I Love You OM

I Love You OM
enam belas



Setelah memikirkan berbagai cara, akhirnya aku memutuskan untuk meminta bantuan pada pak Johan. Beliau juga sudah berumur pasti akan di perbolehkan masuk ke dalam club.


Aku mengetuk pelan pintu kamar pak Johan. Sejujurnya aku merasa tidak enak karena sudah mengganggu waktu tidur pak Johan. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada orang lain yang bisa aku mintai tolong selain dirinya saat ini.


Dengan mata setengah tertutup pak Johan membuka pintu kamarnya. "non Vania, ada apa non?"


"maaf pak karena sudah mengganggu, saya mau minta tolong"


"minta tolong apa non?"


"baru saja teman om Chris menelfonku. Dia memintaku untuk menjemput om Chris di sebuah club. Dia bilang om Chris mabuk berat"


"waduh, saya mah belum pernah masuk ke tempat seperti itu non" ujar pak Johan.


"jangan khawatir pak. Pak Johan hanya perlu masuk dan membantu nya keluar dari tempat itu saja"


"baiklah kalau begitu, saya ganti pakaian dulu ya non"


"iya pak, kalau begitu saya tunggu di depan"


Lima menit menunggu pak Johan keluar dari kamarnya. Segera kami masuk ke dalam mobil untuk segera sampai di tempat tujuan. Sesekali aku melihat ponselku untuk memastikan jalan yang kami lewati sudah benar. Club itu lumayan jauh hingga kami membutuhkan waktu hampir satu jam untuk sampai disana.


Begitu sampai aku melihat keadaan sekitar yang cukup ramai. Banyak pria dan wanita yang memakai pakaian minim disini. Aku bergidik ngeri melihat betapa liarnya dunia malam yang belum pernah aku tahu sebelumnya.


"sebentar ya pak, saya hubungi teman om Chris dulu"


"iya non"


Aku menelfon kembali nomor om Chris dan menanyakan dimana posisi mereka. Dan untung nya teman om Chris bersedia mengantar om Chris keluar dari club sehingga kami tidak perlu ke dalam club itu.


Mobil kami terparkir cukup dekat dengan pintu masuk. Sehingga begitu om Chris keluar aku langsung bisa melihatnya.


"pak, itu om Chris" aku menunjuk ke arah om Chris yang berjalan sempoyongan di bantu oleh teman nya.


Segera aku dan pak Johan keluar dari mobil. Pak Johan membantu memapah om Chris, terlihat teman nya sedikit kesusahan karena tubuh om Chris yang tinggi besar.


"bawa saja om Chris masuk ke dalam mobil" aku membuka pintu mobil bagian belakang.


Setelah menidurkan om Chris di kursi belakang aku mengucapkan terimakasih pada teman om Chris itu. "terimakasih sudah menghubungiku dan menjaga om Chris, maaf sudah merepotkan"


Teman om Chris tampak mengerutkan kening nya saat melihatku.


"kalau boleh tahu apa hubunganmu dengan Chris?"


Segera aku mengulurkan tangan. Aku sampai lupa untuk memperkenalkan diriku. "nama saya Vania, saya keponakan om Chris"


"keponakan?" wajah teman om Chris tampak terkejut tapi kemudian dia memasang senyum manis seolah sedang berusaha menutupi sesuatu. "aku Gleen, aku adalah sahabat Chris"


"ok, om Gleen salam kenal. Kalau begitu kami permisi dulu. Selamat malam"


Segera aku masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Sungguh, berlama-lama di tempat seperti itu membuatku merasa tidak nyaman.


Sampai di rumah Pak Johan di bantu satpam membawa om Chris masuk ke dalam kamarnya.


"terimakasih pak, sekarang kalian bisa kembali istirahat" ucapku setelah mereka berhasil menidurkan om Chris di kamarnya.


Keadaan om Chris tampak sangat berantakan. Lengan kemejanya sudah di gulung sampai siku, dan dua kancing kemeja bagian atasnya sudah terbuka. Kenapa om Chris tampak kacau, bahkan dia sampai mabuk-mabukkan seperti ini.


Hari sudah hampir subuh, sekali lagi aku melihatnya dan memastikan dia sudah tidur dengan nyaman. Aku pun berniat kembali ke kamarku. Tapi belum sempat aku melangkah, om Chris menggenggam tanganku.


"jangan pergi" ucap om Chris pelan.


Aku melihat tanganku yang di genggam nya, terasa hangat dan menenangkan. Kemudian aku melihat om Chris dan ternyata dia masih memejamkan matanya.


"aku mohon, jangan pergi" ulang nya lagi dan semakin mengeratkan genggaman nya pada tanganku.


aku duduk di pinggir ranjang dan menatapnya sedih "sebenarnya apa yang terjadi om, kenapa om seperti ini?"


Mata om Chris tiba-tiba terbuka, dia bangkit dari posisi tidurnya dan duduk berhadapan denganku.


"Jangan pergi sayang..."


Om Chris mengelus wajahku dengan lembut membuat jantungku berdetak dengan cepat.


"om..."


Kata-kataku terhenti karena om Chris meletakan jari telunjuk nya di bibirku.


"asal kau tahu, aku sangat mencintaimu"


Nafasku terasa tercekat mendengar kata-katanya. Bahkan aku merasa berhenti bernafas untuk beberapa detik.


"sejak dulu aku hanya mencintaimu. Dan cinta ini tidak pernah berubah sampai sekarang. Bahkan cinta ini semakin berkembang hingga membuatku semakin ingin memilikimu" lanjutnya.


Om Chris mengatakan nya dengan nada yang begitu menyentuh. Air mataku menetes, tak kuasa mendengar kata-kata manis nya.


Tapi sedetik kemudian aku tersadar, jika kata-kata om Chris bukan di tunjukan padaku. Terakhir kami bicara dia begitu sedih karena seorang wanita yang bernama Rosa. Mungkin saja karena rasa frustasinya pada Rosa yang membuat om Chris kacau dan mabuk seperti ini.


Perlahan aku melepaskan genggaman tangan om Chris dariku. "istirahatlah om".


Lagi saat aku akan beranjak om Chris malah menarik tanganku dan membuatku kembali duduk kemudian dia memelukku dengan erat.


"apa kau tidak mendengarku, aku baru saja mengatakan jika aku mencintaimu. Bukankah ini yang selama ini kau inginkan? mendengar ku membalas cintamu?"


Deg


Apakah semua kata-kata om Chris memang di tujukan untukku? Benarkah?.


"siapa aku om, katakan? sebutkan namaku.." aku ingin memastikan bahwa om Chris mengatakan nya secara sadar dan tidak karena pengaruh alkohol.


"kau, Vania Rosalie putri Danta, kesayanganku"


Apakah ini nyata, atau apakah aku sedang bermimpi? kenapa rasanya aku sangat bahagia mendengar semua ini.


"om..."


"sssttt.... jangan katakan apapun. Cukup dengarkan ini baik-baik. Aku mencintaimu Vania Rosalie".


Setelah mengatakan itu om Chris kembali tertidur.


Sekian.....