I Love You OM

I Love You OM
Part 11



***


Aku sama sekali tidak menyangka kalau Om Damian mengatakan hal demikian kepadaku. Aku yang berusaha meyakinkan diri kalau ucapannya pada malam itu hanyalah sebuah halusi semata, kembali tertampar oleh kenyataan tadi.


Belum selesai dengan hal itu, aku kembali di landa kebingungan. Dia menyuruhku meyakinkan hati, seolah aku memiliki rasa yang sama dengannya.


Apa dia bisa melihat hati, atau itu hanyalah sebuah harapan?


Ku raih segelas coklat panas dia atas meja, menyesapnya perlahan. Pukul lima sore. Kafe mulai terlihat ramai oleh pengunjung. Mungkin karena ini hari minggu, sehingga banyak orang ingin memanjakan diri sejenak.


Aku menatap mereka tanpa gairah. Sudah tiga jam aku berada di tempat ini, hanya duduk dan memperhatikan lalu lalang kendaraan dari balik kaca kafe. Sengaja memilih tempat duduk di dekat kaca, berharap dapat menenangkan pikiran yang sedang kalut.


Namun, saat mata tak sengaja melihat sepasang manusia sedang berjalan memasuki kafe, jantungku kembali bermasalah. Ada amarah bercampur cemburu di dalamnya. Bahkan dada terasa sesak, mata pun memanas.


Aku tak dapat menyangkali perasaanku saat ini, rasa cemburu begitu mendominasi. Saat sepasang manusia itu memilih duduk tepat berjarak tiga meja di belakangku, rasa geram langsung menghujani.


Om Damian tampak sedang bercakap-cakap dengan wanita yang tampak cantik dan ... Seksi.


Wanita itu terlihat anggun dengan dress senada dan kurang bahan. Dia juga terlihat dewasa, cocok jika bersanding dengan Om Damian. Ku tafsirkan, umur mereka tidak terlalu beda jauh. Ah, kenapa aku jadi merasa cemburu begini.


Sepertinya mereka memiliki hubungan yang cukup dekat, terlihat dari wajah wanita itu yang selalu tersenyum mempesona.


Kejadian tadi langsung kembali berputar dalam benak. Jika dia benar-benar serius dengan ucapannya, lalu apa arti dari yang ku lihat ini?


Jika di pikirkan secara logika, sungguh tidak mungkin dia yang mapan dan tampan, eh.


Ia, Om Damian memang memiliki karisma seorang pria tampan. Di tambah saat tatapan mata birunya begitu lekat memandangku, membuat jantungku kembali berolahraga. Tingkahnya yang selalu terlihat bijaksana dan sifat dinginnya itulah yang membuatku baru menyadari kalau aku mengaguminya.


Melihat dia dengan wanita lain tiba-tiba saja membuatku merasa sakit hati. Aku tidak mengerti dengan perasaanku ini, jika aku tidak memiliki rasa dengannya, kenapa aku merasa cemburu?


Ah, mungkin saja itu hanyalah pengaruh pikiranku yang sedang kalut.


Kembali aku memandang wanita yang masih tersenyum manis ke arah Om Damian, tiba-tiba tatapanku langsung tertuju pada payudara yang agak menyempul keluar dari balik dress ketatnya, dan membandingkan dengan milikku yang terlihat masih rata. Tentulah pria sepertinya akan memilih teman kencan yang dewasa pula, tidak sepertiku yang masih bau kencur.


Mungkin Om Damian hanya becanda dengan perkataannya itu, jika di bandingkan dengan wanita itu, aku tidak ada apa-apanya.


Apa dia hanya ingin mengerjaiku saja, atau mungkin ini adalah sala-satu cara balas dendamnya karena perlakuanku dulu, entahlah.


Hatiku memanas saat si wanita itu semakin menjadi. Tangan mulusnya mulai kurang ajar, mengelus tangan Om Damian sambil tersenyum menggoda. Ah, rasanya aku sedang memergoki suami yang ketahuan selingku, eh.


Om Damian yang duduk membelakangiku pasti tidak sadar, ada mata yang memandang geram ke arahnya.


Aku bangkit berdiri dan berjalan ke arah mereka. Emosi sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.


Aku berdehem, berdiri tepat di samping Om Damian yang sedang tersenyum mempesona. Dia terkejut.


"Tiffany, kok ada di sini? "


"Kenapa? "


Jawabku manis, tapi menantang. Ada gejolak amarah yang tertahan dalam hati.


"Udah sore, kamu pulang yah. "


Dia bertingkah laku seakan-akan apa yang di lakukannya adalah sebuah kewajaran, bukan kesalahan.


"Oh, terus Om mau di sini sampai malam, menikmati waktu berdua sama pacarnya .... "


Gurat kebingungan terlihat jelas di wajah, membuatku semakin terbawa emosi. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku jadi sensitif seperti ini.


"Ayo pulang. "


Om Damian berdiri dan meraih pergelangan tanganku.


"Maaf yah May, mungkin kita bisa menghabiskan waktu lain kali. "


Wanita yang di panggil 'May' itu pun mengangguk lembut. Lalu tatapannya bertemu dengan mataku, senyumnya pun semakin lebar.


"Hati-hati. "


Katanya lembut.


***


Aku berjalan memasuki rumah dengan perasaan kesal, meninggalkan Om Damian yang berdiri dengan wajah kebingungan.


"Kamu kenapa? "


Tiba-tiba saja dia sudah ada di sampingku, berjalan mengimbangi langkahku. Aku semakin cuek, tak membalas pertanyaannya.


"Hey, "


Dia menarik tanganku agar langkahku berhenti.


"Om kesal karna aku gangguin acara pacaran kalian tadi? "


Tanyaku sinis, mengalihkan pandangan darinya karna merasa muak. Tapi aneh, dia malah tersenyum.


"Cemburu, nona? "


Senyumnya semakin lebar ketika aku diam tak menjawab, apa lagi saat ini aku merasa kalau kedua pipiku memanas. Memalukan.


"Wow .... "


"Apaan sih, "


Aku tak tahan di perhatikan seperti ini, sedikit gugup rasanya.


"Dia Maya, pacar Om. "


Sontak aku terkejut. Ternyata dugaanku benar. Air mataku jatuh begitu saja, memandangnya dengan ekspresi tak percaya. Melihat wajah tenangnya yang tampak tak berdosa semakin membuat tangisku menjadi.


"Lalu maksud yang tadi pagi itu apa? "


Kutatap dia dengan perasaan terluka. Keterlaluan sekali dia, mempermainkan perasaan seorang wanita yang tak memiliki salah apa-apa.


Bukannya menjawab, dia malah maju semakin mendekat denganku. Aku berhenti, tak bisa bergerak karna sudah terpojok pada dinding.


Seringaiannya keluar dan itu semakin membuatku takut.


"Kamu cemburu? "


Ulangnya lagi, sambil kedua tangan menempel pada tembok, mengurungku. Aku sedikit sesak napas, keadaan seperti ini sangat menyiksa. Aku tetap diam. Air mata pun tidak lagi keluar, di ganti oleh rasa takut dan grogi setengah mati.


"Kamu juga memiliki rasa yang sama, Tiffany. Hanya saja kamu yang ngngak menyadarinya. "


"Is, jangan ke PD an Om! "


"Jangan mengelak Tiffany, Om tahu dan melihatnya. "


Aku semakin terpojok , sedangkan dia sepertinya sangat puas dengan keadaan ini tangisku pun semakin menjadi, tak mampu ku bendung lagi. Sungguh keterlaluan pria ini.


"Om jahat banget! "


Kedua telapak tangan menutup wajah yang di banjiri air mata.


"Om tega mainin perasaanku! "


Kali ini tangisku semakin menjadi, kecewa kepadanya yang telah mempermainkan perasaan.


Tiba-tiba tubuhku langsung di bawa dalam pelukannya, mengelus bahuku penuh kasih sayang yang seakan menguatkan. Aku menepis tangannya dan mendorong tubuhnya menjauh. Tapi, apa kalian tahu, bukannya minta maaf dia malah tersenyum.


"Katakan sekarang, kamu memiliki perasaankan sama Om? "


Aku diam walau air mata belum berhenti mengalir.


"Kalau ia kenapa? Om puaskan uda mempermainkan perasaanku. Om tega banget sih, "


Tangisku yang tadi hampir reda, keluar lagi.


Kali ini aku tidak menolak saat dia kembali membawaku dalam pelukannya, mendekap erat penuh perasaan.


***


Saat berada di kafe tempat janji temu kami, aku mengedarkan pandangan dimana Rico berada.


Aku berjalan perlahan, dengan bibir yang tak berhenti tersenyum. Rico duduk di pagian pojok ruangan dan tentu dia tidak melihat kedatanganku.


Saat sudah berada tepat di belakangnya, aku langsung memeluk lehernya dari belakang. Sejenak dia terkejut, tapi sedetik kemudian tersenyum, berdiri dan merangkul tubuhku.


"Maaf, lama. "


Dia menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya. Jika di jelaskan, posisi kami saat ini seperti sepasang kekasih yang tak berjumpa berabad-abad lamanya.


"Mau pesan apa sayang, "


"Samain aja. "


Pelayan yang datang tadi pergi setelah Rico menentukan makanan pilihan kami.


"Elu kenapa sih, dari tadi senyum-senyum kayak orang sinting. "


Aku yang tersinggung dengan perkataannya langsung menendang kakinya, dia meringis menahan rasa sakit yang di buat-buat. Yah, aku tahu itu di buat-buat karna aku menendangnya pelan.


"Lu habis menang judi Tif? "


Tatapannya terlihat serius, mengintimidasi dan menuntut.


Aku semakin tersipu, pipiku memanas dan jantungku berulah lagi.


Kejadian semalam saat Om Damian memojokkanku, meminta jawaban atas pertanyaannya , kembali membuatku merona.


Semalam aku baru menyadari kebenaran arti perasaanku. Awalnya aku tidak yakin, tapi atas penawarannya kalau dia memberi kesempatan kepada hati untuk memastikan, aku langsung menyetujui, dengan syarat kalau kami mulai menyandang status 'pacaran. '


Ini memang sedikit gila, tapi cukup membuat perasaanku sedikit tenang. Apa lagi saat mengetahui kalau wanita itu adalah teman satu kampusnya dulu saat di Jerman. Mereka tidak sengaja bertemu dan memutuskan untuk melepas rindu. Wanita itu cukup dekat dengannya, tapi hanya sebatas teman. Tidak ada kata cemburu untuk itu, lagi pula wanita itu juga sudah menikah dan kehidupan mereka cukup bahagia.


"Woyyy .... "


Rico kembali membuyarkan lamunanku, kutatap wajahnya jengkel.


"Judi dengkulmu. "


Kami pun mulai makan saat pesanan sudah datang, saling bertukar cerita, melepas rindu hampir dua hari tidak bertemu.