
Internasional High School
"Sal. Tau gak ada siswi baru di sekolah kita. Baru masuk langsung di kelas unggulan XII IPA 1." ucap seorang siswi berambut keriting bernama Luna yang berdiri di samping Salsa.
Salsa kini bersama 2 temannya sedang ngobrol tepat di depan loker mereka.
"Ho-oh. Apalagi siswi itu belagu banget lagi. Mentang - mentang cantik, dia sok banget." Timpal siswi lain dengan tubuh bongsornya bernama Bella.
"Emang siapa?!" tanya Salsa mulai penasaran.
"Noh. Kebetulan dia udah dateng." ucap Luna sembari menunjuk ke arah siswi yang baru keluar dari mobil sedan hitam.
"Tapi kok menurutku mobilnya mirip punya Papa mu ya Sal?!"
Mendengar ucapan Bella membuat Salsa ikut melihat ke arah yang ditunjuk teman - temannya.
"Dia...?!"
"Kamu kenal?!" Tanya Bella heran.
"Pastinya. Dia sepupuku, baru balik kemarin dari New York." jelas Salsa dengan nada tak suka.
"Eh. Bukannya sepatu yang dia pake punya kamu ya Sal?! Itu kan sepatu limited edition."
"Mata kalian jeli juga." jawab Salsa tersenyum penuh arti.
Lexa berjalan dan langkahnya semakin dekat dengan ke tiga siswi yang sedari tadi menggunjingkannya, siapa lagi jika bukan Salsa dkk. Sebenarnya Lexa jijik banget jika harus memakai barang yang pernah dipakai Salsa, tapi demi rencananya mempermalukan Salsa membuatnya menahan rasa jijiknya.
Ketika jarak diantara mereka semakin dekat, tangan Bella langsung menghadang langkah Lexa. Membuatnya menoleh ke tiga siswi yang berdiri tak jauh darinya.
"Oh Salsa. Ada perlu apa?!" tanya Lexa dengan nada angkuhnya.
"Sialan!! Kau itu gak tahu malu banget sih!! Sombong banget!! Padahal sepatu yang dipake aja cuma minjem!!" ucap Luna dengan suara keras.
Dia benar - benar berniat mempermalukan Lexa di depan umum. Sedangkan Salsa hanya tersenyum sinis mendengarnya.
'Skakmat. Kena kalian.' batin Lexa menyadari rencananya berhasil. Lexa menatap tajam ke arah Salsa dan membalas senyum licik milik gadis itu.
"Sepatu minjem?! Oh.. Aku ngerti. Jadi Salsa selama ini gak hanya memakai kamar milikku tapi juga menggunakan barang - barangku tanpa ijin?! Salsa sayang.. Meski Ayahmu anak adopsi Kakek dan kamu SEPUPU TIRIKU, meminjam barang bukankah harus tetap meminta ijin pemiliknya?!!" balas Lexa sarkas dengan suara yang tak kalah kerasnya dengan Luna.
Hal itu membuat siswa siswi di sekitaran mereka mulai menggunjingkan perilaku Salsa, tentu saja hal ini membuat Salsa kesal setengah mati.
"Kau!! Seharusnya kau berterimakasih pada keluarga ku yang sudah menjaga rumahmu itu. Berkat kami rumah itu masih terawat sampai detik ini!!" balas Salsa tajam.
"Ah. Kau benar. Terimakasih pada kalian yang sudah merawat RUMAHKU dengan baik. Sebagai ucapan terimakasih, aku akan mengijinkan kalian tetap tinggal bersamaku. Oh ya! Sampaikan juga pada Paman. Jika aku sangat berterimakasih padanya yang sudah menjaga aset dan harta milik keluargaku. Tapi tenang saja, tak lama tanggungjawab itu akan aku ambil alih kembali." ucap Lexa tegas.
Diapun berlalu pergi meninggalkan Salsa yang sudah terbakar api amarah. Rencana Alexa untuk mempermalukan gadis itu dan membongkar posisinya telah berhasil, dengan ini Salsa tak akan berani semena - mena dengannya di sekolah ini.
"Gila.. Gak habis pikir. Ternyata barang - barang branded yang selalu dipake Salsa cuma minjem orang. Parahnya gak ijin lagi..!!"
"Iya. Gak nyangka banget aku tuh."
"Makanya jangan nilai orang dari luarnya aja!!"
"Hahaha...!!! Malu banget tuh si Salsa. Selama ini diakan sombongnya minta ampun. Sekarang apalagi yang bisa disombongkannya??!!"**
Sekarang banyak orang yang terus membicarakan Salsa, membuat gadis itu malu setengah mati.
"Sal?! Jadi selama ini... "
Ucapan Luna pun langsung di potong Salsa.
"Diam!!" potongnya sembari berlalu pergi dari tempat itu.
***
Lexa kini masih duduk di kursi kelasnya, jam pelajaran sudah berakhir 10 menit yang lalu, tapi gadis itu masih enggan untuk beranjak dari tempatnya. Dia sangatlah malas untuk pulang ke rumah dan kembali bertemu dengan keluarga Paman nya yang tak tahu malu itu.
Drrtt.. Drrtt.. Drrttt...
Tak lama getaran handphone nya menginterupsi gadis itu. Melihat nama yang tertera di layarnya membuat Lexa kembali mendesah pelan.
"Halo." sapa Lexa mengawali.
"Halo Kak! Ishh!! Kenapa sih kakak gak bilang kalau kembali ke Negara A. Aku kan bisa ikut kakak!!" cerca sebuah suara bariton yang tak lain adiknya Kenzio.
"Hah. Kamu kan masih harus fokus dengan study mu?! Kakak nggak ingin ganggu kamu."
"Aiisshh!! Kakak ini ya.. Mana mungkin Zio bisa fokus belajar jika Kakak malah kembali sendirian ke kandang para rubah itu!! Bagaimana jika Kakak kenapa - napa!!"
"Hehehe 😅. Kamu lupa siapa Kakak ya?! Mana mungkin para rubah itu berani macam - macam."
"Pokoknya Kakak tunggu aja. Aku akan langsung kesana besok!!"
"Eh?! Gak usah Zio. Bukannya kamu akan ikut olimpiade beladiri dan akademis sebentar lagi?! Kamu harus fokus dengan dua hal itu dulu dan banggakan Kakak dengan menjadi pemenangnya. Setelah itu kamu baru boleh kesini."
"Hah!! Terserah Kakak lah. Tapi jika ada yang terjadi Kakak harus kasih tahu Zio!!"
"Pastinya adikku yang paling ganteng..!!! Tumben kamu terus - terusan manggil 'kakak' udah sadar diri ya?!" sindir Lexa.
"Apaan sih!! Anggap aja lagi khilaf!!" jawab Zio sebal.
"Hahaha..!!! Udah ya. Bye. Love you..!!"
"Hm. Love you too..!!"
Salsabilla Shania Miguel