I Love You OM

I Love You OM
Chapter 5 : Pertemuan Pertama



Lexa berjalan keluar kelas menuju parkiran, dapat dilihatnya sopir Pamannya yang sudah menunggu.


"Nona. Silahkan." ucap sang sopir sembari membukakan pintu mobil bagian belakang.


"Bapak pulang dulu saja. Saya mau pergi ke suatu tempat." perintahku.


"Biar saya yang mengantar Nona ke tempat tujuan. Pak Doni menyuruh saya terus bersama Nona." balas sang sopir.


"Saya akan pergi naik taksi. Jika Paman marah bilang saja saya yang perintah Bapak untuk pulang. Ngerti."


"Tapi Nona... "


Alexa berlalu pergi tanpa mengindahkan ucapan sang sopir dan langsung masuk ke dalam Taxi yang telah berhenti di hadapannya.


"Ke Giant Plaza Pak!!" ucap Alexa yang hanya ditanggapi anggukan oleh sopir Taxi di hadapannya.


Sekitar 10 menit mobil Taxi pun berhenti tepat di pintu depan sebuah Mall yang sangatlah besar, Alexa pun turun dari Taxi dan mulai masuk ke dalam Mall raksasa itu.


"Obat terbaik untuk stress.. Tentu aja Shopping...!!!" gumamnya dengan senyum yang mengukir indah di wajahnya.


Alexa keluar masuk dari satu toko ke toko lainnya dengan handy bag yang terus bertambah, tak lama matanya berbinar melihat caffe cake and ice cream yang tak jauh darinya. Tentu saja tanpa pikir panjang dia bergegas ke caffe itu hingga tanpa sengaja bertabrakan dengan seseorang. Tabrakan itu membuat bajunya kena tumpahan kopi milik sang tersangka utama, membuat Lexa kesal setengah mati.


"Kalo jalan tuh liat pake mata. Ishh!! Basah kan jadinya!!" omelnya tanpa melihat lawan bicaranya.


"Maaf. Saya tak sengaja."


Suara berat dan serak mulai memenuhi indera pendengarannya, membuat Lexa seketika menatap ke sumber asal suara. Terlihat sosok lelaki dewasa sekitar 30 an menatapnya dengan pandangan bersalah.


Meski umurnya yang telah matang, namun terlihat ketampanannya yang tak lekang dimakan usia. Tubuhnya yang tegap dan tinggi, suaranya yang tegas, tatapan matanya yang tajam dan pembawaannya yang berwibawa membuat sosok di hadapannya ini terlihat sangat mempesona.


Entah mengapa, Lexa tercekat menatap kedua manik mata milik sosok pria di hadapannya ini, seakan ada magnet kuat yang terus menariknya masuk ke dalam irish mata hitam legamnya.


"Kau tidak apa?!" suara tegas milik pria itu mampu menarik kesadaran Lexa yang entah sejak kapan terbuai dalam pesona pria di hadapannya.


Menyadari hal itu, pria itu berinisiatif mengambil sapu tangan di saku jasnya dan mulai membersihkan noda kopi di seragam gadis di hadapannya. Tanpa dia sadari, sentuhannya itu sangatlah dekat dengan area sensitif milik Alexa.


Degg...


Wajah Alexa mulai bersemu merah dengan degub jantung yang tak beraturan, apalagi melihat jarak diantara mereka sangatlah dekat, dengan tangan pria itu yang berada tepat di dadanya meski terhalang oleh seragam sekolah.


"Anu Om.. Itu... "


"Hm. Ah..??!"


Suara Lexa menginterupsi pria di hadapannya ini, yang membuat pria itu sadar akan apa yang dilakukannya dan kelakuannya yang sangat intim itu.


"Maaf. Saya tak berniat macam - macam." jelas pria itu canggung.


"Tidak apa Om. Ini juga salah saya." balas Lexa.


"Sebaiknya kamu ikut saya!" ucap pria itu berbalik dan mulai melangkah memandu Lexa.


Tapi ketika disadarinya gadis itu masih diam tak bergeming membuat pria itu menoleh kembali ke arah Lexa yang masih termenung diam.


"Ayo! Kau tidak mau kan jadi pusat perhatian di tempat ini?!"


Mendengar ucapan pria di hadapannya itu membuat Lexa melihat ke sekitarnya dan menyadari beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka, hal itu kembali membuat Lexa malu dan terdiam menunduk. Baru kali ini dia benar - benar merasa malu sampai tak dapat berpikir jernih. Seakan akal sehatnya sudah menghilang entah kemana.


Pria itu mulai tak sabar menunggu Lexa yang membuatnya memegang tangan dan menarik Lexa ke sebuah tempat. Hingga sampailah mereka pada sebuah toko pakaian yang tak jauh dari mereka. Melihat dari isinya nya dapat dipastikan jika itu adalah toko pakaian bermerk.


Setelah mereka memasuki toko itu, beberapa pelayan berjajar rapi dan seorang berlari ke sebuah ruangan dengan tergesa - gesa, tak berapa lama pelayan itu kembali bersama seorang perempuan dengan pakaian formalnya bergegas menghampiri mereka, dari name tagg nya dapat dipastikan perempuan itu Manager dari toko pakaian ini.


Awalnya Lexa sangat terkejut dengan sambutan mereka, dapat dipastikan jika pria di sampingnya ini bukanlah orang sembarangan.


"Selamat datang Tuan. Ada yang bisa saya bantu?!" sapa Manager toko ramah.