I Love You OM

I Love You OM
Part 12



***


"Lu jadian sama Om Damian? "


Mata Kanya dan Sara melotot, mereka saling berpandangan dan terlihat shock.


"Gue akui kalau Om lu itu emang ganteng dan menawan, tapi kata-kata gue yang waktu itu cuman candaan. "


"Gue ngngak percaya kalau lu pacaran sama om lu sendiri. Astaga Tiffany, elu bukannya lagi becanda kan? "


Mereka berdua saling melempar tanya dan protes. Matanya tak lepas memandang kepadaku, serta berdecak.


Jika manusia bisa memilih dimana rasa itu ingin dia tempatkan, tentu aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku ingin menaru rasa itu pada seorang laki-laki yang bukan dari anggota keluargaku, apa lagi kepada Om Damian.


Tapi manusia tiada hak untuk menentukan, walau hati adalah bagian dari tubuhnya. Tugas manusia adalah memaknai, dan menjalankannya.


Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok, apakah hubungan kami akan terus berjalan, atau berhenti dengan meninggalkan luka yang mendalam.


Kanya dan Sara terlihat tidak percaya bercampur bingung, dengan apa yang baru saja ku ucapkan. Terlintas dalam benak ini akan mama dan juga Rico, apa yang akan terjadi kalau mereka tahu akan hal ini?


Mama begitu menyayangiku, tidak ada alasan bagiku untuk menyakitinya. Tapi , bagaimana reaksi mama saat tahu semua ini nanti? Aku tidak mau mengecewakannya, tapi ... Yah , sudahlah. Memikirkannya sudah membuat otakku panas.


"Lu yakin sama perasaan elu, Tif? "


Sara kembali bersuara setelah keheningan melanda kami.


"Yah. Seandainya juga gue bisa memilih, hal gila ini ngngak bakal terjadi. "


Mereka menatap sayu ke arahku, lalu langsung memeluk, seakan ingin menyalurkan tenaga.


"Hubungan kalian ngngak salah kok Tif, cuman karna yang namanya hubungan 'keluarga' itu yang buat apa yang terjadi kini, tampak mustahil. Padahalkan, kalian juga ngngak punya ikatan darah. "


Aku tersenyum menanggapi perkataan Sara, sedangkan Kanya hanya mengangguk-angguk meyakinkan.


Betapa beruntungnya aku memiliki mereka, dalam hal seperti ini saja mereka masi dapat mengerti.


***


Rumah tampak sepi, pembantu yang biasa membereskan rumah sudah pulang. Memang dari dulu bi Asih tidak perna menginap di sini, tapi kadang Kanya dan Sara datang menginap kalau mama sedang pergi ke luar kota, sehingga aku tidak perna sendirian.


Aku duduk di sofa sambil tv menyala tanpa suara, aku berusaha berpikir keras supaya dapat membobol wi-fi yang terhubung ke ponselku.


Dari yang duduk, tengkurap, duduk lagi, aku terus bergerak mencari posisi yang nyaman, tapi tidak juga dapat membobolnya. Entah itu wi-fi siapa, rasanya sial kalau tidak dapat menikmati.


Aku terkejut dan tergagap saat Om Damian sudah ada ada di sampingku, duduk bersandar sambil melonggarkan dasinya.


"Sejak kapan Om disini? "


Rasanya gugup sekali, apalagi saat mengingat status kami saat ini. Gerak-geriknya tak lepas dari mata, walau wajahnya terlihat kelelahan tapi tidak juga mengurangi kadar ke tampanannya.


"Barusan. "


Aku mengangguk-angguk dan mengalihkan pandangan darinya, takut kalau dia melihat pipiku yang sudah merona ini.


"Uda makan? "


"udah. "


Kembali aku memilih sibuk dengan ponsel di tangan, tapi dia seperti menyadarinya.


"Lagi ngapain? "


Sekilas aku meliriknya, tatapan matanya tertuju kepada ponsel ditangan. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku, hal itu membuat aku semakin gugup dan keringat dingin mulai keluar. Tapi rasanya begitu nyaman berada dekat dengannya, hatiku juga rasanya berbunga-bunga, padahal dia tidak melakukan apa-apa.


Tangan kembali menekan tombol wifi, mencoba berkali-kali menekan password, tapi wifi itu masih juga terprotek.


"Om, dari kemarin aku dapat wifi, tapi ngngak tau passwordnya, sinyalnya kencang banget nih, susah bnget di buka, padahal aku uda make aplikasi hacker canggih. "


Aku melompat-lompat sambil melambaikan ponsel, berharap dapat menangkap sinyal wifi gratisan.


"Oh, jadi kamu yang dari kemarin mau menjebol wifi om. "


Suara Om Damian terdengar meninggi, dia berdiri dengan tangan yang sudah bertolak pinggang dan tatapan mata melotot.


"Maksudnya? " aku menautkan alis, tapi aku langsung tersadar lalu menepuk keningku pelan.


"Oh, jadi Om yang punya wifi dengan kekuatan sinyal luar biasa capekBagi passwordnya dong Om. "


Om Damian tampak berdecak sambil geleng-geleng kepala, seolah dia sedang melihat sesuatu yang sangat menakjubkan.


Kenapa aku tidak berpikir kesana yah, kalau tahu dari tadi buat apa aku capek-capek memutar otak.


"Enggak, enak aja. "


Om Damian berjalan ke kamar, tidak mau kehilangan kesempatan aku pun mengikutinya sambil merengek. Om Damian berhenti tepat di depan pintu kamar, berbalik dan menatapku.


"Bukannya minta maaf, malah minta password. " Dia berucap sambil geleng-geleng kepala.


"Bagi dong Om, sama keponakan sendiri kok pelit amat sih. "


Aku kembali mengeluarkan tampang memelas, tidak mau kehilangan rejeki yang sudah ada tepat di depan mata.


"Bukan sama keponakan, tapi sama pacar. "


Aku diam mematung, rasanya seperti ada kupu-kupu yang beterbangan, menggelitik perut. Ingin rasanya menghilang dari permukaan bumi sangkin malunya.


"Ih, apaan sih. "


" Kamu cantik dengan pipi yang merona indah seperti itu. "


Astaga, aku bisa mati serangan jantung kalau seperti ini terus.


"Om, bagi passwordnya .... "


Kalau tidak ingat tujuan utamaku yang rela merengek kepadanya, sudah pasti aku langsung pergi dari sini.


"Oke ... Oke. "


"Apa? "


Jawabku tidak sabaran.


"Damian sayang Tiffany. "


Itu kan, bukannya menjawab, malah menjadi-jadi.


"Om, buruan napa. "


Emosi juga kalau di perlakukan seperti ini terus.


"Emang Om bohong? "


Raut wajahnya terlihat serius, membuatku salah tingkah. Tanganku kaku menekan kata-kata konyol yang di katakannya tadi. Apa ini sebuah kabar baik atau ciri-ciri kiamat yang sudah mendekat?


Membuat password saja harus dengan kata-kata tidak masuk akal begini.


***


Dengan perasaan bahagia yang luar biasa, aku melangkah menuju pintu apartemen Rico. Ku buka pintunya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan memegang kotak kue hasil buatanku.


Aku perna berjanji mau membuat kue paling spesial untuknya.


"Gue mau makan kue hasil buatan elu sendiri, kue yang di buat dengan penuh cinta dan kasih sayang. "


Itu kalimat yang saat itu dia ucap, tapi baru tadi aku membuatnya. Entah bagaimana tanggapan dan reaksinya nanti. Semoga dia senang.


Saat pintu terbuka, keadaan sunyi senyap. Tidak biasanya dia seperti ini. Tadi sebelum datang kemari aku sudah menchat dia, katanya dia ada di apartemen.


Tapi samar-samar aku seperti mendengar suara, dan itu dari arah balkon. Pelan ku seret langkah kakiku berharap tidak ada hal buruk yang terjadi, sayup ku dengar suara wanita sedang berteriak, sungguh mengerikan.


Sampai di pintu balkon, aku di buat tercengang saat tangan seorang wanita menampar pipi Rico cukup keras. Hatiku seperti ada yang mencabik-cabik.


Jika ini sebuah mimpi, ini adalah mimpi terburuk yang perna. Hatiku sakit, begitu remuk melihat orang lain melukai malaikatku. Untung kue tadi sudah ku letakkan di atas meja, kalau tidak mungkin sekarang sudah ku lempar ke wajah wanita itu.


Tiba-tiba mereka berdua kompak melihat ke arahku, Rico yang tampak terkejut, sedangkan wanita itu menatap marah dan geram ke arahku.


"Ini semua pasti karna perempuan tak tahu diri ini. "


Aku diam mematung, sulit mencerna apa yang sedang terjadi. Yang pasti air mataku sedang berlomba keluar dan hatiku bergejolak kuat, apalagi saat melihat bekas tangan wanita itu tercetak sempurna di wajah Rico.


Siapa wanita ini, ada apa sebenarnya?


Bersambung ....


I LOVE YOU OM


***


"Lu jadian sama Om Damian? "


Mata Kanya dan Sara melotot, mereka saling berpandangan dan terlihat shock.


"Gue akui kalau Om lu itu emang ganteng dan menawan, tapi kata-kata gue yang waktu itu cuman candaan. "


"Gue ngngak percaya kalau lu pacaran sama om lu sendiri. Astaga Tiffany, elu bukannya lagi becanda kan? "


Mereka berdua saling melempar tanya dan protes. Matanya tak lepas memandang kepadaku, serta berdecak.


Jika manusia bisa memilih dimana rasa itu ingin dia tempatkan, tentu aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku ingin menaru rasa itu pada seorang laki-laki yang bukan dari anggota keluargaku, apa lagi kepada Om Damian.


Tapi manusia tiada hak untuk menentukan, walau hati adalah bagian dari tubuhnya. Tugas manusia adalah memaknai, dan menjalankannya.


Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok, apakah hubungan kami akan terus berjalan, atau berhenti dengan meninggalkan luka yang mendalam.


Kanya dan Sara terlihat tidak percaya bercampur bingung, dengan apa yang baru saja ku ucapkan. Terlintas dalam benak ini akan mama dan juga Rico, apa yang akan terjadi kalau mereka tahu akan hal ini?


Mama begitu menyayangiku, tidak ada alasan bagiku untuk menyakitinya. Tapi , bagaimana reaksi mama saat tahu semua ini nanti? Aku tidak mau mengecewakannya, tapi ... Yah , sudahlah. Memikirkannya sudah membuat otakku panas.


"Lu yakin sama perasaan elu, Tif? "


Sara kembali bersuara setelah keheningan melanda kami.


"Yah. Seandainya juga gue bisa memilih, hal gila ini ngngak bakal terjadi. "


Mereka menatap sayu ke arahku, lalu langsung memeluk, seakan ingin menyalurkan tenaga.


"Hubungan kalian ngngak salah kok Tif, cuman karna yang namanya hubungan 'keluarga' itu yang buat apa yang terjadi kini, tampak mustahil. Padahalkan, kalian juga ngngak punya ikatan darah. "


Aku tersenyum menanggapi perkataan Sara, sedangkan Kanya hanya mengangguk-angguk meyakinkan.


Betapa beruntungnya aku memiliki mereka, dalam hal seperti ini saja mereka masi dapat mengerti.


***


Rumah tampak sepi, pembantu yang biasa membereskan rumah sudah pulang. Memang dari dulu bi Asih tidak perna menginap di sini, tapi kadang Kanya dan Sara datang menginap kalau mama sedang pergi ke luar kota, sehingga aku tidak perna sendirian.


Aku duduk di sofa sambil tv menyala tanpa suara, aku berusaha berpikir keras supaya dapat membobol wi-fi yang terhubung ke ponselku.


Dari yang duduk, tengkurap, duduk lagi, aku terus bergerak mencari posisi yang nyaman, tapi tidak juga dapat membobolnya. Entah itu wi-fi siapa, rasanya sial kalau tidak dapat menikmati.


Aku terkejut dan tergagap saat Om Damian sudah ada ada di sampingku, duduk bersandar sambil melonggarkan dasinya.


"Sejak kapan Om disini? "


Rasanya gugup sekali, apalagi saat mengingat status kami saat ini. Gerak-geriknya tak lepas dari mata, walau wajahnya terlihat kelelahan tapi tidak juga mengurangi kadar ke tampanannya.


"Barusan. "


Aku mengangguk-angguk dan mengalihkan pandangan darinya, takut kalau dia melihat pipiku yang sudah merona ini.


"Uda makan? "


"udah. "


Kembali aku memilih sibuk dengan ponsel di tangan, tapi dia seperti menyadarinya.


"Lagi ngapain? "


Sekilas aku meliriknya, tatapan matanya tertuju kepada ponsel ditangan. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku, hal itu membuat aku semakin gugup dan keringat dingin mulai keluar. Tapi rasanya begitu nyaman berada dekat dengannya, hatiku juga rasanya berbunga-bunga, padahal dia tidak melakukan apa-apa.


Tangan kembali menekan tombol wifi, mencoba berkali-kali menekan password, tapi wifi itu masih juga terprotek.


"Om, dari kemarin aku dapat wifi, tapi ngngak tau passwordnya, sinyalnya kencang banget nih, susah bnget di buka, padahal aku uda make aplikasi hacker canggih. "


Aku melompat-lompat sambil melambaikan ponsel, berharap dapat menangkap sinyal wifi gratisan.


"Oh, jadi kamu yang dari kemarin mau menjebol wifi om. "


Suara Om Damian terdengar meninggi, dia berdiri dengan tangan yang sudah bertolak pinggang dan tatapan mata melotot.


"Maksudnya? " aku menautkan alis, tapi aku langsung tersadar lalu menepuk keningku pelan.


"Oh, jadi Om yang punya wifi dengan kekuatan sinyal luar biasa capekBagi passwordnya dong Om. "


Om Damian tampak berdecak sambil geleng-geleng kepala, seolah dia sedang melihat sesuatu yang sangat menakjubkan.


Kenapa aku tidak berpikir kesana yah, kalau tahu dari tadi buat apa aku capek-capek memutar otak.


"Enggak, enak aja. "


Om Damian berjalan ke kamar, tidak mau kehilangan kesempatan aku pun mengikutinya sambil merengek. Om Damian berhenti tepat di depan pintu kamar, berbalik dan menatapku.


"Bukannya minta maaf, malah minta password. " Dia berucap sambil geleng-geleng kepala.


"Bagi dong Om, sama keponakan sendiri kok pelit amat sih. "


Aku kembali mengeluarkan tampang memelas, tidak mau kehilangan rejeki yang sudah ada tepat di depan mata.


"Bukan sama keponakan, tapi sama pacar. "


Aku diam mematung, rasanya seperti ada kupu-kupu yang beterbangan, menggelitik perut. Ingin rasanya menghilang dari permukaan bumi sangkin malunya.


"Ih, apaan sih. "


" Kamu cantik dengan pipi yang merona indah seperti itu. "


Astaga, aku bisa mati serangan jantung kalau seperti ini terus.


"Om, bagi passwordnya .... "


Kalau tidak ingat tujuan utamaku yang rela merengek kepadanya, sudah pasti aku langsung pergi dari sini.


"Oke ... Oke. "


"Apa? "


Jawabku tidak sabaran.


"Damian sayang Tiffany. "


Itu kan, bukannya menjawab, malah menjadi-jadi.


"Om, buruan napa. "


Emosi juga kalau di perlakukan seperti ini terus.


"Emang Om bohong? "


Raut wajahnya terlihat serius, membuatku salah tingkah. Tanganku kaku menekan kata-kata konyol yang di katakannya tadi. Apa ini sebuah kabar baik atau ciri-ciri kiamat yang sudah mendekat?


Membuat password saja harus dengan kata-kata tidak masuk akal begini.


***


Dengan perasaan bahagia yang luar biasa, aku melangkah menuju pintu apartemen Rico. Ku buka pintunya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan memegang kotak kue hasil buatanku.


Aku perna berjanji mau membuat kue paling spesial untuknya.


"Gue mau makan kue hasil buatan elu sendiri, kue yang di buat dengan penuh cinta dan kasih sayang. "


Itu kalimat yang saat itu dia ucap, tapi baru tadi aku membuatnya. Entah bagaimana tanggapan dan reaksinya nanti. Semoga dia senang.


Saat pintu terbuka, keadaan sunyi senyap. Tidak biasanya dia seperti ini. Tadi sebelum datang kemari aku sudah menchat dia, katanya dia ada di apartemen.


Tapi samar-samar aku seperti mendengar suara, dan itu dari arah balkon. Pelan ku seret langkah kakiku berharap tidak ada hal buruk yang terjadi, sayup ku dengar suara wanita sedang berteriak, sungguh mengerikan.


Sampai di pintu balkon, aku di buat tercengang saat tangan seorang wanita menampar pipi Rico cukup keras. Hatiku seperti ada yang mencabik-cabik.


Jika ini sebuah mimpi, ini adalah mimpi terburuk yang perna. Hatiku sakit, begitu remuk melihat orang lain melukai malaikatku. Untung kue tadi sudah ku letakkan di atas meja, kalau tidak mungkin sekarang sudah ku lempar ke wajah wanita itu.


Tiba-tiba mereka berdua kompak melihat ke arahku, Rico yang tampak terkejut, sedangkan wanita itu menatap marah dan geram ke arahku.


"Ini semua pasti karna perempuan tak tahu diri ini. "


Aku diam mematung, sulit mencerna apa yang sedang terjadi. Yang pasti air mataku sedang berlomba keluar dan hatiku bergejolak kuat, apalagi saat melihat bekas tangan wanita itu tercetak sempurna di wajah Rico.


Siapa wanita ini, ada apa sebenarnya?