
"Lex, kamarmu di sisi kiri tangga."
Alexa yang mendengarnya pun menoleh ke arah mereka dan kembali berjalan mendekati mereka berdua.
......**......**......
Di rumah itu terdapat 3 kamar Utama yang dulunya dipakai Lexa, Orangtuanya dan juga adiknya. Dimana kamar Lexa lebih besar dan luas daripada kamar milik adiknya, apalagi dengan balkon luas yang ditata layaknya taman yang memiliki view ke arah kolam renang dan taman besar di lantai satu. Kamar Lexa berada di sisi kanan tangga, sedangkan kamar adiknya berada di sisi kiri tangga bersebelahan dengan kamar utama orangtuanya.
"Kenapa?! Dari dulu kamar Lexa ada di sisi kanan tangga!!" tanya Alexa.
"Sayang. Kamu sudah lama tidak tinggal di rumah ini, jadi kamar milikmu dipakai oleh Salsa." jawab Bibi Monica.
Kening Alexa mengernyit, menyadari maksud sebenarnya dari Bibinya itu.
"Oh. Benarkah?! Kamarku dipakai sepupu tiriku Salsabilla Shania Miguel?!" tanya Lexa penuh penekanan.
Dia ingin menyadarkan dua sosok manusia licik dihadapannya ini, seperti apa identitas mereka sesungguhnya.
Mendengar nada bicara keponakannya yang berubah membuat raut wajah Paman dan Bibi nya mulai tak enak.
"Kami sudah meletakkan koper dan segala keperluanmu di kamar itu. Kami juga sudah membersihkan kamarnya." Ucap Paman Doni dengan nada lembut membujuk.
Alexa tersenyum miring mendengarnya. Dia tahu seperti apa sifat Salsa itu. Sepupu tirinya ini selalu iri dan cemburu dengan segala hal yang Lexa miliki sedari dulu, tentu saja setelah kepergian Lexa, Salsa tak pikir panjang merebut kamarnya. Tapi bukan Lexa namanya, jika dia tidak dapat merebut kembali apa yang menjadi miliknya.
"Oh ya aku lupa. Keluarga besar Miguel telah menempati Rumah Utama William yang kosong. Tapi sekarang aku, Alexandria Kimberly William, anak pertama Keluarga William telah kembali. Bukankah sudah sepantasnya kamar ku juga kembali padaku?!" ucap Alexa penuh penekanan.
"Atau aku salah?! Jangan - jangan rumah ini bukan lagi Rumah Utama Keluarga William tapi berubah menjadi Rumah Utama Keluarga Miguel?!" lanjut Lexa sarkas.
Tentu saja ucapannya membuat air muka Paman dan Bibinya pucat pasi menahan amarah. Mereka seakan tertampar oleh perkataan anak kecil di depannya ini.
"Bu.. Bukan begitu.. Paman tidak bermaksud seperti itu." jawab Pamannya terbata - bata.
"Hm. Kalau begitu aku akan ke kamar." balas Alexa jengah sambil berlalu pergi menuju kamarnya, tapi mendadak dia berhenti di tengah tangga dan kembali menoleh ke arah Paman dan Bibi nya.
"Oh ya Paman. Salsa pindah ke kamar tamu saja, karena tak lama lagi adikku Zio akan kembali dan menempati kamarnya." lanjut Lexa sembari mengulum senyum merendahkan di bibirnya.
Dia sangat puas dapat sedikit bermain - main dengan kedua rubah tua itu, apalagi melihat raut kekesalan mereka yang sedari tadi ditahan. Benar - benar terlihat menggelikan.
Bibi Monica meremas tangannya menahan amarah yang mulai membuncah sama halnya dengan suami di sampingnya.
"Dasar!! Anak brengsek!!" umpatnya tertahan.
Kamar Salsa.
Salsa kini sedang tengkurap di tempat tidur ukuran queen size nya. Dia menikmati waktunya dengan membaca majalah dan mendengarkan musik dari headseat miliknya. Tapi sebuah gedoran pintu yang sangat kasar mengganggu waktu istirahatnya.
Brakk... Brakk.. Brakk..
"Ish!!! Siapa sih!!! Nggak punya sopan santun!!!" rutuknya marah sembari berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Ceklek.
Tatapannya berubah membulat sempurna ketika menyadari sosok yang berdiri di hadapannya dengan bersedekap. Lengkap dengan beberapa pelayan yang membawa koper besar dan beberapa barang.
"Kamarmu?! Sejak kapan kamar milikku menjadi kamar mu?!" tanya Lexa dengan senyum mengejeknya.
"Alexa?! Kau kembali?!" tanya Salsa tak percaya.
"Tentu saja. Jadi kau sekarang bisa ambil barang - barang mu dan keluar dari KAMARKU!!!" perintah Lexa tegas. Sedangkan Salsa yang mendengarnya masih termenung di tempat.
"Nggak! Aku nggak akan keluar!!" tolak Salsa.
"Oh benarkah." seketika Lexa memperlihatkan smirk miliknya.
"Pelayan!! Bereskan semua barang - barang Salsa dan pindahkan ke kamar tamu sekarang!!" perintah Alexa yang seketika membuat Salsa membulatkan matanya.
"Kau!! Kau tidak dapat melakukannya!!!" bantah Salsa.
"Cih!! Nona Miguel, jangan lupa jika ini adalah Rumah Utama Keluarga WILLIAM. Aku sebagai anak tertua di keluarga ini adalah Nona Besar di Rumah ini!!! Aku harap kau tak melupakannya."
"Kau...!!!!"
"Kemasi sendiri barangmu atau ku suruh para pelayan yang melakukannya?! Tapi aku tak jamin semua barang milikmu tetap aman tanpa lecet."
Mendengar ucapan Alexa membuat Salsa berbalik dan mulai mengemasi barang - barangnya. Alexa dalam diam mulai masuk ke dalam kamar dan memperhatikan setiap hal di kamar itu. Kamar yang ditinggalkannya selama 2 tahun masih terlihat sama, hanya beberapa benda dan perabot yang tak penting mulai memenuhi penjuru kamar itu.
Ketika Salsa membuka Walk in Closet dan hendak mengeluarkan beberapa tas, sepatu dan aksesori branded di dalamnya, ucapan Alexa kembali menghentikan langkahnya.
"Tunggu!! Bukankah ini semua milikku!! Kau tak berusaha untuk mencurinya tepat di hadapan pemiliknya kan?!" tanya Alexa sarkas.
"Lex. Bukannya kau berlebihan?!"
"Apanya yang berlebihan. Aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi milikku sedari dulu."
Alexa hanya tersenyum sinis melihat Salsa yang berjalan keluar dari Walk in Closetnya dengan amarahnya yang meluap - luap.
"Tunggu!! Bawa milikmu ini pergi." ucap Alexa menghentikan langkah Salsa dan melemparkan beberapa pakaian dan aksesoris yang pasti bukan miliknya.
'Sialan kau Lexa..!!! Akan kubalas semua perlakuan mu ini!!!' rutuk Salsa dalam hati.
***
Kini, kamar bernuansa putih gaya Eropa itu sudah sepi dan hanya menyisakan seorang gadis yang berbaring menatap atap dalam diam.
"Ma, Pa. Lexa kembali. Lexa berjanji akan mengambil semua milik kita. Aku merindukan kalian." ucapnya lirih diikuti tetesan air mata di wajah cantiknya.
Alexandria Kimberly William