjabkan mataku dan melihat Maya yang sudah berdiri di samping tempat tidurku.


"Maya, biarkan aku tidur. Aku baru bisa tidur setelah jam empat pagi. Sekarang aku benar-benar mengantuk, aku bahkan tidak bisa membuka mataku sekarang".


"tapi anda harus sekolah nona. Bukankah semalam anda mengatakan jika anda ada ujian hari ini?"


Ujian? aah sial. Benar sekali, aku ingat jika hari ini ada ujian bahasa. Jika aku sampai absen aku pasti akan mengulang ujian itu sendirian.


Dengan malas aku pun terpaksa bangun dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Semoga saja air dingin bisa menghilangkan kantuk.


Setelah siap dengan seragam sekolah, aku menghampiri Maya yang sedang menata sarapan di meja makan. Aku melirik kamar om Chris, dan pintu itu masih tertutup rapat.


Teringat dengan pengakuan nya semalam aku pun masuk ke dalam kamarnya, dan ternyata dia masih tidur. Aku mengamati wajah om Chris yang masih terlihat tampan di usianya yang hampir memasuki kepala empat tapi masih terlihat muda dan gagah.


Sungguh indah ciptaanmu tuhan....


Ponsel om Chris yang berada di meja nakas berbunyi. Penasaran aku pun melihat siapa yang mengirim pesan sepagi ini pada om Chris. Tertera nama Gleen disana. Gleen mengirim pesan untuk mengingatkan jika mereka akan ada rapat siang nanti. Dengan iseng aku pun menyalin nomor Gleen, siapa tahu suatu saat nanti aku membutuhkan nya.


***


Di sekolah aku sama sekali tidak fokus. Aku berharap waktu cepat berlalu agar aku bisa segera pulang dan bertemu dengan om Chris.


Jam istirahat aku pergi ke kantin. Aku berfikir akan membahas hal yang penting dengan om Chris dan itu pasti akan membutuhkan banyak tenaga. Karena itu aku memesan seporsi bakso, dua gorengan, dua kerupuk dan segelas es jeruk.


"tumben makan banyak, kamu gak sarapan ya?" tanya Shila.


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


"eh jadi kan kita ngerjain tugas di rumah mu hari ini?


Sial. Kenapa aku lupa jika aku sudah berjanji akan mengerjakan tugas dengan mereka. Bagaimana ini? aku sudah tidak bisa membendung rasa penasaranku dan ingin cepat-cepat bertemu dengan om Chris.


Aku memasang wajah menyesal dan menatap kedua sahabatku. "aku minta maaf, siang ini aku ada urusan. Bagaimana kalo kita undur, besok bagaimana?"


"pasti urusan dengan Jason ya? apa kalian mau kencan?" tanya Eva sok tahu.


Jason? oh astaga, aku bahkan tidak mengingat dirinya sama sekali. Aku bahkan tidak menghubunginya sejak semalam. Karena terlalu memikirkan perkataan om Chris membuatku melupakan segalanya.


"hei kok malah nglamun sih?" sungut Eva.


"bukan kok, ini tidak ada hubungan nya dengan Jason" jawabku cepat.


Ponsel. Di mana ponselku? aku bahkan tidak mengingat dimana aku meletakkan ponselku. Aku mencari di semua kantung baju ku dan tidak menemukan nya. Apa mungkin tertinggal di tasku, atau bahkan aku tidak membawanya.


"Shila boleh aku pinjam ponselmu? seperti nya ponselku tertinggal"


Shila meminjamkan ponselnya, aku bergegas menelfon Maya.


Maya : halo siapa ini?


Aku : Maya, ini aku Vani. Apakah kau melihat ponselku?


Maya : iya nona, ponsel anda tertinggal di meja makan.


Aku : oh baiklah, tolong letakkan di kamarku, ya.."


Maya : baik nona.


Aku mengembalikan ponsel Shila dan tak lupa mengucapkan terimakasih.


"siapa Maya?" tanya Eva kepo.


"ooh dia pelayan pribadiku" jawabku tanpa pikir panjang.


"pelayan pribadi?" tanya kedua sahabatku.


"emm... maksudku dia asisten rumah tangga di rumahku. Hehehee.."


"ooh, kirain siapa"


Aku melihat jam dan masih ada waktu istirahat yang tersisa.


"aku akan pergi mencari Jason dulu, aku belum bertemu dengan nya pagi ini" pamitku pada kedua sahabatku.


"iya deh yang udah punya pasangan, gak ketemu sehari aja pasti udah kangen berat. Kita kaum jomblo bisa apa.." ucap Eva dengan penuh dramatis.


Aku mengabaikan kata-kata nya dan pergi ke kelas Jason. Aku melihat ke sekeliling kelas Jason dan tidak menemukan orang yang sedang aku cari-cari.


"cari Jason ya Van?" tanya Dita, murid yang satu kelas dengan Joson.


"iya, dia dimana ya?"


"kayak nya kalo gak salah dia di lapangan deh"


"ok, makasih ya.."


Aku berlari ke lapangan dan melihat Jason sedang latihan basket bersama teman-teman nya. Aku merasa tidak enak pada teman-teman Jason kalau harus mengganggu latihan mereka. Aku pun memutuskan untuk kembali ke kelas, mungkin nanti setelah pulang sekolah aku akan menemuinya lagi.


Tiba-tiba Tika dan teman-teman nya menghampiriku. Sial sekali, kenapa aku harus bertemu dengan tiga murid yang menyebalkan ini.


"masih berani gangguin Jason?" Tika menatapku dengan tajam.


"aku tidak mengganggunya" jawabku santai. Aku berjalan mendekati Tika dan berbisik di telinganya. Sungguh aku sudah muak dengan kelakuan mereka. "berhentilah menggangguku Tika. Sesungguhnya aku lebih dari mampu untuk menendangmu keluar dari sekolah ini. Jadi bersikap baiklah jika kau masih mau sekolah di sekolah ini"


Aku langsung meninggalkan Tika dan teman-teman nya. Kali ini aku tidak main-main dengan ucapanku. Jika Tika masih tidak berubah aku akan meminta kepada kepala sekolah untuk mengeluarkan Tika dari sekolah ini. Mengingat apa yang pernah Tika lakukan padaku, ayah pasti akan menyetujui keinginanku itu. Karena aku tahu, ayah tidak akan memaafkan siapapun yang menyakiti anak-anak nya.


Sekian.....